Bitter Sweet Marriage

Bitter Sweet Marriage
Bab 33 - Candra kesambet hantu baik


__ADS_3

Di rumah, Hana tampak gelisah karena Candra tak kunjung pulang. Meski ketika pergi Candra tidak pamit padanya, tetap saja Hana khawatir pada Candra.


"Kau kemana sih Can? Sudah pukul 11 malam dan kau belum pulang juga. Apa jangan-jangan terjadi sesuatu yang buruk padamu?"


Hana terus berpikiran negatif tentang Candra. Sampai akhirnya ia memberanikan dirinya untuk memberikan pesan pertamanya pada Candra.


Setelah memberikan pesan itu, Hana mengunci semua pintu rumah dan bergegas masuk ke kamarnya. Hana membaringkan tubuhnya di ranjang, akan tetapi ia masih gelisah dan khawatir. Hatinya tampak tidak bisa tenang sedari tadi.


"Ya Tuhan, ada apa ini sebenarnya? Kenapa rasanya aku tidak bisa tenang sama sekali? Semoga jika hal buruk terjadi, Kau selalu menjaga Candra, Tuhan."


Di keadaan yang gelisah nya itu, Hana mencoba memejamkan matanya. Sampai akhirnya ia bisa terlelap di jam 1 dini hari.


****


Di kamar hotel Celine, tepatnya di dalam kamar mandi, Candra masih membiarkan air shower menguyur tubuhnya. Setelah beberapa jam terguyur, efek obat perangsang pun mulai menghilang.


"Akhirnya, sudah tidak terasa hawa panas lagi," ucap Candra lega.


Ia pun kemudian berdiri dan memeras bajunya yang sudah basah kuyup. Tadi malam saat ia masuk ke dalam kamar mandi, ia langsung saja menempatkan tubuhnya di bawah shower tanpa memikirkan bajunya yang akan basah kuyup seperti ini.


"Dasar wanita sinting! Untung saja aku masih bisa menghindar, hampir saja aku membuat kecewa banyak orang," kesal Candra.


"Apa sekarang Celine sudah tidur?" ucap Candra bertanya-tanya.


Setelah merasa bajunya sudah terlihat tak terlalu basah lagi, Candra membuka pintu kamar mandi. Ia mengamati keadaan kamar tersebut yang sudah berantakan seperti kapal pecah. Candra pun melihat Celine yang tertidur dalam keadaan duduk di lantai, melihat kesempatan itu, Candra segera bergegas menuju ke pintu. Candra mulai mengingat rupanya semalam Celine mengunci pintu kamarnya. Candra pun mengambil kunci itu di atas meja.


Ceklek!


Pintu berhasil terbuka. Candra akhirnya bisa keluar dari kandang wanita sinting itu. Dengan langkah cepat Candra pergi menuju ke parkiran mobilnya.


Di dalam mobilnya, Candra terdiam sejenak. Ia memikirkan dirinya sendiri yang terlalu bodoh jika menyangkut soal perasaan. Seketika, ia teringat ponselnya yang sengaja ia tinggalkan di mobil. Ada sebuah pesan dari nomor asing.


Can kau dimana? Apa kau akan menginap? Jika iya, aku akan mengunci pintu rumah. Jika tidak, kuncinya ada di atas pintu di celah-celah ventilasi.


Melihat pesan tersebut, Candra bisa menebak siapa pengirim pesannya. Ia menghela napas sejenak.


"Bahkan saking tak pedulinya aku, nomor kontaknya saja aku tidak punya."

__ADS_1


Candra tak membalas pesan Hana tersebut, ia malah menghubungi Alvin, sahabatnya. Hanya saja tidak ada dijawab. Alhasil, Candra pun melajukan mobilnya menjauh dari hotel tersebut.


****


Esok harinya, Hana melakukan hal seperti biasanya, ia memasak dan menyiapkan sarapan untuk Candra dan dirinya. Meski tidak bisa makan bersama, itu tidak mengapa asalkan Candra memakan masakannya.


Saat sudah selesai masak, Hana berniat kembali ke kamar untuk siap-siap berangkat. Namun ia tiba-tiba berpapasan dengan Candra di tangga.


"Kau sudah menyiapkan sarapan kan? Aku bosan makan sendiri. Temani aku makan."


Awalnya Hana sedikit kaget, tidak biasanya Candra ingin ditemani makan olehnya. Namun Hana pun tak menolak ucapan Candra. Ia malah merasa ini adalah awal yang baik untuk rumah tangganya.


Di meja makan, Candra tampak lahap memakan sarapannya, sementara Hana ia hanya duduk diam.


"Kenapa kau tidak makan juga?" tanya Candra.


"Kau kan hanya minta ditemani," jawab Hana.


Candra menghela napasnya lalu berkata, "Jika aku mengatakan ingin ditemani makan, itu artinya aku ingin makan bersama, bukan aku makan sendirian."


Selesai sarapan, Hana membersihkan bekas piring kotor itu lalu siap-siap berangkat ke kantor. Ketika akan memesan ojek online, ponselnya tiba-tiba diambil oleh Candra.


"Is! Kenapa kau mengambil ponselku? Aku ingin memesan ojek online, nanti kalau aku telat bagaimana?" kesal Hana.


"Berangkat bersamaku!" ucap Candra lalu berjalan mendahului Hana dengan ponsel Hana masih di tangan Candra.


Hana terdiam tidak percaya.


"Apa aku sedang bermimpi? Tadi itu benar Candra kan? Bukan hantu, kan?"


Candra sudah sampai di depan mobilnya, akan tetapi Hana masih saja diam mematung di dalam rumah. Candra pun menghela napas dan menyusul Hana kemudian menarik wanita itu keluar dari rumah.


Hana terus memperhatikan sikap Candra yang mulai berbeda. Ia masih tidak percaya bahwa orang yang ada di hadapannya ini adalah Candra, suaminya yang dingin dan tak peduli padanya.


"Kenapa menatapku seperti itu?" tanya Candra.


"Tidak, aku hanya merasa sepertinya semalam kau kesambet hantu. Atau jangan-jangan kau sedang kesurupan hantu baik ya?"

__ADS_1


"Awww!" Hana berteriak kesakitan karena dahinya disentil oleh Candra.


"Jaga ucapan mu! Seenaknya saja bilang aku kesurupan! Cepat masuk!"


Sebelum mendapat sentilan untuk kedua kalinya, Hana memilih untuk menurut saja. Di dalam mobil mereka saling terdiam, hingga mobil pun dilajukan oleh Candra.


Di perjalanan pun tak ada yang bersuara sama sekali. Hana masih mengingat jika Candra tidak akan mengizinkan sembarang orang untuk menaiki mobilnya. Apa sekarang ia menjadi salah seorang dari yang dibolehkan untuk semobil bersama Candra? Seketika hati Hana berbunga-bunga. Agar tidak terlihat bahwa ia sedang bahagia, Hana menoleh ke samping berpura-pura melihat pemandangan jalan yang dilewati.


Dasar wanita aneh!


Tak lama kemudian, mobil Candra mulai masuk ke basemen. Seketika Hana terkejut.


"Is! Kenapa kau tidak menurunkan aku di jalan dekat kantor saja sih? Nanti jika ada yang bergosip bagaimana? Kau sendiri yang akan rugi!" ucap Hana.


"Ingat! Sekarang kita ada di kantor! Jadi, kau harus bicara formal padaku. Mengenai gosip, aku tidak memikirkan hal itu."


Hana kesal pada Candra, laki-laki itu tidak memikirkan gosip yang akan beredar nantinya. Ya yang pasti dirinya lah yang terkena imbasnya.


Baiklah, hari buruk ku akan segera dimulai.


Ucapan tersebut, hanya mampu Hana ucapan oleh hatinya. Ia pun segera keluar dari mobil Candra, setelah Candra keluar terlebih dahulu. Benar saja, para karyawan yang ada di basemen jadi terus melihat ke arahnya dengan tatapan yang aneh.


Siapkan hati, kuping dan mental Hana.


****


Terima kasih sudah membaca ceritaku sampai di bab ini. Semoga kalian menyukainya.


Jangan lupa berikan like dan vote nya teman-teman.


Ramaikan juga cerita ini dengan komentar-komentar kalian.


Kalian bisa juga memberikan dukungan untuk yoyo dengan menonton iklan yang ada di kolom pemberian hadiah.


Jangan lupa follow akun Ig ku ya


@yoyotaa_

__ADS_1


__ADS_2