
Candra pulang ke rumahnya dengan lesu. Hana yang melihat itu, mencoba bertanya.
"Kau kenapa? Apa ada masalah di kantor? Kenapa kau pulangnya larut sekali? Mau aku siapkan air hangat untuk mandi?"
Candra menoleh ke arah Hana, ia menatap tajam wanita itu lalu berjalan menuju ke kamarnya tanpa menjawab pertanyaan Hana.
"Huh! Sampai kapan aku akan menjalani kehidupan pernikahan seperti ini? Bukan pernikahan seperti ini yang aku harapkan."
Daripada terus memikirkan sikap Candra, Hana turun dari kamarnya ke ruang keluarga untuk menonton serial drama kesukaannya. Setidaknya, lewat sebuah tontonan bisa mengalihkan fokus pikirannya.
Di dalam kamar, Candra menarik dasinya kasar dan melempar ke sembarang arah. Ia benar-benar dilema. Ia bingung harus melakukan apa. Tiba-tiba yang terlintas di pikirannya adalah ia harus cerita pada Alvin. Dengan segera, Candra menelpon Alvin.
"Ada apa kau menelpon ku? Tidak biasanya begini."
"Aku bingung."
"Bingung? Memangnya kau ada masalah apa? Apakah bingung karena kau sudah jatuh cinta pada Hana? Lalu kau bingung bagaimana menyatakan cinta padanya? Karena yang kau lakukan selama ini pada Hana terlalu kejam." Alvin malah berasumsi sendiri. Padahal Candra belum mengatakan apapun.
"Haish! Diam dulu! Aku belum mengatakannya. Tadi sore aku bertemu dengan Celine dan dia menjelaskan alasan kenapa dia meninggalkanku. Dia juga mengajak aku untuk kembali bersama. Menurutmu bagaimana?"
"Dengar ya laki-laki bodoh! Buka kuping mu lebar-lebar dan buka mata hatimu seluas samudera! Dan ingat terus perkataan ku! Mau si perempuan ular itu menjelaskan alasannya pun dia tetap salah! Kau jangan goyah hanya karena dia mengajakmu untuk kembali bersamanya. Apa kau ingin ceritamu berakhir sama seperti dulu? Tidakkah kau merasa kasihan terhadap Hana? Hei, pernikahan kalian baru seumur jagung! Dengan dirimu yang merasa bingung sekarang, itu artinya hatimu sudah dicuri oleh Hana tanpa kau sadari! Jika kau lebih memilih si perempuan ular itu, cepat ceraikan saja Hana! Lalu kau kirim dia padaku! Aku dengan senang hati akan menjadikannya ratu di istanaku! Aku yakin kalau dia juga belum pernah kau apa-apakan kan? Jack pot mana lagi yang harus aku hindari? Kau bodoh!"
Cakka terdiam, ia berusaha mencerna ucapan Alvin yang memarahinya. Ketika Alvin mengatakan ingin menjadikan Hana ratu di istananya, entah kenapa Candra merasa tidak rela.
"Nah, kan. Kenapa kau diam? Tau begitu dulu aku tidak buru-buru pergi ke Itali. Jika kau tidak bisa memutuskan hal mudah seperti ini. Ternyata benar cinta itu bisa membuat orang buta dan tuli. Aku sudah melihat kenyataannya."
"Nanti aku telpon lagi, terima kasih nasehat pedasnya."
Benar saja, Candra langsung memutuskan sambungan teleponnya. Sementara Alvin, ia malah menggerutu menyayangkan sikap Candra yang tidak bisa memutuskan.
"Apa aku harus turun tangan?" ucap Alvin tampak berpikir.
__ADS_1
"Ah, jangan deh. Biarkan saja dia memutuskan, kecuali jika Hana yang meminta tolong, aku akan membantu mereka."
****
Dua hari setelah pertemuan di cafe, akhirnya Celine memberanikan dirinya untuk mengunjungi rumah Candra. Pas sekali dimana hari itu adalah hari weekend.
Celine mengetuk pintu rumah tersebut. Tak lama kemudian Hana membuka pintu tersebut dan bertanya.
"Apa Candra ada di rumah?" tanya Celine. Hana menggeleng.
"Apa aku bisa bertemu dengan istrinya Candra?" tanya Celine.
"Ya, itu aku. Ada apa? Apa ada hal penting yang mau dibicarakan dengan Candra?" tanya Hana yang merasa asing dengan wajah wanita yang ada di hadapannya.
"Tidak, aku datang kesini untuk membicarakan tentang Candra. Apa aku boleh masuk?" tanya Celine lagi.
"Ah, iya. Silahkan masuk, aku sampai lupa mempersilahkan mu."
Hana mempersilahkan wanita asing itu masuk tanpa bertanya siapa namanya. Ia berpikir bahwa wanita itu pasti salah satu teman Candra.
"Rumahnya sangat bagus, persis seperti apa yang aku mau," ucap Celine.
"Hah? Maksudnya?" tanya Hana yang tidak mengerti.
"Jangan hiraukan ucapan ku."
"Baiklah, kau mau minum apa? Biar aku buatkan," tawar Hana.
"Tidak perlu. Aku hanya ingin memberitahumu satu hal. Perkenalkan namaku Celine Nathalia, tunangan Candra," ucap Celine menjulurkan tangannya.
Hana terkejut, ia tidak menyangka wanita yang dicintai Candra akan datang secepat itu, di saat dia bahkan belum bisa meluluhkan hati Candra sedikit pun.
__ADS_1
"Hana Lorensia, istri Candra," jawab Hana.
"Lebih tepatnya istri pengganti, kau menggantikan aku. Maksud dan tujuanku kemari adalah untuk merebut apa yang seharusnya adalah milikku. Pasti kau juga sudah tahu bahwa Candra masih mencintaiku. Dia bertahan bersamamu hanya karena dia tidak ingin mengecewakan orang tuanya. Sangat disayangkan sekali, kenapa orang tua Candra memilihmu yang terlihat kampungan. Apa mereka tidak malu memiliki menantu seperti dirimu? Dilihat dari mana pun kau tidak layak."
Perkataan Celine begitu menusuk ke hatinya. Apa yang Celine ucapkan memanglah benar adanya. Ia memang tidak pantas berada di dalam keluarga Abraham. Ia pun sadar diri. Tapi, kenapa dirinya yang disalahkan dan dihina? Padahal wanita itu sendiri yang salah karena telah meninggalkan tunangannya.
"Aku tidak tahu kenapa kau dengan seenaknya menghinaku. Tapi yang jelas, aku bukanlah seorang pecundang yang rela meninggalkan tunangannya di waktu-waktu menjelang pernikahan. Itu artinya, kau memang tidak mengharapkan pernikahan itu. Kau sudah membuang semuanya. Lalu kenapa kau menginginkannya kembali? Bukankah perempuan sepertimu yang tidak layak jadi menantu di keluarga Abraham?"
Skakmat! Celine pikir Hana adalah wanita lemah yang akan mudah digertak oleh perkataannya. Namun ternyata ia salah, Hana adalah wanita yang mampu membalas apa yang dirasa tidak adil menurutnya.
"Kau! Kau tidak tahu alasannya! Jadi lebih baik jangan sok tahu!" geram Celine.
"Alasan apapun yang akan kau katakan. Aku tidak peduli dan tidak mau tahu. Yang jelas sekarang aku adalah istri Candra dan kau hanya mantan tunangannya saja."
Celine merasa terprovokasi dengan ucapan Hana, ia kemudian menarik ujung rambut Hana.
"Aww," teriak Hana.
"Beginilah cara orang yang tidak beretika menghadapi masalah. Selalu saja dengan kekerasan. Apa Candra tahu kalau sifat mu yang sebenarnya seperti ini? Wajah cantik dan manis itu hanya sebuah topeng? Aku kasihan sekali padamu yang selalu menunjukkan jati diri palsu di hadapan Candra."
Lagi-lagi ucapan Hana membuatnya menjadi kesal. Niat hati ingin membuat Hana takluk, kini malah dirinya yang dibuat kesal dan dongkol. Ucapan Hana terlalu benar untuk ia akui.
****
Terima kasih sudah membaca ceritaku sampai di bab ini. Semoga kalian menyukainya.
Jangan lupa berikan like dan vote nya teman-teman.
Ramaikan juga cerita ini dengan komentar-komentar kalian.
Kalian bisa juga memberikan dukungan untuk yoyo dengan menonton iklan yang ada di kolom pemberian hadiah.
__ADS_1
Jangan lupa follow aku Ig ku ya
@yoyotaa_