
Malam semakin larut, mama Dona akhirnya memutuskan untuk pulang ke rumah dan membiarkan pasangan suami istri itu berdua di rumah sakit.
"Jika kau membutuhkan sesuatu, panggil saja aku. Aku duduk di sofa sebelah sana," ucap Hana sambil menunjuk sofa yang ada di dalam kamar rawat tersebut. Dua jam setelah diperiksa, Candra dipindahkan ke dalam kamar rawat inap VIP sesuai perintah dari mama Dona. Ia ingin anaknya mendapatkan fasilitas terbaik di rumah sakit tersebut.
"Aku bisa sendiri," jawab Candra yang tidak ingin merepotkan Hana dan merasa berhutang budi pada wanita itu.
"Baiklah, baiklah Tuan yang bisa segalanya," ledek Hana yang kemudian duduk di sofa sambil menonton acara komedi. Ia tertawa tanpa suara ketika menonton acara komedi tersebut.
Candra yang melihatnya sampai heran dengan sikap Hana. Karena Hana menggunakan earphone di telinganya. Ia merasa sangat jenuh berada di rumah sakit, apalagi dengan baunya yang begitu tidak enak di area penciumannya.
Tak lama kemudian, Hana tertidur dalam posisi duduk di sofa. Sementara Candra masih terjaga, ia tidak merasakan ngantuk sedikit pun.
Sejenak ia memikirkan tentang Hana, seorang gadis biasa yang masuk tiba-tiba dalam kehidupannya dalama beberapa bulan terakhir. Sebenarnya tidak ada sifat Hana yang ia benci. Hanya saja, Candra merasa bahwa Hana adalah awal dari semua ketidakadilan yang ia dapatkan. Harus menikah dengan orang yang tidak pernah ia cintai.
Lalu jika bukan Hana, siapa lagi yang harus ia salahkan? Ayahnya? Itu sangat tidak mungkin, bisa-bisa Candra langsung ditendang dari rumah jika begitu. Para wartawan yang dengan sengaja memotret dirinya? Ya ini memang bisa disalahkan, akan tetapi Candra tidak tahu wartawan mana yang berhasil membuat skandal waktu itu.
"Andaikan saja kau tidak meninggalkanku. Mungkin saja kita sudah menikah, Celine," ucap Candra sambil melihat ke arah jendela kamar yang kordennya belum tertutup sempurna. Terlihatlah suasana gelap malam dengan ribuan lampu menyala-nyala seperti bintang.
Tiba-tiba tenggorokan Candra terasa kering, ia merasa haus sekali. Sayangnya, gelas tersebut berada jauh dari jangkauan tangannya. Ketika Candra berusaha untuk meraih gelas itu, gelas itu malah jatuh dan ...
"Pyar ...." bunyi gelas yang jatuh. Hana yang mendengar bunyi pecahan langsung terbangun dari tidurnya dan menghampiri Candra.
"Sudah kubilang jika butuh apapun kau bisa meminta tolong padaku," ucap Hana dengan lembut. Candra malah terdiam enggan menanggapi ucapan Hana. Benar-benar definisi laki-laki yang keras kepala.
Daripada memikirkan sikap Candra, ia lalu membersihkan pecahan gelas yang ada di lantai.
"Lain kali jangan mengedepankan ego mu. Kalau sedang sakit kau tidak bisa melakukan semuanya sendirian. Kau perlu bantuan orang lain. Setidaknya anggap saja aku perawat jika kau masih tidak ingin menganggap aku sebagai istrimu," ucap Hana yang masih membersihkan pecahan gelas itu.
__ADS_1
Setelah semua pecahan Hana bersihkan, Hana lalu mengambilkan minum untuk Candra. Candra menerima minum dari Hana. Ia malas untuk menjawab perkataan Hana.
"Kalau begini kan kau tidak perlu bersusah payah," ucap Hana lalu menarik kursi untuk duduk di sebelah ranjang Candra.
"Mau aku ambilkan apalagi?" tanya Hana.
"Tidak, aku hanya haus saja," jawab Candra.
"Baiklah, aku mengantuk. Jadi, aku akan tidur disini. Kau tidak perlu repot-repot memanggil namaku, cukup kau sentuh saja tanganku, aku akan segera bangun," ujar Hana lalu memposisikan kepalanya tidur di ranjang Candra dengan posisi tubuh yang terduduk.
Mau melarang pun percuma, Hana sudah memejamkan matanya. Candra hanya bisa melihat wanita itu tertidur dengan nyaman pada posisinya. Padahal hal tersebut justru akan membuat tangan Hana merasa sakit, karena kepalanya bertopang pada kedua tangannya meskipun ia merebahkan kepala itu di ranjang Candra.
"Wanita keras kepala!" celetuk Candra yang kemudian tanpa sadar ia merapihkan anak rambut Hana yang menutupi wajah Hana.
Tak lama kemudian, Candra pun tertidur dengan tangannya yang berada di kepala Hana.
****
Hana mengirimkan pesan pada kepala OB nya, bahwa ia izin tidak masuk kerja karena ada kerabatnya yang sakit. Sangat tidak mungkin jika ia mengatakan jika suaminya sakit. Hana benar-benar menjaga privasinya. Hanya segelintir orang saja yang tahu kalau ia sudah bersuami dan adalah istri dari CEO mereka.
"Ceklek!" pintu terbuka, memperlihatkan seseorang yang datang ke kamar tersebut.
"Bagaimana keadaan Candra?" tanya Alvin saat melihat Hana yang berada di samping Candra.
"Lukanya tidak terlalu parah, kata dokter hanya butuh beberapa Minggu saja sampai lukanya mengering, akan tetapi Candra tidak bisa melakukan hal-hal yang berat dulu karena lukanya masih basah," jawab Hana.
"Oh, begitu. Semoga anak nakal itu segera sembuh dari sakitnya dan dari sifat keras kepalanya. Aku sudah mendengar dari Raka tentang Candra yang menolak untuk disupiri oleh Raka," ujar Alvin.
__ADS_1
Alvin datang tanpa membawa apapun kesana. Menurutnya percuma saja membawakan buah untuk Candra, karena Candra pasti tidak akan memakan buah tersebut.
"Hana, apa kau mencintai Candra?" tanya Alvin tiba-tiba.
"Apa pertanyaan mu harus aku jawab?" tanya Hana.
"Em, tidak juga sih. Aku hanya penasaran saja. Kan kalian menikah sudah beberapa bulan. Otomatis kalian memiliki banyak waktu berdua di rumah. Biasanya dengan berjalannya waktu, dua orang dengan berbeda jenis kelamin akan saling jatuh cinta jika tinggal di dalam satu rumah. Bisa saja hal tersebut memicu rasa cinta itu hadir dari salah satu dari kalian atau bahkan kalian berdua," ucap Alvin yang menceritakan kemungkinan-kemungkinan yang bisa terjadi.
Sayangnya, apa yang Alvin katakan sangat jauh berbeda dengan apa yang Hana jalani. Tinggal satu rumah hanya sebagai kedok kalau ia dan Candra adalah suami istri. Mengenai bagaimana suasana di dalamnya. Hana belum merasakan cinta itu benar-benar tumbuh. Ia hanya merasa bahwa ia harus menjadi istri yang baik meskipun tidak pernah dianggap.
"Aku menolak untuk menjawab pertanyaan mu. Biar saja itu menjadi rahasiaku dengan Tuhan," jawab Hana.
Alvin merasa bahwa Hana adalah sosok wanita yang memang sangat tepat untuk bersanding dengan Candra. Ia melihat Hana adalah wanita yang tangguh dan tidak neko-neko dalam bertindak.
Seharusnya kau bersyukur Candra, dan bisa melupakan mantan sialan mu itu!
****
Terima kasih sudah membaca ceritaku sampai di bab ini. Semoga kalian menyukainya.
Jangan lupa berikan like dan vote nya teman-teman.
Ramaikan juga cerita ini dengan komentar-komentar kalian.
Kalian bisa juga memberikan dukungan untuk yoyo dengan menonton iklan yang ada di kolom pemberian hadiah.
Jangan lupa follow aku Ig ku ya
__ADS_1
@yoyotaa_