
AH Group
Seperti biasa, Hana melakukan pekerjaannya dengan baik. Ia membersihkan kaca dan lantai dengan bersih. Sampai akhirnya, ia melihat Alaska datang lagi ke perusahaan Candra. Ia bergegas pergi ke ruangannya. Namun, hal tersebut tertahan, karena Alaska dengan cepat meraih tangan Hana.
"Lepas!" pinta Hana.
"Hana aku tidak akan menyerah. Aku tidak peduli kau sudah nikah atau tidak. Aku juga tidak peduli dengan darimana kau berasal. Yang aku pedulikan hanya aku ingin terus bersamamu," ujar Alaska. Laki-laki satu ini masih saja berjuang meskipun Hana sudah mengatakan yang sebenarnya.
"Kau tidak peduli, tapi aku peduli. Karena dari situ, bisa dilihat bagaimana orang akan memperlakukan aku. Kau egois, hanya mementingkan perasaanmu. Sudah kubilang cerita kita sudah berakhir. Kau tau artinya berakhir kan?" tanya Hana yang benar-benar sudah jengah dengan sikap Alaska.
Tangan Alaska yang meraih pergelangan tangan Hana mulai terlepas. Ia membiarkan Hana untuk pergi.
"Tidak bolehkah aku egois? Aku ingin bersamamu," gumam Alaska sambil melihat Hana yang terus menjauh dari penglihatannya.
Lagi-lagi kejadian tersebut terlihat oleh Candra. Anehnya, ia merasa kesal dan ingin marah sekarang. Untuk meredakan kekesalannya, Candra kembali ke ruangannya dan menumpahkan emosinya.
"Sial! Kenapa sih mereka harus bertemu dan kenapa juga aku harus melihatnya? Uh! Menyebalkan sekali!"
Sampai akhirnya, kekesalan Candra pun berhenti karena sebuah notifikasi pesan dai ponselnya. Alangkah terkejutnya dia, ketika melihat siapa pengirim pesan tersebut.
Celine
Candra, maaf karena tindakanku yang pergi begitu saja lalu menghilang selama ini. Bisakah kita bertemu? Aku ingin menjelaskan semuanya.
"Ce-celine?" Candra terbata-bata menyebut nama Celine.
Ada rasa bahagia, setelah sekian lama ia menunggu, akhirnya Celine mengabarinya lagi. Namun, tetap saja Candra sadar kini statusnya adalah suami orang, dan Celine hanya mantan tunangannya. Seketika ia teringat lagi kalau pernikahannya dengan Hana hanya sebuah kesepakatan agar tidak terjadi skandal besar.
Akhirnya Candra membalas pesan tersebut.
Candra
Temui aku di cafe Jingga pukul 17.00. Kau bisa jelaskan semuanya.
__ADS_1
Setelah mengirimkan pesan tersebut, Candra duduk di kursinya dan menaruh kepalanya di meja. Ia dilema, antara kembali bersama Celine atau mempertahankan pernikahannya dengan Hana? Karena tidak bisa dipungkiri, kini Hana sudah masuk ke dalam hidupnya, meski ia tak pernah berbuat baik pada Hana. Akan tetapi wanita itu selalu memperlakukannya dengan baik.
****
Cafe Jingga
Candra benar-benar menunggu kedatangan Celine. Ia bahkan sudah tidak sabar untuk mendengar penjelasan mantan tunangannya itu yang tega meninggalkan dirinya di dua bulan sebelum pernikahan.
"Candra," panggil Celine.
Candra menengok dan melihat ke arah Celine. Wanita itu selalu tampil sempurna.
"Duduklah," pinta Candra.
Celine pun langsung duduk di hadapan Candra. Ia meraih tangan Candra.
"I miss you," ujar Celine. Namun Candra hanya diam tak merespon apapun. Ia juga tidak menolak ketika Celine meraih tangannya.
"Tidak bisakah kita basa-basi dulu sebelum ke intinya? Aku merindukanmu, Can," ucap Celine.
"Aku selalu menantikan kembalinya dirimu, namun apalah daya, kau justru tak kembali padahal sudah berbulan-bulan berlalu. Lalu dengan mudahnya kau berkata bahwa kau merindukanku? Apakah itu pantas? Lalu kenapa kau pergi jika kau merindukanku?"
"Maafkan aku. Aku benar-benar merasa bersalah karena itu. Aku pergi ke luar negeri untuk melakukan pengobatan. Aku terkena kanker otak stadium 1. Aku tidak mau membuatmu bersedih karena penyakit ku. Jadi, aku putuskan untuk menghilang darimu. Tapi, kini aku sudah kembali dan aku sudah sembuh. Kita bisa kembali seperti dulu lagi," jelas Celine.
"Aku mencintaimu bahkan sangat mencintaimu. Tapi kenapa kau sembunyikan penyakitmu? Apa kau tidak mengganggap aku ada? Lalu untuk apa kita menjalin hubungan selama itu jika kau bahkan tidak pernah jujur padaku? Untuk apa?" tanya Candra yang mulai terbawa emosi. Ia merasa kehadirannya tak diharapkan sehingga tidak dijadikan sandaran oleh Celine.
"Aku tidak mau membuatmu bersedih Can," jawab Celine lirih.
"Persetan dengan itu! Kau sudah berhasil membuatku bersedih dengan menghilangnya dirimu tanpa kabar dan tanpa jejak. Apa kau tahu? Kini aku sudah menikah dengan orang yang tak aku cintai karena berita kita akan menikah sudah tersebar. Apa kau tak pernah memikirkan itu? Memikirkan akibat dari tindakan egois mu itu?"
"Hiks ... hiks ... hiks ..." Celine menangis mendengar kabar bahwa mantan tunangannya sudah menikah. Namun, ia tidak akan menyerah. Apa yang pernah menjadi miliknya harus kembali padanya.
"Kalau kau tidak mencintainya, ceraikan saja dia. Dan menikahlah denganku. Kita wujudkan keinginan kita dulu," ucap Celine.
__ADS_1
"Tidak bisa, mama sangat menyukai Hana. Dan juga papa kini membencimu karena ulah mu yang meninggalkan aku. Sudah tak ada lagi yang mendukung. Jadi percuma saja," ucap Candra.
Tidak, tidak boleh! Aku harus kembali bersama Candra dan menjadi istrinya. Aku sudah bersusah payah selama ini. Kalau bukan karena bayi sialan itu! Aku tidak akan pernah meninggalkan Candra dan pergi untuk melahirkan bayi itu.
Semua yang dikatakan Celine tadi adalah kebohongan. Yang sebenarnya terjadi adalah ia melahirkan bayinya di luar negeri. Ia sudah berusaha untuk menggugurkan janin tersebut, akan tetapi karena usianya sudah memasuki 5 bulan semua rencananya gagal. Jadi ia harus rela melahirkan bayi itu, dan kini bayi itu ada bersama ayah si bayi. Celine kembali karena ingin merebut Candra kembali. Sebenarnya ia sudah tahu mengenai pernikahan Candra. Hanya saja ia berpura-pura tidak tahu. Toh, Candra masih terlihat sangat mencintainya, meskipun kedua orangtuanya sudah membencinya.
"Can, apa kau tidak ingin bersamaku? Apa mimpi-mimpi kita dulu hanya sebatas angan-angan saja?"
"Bukan aku tidak ingin bersamamu. Tapi memang keadaan yang tidak merestui. Kau dan aku tidak bisa bersama," ucap Candra.
"Lalu sekarang kita ini apa? Aku bahkan masih memakai cincin pertunangan kita."
Candra terdiam. Ia pun tidak tahu. Apa hubungannya dengan Celine sekarang.
"Baiklah jika kau diam saja, aku akan berusaha untuk membuat kau memilihku kembali. Rumahmu sekarang adalah rumah yang dulunya akan menjadi rumah kita kan? Aku akan datang dan bertemu dengan istrimu."
Setelah mengatakan itu, Celine pergi meninggalkan Candra yang masih terdiam. Ia tidak tahu keputusan apa yang pas untuk kehidupannya. Ia masih mencintai Celine, akan tetapi ia juga tidak bisa meninggalkan Hana.
Oh Tuhan! Kenapa harus ada pilihan?
****
Terima kasih sudah membaca ceritaku sampai di bab ini. Semoga kalian menyukainya.
Jangan lupa berikan like dan vote nya teman-teman.
Ramaikan juga cerita ini dengan komentar-komentar kalian.
Kalian bisa juga memberikan dukungan untuk yoyo dengan menonton iklan yang ada di kolom pemberian hadiah.
Jangan lupa follow aku Ig ku ya
@yoyotaa_
__ADS_1