
Waktu sudah menunjukkan pukul 17.00. Sudah saatnya Hana pulang. Sebelum pulang Hana menyelesaikan sedikit pekerjaan yang seharusnya dilakukan untuk besok. Selesai itu, Hana keluar dari perusahaan dan menunggu ojek online yang ia pesan datang.
Di dalam gedung, tepatnya di depan resepsionis, Candra melihat Hana yang berdiri entah menunggu apa. Entah kenapa kali ini ia sangat penasaran dengan apa saja yang Hana lakukan.
Tak lama kemudian, ojek yang Hana pesan datang, ia segera memakai helm dan menaiki motor. Hal tersebut tak luput dari penglihatan Candra.
"Apakah setiap hari dia pergi kerja naik ojek online?" gumam Candra.
"Sudahlah, biarkan saja, toh jika dia tidak berdandan, orang tidak akan tahu kalau dia adalah istriku," gumam Candra lagi.
Candra menuju ke basemen. Ia memasuki mobilnya dan melajukan mobil tersebut menuju ke rumahnya.
Sesampainya di rumah, Candra mendengar suara berisik dari arah dapur. Ketika ia mendekat, ternyata Hana sedang memasak.
"Kau sudah pulang," ucap Hana dengan sedikit senyuman di bibirnya.
Namun senyuman tipis itu hanya dibalas anggukan oleh Candra. Lalu Candra berjalan masuk ke dalam kamarnya. Ia melepaskan seluruh pakaian yang ia kenakan dan langsung bergegas mandi.
Selepas mandi, ia kembali lagi ke dapur bermaksud untuk mengambil air minum. Matanya tertuju pada gulai ayam yang ada di atas meja makan. Mulutnya berdecak, seolah ingin mencicipi makanan tersebut. Akan tetapi hatinya berkata lain. Gengsi dong kalau ia makan masakan Hana diam-diam, nanti Hana bisa mengejeknya.
Tiba-tiba Hana muncul lagi di dapur. Ia entah keluar dari mana. Hana mengambil piring dan bermaksud untuk makan. Melihat Candra yang masih berada di dapur, Hana dengan baik hatinya mengajak Candra untuk makan bersamanya.
"Kau sudah makan? Kalau belum, mau makan bersamaku? Aku masak gulai ayam. Aku tidak tahu bagaimana rasanya, karena saat masak tadi, aku tidak sempat mencicipinya."
Mendapat tawaran dari Hana, Candra tidak mau menyia-nyiakan itu. Apalagi perutnya memang sudah lapar, dan bau masakan Hana begitu memenuhi indra penciumannya dan begitu menggugah matanya. Candra langsung duduk. Hal tersebut membuat Hana senang. Karena sedikit demi sedikit hati Candra mulai melunak dan ia mau makan masakannya.
"Nasinya mau banyak atau sedikit?" tanya Hana.
"Kau ini perihal makan saja cerewet sekali. Tinggal ambilkan saja kok repot!" ujar Candra dengan sewot.
"Iya maaf, aku kan takut nanti kau kekurangan atau kelebihan makan," ucap Hana menanggapi.
"Ya itu mah urusan nanti."
Hana mengambilkan nasi agak banyak untuk Candra, ia juga menuangkan kuah gulai sampai nasi untuk Candra digenangi oleh kuah tersebut.
__ADS_1
Keduanya makan dengan tenang di meja makan. Hana sebenarnya ingin mengajak Candra untuk mengobrol, hanya saja ia takut hal tersebut malah akan mengganggu suasana hati Candra ketika makan.
Makan pun selesai, Hana menuangkan air putih ke gelas Candra. Ia pun menanyakan bagaimana masakannya ada Candra.
"Apa masakan ku enak?" tanya Hana penasaran dengan pendapat Candra.
"Biasa aja," jawab Candra.
Padahal di dalam hatinya, masakan Hana adalah masakan yang mampu membuat selera makannya meningkat. Setelah itu, Candra kembali ke kamarnya meninggalkan Hana sendirian di sana.
"Tidak apa-apa Hana. Itu berarti kau harus lebih rajin lagi belajar masak. Sedikit demi sedikit pasti Candra akan memujimu dan mengatakan masakan mu enak dan dia akan terus memintamu untuk memasak untuknya," ucap Hana menguatkan dirinya.
****
Esok harinya, Abraham menerima email balasan dari Adam, teman lamanya. Betapa senang hatinya kala itu. Ia segera membuka pesan itu dan membacanya.
Hai juga Abra, aku baik-baik saja.
Tentu saja aku masih mengingatmu, kau adalah salah satu teman baikku. Bagaimana mungkin aku melupakanmu?
Kini aku hidup seorang diri, keluargaku sudah tidak ada satu pun. Hanya bisnis yang aku punya. Akan tetapi karena katamu ada orang yang memiliki nama seperti nama anakku, aku penasaran. Mungkin sebulan lagi aku akan datang ke rumahmu. Sampai jumpa bulan depan.
Setelah membaca email balasan dari Adam, Abraham sedikit terkejut.
"Sebenarnya apa maksud kalimat Adam tersebut? Hidup seorang diri? Itu bukan berarti anak dan istrinya sudah meninggal bukan? Sebenarnya apa yang terjadi padamu Dam, sampai-sampai kau pindah ke negara C? Baiklah, aku akan menunggumu satu bulan lagi."
Lalu Abraham, pergi menuju ke ruang makan, untuk melakukan sarapan bersama istinya.
Di sela-sela sarapan, Abraham bertanya pada istrinya.
"Apa kau mengingat Adam dan istrinya serta anak perempuan mereka?"
"Ya aku mengingat mereka. Memang kenapa? Tidak biasanya kau bertanya mengenai hal itu? Apa ada sesuatu yang kau pikirkan pa?"
"Sebenarnya aku tidak tahu pastinya. Tapi semenjak aku bertemu Hana, dan mengetahui nama panjangnya. Aku selalu teringat dengan Adam serta anak perempuan mereka. Entah kenapa aku yakin sekali kalau Hana itu anak Adam. Namun, jika dipikir lagi, sahabatku bukanlah orang jahat yang suka menelantarkan anaknya. Aku jadi bingung," jawab Abraham.
__ADS_1
"Sudahlah pa, jangan terlalu dipikirkan. Kalau pun Hana bukan anak Adam. Kita harus tetap menyayanginya karena dia adalah menantu kita. Lagipula Hana itu wanita yang baik, berbeda sekali dengan mantan kekasihnya Candra dulu. Jika Hana memang anak Adam, pasti ada alasan kenapa Hana bisa ada di panti asuhan. Yang terpenting sekarang, papa jangan banyak pikiran."
Mendengar jawaban istrinya, Abraham menjadi sedikit lebih lega telah mencurahkan beban pikirannya yang awalnya ingin ia pendam sendirian.
Acara sarapan pun selesai, Abraham memasuki ruang kerjanya lagi. Ia melakukan pekerjaannya dari rumah.
Sementara Dona, ia menelpon sang menantu kesayangannya sebelum menantunya berangkat kerja.
"Halo sayang, apa kau sudah sarapan?" tanya Dona.
"Sudah ma, ini baru aja selesai sarapan sama Candra," jawab Hana.
"Kau tidak berbohong kan? Hanya untuk membuat hati mama senang?" tanya Dona yang tidak percaya.
"Tidak ma, aku sungguh-sungguh berkata benar. Aku dan Candra memang habis sarapan bersama," ucap Hana meyakinkan.
"Baiklah mama percaya. Mendengar hal tersebut mama yakin perlahan-lahan Candra akan menyukai dirimu Hana. Bertahanlah, jangan menyerah! Hanya itu permintaan mama."
"Aku tidak bisa berjanji ma, tapi aku akan berusaha. Kalau begitu sudah dulu ya ma, aku mau berangkat kerja. Selalu jaga kesehatan ya ma. Dah mama."
Sambungan telepon pun berakhir. Dona benar-benar menantikan kehidupan rumah tangga anak dan menantunya berakhir dengan bahagia meskipun awalnya adalah sebuah keterpaksaan.
****
Terima kasih sudah membaca ceritaku sampai di bab ini. Semoga kalian menyukainya.
Jangan lupa berikan like dan vote nya teman-teman.
Ramaikan juga cerita ini dengan komentar-komentar kalian.
Kalian bisa juga memberikan dukungan untuk yoyo dengan menonton iklan yang ada di kolom pemberian hadiah.
Jangan lupa follow aku Ig ku ya
@yoyotaa_
__ADS_1