
Di perjalanan menuju ke rumah sakit, Candra terus menguatkan dan meyakinkan Hana bahwa ia akan baik-baik saja setelah ditangani oleh dokter nantinya.
"Kau harus bertahan sayang," ucap Candra dengan air mata yang terus mengalir.
Di sela kesakitan itu, Hana meraih wajah Candra dan mengusap air mata laki-laki yang dicintainya itu.
"Laki-laki tidak boleh menangis. Jika aku tidak bisa tertolong. Aku mohon jangan salahkan dirimu," ucap Hana.
"Kau tidak boleh bicara sembarangan begitu! Kau pasti akan selamat sayang," ucap Candra.
"Aku merasa tidak kuat lagi, tusukan pisau di perutku seakan mencabik-cabik organ tubuhku yang ada di dalamnya. Aku tidak kuat menahan sakit ini," ucap Hana dengan suara lirihnya.
"Kau harus bertahan sayang. Aku akan selalu ada di bersamamu."
Keadaan Hana semakin mengenaskan, apalagi darahnya terus saja keluar. Ia sudah tak mampu lagi menjawab ucapan Candra. Hingga akhirnya Hana menutup matanya.
Candra berteriak histeris dan meminta sang supir untuk mempercepat laju mobilnya.
"Pak percepat bawa mobilnya! Istriku membutuhkan pertolongan dokter secepatnya!" teriak Candra.
Mobil pun melaju sesuai dengan arahan Candra. Ia menangis sambil terus mencium tangan Hana tanpa henti.
"Kau pasti kuat. Aku yakin itu! Kumohon bertahanlah untukku."
Beberapa menit kemudian, mereka pun sampai di rumah sakit, para petugas dan dokter sudah bersiap untuk melakukan tindakan dengan membawa Hana ke ruang operasi.
Candra yang menunggu di luar pun merasa gelisah, karena sudah hampir 45 menit dokter belum keluar dari ruangan itu juga. Ia juga terus-menerus melihat ke ruang operasi menunggu hasil baik dari istrinya itu
"Ya Tuhan, tolong selamatkan istriku."
Tak lama, Mama Dona, Papa Abraham dan Papa Adam pun datang. Mereka dikabari oleh Raka tentang insiden penusukan Hana itu. Sementara Raka, ia mengurus tentang kasus Celine di kantor polisi, memastikan wanita itu tidak akan bisa kabur dan mengelak hukuman yang harus ia terima.
"Bagaimana kondisi Hana?" tanya Mama Dona. Candra menggeleng.
"Aku tidak tahu ma, dia masih di dalam dioperasi oleh dokter."
Dokter pun membuka pintu ruang operasi.
"Bagaimana dok? Apa istri saya selamat?" tanya Candra.
"Kondisinya kritis, istri anda kehilangan banyak darah. Kami membutuhkan darah dengan golongan AB resus negatif. Sayangnya, persediaan di rumah sakit kami sedang kosong. Jadi, apa ada di antara keluarga yang memiliki golongan darah itu?" jelas si dokter.
__ADS_1
"Saya dok, ambil darah saya saja," ucap Papa Adam.
"Baik, tolong anda pergi ke ruangan di sebelah sana. Suster akan membantu anda untuk mengambil darah itu."
Papa Adam pun mengangguk. Candra bernapas lega. Setidaknya ada papa Adam bersama mereka. Jika tidak, harus kemana Candra mencari darah bergolongan AB tersebut? Ada sih si Alvin, sayangnya ia sudah berada di bagian bumi yang berbeda dengan Candra.
Pengambilan darah pun berhasil, darah tersebut di bawa ke ruang operasi untuk dilakukannya transfusi darah ke tubuh Hana.
Sekitar kurang lebih 30 menit menunggu. Operasi pun selesai dilakukan.
"Operasinya berhasil, kita tunggu 2 atau 3 hari ke depan, pasien akan sadar."
"Terima kasih dokter," ucap Mama Dona.
Dokter pun mengangguk.
"Kita berdoa semoga Hana cepat sadar Can," ucap sang mama.
"Semua salahku ma. Hana mengorbankan dirinya untuk menyelamatkan aku," ucap Candra sambil meneteskan air matanya.
"Tidak ada yang perlu disalahkan disini. Ini semua musibah. Kita tidak akan pernah tahu kapan datangnya. Yang terpenting, Hana sudah selamat. Itu berita bagusnya. Lebih baik sekarang kau pulang dan ganti bajumu yang berlumuran darah itu. Setelah itu, kau boleh kembali."
Sebenarnya, Candra merasa berat untuk meninggalkan Hana walau hanya beberapa menit saja. Namun, ia memang harus berganti pakaian. Sialnya, tadi ia datang ke rumah sakit dengan mobil ambulan jadi baju ganti yang selalu siap sedia di dalam mobil tidak terbawa.
*
*
"Kata dokter, Hana sudah boleh dikunjungi. Tapi kalau mau masuk harus bergantian," ucap sang mama memberitahu.
Candra pun masuk ke dalam ruangan, meratapi istrinya yang terbaring lemah di atas ranjang rumah sakit dilengkapi dengan berbagai peralatan rumah sakit.
"Hai sayang, aku datang. Cepatlah sadar. Aku ingin menebus semua pengorbanan yang kau lakukan," ucap Candra sambil memegang salah satu tangan Hana.
"Aku tidak tahu, ternyata rasanya sesakit ini melihatmu tidak berdaya. Tubuhku seakan tercabik-cabik. Nafasku tercekat saking sakitnya. Kumohon cepatlah sadar."
Ucapan Candra diakhiri dengan sebuah kecupan manis di kening Hana. Candra pun keluar karena tidak ingin mengganggu ketenangan Hana.
Mama Dona mengelus pundak anak laki-lakinya dan menemaninya duduk di kursi.
"Mau mama belikan makanan? Kau pasti belum makan siang tadi kan? Apalagi sekarang hari sudah mau menjelang malam. Kau tetap harus menjaga kesehatanmu juga Can," ujar sang mama.
__ADS_1
Tiba-tiba saat memegang salah satu lengan Candra, ia meringis. Mama Dona pun segera membuka lengan baju Candra dan melihat luka s*yatan disana.
"Astaga! Can kau terluka! Kenapa tidak cepat-cepat diobati?" panik sang mama.
"Sakitnya tidak seberapa ma dibandingkan Hana yang sampai kehilangan darahnya," ucap Candra.
"Tetap saja ini harus segera diobati. Takutnya akan terkena infeksi dari kuman dan virus."
Mama Dona pun menyeret Candra dan meminta perawat mengobati lengan Candra. Setelah Candra diberikan penanganan, Mama Dona merasa lega.
"Kalau sudah begini, mama jadi tenang. Kau tunggu disini. Mama akan belikan makanan untukmu."
"Tidak perlu ma," tolak Candra.
"Meski kau berkata begitu, mama akan tetap belikan," kekeh sang mama.
"Setelah kepergian mamanya itu, Candra duduk menunduk meratapi semua yang terjadi. Papa Adam pun datang dan duduk di samping Candra.
"Aku tidak akan menyalahkan mu atas apa yang terjadi pada putriku. Tapi tolong jaga dia dengan baik setelah ini. Jangan sampai kejadian seperti ini terulang kembali."
Candra mendongak. Ia menatap ke arah papa mertuanya kemudian mengangguk.
"Aku berjanji."
Setelah itu keduanya duduk saling terdiam dan menunggu Hana.
Tiba-tiba Raka muncul di hadapan Candra dan menceritakan apa yang terjadi di kantor polisi. Ia juga menceritakan bahwa Celine akan mendekam di penjara dalam beberapa tahun ke depan karena kasus penusukan dan penculikan Hana itu.
"Terima kasih. Kau sudah melakukan tugasmu dengan baik."
Raka mengangguk.
****
Terima kasih sudah membaca ceritaku sampai di bab ini. Semoga kalian menyukainya.
Jangan lupa berikan like dan vote nya teman-teman.
Ramaikan juga cerita ini dengan komentar-komentar kalian.
Kalian bisa juga memberikan dukungan untuk yoyo dengan menonton iklan yang ada di kolom pemberian hadiah.
__ADS_1
Jangan lupa follow akun Ig ku ya
@yoyotaa_