
Sore menjelang malam, Hana tiba-tiba mencemaskan Candra. Pasalnya, lelaki tersebut belum pulang juga ke rumah. Biasanya pukul 16.30 Candra sudah tiba di rumah, dan sekarang sudah pukul 17.45.
"Apa dia pergi ke suatu tempat dulu?" pikir Hana.
"Jika iya, kenapa dia tidak memberitahuku? Ya aku tahu aku bukan siapa-siapa di matanya. Setidaknya dia memberikan kabar agar aku tidak kebingungan ketika ditanya oleh keluarganya. Entah kenapa feeling ku merasa tidak enak."
Hana bermonolog dengan dirinya sendiri. Rasa khawatir, cemas, gelisah menghantui dirinya. Ada apakah gerangan?
Tiba-tiba terdengar suara dering dari ponselnya menandakan ada seseorang yang meneleponnya. Rupanya orang tersebut adalah Raka.
"Halo Nona, kau harus ke rumah sakit xxx sekarang. Pak bos mengalami kecelakaan. Untuk info selengkapnya aku akan ceritakan di rumah sakit," ucap Raka dengan jelasnya.
"Baiklah, tolong dampingi Candra dulu. Aku akan segera ke sana," jawab Hana.
"Siap Nona. Alamat beserta kamarnya akan saya kirimkan lewat pesan," ucap memberitahu.
"Iya," jawab Naya.
Panggilan tersebut pun berakhir. Naya segera bersiap-siap untuk pergi ke rumah sakit. Ternyata feeling nya tidak enak karena terjadi hal buruk pada Candra.
Selesai bersiap-siap, Hana langsung memesan ojek online dan menunggunya di depan gerbang rumahnya.
Saat ojek pesanannya sudah berada di depan matanya, Hana langsung naik dan meminta sang tukang ojek untuk menaikan kecepatannya.
Tak lama kemudian, Hana sudah sampai di rumah sakit seperti yang tertulis di dalam pesan yang dikirimkan oleh Raka. Ia berjalan menuju ke kamar IGD dimana Candra diperiksa.
"Akhirnya nona datang juga," ucap Raka dengan leganya.
"Bisa kau ceritakan apa yang terjadi?" tanya Hana pada Raka.
Raka mengangguk. Ia menyuruh Hana untuk duduk terlebih dahulu lalu dia akan menceritakan semuanya.
"Tadi ketika pulang kerja, bos merasa kepalanya pusing. Saya pun berinisiatif untuk mengantarnya pulang akan tetapi seperti yang kau tahu, Bos tidak suka jika barang apapun miliknya disentuh oleh orang lain. Ia pun menolak tawaranku. Alhasil ia pulang dengan keadaan yang sakit kepalanya. Karena aku merasa khawatir, aku pun mengikuti mobil bos dari belakang. Naasnya, mobil bos mulai oleng dan menabrak beton pembatas jalan. Saya langsung melarikan bos ke rumah sakit. Dan sampai sekarang, dokter belum keluar juga dari dalam," jelas Raka.
Hana menghela napasnya kasar. Sangat disayangkan sekali, Candra masih saja tidak ingin dibantu orang ketika ia sedang kesakitan.
"Apa keluarganya sudah tahu?" tanya Hana lagi pada Raka. Raka menggeleng.
__ADS_1
"Baru kau yang saya kasih tahu Nona."
"Baiklah, aku akan menghubungi keluarganya setelah dokter selesai memeriksa Candra. Semoga dia tidak terluka parah."
Hanya itu yang Hana minta. Luka Candra tidak terlalu parah.
"Ceklek ..." bunyi pintu dari kamar tempat Candra diperiksa.
Hana dan Raka langsung berdiri dan menanyakan kondisi Candra.
"Dok bagaimana keadaannya?" tanya Hana yang sudah penasaran.
"Kondisinya sudah mulai stabil. Untungnya kecelakaan yang terjadi tidak membuat organ tubuh bagian dalamnya ikut terluka. Hanya beberapa luka di bagian kulit kepala, tangan dan kakinya. Dalam waktu beberapa Minggu pun luka itu akan mengering. Intinya tidak ada hal serius yang perlu dikhawatirkan. Kalau begitu saya permisi. Pasien sudah boleh untuk dijenguk," jelas sang dokter.
Hana dan Raka pun bernapas lega. Setidaknya tidak ada luka serius dan berbahaya yang didapatkan oleh Candra.
"Apa Nona mau masuk duluan?" tanya Raka pada Hana.
"Tidak, kau saja. Aku akan menelpon mama mertuaku dulu," jawab Hana.
Raka pun masuk ke dalam kamar IGD. Sementara Hana ia menelpon mama mertuanya.
"Candra mengalami kecelakaan ma. Sekarang dia di rawat di rumah sakit xxx. Untungnya, lukanya tidak terlalu parah kata dokter, akan tetapi aku juga belum melihatnya secara langsung," jawab Hana.
"Astaga! Tunggu mama, mama akan segera ke rumah sakit," ucap mama mertuanya yang khawatir.
"Baik ma. Kalau begitu aku tutup teleponnya."
Setelah menutup panggilan telepon tersebut, Hana langsung masuk ke kamar IGD. Ada rasa cemas dan khawatir ketika akan melihat keadaan Candra. Namun, ia harus menghilangkan rasa cemas itu agar Candra tidak berpikiran bahwa ia sudah melewati batas yang sudah mereka sepakati.
Terlihat Candra yang biasanya arogan di kantor, terbaring lemah di atas ranjang rumah sakit. Kepalanya, kaki sebelah kiri, dan tangan sebelah kanannya di perban.
"Tidak perlu menatapku seperti itu. Aku tidak butuh belas kasihan mu," ucap Candra dengan sarkas membuat hati Hana seakan ditusuk-tusuk.
Raka yang memang ada di antara mereka, menatap Hana dengan rasa kasihan. Bosnya yang satu ini memang kejam perilakunya maupun sifatnya. Akan tetapi tidak bisakah ia berkata lembut ketika sedang sakit?
"Aku tidak mengasihani mu. Hanya menyayangkan saja kenapa kau tidak bisa bersikap baik pada orang yang datang untuk menjenguk mu!" jawab Hana.
__ADS_1
Hanya dibalas dengan wajah Candra yang menoleh ke arah yang lain.
"Mama sebentar lagi datang," ucap Hana.
"Seharusnya kau tidak memberitahukan ini pada mama. Ia akan heboh karena melihat luka di tubuhku," jawab Candra.
"Apa seorang ibu tidak boleh mengetahui jika anaknya mengalami musibah?" tanya Hana karena Candra seperti menyalahkan dirinya karena memberitahukan pada mamanya bahwa ia kecelakaan.
"Tidak, karena mama pasti akan khawatir dan aku tidak ingin membuatnya khawatir dan menangis ketika melihat keadaanku," jawab Candra.
Rupanya Candra melakukan itu, karena ia terlalu menyayangi mamanya. Ia tidak ingin melihat tangisan sang mama karena dirinya. Namun, sebagai seorang perempuan, Hana tidak menyukai pikiran Candra. Mau ia suka atau tidak melihat kedatangan mamanya. Hana akan tetap memberitahukannya.
Keduanya pun kini saling terdiam. Begitu juga dengan Raka. Ia merasa hanya menjadi manekin disana untuk itu ia pamit untuk pulang pada Hana dan Candra.
Setelah kepulangan Raka, mama Dona datang. Ia langsung memeluk anaknya dengan derai air mata yang keluar dari matanya.
"Hiks ... hiks ... hiks .... Kenapa tubuhmu penuh perban Candra? Apa kau tidak bisa hati-hati ketika mengemudikan mobilmu? Kalau tidak bisa, mama akan menyewakan supir pribadi untukmu. Hiks ... hiks ... hiks ..."
"Ma, aku tidak apa-apa. Hanya luka begini saja kok. Ini tidak parah dan aku pun masih bisa menyetir sendiri untuk apa mama repot-repot ingin menyewa supir untukku," bantah Candra karena ia tidak ingin mamanya melakukan hal yang diucapkan.
"Luka begini saja katamu!? Kau sudah hampir seperti mumi Candra!" kesal sang mama.
"Iya iya iya, sudah jangan menangis ma. Aku benar-benar tidak terluka cukup parah," sahut Candra pelan, agar mamanya berhenti menangis.
Mama Dona pun berhenti menangis dan melihat lagi kondisi anak laki-lakinya. Rasanya seluruh tubuhnya remuk melihat anaknya dipenuhi luka di kepala, tangan dan kakinya. Baru kali ini ia melihat anak laki-lakinya terluka selain luka batin karena ditinggal oleh mantan tunangannya.
****
Terima kasih sudah membaca ceritaku sampai di bab ini. Semoga kalian menyukainya.
Jangan lupa berikan like dan vote nya teman-teman.
Ramaikan juga cerita ini dengan komentar-komentar kalian.
Kalian bisa juga memberikan dukungan untuk yoyo dengan menonton iklan yang ada di kolom pemberian hadiah.
Jangan lupa follow aku Ig ku ya
__ADS_1
@yoyotaa_