
"Jangan asal kalau bicara!" sangkal Hana yang masih ingin menyembunyikan perasaannya.
"Lagian kalau iya pun tidak apa-apa. Itu malah bagus untuk hubungan kita," balas Candra.
"Tau lah," ucap Hana lalu beranjak dari duduknya ke dapur untuk mengambil beberapa cemilan.
Candra pun tidak ingin jauh dari Hana, ia terus mengikuti kemana pun Hana pergi. Ke dapur, ke kamar, ke ruang keluarga dan ke ruang tamu juga.
"Apa kau akan terus mengikuti aku?" tanya Hana. Candra mengangguk.
"Aku takut kau kesusahan."
Hana pun menghela napas. Senang sih diperhatikan, hanya saja jika berlebihan, kesal juga.
Akhirnya Hana memilih duduk di ruang keluarga sambil menonton sinetron di salah satu stasiun tv. Cerita dari sinetron yang ia tonton, sama persis seperti kisahnya. Yang dimana si suami awalnya bersikap dingin dan tidak mencintai si istri karena masih mencintai mantannya. Namun, di sinetron yang ia tonton, kisah mereka berakhir bahagia hingga memiliki anak. Kalau kisah Hana, entahlah semuanya masih abu-abu di pandangan.
"Tidak ada tontonan lain ya? Kenapa harus nonton ini?" tanya Candra.
"Lagi ingin nonton ini. Siapa tahu, nantinya kau juga akan seperti si suami dalam sinetron tersebut. Yang akhirnya memilih bersama istrinya," jawab Hana.
"Aku kan memang sudah memilihmu. Bagaimana sih? Perlu bukti apa?" tanya Candra karena merasa ucapannya selama ini diragukan oleh Hana.
"Tidak kok. Aku kan hanya becanda," ujar Hana yang tidak ingin Candra membuktikan apapun.
Keduanya sama-sama terdiam. Entah kenapa di saat bersama Hana, Candra selalu merasa canggung sendiri dan bingung mau melakukan apa.
Aih, ayo Candra mendekatkan terus! Jangan tanggung-tanggung!
Candra menyemangati dirinya sendiri untuk terus mendekati Hana.
****
Di dalam kamar hotel, Celine meminum wine dengan sekali tegukan sambil memikirkan rencana terbaik untuk menghancurkan pernikahan Hana dan Candra.
"Tidak semudah itu, kau mencampakkan aku Candra! Aku bahkan belum memiliki apapun darimu!"
Lalu Celine meminum seteguk wine lagi dan memandangi kota dari jendela kamar hotelnya. Berbulan-bulan ia menghilang dari kota kelahirannya demi untuk melahirkan bayi yang tak pernah ia harapkan.
__ADS_1
"Dasar pembawa sial!"
Drt drt drt drt
Ponsel Celine berdering, tertera nama Deri di layar ponsel wanita itu. Dengan rasa malas, Celine mengangkat telepon tersebut.
"Sudah aku bilang! Kau tidak usah lagi meneleponku! Kau sudah janji untuk tidak menggangguku lagi jika aku melahirkan bayi itu!" marah Celine.
"Iya aku tahu. Tapi anak kita sedang sakit sekarang. Sepertinya dia merindukanmu. Tidakkah kau ingin mengunjungi dan merawatnya sebentar?" ucap Deri dengan suara lembutnya.
"Dia bukan anakku. Dia anakmu! Jadi urus saja sendiri! Aku tidak mau terlibat apapun dengan bayi itu! Pokoknya ini adalah kali terakhir kau menghubungiku! Untuk selanjutnya, anggap saja kita tak pernah saling mengenal. Dan satu lagi, kau jangan pernah memberitahukan pada siapapun kalau aku adalah ibu dari bayi yang kau jaga sekarang!"
"Celine, lagian apa sih yang kau cari selama ini? Candra juga sudah menikah dengan orang lain. Relakan dia. Lagipula, kau tidak pantas bersanding dengan Candra. Kau terlalu murahan untuk Candra yang terlalu sempurna!"
"Beraninya kau menghinaku!" marah Celine kemudian menutup telepon tersebut secara sepihak.
"Arghh!!! Deri sialan! Gara-gara dia aku tidak jadi menikah dengan Candra!"
"Awas saja! Kalau laki-laki itu sampai berani membongkar aibku, akan aku bunuh dia!"
****
Malam harinya, Sandra yang berada di luar negeri melakukan panggilan video Dengan Hana.
"Halo kak, bagaimana kabarnya?" tanya Sandra.
"Baik kok, lalu kau gimana? Lancar kuliahnya?"
"Kabarku juga baik kak, kuliahku juga lancar-lancar saja. Ngomong-ngomong gimana Kak Candra, apa dia masih seperti kulkas dua pintu?" tanya Sandra yang penasaran.
"Ya, untuk saat ini sudah ada perubahan. Kakak juga sedang memulainya dari awal. Doakan saja, semoga ucapannya tidak berubah."
"Wah, itu bagus sekali. Pasti sebentar lagi, kak Candra akan jadi bucin dengan Kak Hana. Tunggu saja ya kak, hihi."
"Aku tidak ingin terlalu berharap San, aku takut akan dijatuhkan oleh harapanku sendiri. Candra sudah menerimaku saja aku sangat bersyukur."
"Jangan terlalu pasrah dan mudah menerima semuanya kak. Percaya deh, Kak Candra itu sebenarnya sudah jatuh cinta sama kakak, cuma gengsinya aja kegedean makanya jaim-jain gitu. Nanti kalau gengsinya udah mulai hilang, pasti kakak sendiri akan repot kerena tingkat kebucinan dan keposesifan kak Candra. Aku saja kadang suka kesal sendiri, haha."
__ADS_1
"Semoga ya San, kapan pulang?" tanya Hana.
"Eum, tidak tahu kak. Nanti mungkin jika sudah selesai kuliahnya. Semoga sebelum aku lulus kuliah, aku sudah mendengar kabar baik dari kakak ya. Aku ingin sekali punya ponakan," ujar Sandra.
Hana hanya memberi respon dengan senyuman, semoga saja apa yang diharapkan Sandra bisa terkabulkan.
"Doakan saja. Kalau begitu, kita sudahi dulu ya, kakak mau memasukan untuk makan malam."
"Oke kak, sehat-sehat terus ya."
Hana mengangguk, lalu panggilan video pun selesai. Ia meletakan ponselnya di atas meja. Kemudian pergi ke dapur.
Rupanya, di saat Hana melakukan panggilan video Dengan Sandra, Candra mendengar hal tersebut saat sudah keluar dari kamar mandi dan sengaja tidak muncul agar bisa mendengar apa yang dibicarakan oleh kedua wanita itu.
"Lihat, para wanita di keluargaku sudah tidak sabar menantikan anggota baru di keluarga. Lalu, kau hanya diam dan tidak berusaha merayu Hana? His! Laki-laki bodoh memang!"
Candra mengumpati dirinya sendiri yang tidak pandai merayu dan menggombali wanita.
"Hana kira-kira apa yang kau sukai? Jawabanmu tadi terlalu umum. Aku harus berpikir keras untuk membuatmu senang."
Sejenak, Candra menghilangkan pikiran tentang cara membuat hati Hana senang dan fokus memakai pakaiannya. Setelah itu, ia keluar dari kamar dan melihat Hana yang sedang memasak di dapur.
"Hanya laki-laki bodoh memang yang tidak bersyukur memiliki istri seperti Hana. Sudah pintar masak, sabar, tidak banyak minta, enak dipandang pula. Sepertinya kemarin-kemarin mataku salah melihatnya. Hingga aku baru menyadari semuanya sekarang. Untung saja, aku tidak mengambil keputusan yang salah. Aku benar-benar tidak menyangka ternyata sifat Celine seburuk itu."
****
Terima kasih sudah membaca ceritaku sampai di bab ini. Semoga kalian menyukainya.
Jangan lupa berikan like dan vote nya teman-teman.
Ramaikan juga cerita ini dengan komentar-komentar kalian.
Kalian bisa juga memberikan dukungan untuk yoyo dengan menonton iklan yang ada di kolom pemberian hadiah.
Jangan lupa follow akun Ig ku ya
@yoyotaa_
__ADS_1