Bitter Sweet Marriage

Bitter Sweet Marriage
Bab 17 - Pernikahan bukan untuk main-main


__ADS_3

Hana mengajak Candra pergi ke kolong jembatan, tempat para anak-anak jalanan yang biasanya ia beri makan. Kini mereka sudah berada di sana. Terlihat banyak anak yang duduk disana dengan beralaskan tikar.


Candra merasa heran, bagaimana mungkin tempat kumuh dan kotor ini dijadikan tempat bernaung oleh anak-anak itu? Apa mereka tidak sakit? Berseteru langsung dengan hal yang kotor? Pakaian yang mereka kenakan pun begitu lusuh. Saking herannya, Candra tidak bisa berkata apapun. Ia hanya melihat Hana berinteraksi dengan anak-anak itu.


Hana memanggil anak-anak itu untuk mengambil makanan.


"Anak-anak ayo berkumpul, kakak bawa makanan untuk kalian."


Anak-anak pun berlari menuju ke arah Hana. Mereka berbaris rapi menunggu giliran untuk mendapatkan nasi kotak. Setelah semuanya mendapatkan hak nya. Naya mengikuti anak-anak itu sambil membawa nasi kotak bermaksud untuk makan bersama mereka.


Candra tampak heran dan bingung. Hana langsung meraih tangan Candra untuk mengikutinya.


Sampailah mereka di sebuah tanah lapang dengan rumput yang begitu rimbunnya. Mereka duduk disana tanpa beralaskan apa pun.


Semua anak itu makan dengan lahap, mereka tidak memperdulikan bagaimana keadaan di sekitarnya. Ada rasa iba di hati Candra. Bagaimana mungkin seorang anak yang seharusnya sibuk bermain dan belajar justru malah sibuk mencari kerja untuk makan.


"Terima kasih kak. Kakak selalu baik sama kami. Setidaknya semenjak kita mengenal kakak. Kita bisa makan enak meskipun hanya dua minggu sekali. Rasanya seperti makan di restoran mahal," ucap salah satu anak kecil.


Hana terharu mendengarnya. Bagaimana tidak? Ia besar di sebuah panti asuhan. Ia tidak mengenal siapa ayah dan ibunya. Nasibnya sama seperti mereka. Hanya saja ia lebih beruntung masih memiliki tempat untuk bernaung.


Andai Hana memiliki banyak uang, sudah pasti Hana akan membuat yayasan untuk anak-anak terlantar dan tidak mampu. Ia ingin membantu mereka yang tidak memiliki sanak keluarga.


Candra tidak menyentuh makanannya sama sekali. Ia terus memandangi anak-anak yang makan dengan lahapnya. Lalu matanya berpindah memandangi Hana.


Apalagi yang selalu ia lakukan?! Aku saja yang sudah kaya dari lahir tidak pernah berbagi apapun pada orang lain. Dia yang hanya orang biasa, malah sering berbagi.


Hana merasa ada yang memperhatikannya. Ia pun langsung bertanya, "Apa ada sesuatu di wajahku? Sampai kau memperhatikan aku sebegitunya?"


"Tidak," jawab Candra singkat sambil mengarahkan pandangan ke arah yang lain. Ia benar-benar malu jika ketahuan memandangi Hana.


Hari sudah menjelang siang, Hana dan Candra pun pulang ke rumah. Seperti biasa, mereka akan menjadi orang asing jika sudah berada di rumah.


"Apa pernikahan ini tidak bisa terjalin sebagaimana mestinya? Meskipun semuanya berawal dari paksaan. Aku benar-benar menginginkan pernikahan yang sempurna. Dimana keduanya saling memahami, mencintai, menghormati dan menjaga kepercayaan masing-masing. Tidak bisakah pernikahanku seperti itu?"

__ADS_1


Hana bermonolog pada dirinya sendiri sambil bercermin. Ia melihat pantulan dirinya. Penampilan biasa tanpa polesan make up sedikit pun. Pakaian yang dikenakan pun sederhana. Berbeda sekali dengan seorang istri CEO terkenal yang sebenarnya.


"Meskipun di hatiku belum ada rasa cinta, akan tetapi aku sepertinya sudah mulai menyukainya. Rasa suka ini seharusnya tidak salah, karena dia memang orang yang seharusnya aku sukai. Tapi, bagaimana jika rasa suka ini malah berkembang dan menumbuhkan rasa cinta, pasti akan sulit bagiku untuk melupakannya. Apalagi jika nantinya orang yang dicintainya kembali. Sudah pasti aku akan dihempaskan jauh-jauh oleh Candra."


"Hufttt ..."


Hana menghela napasnya kasar. Bicara soal cinta menang rumit. Seperti tidak ada habisnya. Jatuh cinta, seharunya banyak orang menghindarinya, karena jatuh itu rasanya sakit. Namun, kata cinta itulah yang mengubah semuanya yang telah jatuh kembali bangkit.


***


Beberapa minggu kemudian, Hana dan Candra pergi ke kediaman Abraham. Mama Dona meminta mereka untuk makan malam bersama disana.


Tibalah mereka disana, tentunya sandiwara pun di mulai. Tangan Hana bergelayut manja di tangan Candra. Meskipun pernikahan ini terjadi karena terpaksa, Candra tentu saja tidak ingin membuat kedua orang tuanya kecewa.


Kini, mereka sudah berkumpul di meja makan dengan berbagai menu makanan. Hana mengambilkan nasi dan lauk pauk beserta sayuran ke dalam piring Candra. Melihat itu, membuat mama Dona gemas sendiri dan langsung meledek anak laki-lakinya.


"Duh, yang sudah punya istri, sekarang kalo makan sudah ada yang mengambilkan," ledek Mama Dona.


Sementara papa Candra, ia makan dengan tenang sambil terus melirik ke arah Hana.


Adam, entah kenapa ketika aku melihat Hana, aku seperti melihat dirimu. Benarkah feeling-ku tidak salah? Kuharap kau segera menghubungiku lagi.


Acara makan pun selesai dilanjutkan dengan obrolan sederhana. Ternyata obrolan sederhana yang dimaksud adalah obrolan tentang sebuah hubungan suami istri.


"Apa sudah ada tanda-tanda kehidupan di dalam perutmu, Hana?"


Mendapat pertanyaan seperti itu membuat Hana terkejut bukan main. Bagaimana bisa ada tanda-tanda kehidupan di dalam perutnya. Jika disentuh saja ia belum pernah. Bahkan ia dan Candra saja tidur di kamar yang terpisah.


"Belum ma."


Bukan Hana yang menjawab melainkan Candra. Hana bernapas lega karena itu.


"Kalian jangan menunda untuk punya anak ya. Karena di luar sana banyak sekali yang menginginkan anak akan tetapi belum bisa memiliki anak. Pokoknya harus sering-sering bercocok tanam."

__ADS_1


Ucapan mama Dona benar-benar to the point. Ia berucap tanpa menyensor perkataannya.


"Iya ma, lagian jika sudah waktunya. Hana juga bakalan hamil," jawab Candra lagi.


Kapan waktunya tiba? Kau bahkan tidak menyukai diriku.


"Iya iya iya. Adikmu sudah kembali lagi ke negara tempat ia menuntut ilmu. Mama merasa kesepian di rumah. Kalian harus sering-sering kemari ya," pinta mama Dona.


"Iya ma, kami akan sering-sering kemari," jawab Hana.


Sedari tadi hanya mama Dona yang mengajak mereka mengobrol, papa Abraham hanya terdiam dan mendengarkan saja. Kini ia mulai membuka suaranya.


"Papa harap meskipun pernikahan kalian berdua diawali dengan keterpaksaan akan tetapi kalian bisa menjalani kehidupan pernikahan sebagaimana mestinya hubungan suami istri. Cinta itu bisa tumbuh dengan seiringnya waktu. Cukup dengan menerima bahwa sekarang ada seseorang yang berada di samping kalian. Ada seseorang yang harus kalian sayangi, hormati dan kenali sifatnya. Kalian tidak perlu berpura-pura di hadapan kami berdua. Karena papa bisa melihat sandiwara kalian."


Selesai mengatakan itu, Abraham bangkit dari duduknya dan berjalan menuju ke kamar.


Apa aktingku kurang menjanjikan? Sampai papa mertua tahu sandiwara aku dan Candra?


"Dengarkan ucapan papa, mama juga berharap kau bisa menerima Hana di dalam hidupmu. Pernikahan itu bukan untuk main-main. Kalian sudah terikat dengan janji. Kalian harus menjaga janji yang sudah kalian ucapkan masing-masing."


***


Terima kasih sudah membaca ceritaku sampai di bab ini. Semoga kalian menyukainya.


Jangan lupa berikan like dan vote nya teman-teman.


Ramaikan juga cerita ini dengan komentar-komentar kalian.


Kalian bisa juga memberikan dukungan untuk yoyo dengan menonton iklan yang ada di kolom pemberian hadiah.


Jangan lupa follow aku Ig ku ya


@yoyotaa_

__ADS_1


__ADS_2