
Jam makan siang pun telah tiba. Alaska sudah berada di cafe terlebih dulu. Ia tidak sabar untuk menunggu kedatangan Hana. Tak lama kemudian, Hana datang dan langsung duduk di hadapan Alaska.
Tak ingin membuang-buang waktunya dan memberi harapan pada Alaska, Hana langsung saja pada intinya.
"Katakan apa yang ingin kau katakan. Aku tidak bisa lama-lama," ucap Hana yang seolah enggan menghabiskan waktu bersama Alaska.
"Tidak bisakah kita makan siang dulu? Setelah itu aku baru berbicara? Kita sudah lama tidak bertemu, pasti banyak hal yang kau lewati dan aku ingin mengetahuinya. Jadi, santai saja ya?" pinta Alaska.
Hana menghela napas pelan. Sejujurnya ia enggan berhubungan ataupun bertemu lagi dengan Alaska, bukannya ia membenci hanya saja ia tidak ingin ada masalah lagi dengan keluarga Alaska yang tidak menyukai dirinya karena bukan dari anak orang kaya.
"Maaf, aku tidak bisa. Jika kau terus memaksaku untuk makan siang bersamamu, lebih baik aku kembali bekerja," ujar Hana yang membuat Alaska sedikit kecewa.
"Baiklah, jika itu mau mu." Alaska akhirnya mengalah. Ia tidak memaksa Hana untuk makan bersamanya.
"Hana ..., asal kau tahu, selama ini aku tidak bisa melupakanmu. Aku selalu teringat semua tentangmu. Aku ingin kita kembali bersama. Kita yakinkan kedua orang tuaku dan menikahlah denganku," ucap Alaska dengan tulus sambil meraih salah satu tangan Hana yang berada di atas meja.
Hana menghempaskan tangan Alaska pelan lalu berkata, "Alaska, cerita kita sudah berakhir. Aku tidak bisa kembali merangkai cerita baru bersamamu. Karena kemungkinan akhirnya akan sama. Carilah wanita yang kedua orang tuamu menyukainya. Lagipula aku sudah menikah."
Pengakuan tentang Hana yang sudah menikah membuat Alaska terkejut dan patah hati. Namun ia tetap bersikap biasa, bisa saja Hana berbohong agar ia tidak mau lagi terikat bersamanya.
"Kau pasti berbohong. Aku tidak percaya kalau kau sudah menikah. Kau bahkan tidak memakai cincin pernikahanmu," ucap Alaska yang berusaha menolak kenyataan.
"Mau percaya atau tidak, itu bukanlah urusanku. Yang terpenting aku sudah mengatakannya padamu. Perbincangan kita selesai sampai disini. Aku rasa sudah tidak ada hal lain yang harus kita bicarakan. Aku permisi."
Hana pergi dari hadapan Alaska meninggalkan sebuah luka yang amat mendalam. Bagaimana bisa ia sampai kecolongan informasi tentang mantan kekasihnya itu? Mantan yang selalu terbayang-bayang di ingatannya.
"Haruskah aku menyerah sekarang?" tanyanya pada diri sendiri.
"Seharusnya dulu aku tidak mengikuti permintaanmu untuk mengakhiri cerita kita. Mungkin, jalan ceritanya akan berbeda."
Alaska menatap nanar jalanan yang ada di luar. Ia terus memperhatikan Hana yang kini sudah memasuki kantor Candra.
***
Setibanya di pantry, Hana bernapas lega karena sudah menjelaskan bahwa dirinya sudah tak lagi melajang di hadapan sang mantan.
"Semoga kau bisa melupakanku dengan cepat. Aku tahu, kau itu baik dan bahkan terlalu baik untuk aku yang biasa ini. Tuhan memang tidak mentakdirkan kita untuk bersama akan tetapi Tuhan masih mentakdirkan kita untuk bertemu meski keadaan sudah berbeda. Aku harap kau bisa menemukan jodohmu."
__ADS_1
Rupanya Candra mendengar semua ucapan itu, ketika ia akan masuk ke pantry untuk meminta dibuatkan minuman.
"Siapa yang dia maksud?" gumam Candra.
Tak mau terlalu memusingkan itu, Candra pun bersuara, hingga membuat Hana terkejut.
"Buatkan aku kopi tanpa gula!"
"Astaga! Mengagetkan saja!" ucap spontan Hana sambil mengelus dadanya.
"Makanya di kantor itu jangan melamun!"
"Baik pak, maaf."
Hana yang tidak mau berdebat dengan Candra pun meminta maaf saja.
"Nanti jika sudah selesai, antarkan saja langsung ke ruangan."
Hana mengangguk. Candra pun pergi begitu saja dengan banyaknya pertanyaan yang bersemayam di kepalanya.
***
"Aih! Kau pikir ini kantor milikmu? Seenaknya saja masuk saat tidak ada pemiliknya. Untung kau sahabatku! Kalau tidak sudah aku usir kau!" kesal Candra pada Alvin.
Sementara Alvin ia hanya memberikan sebuah cengiran dan mengacungkan kedua jarinya membentuk huruf V yang artinya damai.
"Jangan marah-marah terus! Nanti kau cepat tua baru tahu rasa!" nasehat Alvin.
"Jangan menasehati ku! Katakan saja apa tujuanmu datang kesini?"
"Hmm, apa ya? Sebenarnya aku tidak memiliki tujuan apapun. Hanya ingin datang saja. Bagaimana kabar Hana? Kau tidak menyiksanya kan?" tanya Alvin penuh selidik.
"Kau pikir aku ini laki-laki tempramen yang mudah ringan tangan! Cih! Bisa turun harga diriku jika berbuat kasar pada wanita apalagi menyakiti fisiknya," ucap Candra yang tidak terima telah dituduh menyiksa Hana.
"Kau memang tidak menyiksa fisiknya tetapi batinnya. Come on, buka hatimu untuknya. Dia lebih baik dari Celine."
"Daripada kau terus menyuruhku untuk melupakan Celine, lebih baik kau keluar dari ruangan ku! Aku bosan sekali mendengar ucapan itu, itu dan itu dari mulutmu!"
__ADS_1
Melihat tanggapan Candra yang kesal padanya, akhirnya Alvin mengalah dan tak membicarakan hal itu lagi.
"Baiklah, baiklah, aku skip perbincangan tadi. Sebenarnya kedatanganku kesini, cuma mau mengatakan jika aku akan pergi ke Italia untuk waktu yang lama. Aku hanya ingin berpamitan denganmu."
"Oh."
"What?! Kau hanya menanggapi dengan kata 'oh'. Aku akan pergi dalam waktu lama lho! Itu artinya aku tidak bisa lagi menasehati mu untuk kembali ke jalan yang benar. Apakah pertemanan kita seburuk itu? Sampai tak ada kata-kata perpisahan yang manis dari mulutmu?"
Alvin mengutarakan kekesalannya pada Candra. Laki-laki satu ini benar-benar pandai dalam mengolah emosi dalam diri Alvin. Saking pandai nya sampai-sampai Alvin ingin mengirim Candra ke kerak bumi.
"Jaga diri baik-baik. Itu salam perpisahan dariku," ujar Candra dengan tulus setelah melihat kekesalan Alvin.
Terdengar suara orang mengetuk pintu, Candra pun mempersilahkan orang tersebut masuk.
Hana datang dengan membawa segelas kopi yang diminta Candra. Ia meletakkan kopi itu di meja. Ketika hendak keluar dari ruangan, Alvin mencegahnya dan berjalan menghampiri Hana. Lalu membisikkan sesuatu di telinga Hana.
"Aku yakin kau akan mampu membuat pria menyebalkan itu tunduk padamu. Tetap semangat dan jangan menyerah. Jika perlu bantuan kau bisa menghubungiku," bisik Alvin kemudian menyerahkan kartu namanya ke tangan Hana. Ia kemudian memberikan kode dengan sedikit mengedipkan salah satu matanya pada Hana.
Hal tersebut tidak lepas dari penglihatan Candra.
"Kau boleh keluar, jangan tanggapi pria itu!" ucap Candra pada Alvin.
Alvin terkekeh mendengarnya. Rupanya ada yang mulai posesif disini. Sepertinya cepat atau lambat, meski tanpa bantuan darinya rasa suka itu mulai ada di dalam diri Candra. Hanya saja masih tertimbun dengan rasa lama yang sebenarnya sudah menghilang tanpa Candra sadari.
****
Terima kasih sudah membaca ceritaku sampai di bab ini. Semoga kalian menyukainya.
Jangan lupa berikan like dan vote nya teman-teman.
Ramaikan juga cerita ini dengan komentar-komentar kalian.
Kalian bisa juga memberikan dukungan untuk yoyo dengan menonton iklan yang ada di kolom pemberian hadiah.
Jangan lupa follow aku Ig ku ya
@yoyotaa_
__ADS_1