
Satu bulan telah berlalu, keduanya masih seperti orang asing. Hanya bedanya, terkadang Candra mau memakan masakan Hana ketika ia sangat-sangat kelaparan. Seperti di malam ini, keduanya tengah duduk berdua di meja makan dengan beberapa menu makanan yang sudah Hana masak untuk berdua.
Candra melahap habis semua makanan yang dimasak oleh Hana. Cita rasa makanan yang Hana masak selalu menggugah selera makannya. Ia bahkan selalu tidak sadar jika Hana hanya memakan sedikit makanan karena dilahap habis olehnya.
"Apa kau sudah kenyang? Kalau belum, masih ada sedikit lauk yang aku simpan. Aku akan keluarkan jika kau belum kenyang," ucap Hana menawarkan.
"Keluarkan saja," jawab Candra.
Hana pun mengambil semangkuk lauk-pauk yang sengaja ia simpan karena ia tahu, Candra pasti masih kelaparan. Ia pun menaruhnya di meja.
Candra langsung menyendokkan lauk tersebut ke dalam piringnya. Ia begitu menikmati semua rasa makanan yang masuk ke dalam mulutnya. Sejauh ini, masakan Hana lah yang paling pas dan cocok di lidahnya. Belum ada masakan orang lain yang bisa membuat n*fsu makannya meningkat seperti ini.
"Terima kasih masakannya." Hanya ucapan itu yang keluar dari mulut Candra setelah ia menghabiskan makanan dan pergi meninggalkannya di meja makan. Tidak ada komentar ataupun pujian yang hana dapatkan.
"Huftt ..." Hana menghela napas lega. Setidaknya masih ada ucapan terima kasih yang keluar dari mulut Candra daripada ia tidak mengatakan apapun.
"Entah sampai kapan pernikahan ini akan berjalan seperti ini. Tidak ada cinta, tidak ada cerita dan tidak ada pula komunikasi. Aku seperti hanya sebuah istri yang ada di atas kertas. Hanya dianggap di dalam buku nikah dan tidak dianggap di realita. Malangnya nasibmu, Hana."
Selesai mengatakan itu, Hana mencuci semua piring yang kotor dan langsung menaruhnya ke dalam rak piring. Ia pun berjalan ke kamarnya.
Di dalam kamar, Hana menjatuhkan tubuhnya di atas ranjang. Ia menatap langit-langit kamarnya yang polos.
"Hidupku boleh saja lebih baik dari yang lalu. Tapi ternyata kisah cintaku tidaklah begitu. Apa aku tidak berhak untuk merasakan cinta yang tulus?" ucap Hana bermonolog sendiri.
****
Keesokan harinya, di AH Group tepatnya di ruangan Candra. Ia mengamuk-ngamuk karena ruangannya terlihat kotor. Padahal ia selalu memperingati para OB untuk membersihkan ruangannya sebelum ia datang ke perusahaan.
"Cepat panggil kepala OB nya!" perintah Candra yang marah-marah.
Tak lama kemudian, kepala OB datang dengan wajah yang ketakutan. Karena semua orang tahu, jika sang CEO sudah marah, semua orang akan kena imbasnya.
"Cepat katakan! Siapa yang bertugas untuk membersihkan ruangan ku hari ini!?" teriak Candra.
__ADS_1
Raka sebagai sekretaris dari Candra hanya bisa mengelus dada. Padahal ia sudah mengatakan hal tersebut dari dulu, jika si bos anti dengan namanya ruangan kotor.
"Ha-hana Pak Candra," jawab kepala OB dengan terbata-bata.
"Panggil dia!" perintah Candra lagi.
Kini Hana sudah berada di ruangan Candra. Ia benar-benar bingung kenapa ia dipanggil.
"Maaf sebelumnya, ini ada apa ya? Kenapa saya dipanggil? Apa saya melakukan kesalahan?" tanya Hana yang memang tidak tahu apapun.
"Iya, kau memang melakukan kesalahan! Kenapa kau tidak membersihkan ruangan ku dengan benar!?" marah Candra pada Hana.
"Tapi hari ini memang bukan jadwal saya," bantah Hana.
"Maaf, Pak Candra, anak buah saya yang satu ini agak kurang ajar. Mungkin dia lupa jika hari ini adalah jadwalnya untuk membersihkan ruangan anda. Saya akan mendisiplinkan dia lagi dengan sebaik mungkin," ucap si kepala OB takut Hana akan semakin membela dirinya dan itu akan membuat dirinya terkesan buruk di hadapan sang bos.
"Sampai sekali lagi terulang kembali! Gaji para OB akan saya potong!" ancam Candra.
"Kau boleh kembali," ucap Candra pada kepala OB.
Setelah kepala OB itu meninggalkan ruangan Candra, Hana masih berdiri tanpa melakukan apapun. Apa yang diperintahkan Candra seolah tak digubrisnya.
"Kenapa masih diam? Cepat bersihkan!" perintah Candra yang kemudian duduk di sofa.
"Dasar tuan penyuruh!" gumam Hana.
"Bilang apa kau!?" sahut Candra yang mendengar samar-samar suara Hana.
"Tidak, tidak, tidak. Di bagian mana yang mau saya bersihkan pak bos?" tanya Hana.
"Semuanya! Pokoknya harus kinclong sekinclong-kinclongnya. Jangan ada debu yang tersisa sedikit pun! Jika masih ada, kau harus membersihkannya 10x lebih," ujar Candra kemudian melakukan aktivitasnya memantau proyek lewat ponselnya.
"Semangat!" ujar Raka menyemangati Hana dengan gerakan tangannya. Hana mengangguk.
__ADS_1
Hana langsung membersihkan seluruh area yang kotor. Ia benar-benar merasa dikhianati oleh kepala OB nya sendiri. Setelah selesai, Hana akan meminta penjelasan dari kepala OB nya.
Di saat Hana bersih-bersih, rupanya Candra tidak sepenuhnya melihat pekerjaannya yang ada di ponsel. Ia hanya berpura-pura menyibukkan diri daripada dibilang sedang memperhatikan Hana. Sayangnya, Raka bisa melihat itu.
Bos, bos. Padahal kalau suka tinggal bilang saja. Kenapa repot diam-diam memperhatikan? Mau heran tapi bos sendiri.
***
Hana keluar dari ruangan Candra yang sudah ia bersihkan, ia pun masuk ke dalam ruangan dimana para OB/OG berkumpul. Ia mencari-cari kepala OB nya.
"Nah, itu dia orangnya," ujar Hana ketika melihat orang itu.
"Pak, kenapa bapak malah menyebut nama saya? Padahal hari ini adalah jadwal bapak yang membersihkan ruangan CEO," ujar Hana yang menanyakan alasan bapak itu.
"Saya datang terlambat, jadi tidak sempat membersihkannya. Tentunya saya menggunakan namamu karena saya tidak ingin image saya buruk di hadapan pak Candra. Lebih baik saya menggunakan nama orang lain. Kebetulan namamu lah yang ada di pikiran saya," jelas Pak Bejo yang membuat Hana menghela napasnya.
"Kali ini saya maafkan. Tapi tolong lain kali bapak harus bertanggungjawab atas pekerjaan yang seharusnya bapak lakukan. Jangan mengkambing hitamkan nama orang lain seperti itu. Untung saja, pak CEO mood nya tidak terlalu buruk, jadi saya tidak dimarahi olehnya habis-habisan," ucap Hana sambil menasehati Pak Bejo.
Pak Bejo meminta maaf pada Hana. Karena apa yang ia lakukan memang salah. Ia pun berjanji tidak akan mengulangi hal yang sama untuk kedua kalinya.
****
Terima kasih sudah membaca ceritaku sampai di bab ini. Semoga kalian menyukainya.
Jangan lupa berikan like dan vote nya teman-teman.
Ramaikan juga cerita ini dengan komentar-komentar kalian.
Kalian bisa juga memberikan dukungan untuk yoyo dengan menonton iklan yang ada di kolom pemberian hadiah.
Jangan lupa follow aku Ig ku ya
@yoyotaa_
__ADS_1