Bitter Sweet Marriage

Bitter Sweet Marriage
Bab 35 - Memulai Semuanya


__ADS_3

Pukul 17.12 sudah waktunya pulang kerja. Hana mengambil tasnya di loker. Kemudian keluar dari ruangannya. Hari ini ia begitu lelah karena dihujani banyak pertanyaan dari rekan sesama OB/OG nya setelah mengetahui bahwa Hana adalah istri dari atasan mereka sendiri.


"Hana bagaimana bisa kau menikah dengan Pak Candra?"


"Hana kenapa istri dari seorang CEO jadi OG bukannya kau bisa berdiam diri di rumah dengan santai seperti ratu?"


"Hana apa pernikahanmu bahagia?"


"Hana, bagaimana rasanya menikah dengan CEO tampan yang selalu dipuja-puja wanita?"


"Hana, tolong maafkan aku ya. Kalau sikapku tidak baik padamu selama ini. Tolong jangan laporkan aku ke HRD."


"Hana kau beruntung sekali bisa menikah dengan Pak Candra. Dia lelaki sempurna."


Pertanyaan dan ucapan seperti itulah yang terus Hana dengar sepanjang ia bekerja membuat telinganya ingin meledak. Waktu tenangnya adalah saat ini, ketika semua orang sudah pulang menyisakan dirinya seorang diri.


Hana keluar dari gedung perusahaan Candra, ia bermaksud untuk memesan ojek online. Seketika ia teringat, ponselnya masih ada di tangan Candra dan belum dikembalikan.


"Nasib! Nasib! Haruskah aku pulang naik taksi? Tapi taksi kan mahal! Kalau naik bus jam segini yang ada aku sampe rumah malam sekali. Huh!" gerutu Hana.


"Rupanya kau cerewet sekali!" tiba-tiba suara Candra terdengar dari arah belakang.


"Eh, kau belum pulang?" tanya Hana.


"Menurutmu? Apa aku ini hantu?"


Jawaban Candra membuat Hana sedikit kesal. Ia memilih untuk diam saja daripada kesal menanggapi ucapan Candra.


"Ayo pulang!" ajak Candra.


"Apa aku tidak salah dengar?"


"Sudah jangan banyak tanya! Kalau kau tidak mau ikut ya terserah sih! Ponselmu kan masih di tanganku!"


"Haiss!! Ya sudah ayo!"


Hana jalan mendahului Candra. Sementara Candra melihat kepergian Hana dengan senyum tipis yang terbentuk oleh bibirnya.

__ADS_1


****


Rumah Candra, 18.30


Candra keluar dari kamarnya, ia ingat jika Hana pasti akan menyiapkan makanan di jam-jam segini.


Benar saja, Hana sibuk berperang dengan peralatan dapurnya. Candra duduk diam menunggu di meja makan sambil memperhatikan kegiatan Hana.


Jika dilihat-lihat dan ia ingat selama ini. Hana bukanlah wanita yang tergila-gila dengan uang. Buktinya selama mereka menikah, Hana tak pernah meminta sepeser pun uang darinya. Walaupun sebenarnya, Candra selalu menyiapkan uang bulanan untuk Hana sebagai nafkah darinya. Hanya saja ia terlalu gengsi untuk mengakui Hana sebagai istrinya. Jadinya uang itu hanya Candra kumpulkan di tabungan khusus untuk Hana tanpa memberitahukan itu ke Hana. Karena ia ingin Hana yang memintanya. Namun sepertinya, mulai sekarang Candra tidak akan gengsi lagi mengenai pengakuannya. Entah jika mengenai hatinya.


Sifat Hana juga sangat lembut dan tidak mudah marah, hanya saja ia sedikit cerewet ketika mereka sudah mulai saling berbicara.


Sebenarnya Hana tau jika dirinya terus diperhatikan oleh Candra ketika ia memasak. Hanya saja, ia berpura-pura tidak mengetahuinya. Ia tidak ingin menjadi canggung dan hasilnya akan merusak rasa masakannya.


Setelah masakan selesai, Hana menghidangkannya di mangkok dan membawanya ke meja makan.


"Sepertinya kau senang sekali aku perhatikan! Bahkan waktu memasak mu saja jadi lebih lama!" ucap Candra.


Mata Hana langsung mendelik tajam.


Ia tak lagi bisa berkutik. Namun lagi-lagi kata-kata keluar dari mulutnya.


"Berarti sedari tadi kau tahu jika aku memperhatikan mu?" Daripada mencari-cari alasan untuk menyangkal Candra memilih untuk mengakuinya.


Kini Hana lah yang terdiam.


"Sudahlah, ayo makan. Kau ingin makan sendiri atau ditemani?" tanya Hana.


"Jika bisa makan berdua kenapa harus sendiri?"


"Begitu kah? Jadi kau sudah tidak jadi pria kulkas lagi? Sudah mau berbicara banyak denganku? Apa jangan-jangan kau sudah menerima kehadiranku juga?" tanya Hana bertubi-tubi membuat Candra hanya menatap Hana sekilas dan fokus untuk makan.


Suasana makan tetap tenang, tak ada obrolan apapun di dalamnya. Namun, setelahnya ...


"Hana ... " panggil Candra.


"Hm?"

__ADS_1


"Aku mengakui mu di kantor sebagai istriku bukan sekedar ucapan semata. Aku benar-benar ingin memulai semuanya dari awal bersamamu."


Kepala Hana sedikit terangkat dan menatap Candra lekat-lekat.


"Lalu Celine?" tanya Hana.


"Dia hanya masa lalu. Kehadirannya tidak bisa menggoyahkan ku lagi. Mungkin dulu aku mengharapkannya kembali padaku karena kisah kami di masa lalu yang begitu indah, hingga aku menginginkan kisah seperti itu lagi. Akan tetapi keadaan sudah berubah. Semuanya tak bisa sama seperti dulu," jelas Candra.


"Jika begitu, apa kau mencintaiku?" tanya Hana lagi. Candra terdiam, ia masih belum tahu rasa cinta itu sudah ada atau belum. Intinya ia mulai nyaman dan menerima kehadiran Hana di kehidupannya.


"Cinta bisa tumbuh dengan seiringnya waktu," jawab Candra.


"Ya, kau memang benar. Cinta bisa tumbuh karena seiringnya waktu kita."


Seperti cintaku padamu yang terus bertumbuh akan tetapi hanya mampu aku sembunyikan, batin Hana.


"Bagaimana? Kau mau kan kita memulai semuanya dari awal?" tanya Candra lagi.


Tanpa pikir panjang Hana pun mengangguk. Ia berharap pernikahannya yang dimulai setelah ini akan menjadi pernikahan yang ia harapkan.


"Terima kasih Hana," ucap Candra sambil meraih kedua tangan Hana dan menggenggam tangan itu.


"Aku tidak akan berjanji apapun padamu. Tapi aku akan berusaha yang terbaik untukmu," tambah Candra lagi. Hana tersenyum mendengar ucapan Candra itu.


****


Terima kasih sudah membaca ceritaku sampai di bab ini. Semoga kalian menyukainya.


Jangan lupa berikan like dan vote nya teman-teman.


Ramaikan juga cerita ini dengan komentar-komentar kalian.


Kalian bisa juga memberikan dukungan untuk yoyo dengan menonton iklan yang ada di kolom pemberian hadiah.


Jangan lupa follow akun Ig ku ya


@yoyotaa_

__ADS_1


__ADS_2