Bitter Sweet Marriage

Bitter Sweet Marriage
Bab 44 - Semakin Mesra


__ADS_3

Hari-hari setelah malam itu, hubungan Candra dan Hana menjadi lebih baik layaknya suami istri sungguhan. Tidak seperti dulu yang bersandiwara di depan banyak orang dan keluarga Candra.


Pasangan tersebut kini berada di kediaman Abraham karena mama Dona yang meminta mereka untuk datang.


"Mama senang melihat kalian berdua seperti ini," ucap Mama Dona sambil tersenyum.


Hana hanya membalasnya dengan senyuman juga.


"Mama hampir lupa, minggu depan tolong kosongkan jadwal mu karena ada teman papa yang datang dari jauh."


"Siapa ma?" tanya Candra.


"Om Adam," jawab sang mama.


"Om Adam?" Candra tampak mengingat-ingat nama itu.


"Mungkin kau lupa. Soalnya dulu kau masih kecil sekali saat bertemu dengan dia."


Candra pun mengangguk-angguk. Sementara Hana yang tidak tahu siapa orang yang dimaksud oleh mama mertuanya hanya menyimak saja.


"Ngomong-ngomong mama meminta kami datang hanya untuk memberitahukan hal itu?" tanya Candra.


"Iya, tidak juga. Mama kan ingin kalian mengunjungi mama. Setelah punya rumah sendiri, kau dan Hana jarang sekali datang. Kalian datang jika diminta mama saja. Kan kesal!"


"Hehe." Hanya dibalas cengiran oleh Candra.


"Malam ini menginap ya!" pinta sang mama.


"Oke mama," jawab Candra.


****


Malam semakin larut, Candra dan Hana kini sudah berada di atas ranjang. Duduk salin berhadapan kemudian sama-sama tersenyum karena masih terasa canggungnya.


"Sayang ..." panggil Candra.


"Sayang?"


"Iya, masa aku harus memanggilmu nama terus. Tidak romantis ah," ucap Candra.


Hana terkekeh pelan, merasa lucu jika melihat Candra yang seperti ini.


"Kenapa aku jadi geli sendiri ya? Melihatmu yang berbeda 180 derajat dari biasanya," ucap Hana jujur.


"Sudah aku bilang, kau harus mempersiapkan dirimu sayang."


"Tetap saja aneh," ungkap Hana.


Tiba-tiba tatapan Candra berubah menjadi serius.


"Aku ingin punya anak 2. Tidak terlalu banyak dan tidak terlalu sedikit. Menurutmu bagaimana?" tanya Candra.


"Mau dikasih anak berapa pun aku akan bersyukur menerimanya," jawab Hana.


"His! Jawabanmu terlalu umum."

__ADS_1


Hanya dibalas senyuman oleh Hana.


"Tidak usah senyum-senyum!" larang Candra.


"Kenapa memangnya?" tanya Hana.


"Aku jadi tidak bisa marah karena terpesona senyuman mu," jawab Candra.


"Hahaha, gombal sekali. Tidak cocok dengan kepribadianmu tahu," ucap Hana yang merasa aneh.


"Tidak cocok, tapi wajahmu memerah sayang?" goda Candra.


Seketika Hana memalingkan wajahnya ketahuan.


"Hihi, lucu ya. Kita bisa sedekat ini sekarang. Padahal sebelumnya aku begitu galak dan jahat padamu."


"Haha, iya. Mungkin karena sudah takdirnya begitu."


Candra pun membawa Hana ke dalam pelukannya. Mengusap lembut rambut wanita yang sudah dicintainya itu.


"Hana, aku adalah orang yang tidak mudah jatuh cinta. Tapi ketika sudah jatuh cinta, aku akan jatuh sejatuh-jatuhnya. Jadi, kumohon jangan kecewakan aku," pinta Candra dengan suara lembutnya.


"Mendapatkan hatimu saja butuh waktu yang tidak singkat. Bagaimana mungkin aku mengkhianati usahaku sendiri? Bodohnya aku jika melakukan hal itu."


Candra melepaskan pelukannya dan mencium bibir Hana. Pas sekali hujan turun dari langit membuat suasana jadi semakin menyatu.


****


"Sial! Kenapa Candra tidak pernah membalas ataupun mengangkat telepon dariku?!" kesal Celine di kamar apartemennya.


"Rupanya kau benar-benar memilih wanita itu ya? Awas saja, tunggu kejutan dariku!"


****


Berbeda dengan Celine yang kesal di apartemennya, pasangan yang satu ini justru makin terlihat mesra.


"Kau di kamar saja, aku akan ambilkan makanan untuk mu. Aku kasihan melihatmu yang berjalan seperti pinguin itu," ucap Candra membuat Hana kesal.


Memangnya siapa yang sudah membuatnya berjalan seperti pinguin jika bukan laki-laki di hadapannya ini?


"Ish! Ini juga ulah mu tahu!" kesal Hana.


"Memang ulahku, tapi kau pun tidak menolaknya iya kan?"


Hana jadi semakin kesal. Rasanya ia lebih suka Candra yang dingin daripada cerewet begini.


"Aku ke bawah dulu."


Candra pun keluar dari kamarnya dan ingin mengambilkan makanan untuk Hana.


"Kenapa baru keluar kamar sekarang? Padahal tadi mama sudah mengetuk-ngetuk pintu untuk membangunkan mu. Tapi tidak ada sahutan dari dalam. Terus mana Hana? Kenapa turun sendirian?" tanya mamanya yang penasaran.


"Mama jangan banyak tanya ya. Mantu mama sedang tidak bisa berjalan. Aku berniat untuk membawakan sarapan untuknya," jawab Candra.


Mama Dona tersenyum mengerti maksud dari ucapan anaknya.

__ADS_1


"Kenapa hanya membawa sarapan satu porsi? Kau kan juga belum sarapan. Ambilah yang banyak. Kalian perlu tenaga ekstra untuk membuatkan cucu di keluarga Abraham."


Setelah mengatakan hal tersebut, Mama Dona berlalu pergi.


"Kan mintanya cucu lagi. Jika begini aku memang harus memiliki stamina yang lebih," ujar Candra sambil membawa nampan yang berisi makanan.


Keduanya pun sarapan di dalam kamar. Setelah selesai, Candra mengantarkan kembali nampan tersebut ke dapur.


Kini ia bertemu dengan papanya di ruang tamu.


"Can," panggil sang papa.


"Iya pa," jawab Candra lalu duduk di hadapan papanya.


"Ada hal yang ingin papa bicarakan denganmu. Mengenai wanita masa lalu mu."


"Aku sudah tidak peduli lagi tentang dia pa. Jadi, lebih baik papa jangan bicarakan dia di hadapanku," ujar Candra.


"Kau harus peduli, ini semua tentang alasan dia pergi meninggalkanmu saat sebelum pernikahan dulu. Papa tidak ingin kau jadi terus bertanya-tanya alasan itu."


"Aku sudah tahu pa, Celine sudah menceritakannya padaku," jawab Candra.


"Iya kah?" tanya Abraham yang sama sekali tidak percaya.


Candra mengangguk.


"Apa dia menceritakan jika dia pergi melahirkan anaknya dengan laki-laki lain padamu?" ucap Abraham yang sengaja langsung mengatakan hal tersebut.


Candra dibuat terkejut. Bagaimana mungkin?


"Pa, jangan berbohong padaku. Celine bilang dia kena kanker dan pergi untuk berobat ke luar negeri," jawab Candra yang masih belum percaya.


"Dan kau percaya ucapannya itu?" tanya papanya lagi. Tak ada tanggapan dari Candra. Ia hanya terdiam.


"Kau terlalu bodoh Can. Rasa cintamu itu membuatmu jadi bodoh dan mudah ditipu oleh wanita seperti Celine. Kau terlalu percaya padanya sampai tidak bisa melihat sisi lain dari wanita itu. Alasan dia pergi karena melahirkan anak dari laki-laki lain bukan untuk berobat. Papa sudah menyelidikinya."


Candra benar-benar tidak percaya akan kenyataan yang ia terima. Ia sudah dibohongi dan dikhianati seperti ini. Kesal itu sudah pasti. Menyesal? tentu saja. Siapa yang tidak kesal dan menyesal? Wanita yang dulu pernah bersamanya rupanya menjalin hubungan dengan orang lain. Secara langsung Candra diselingkuhi oleh Celine.


"Papa harap, setelah mengetahui kebenaran ini, kau tidak usah lagi berhubungan dengan Celine."


"Tanpa papa minta pun, aku sudah tidak mau berhubungan lagi dengannya. Aku jijik melihatnya."


****


Terima kasih sudah membaca ceritaku sampai di bab ini. Semoga kalian menyukainya.


Jangan lupa berikan like dan vote nya teman-teman.


Ramaikan juga cerita ini dengan komentar-komentar kalian.


Kalian bisa juga memberikan dukungan untuk yoyo dengan menonton iklan yang ada di kolom pemberian hadiah.


Jangan lupa follow akun Ig ku ya


@yoyotaa_

__ADS_1


__ADS_2