
Dua hari telah berlalu, saatnya konferensi pers dimulai. Semuanya duduk di tempatnya masing-masing. Candra mulai menanggapi tentang berita dan video yang beredar di internet.
"Selamat siang semuanya, saya Candra Abraham selaku CEO dari AH Group meminta maaf atas rekaman video yang tidak pantas yang di dalamnya terdapat wajah saya."
Mendengar ucapan Candra tersebut, para wartawan mulai berbisik dan menyimpulkan jika video tersebut bukanlah editan dan bukan hoax.
"Akan tetapi, alasan dibalik terjadinya hal tersebut bukanlah karena rasa saling suka tapi karena saya dijebak dan dibuat mabuk oleh wanita yang ada di dalam video."
Para audiens disana langsung riuh karena Candra mulai mengucapkan pembelaan dirinya.
"Lalu, untuk berita yang mengatakan istri saya adalah orang ketiga dalam hubungan saya dan wanita yang ada di dalam video, semuanya tidaklah benar. Justru istri saya adalah penyelamat harga diri saya karena orang yang seharusnya menjadi istri saya justru pergi meninggalkan saya dan wanita itu adalah Celine, orang yang ada di video tersebut."
Suara-suara riuh kembali terdengar setelah mengetahui fakta baru.
"Jika ada yang ingin ditanyakan, langsung angkat tangan saja!"
Satu persatu wartawan mengangkat tangannya dan memberikan pertanyaan.
"Apa yang membuat Celine pergi meninggalkan anda?" tanya si wartawan.
"Melahirkan, ia pergi melahirkan anak dari laki-laki lain di luar negeri."
Sebenarnya, Candra pun tidak ingin mengumbar aib orang lain ke media, akan tetapi ini adalah satu-satunya cara yang bisa ia lakukan.
Sementara Celine yang kini menonton konferensi pers yang diadakan secara live itu mengepalkan tangannya. Ia sudah bersusah payah menyembunyikan semuanya, akan tetapi Candra berhasil membongkarnya.
"Sialan kau Candra!"
Kembali lagi pada Candra.
"Apa ucapan anda bisa dipercaya? Bisa saja anda berbohong untuk menutupi kebenaran, seperti yang anda lakukan di masa lalu tentang pernikahan anda."
"Aku sudah membawa seseorang yang bisa menjawab pertanyaan itu."
"Deri!" panggil Candra.
Laki-laki itu pun berjalan dari belakang menuju ke tempat duduk di sebelah Candra.
"Dia yang akan menjelaskan semuanya."
"Halo, semuanya. Selamat siang. Saya berada disini untuk meluruskan apa yang sedang terjadi saat ini. Apa yang diucapkan oleh Pak Candra memanglah benar adanya, Celine pergi meninggalkan Candra karena melahirkan di luar negeri dan anak itu adalah anak saya. Saya berharap, setelah itu Celine akan bisa menerima semuanya dan melupakan Candra. Namun, ia tetap kekeh untuk bisa kembali pada Candra. Hingga beberapa bulan setelah melahirkan, ia pun kembali kesini dan mulai mendekati Candra lagi. Namun, semuanya sia-sia karena Candra memilih istrinya, jadilah Celine menghalalkan segala cara untuk menjebak Candra. Dan video yang kalian lihat itulah hasilnya."
Semua orang dibuat tercengang dengan apa yang dikatakan oleh Deri. Tapi memang penjelasan itu yang masuk akal dan bisa meluruskan semuanya.
__ADS_1
"Semuanya sudah terjawab, konferensi selesai."
Candra dan Deri mengobrol sambil berjalan masuk ke dalam ruangan Candra.
"Terima kasih, kau sudah mau datang kemari. Maaf, karena aku, kau juga harus membuka aibmu sendiri," ujar Candra.
"Sama-sama. Tidak masalah, itu memang kenyataannya, aku juga tidak ingin terus menyembunyikan fakta ini. Justru akulah yang seharusnya meminta maaf padamu. Aku sudah menjadi perusak hubunganmu dengan Celine, hingga ia melahirkan anakku."
"Semuanya sudah terjadi, dan itu tidak akan pernah bisa dirubah. Tapi, aku bersyukur karena hal itu, aku bisa menemukan orang yang lebih baik dari Celine. Terima kasih."
"Ya kau benar, semuanya memang sudah terjadi. Aku pun sedikit menyesalinya. Kini anakku tumbuh tanpa sosok seorang ibu. Celine tidak pernah mau merawatnya. Bahkan dari ia lahir sampai sekarang pun, ia tak pernah memberikan ASI untuk anaknya."
"Bersabarlah, kau pasti bisa melaluinya."
Deri pun mengangguk. Ia pergi dari ruangan Candra untuk kembali ke rumahnya.
"Akhirnya semuanya sudah selesai. Semoga dengan begini, tak ada lagi ungkapan kebencian yang menyudutkan Hana. Aku sungguh tidak rela hal itu terjadi."
Mengingat tentang Hana, Candra jadi ingin menghubungi istrinya itu. Ia mencari nomor kontak istrinya dan melakukan panggilan.
Panggilan pun diterima.
"Halo sayang, apa kau menonton konferensi pers ku tadi?" tanya Candra yang langsung pada intinya.
Deg!
Suara ini bukanlah suara Hana, ini adalah Celine. Candra jadi panik, ia benar-benar takut sesuatu yang buruk akan terjadi pada istrinya itu.
"Dimana istriku, hah!" teriak Candra di dalam telepon.
"Kau mencarinya? Kau mencintainya? Jika iya, maka datanglah ke gedung dekat rumahmu yang sudah terbengkalai akibat kebakaran. Aku tunggu! Jangan berani-berani lapor ke polisi, atau nyawa istrimu akan hilang!"
Tut!
Panggilan pun berhenti. Candra tidak bisa berpikir jernih sekarang. Ia hanya bisa mengikuti apa yang diminta oleh Celine. Ia berlari keluar dari ruangannya. Di depan ruangan Candra, Raka pun melihat bosnya berlari seperti mengejar sesuatu. Ia pun penasaran dan mengikuti bosnya itu.
"Bos Candra mau pergi kemana ya? Kenapa dia sampai berlari seperti itu? Tapi kenapa arah mobilnya seperti mau menuju pulang ke rumahnya?" pikir Raka yang kini terus mengikuti mobil Candra.
Setelah beberapa menit berpacu dengan kecepatan tinggi, Candra pun tiba di gedung yang dimaksud oleh Celine. Raka yang mengikuti Candra pun sudah tiba disana.
"Apa yang ingin bos lakukan di gedung terbengkalai ini? Aneh!" gumam Raka.
Raka mengikuti kemana kaki bos nya melangkah. Ia mengikuti diam-diam agar tidak ketahuan.
__ADS_1
Sesampainya di lantai ketiga, Raka terkejut ketika melihat bosnya menemui Celine dan disana sudah ada istri bosnya yang duduk terikat di kursi dengan mulut yang sudah dilakban.
Karena panik, Raka mulai menelpon nomor polisi dan memberitahukan tentang kejahatan yang dilakukan oleh Celine. Ia pun kembali fokus mengamati dan mendengarkan percakapan antara bosnya dan Celine.
"Celine! Tolong lepaskan Hana! Ia tidak salah apa-apa! Kenapa kau malah mengikatnya seperti itu, hah!" teriak Candra sambil melangkah mendekat ke arah Hana ingin melepaskan ikatan itu.
"Satu langkah mendekat, pisau ini akan menembus jantung istrimu!" ancam Celine yang memang sedang memegang pisau yang sangat tajam.
Candra pun memundurkan langkahnya untuk mengamankan nyawa istrinya.
"Sebenarnya apa yang kau inginkan!?" tanya Candra sambil berteriak.
"Menikah denganku!" jawab Celine.
"Itu tidak mungkin terjadi."
"Kalau begitu, bersiaplah untuk kehilangan," ucap Celine sambil menodongkan pisaunya di dekat leher Hana.
Candra panik, ia benar-benar tidak tahu apa yang harus ia lakukan sekarang. Menuruti kemauan Celine? Tentu tidak mungkin, tapi nyawa istrinya menjadi taruhannya.
"Kau jangan bertindak bodoh Celine!"
"Aku tidak peduli!" ucap Celine.
Candra mencoba mendekat lagi ke arah Hana. Namun, pisau itu kini sudah menggores leher Hana hingga mengeluarkan sedikit darah.
"Aku tidak main-main dengan ucapan ku Can! Tentukan pilihanmu sekarang juga!"
"Dasar gila! Kau psikopat!"
Celine hanya tersenyum smirk mendengar ucapan Candra itu.
****
Terima kasih sudah membaca ceritaku sampai di bab ini. Semoga kalian menyukainya.
Jangan lupa berikan like dan vote nya teman-teman.
Ramaikan juga cerita ini dengan komentar-komentar kalian.
Kalian bisa juga memberikan dukungan untuk yoyo dengan menonton iklan yang ada di kolom pemberian hadiah.
Jangan lupa follow akun Ig ku ya
__ADS_1
@yoyotaa_