Bitter Sweet Marriage

Bitter Sweet Marriage
Bab 11 - Pernikahan


__ADS_3

Di sebuah gedung yang megah, dengan gemerlap cahaya lampu yang indah. Pengantin pria berdiri di atas altar. Tak lama kemudian, pengantin wanita masuk ke dalam gedung. Ia berjalan sendirian tanpa ada siapapun yang menggandengnya.


Janji suci pun diucapkan oleh Hana dan Candra. Sebagai formalitas Candra terpaksa mencium kening Hana agar tidak menimbulkan kecurigaan.


Tamu undangan yang hadir adalah mitra bisnis Abraham dan sahabat Candra. Sementara dari pihak Hana, tidak ada siapapun yang datang. Bukannya Hana tidak mau mengundang teman-temannya. Hanya saja, ia tidak tahu apa orang yang selama ini dianggapnya teman benar-benar menganggap Hana teman juga? Mau mengundang keluarga pun siapa? Hana sudah menjadi yatim piatu sejak lama. Bisa menikah dan diterima di sebuah keluarga terpandang pun Hana sudah sangat bersyukur.


Sebelum pulang, para tamu yang hadir mengucapkan selamat pada kedua pengantin.


"Selamat atas pernikahan kalian. Semoga langgeng sampai kakek nenek."


"Terima kasih," jawab Hana.


"Semoga cepat dapat momongan."


Hana hanya tersenyum tipis menjawab perkataan tersebut. Bagaimana ia bisa mendapatkan momongan? Ia saja tidak yakin apakah ia akan tidur sekamar atau tidak.


"Selamat ya, semoga pernikahan kalian membawa berkah."


"Terima kasih."


Satu per satu tamu sudah pergi dari acara. Mereka pun bisa duduk dengan tenang. Setelah berdiri selama beberapa jam. Sandra, Abraham dan Dona menghampiri Hana dan Candra. Mereka bertiga satu per satu mengucapkan selamat dan harapan.


"Jadilah kepala keluarga yang bisa diandalkan. Kau harus bisa menahan emosimu. Papa harap kau bisa sedikit berubah setelah menikah. Sekarang bukan lagi kau seorang yang harus kau nafkahi, melainkan ada istrimu."


"Selamat ya sayang, mama selalu doakan yang terbaik untuk kalian berdua. Satu pesan mama, masalah rumah tangga hanya kalian yang boleh tau. Jangan ceritakan apapun pada orang lain. Itulah artinya menghargai pasangan."


"Selamat kak Candra dan Kak Hana. Aku cuma berharap dapat keponakan yang lucu, hihi."


Candra mendelik mendengar ucapan Sandra. Bisa-bisanya ia berharap seperti itu. Jika orang lain yang mengucapkannya Candra acuh saja. Tapi, jika anggota keluarga, Candra merasa kesal. Padahal mereka tahu motif sebenarnya dari pernikahan tersebut.


"Lebih baik sekarang kalian pulang dulu ke rumah. Bersih-bersih badan. Biar pindah rumahnya besok saja. Pasti hari ini kalian lelah."

__ADS_1


"Baik ma," jawab Candra.


Hana dan Candra pulang dengan menggunakan mobil Candra. Sebenarnya Candra tidak suka ada orang lain yang memasuki mobilnya. Semua ini terpaksa.


"Kali ini aku mengizinkan mu menaiki mobilku. Namun setelahnya jangan pernah berharap."


"Aku juga tidak berharap begitu. Naik bus saja sudah cukup bagiku."


Dua puluh menit pun berlalu, semuanya sudah sampai di rumah. Hana memasuki kamar yang sama dengan Candra. Namun jangan berpikir bahwa Hana boleh menyentuh apapun di dalamnya. Hana hanya diperbolehkan untuk duduk di sofa. Itu saja. Kejam bukan? Padahal mereka sudah menjadi suami istri. Seharusnya saling berbagi.


"Meskipun status kita adalah suami istri. Jangan harap kau bisa mengatur kehidupanku. Jalani kehidupan masing-masing seperti sebelumnya," ucap Candra."


"Iya, aku tahu. Walaupun kalimat tersebut tidak terucap dari mulutmu, aku sudah bisa menebak hanya dari tatapan tajam matamu."


"Baguslah. Aku mau membersihkan badan lebih dulu. Kau jangan menyentuh barang apapun yang ada disini. Karena aku akan tahu jika ada perpindahan sedikit pun."


"Iya aku mengerti. Kau ternyata banyak bicara juga."


"Jangan menyentuh barang apapun yang ada disini. Karena aku akan tahu jika ada perpindahan sedikit pun."


Hana menirukan gaya pengucapan Candra setelah Candra menghilang dari pandangannya. Hana berdiri dari duduknya. Hana tidak menyangka bukan hanya orangnya saja yang menjengkelkan. Rupanya warna kamar Candra pun demikian. Semuanya nuansa berwarna hitam. Warna yang paling tidak disukai oleh Hana.


"Apa yang mau disentuh coba? Semua yang ada disini tidak ada yang membuatku tertarik."


Seketika, mata Hana tertuju pada sebuah foto. Foto Candra dan seorang wanita dengan posisi Candra memeluk wanita tersebut dari belakang. Hana yakin pasti wanita tersebut adalah Celine. Wanita yang masih dicintai Candra.


"Pantas saja Candra sulit melupakan dia. Dia begitu sempurna sampai aku tidak bisa melihat satu kekurangan apapun. Cantik iya, manis iya, apalagi dia punya badan yang bagus. Apalah dayaku yang memiliki badan seperti papan penggilasan ini."


Saat hendak kembali ke sofa, tanpa sengaja kaki gaun Hana tersangkut ke pigura foto tersebut. Akhirnya foto tersebut jatuh dan ...


PRANG!!

__ADS_1


Foto tersebut terjatuh. Piguranya rusak, kacanya pun pecah. Hana panik. Ia bingung apa yang harus ia lakukan. Yang jelas Candra akan sangat marah.


"Sebaiknya aku bersihkan dulu serpihan kacanya. Bagaimana sikap Candra setelah ini. Aku pantas menerimanya."


Hana membersihkan serpihan demi serpihan. Hingga ia tidak sadar kakinya menginjak serpihan kaca yang sedikit besar. Darah pun keluar dari kaki Hana.


"Astaga. Kenapa aku tidak menyadari ini? Kamu ceroboh sekali Hana."


Untuk kedua kalinya Hana berdarah. Hanya berbeda tempat saja. Darah yang keluar terus mengalir. Namun, Hana belum selesai membersihkan serpihan kaca tersebut. Tak lama kemudian, Candra keluar dari kamar mandi. Ia terkejut melihat apa yang dilakukan Hana.


"Hana! Sudah kubilang jangan sentuh apapun!" Candra marah. Hana merasa bersalah. Tapi apa yang bisa ia lakukan sekarang. Meminta maaf pun tidak akan dimaafkan.


"Maaf," ucap Hana lirih sambil menundukkan kepalanya.


"Haaah! Baru sehari kau disini. Tapi kau sudah buat kekacauan! Bagaimana mungkin aku bisa hidup berhari-hari bersamamu! Yang ada hanya ada kesialan dalam hidupku!"


Sakit! Sungguh sakit! Perkataan Candra lebih tajam dari pada pedang. Bagaimana bisa ia menyimpulkan semuanya hanya karena satu kejadian.


Hana menangis namun tak bersuara. Ia hanya meneteskan air mata saja.


"Bersihkan semuanya! Dan taruh foto itu di tempatnya!"


Hana melakukan apa yang diperintahkan Candra sambil menangis. Candra tidak memiliki simpati apapun. Ia bahkan tidak peduli dengan darah yang mengalir dari kaki Hana.


Setelah serpihan kaca tersebut dibersihkan, Hana berjalan pelan menuju kamar mandi. Ia melirik ke arah Candra. Namun Candra bersikap acuh tak acuh. Hana menghela napasnya kasar.


Sementara Candra, ia berusaha untuk mengontrol emosinya agar tidak meledak seperti barusan. Meskipun hanya sebuah foto. Tapi foto tersebut merupakan kenangan manis terakhir yang ia alami bersama Celine.


"Haishhh." Candra mengacak-acak rambutnya. Ia pergi keluar dari kamar untuk meredakan emosinya.


Rooftop rumah lah tempat Candra meredakan amarah, menjernihkan pikiran dan menceritakan isi hatinya. Ia sadar sebenarnya apa yang ia lakukan sedikit berlebihan. Kata-katanya terlalu kejam hingga membuat Hana menangis.

__ADS_1


__ADS_2