Bitter Sweet Marriage

Bitter Sweet Marriage
Bab 38 - Bertahap ya?


__ADS_3

"Silahkan berbaring. Aku baru akan bersih-bersih badan."


Candra lalu pergi ke kamar mandi dengan membawa ponsel dan baju gantinya. Setelah berganti baju, Candra langsung menelpon Alvin.


"Ada apa? Mau curhat masalah Celine lagi? Jangan bilang kalau kau justru memilih Celine! Siap-siap akan aku kirimkan bom ke rumahmu Candra!"


Belum juga bicara apapun, Alvin sudah memarahinya seperti ini. Heran sebenarnya, kenapa jadi Alvin yang menggebu-gebu soal percintaannya.


"Bukan, makanya kalau orang belum bicara itu. Jangan asal menebak-nebak saja!" marah Candra balik.


"Terus apa coba?"


"Aku sudah memutuskan untuk memulai semuanya dari awal dengan Hana. Hubunganku dan Celine pun sudah berakhir. Rupanya apa yang kau ucapan selama ini padaku benar. Celine bukanlah orang seperti yang aku pikirkan selama ini."


"Benarkah? Syukurlah kau sudah kembali ke jalan yang benar. Yang aku kesal darimu itu adalah jika kau sudah bucin terhadap pasanganmu. Kau selalu tidak percaya pada apa yang diucapkan oleh orang lain, dan kesalnya lagi kau bahkan terlalu percaya pada wanita ular itu sampai-sampai kau tidak pernah sekalipun menyelidikinya selama ini. Definisi laki-laki bodoh ya dirimu!"


Ucapan Alvin memang benar adanya. Akan tetapi kenapa harus semua kebodohannya disebutkan semua. Rasanya ia juga kesal dibilang bodoh seperti.


"Aku itu meneleponku untuk meminta saran, dan curhat masalah percintaan ku. Bukannya malah mendengar olokan mu!"


"Hahaha, baiklah, baiklah. Jadi kau mau cerita apa?" tanya Alvin.


"Mamaku ingin punya cucu," ucap Candra.


"Gampang, tinggal buat saja dengan Hana, beres kan?" ucap Alvin dengan mudahnya.


"Haish! Masalahnya aku dan Hana itu baru saja memulai semuanya. Masa aku langsung minta seperti itu? Kau gila ya!"


Terdengar sebuah tawa dari Alvin. Rasanya ia gemas sendiri dengan sahabatnya ini.


"Ya, gimana? Kalau Tante Dona mau cucu, berarti kau harus bercinta dengan Hana. Tidak ada cara lain. Tidak mungkin kan kau justru berhubungan badan dengan wanita lain?"


"Ish! Ya aku tahu itu!" kesal Candra.


"Kalau tahu, lakukan lah!" jawab Alvin.


"Astaga! Vin! Aku bingung bagaimana cara memulainya. Masa tiba-tiba minta? Itu sama saja aku seperti pria hidung belang di luaran sana!"


Lagi-lagi tawa Alvin terdengar begitu keras.


"Sumpah ya! Aku pengen sekali menoyor kepalamu Can! Pikir saja sendiri! Sudah ya aku mau me time, bye-bye! Selamat berpusing-pusing ria."


Sambungan telepon pun dimatikan sepihak oleh Alvin membuat Candra kesal.

__ADS_1


"Percuma menelponnya, bukannya dapat jawaban malah dapat cacian. Menyebalkan sekali! Awas saja kalau kau pulang dari Itali!"


Pintu kamar mandi pun terbuka. Candra keluar dari sana. Kemudian berdiri di depan ranjang ketika melihat Hana yang kini sudah terlelap.


"Rupanya dia sudah tidur."


Candra pun ikut membaringkan tubuhnya di samping Hana. Ia menarik tubuh Hana agar mendekat padanya.


"Hana, bagaimana caranya agar aku bisa membuat kau jatuh cinta padaku?"


Padahal, jika Candra bertanya seperti itu ketika Hana dalam keadaan sadar, bisa saja Hana menjawab dengan jujur dan mengatakan bahwa ia sudah mencintai Candra. Hanya saja, sepertinya tidak mungkin.


"Apa kau tahu? Berada sedekat ini denganmu membuat hatiku berdebar-debar. Apa memang sebenarnya aku sudah jatuh cinta padamu sebelumnya? Hanya aku yang baru menyadarinya sekarang?"


Tangan cara mengusap pipi Hana pelan, sampai sentuhan itu membuat Hana terbangun dari tidurnya. Hal itu membuat Candra panik dan mendorong Hana menjauh dari tubuhnya.


"Aww!" teriak Hana yang kesakitan. Lengannya terbentur meja karena dorongan Candra.


"Apa kau baik-baik saja?" tanya Candra.


"Baik-baik saja apanya!? Lenganku sakit karena ulah mu! Lagian kenapa sih asal dorong-dorong tubuh orang saja!" kesal Hana pada Candra sambil melihat lengannya yang memar.


Candra mendekat ke Hana dan mencoba melihat memar yang telah ia buat. Cakka merinding melihatnya.


"Sakit! Jangan dipegang seperti itu!" teriak Hana saat Candra menyentuh lengan Hana.


"Iya, iya maaf," ucap Candra kemudian menyentuh memar itu dengan hati-hati.


"Kau jangan beranjak kemana pun, aku akan mengambil air dingin untuk mengompres memar mu," ucap Candra kemudian turun ke dapur.


Beberapa menit kemudian, Candra datang dan segera mengompres lengan Hana. Ketika Candra kembali ke kamar, posisi Hana kini duduk bersandar di ujung ranjang.


"Apa kau tidak suka aku disini? Jika tidak suka, tidak perlu memaksakan diri. Aku mau memulai semuanya tanpa ada yang merasa terpaksa."


"Aku tidak terpaksa, aku hanya kaget kau tiba-tiba saja membuka mata ketika aku menyentuh pipimu," ucap Candra dengan jujur.


"Eum, begitu. Jadi kau diam-diam menyentuh tubuhku saat aku tidur?" tanya Hana dengan tatapan penuh selidik.


"Tolong jaga tatapan mu itu dan jangan memikirkan hal yang aneh-aneh tentangku!" ancam Candra.


"Kenapa? Bukannya wajar jika aku berpikir aneh tentangmu?" tanya Hana.


"Hana! Kalau kau tidak diam juga, aku akan membungkam mulutmu!"

__ADS_1


"Bungkam saja! Lagian kau ini laki-laki aneh! Diam-diam menyen ... "


Ucapan Hana terhenti karena Candra membungkam Hana dengan bibirnya. Hana tidak menyangka, ciuman pertamanya akan terjadi seperti ini. Ia bahkan terkejut bahkan tidak bisa melakukan apapun. Otaknya seketika jadi blank. Beberapa saat kemudian, pikiran Hana kembali dan langsung mencubit pinggang Candra hingga merintih kesakitan.


"Sukurin! Makanya jangan seenaknya!" timpal Hana.


"Memang ada yang salah dari apa yang aku lakukan? Kita ini suami istri lho. Aku berhak atas dirimu."


Glek!


Ucapan Candra membuat Hana menelan salivanya sendiri. Ya memang benar, hanya saja Hana masih merasa aneh saja.


"Tapi, tetap saja, semuanya harus bertahap, kita bahkan belum tahu apapun tentang satu sama lain," ujar Hana mengelak.


"Bertahap ya? Baiklah." Candra tersenyum setelahnya membuat Hana semakin merinding. Entah kenapa seperti ada sesuatu yang direncanakan oleh Candra. Tapi apa?


"Besok kau tidak perlu berangkat kerja, di rumah saja," larang Candra.


"Tapi aku bosan kalau di rumah saja," ucap Hana yang tidak ingin libur kerja.


"Kalau begitu, kau boleh berangkat ke perusahaan tapi datang sebagai istriku bukan sebagai pekerja disana. Bagaimana?"


Tentu saja Hana tidak menerima tawaran itu. Ia lebih memilih untuk tetap di rumah.


"Baiklah, besok aku tidak akan berangkat kerja."


"Pilihan yang bagus!"


"Aku sudah selesai mengompres, kau boleh berbaring kembali." Hana mengangguk dan mengucapkan terima kasih.


Keduanya tertidur dengan rasa yang berbeda. Yang satu dengan detak jantung tak beraturan. Satunya dengan senyum bahagia di bibirnya.


****


Terima kasih sudah membaca ceritaku sampai di bab ini. Semoga kalian menyukainya.


Jangan lupa berikan like dan vote nya teman-teman.


Ramaikan juga cerita ini dengan komentar-komentar kalian.


Kalian bisa juga memberikan dukungan untuk yoyo dengan menonton iklan yang ada di kolom pemberian hadiah.


Jangan lupa follow akun Ig ku ya

__ADS_1


@yoyotaa_


__ADS_2