Bitter Sweet Marriage

Bitter Sweet Marriage
Bab 37 - Mama Dona ingin cucu


__ADS_3

Kediaman Abraham, 19.00


Mama Dona tengah menyiapkan menu makanan untuk anak laki-laki dan menantu perempuannya. Ia tampak bersemangat, apalagi mengingat kedua orang tersebut sangat jarang sekali mengunjungi rumahnya.


"Nah, semuanya sudah siap, tinggal menunggu mereka berdua datang," ucap Mama Dona.


"Pa, cepat turun! Jangan di kamar terus!" teriak Mama Dona pada suaminya.


"Iya bentar ma," jawab Abraham.


Suara mobil pun terdengar masuk ke halaman. Bisa dipastikan bahwa yang datang adalah Candra dan Hana.


"Cepat pa! Sepertinya mereka sudah sampai!" teriak Mama Dona.


"Iya ma," jawab Abraham yang kini sudah berada di hadapan istrinya.


Benar saja, Candra dan Hana pun sudah sampai di depan rumah. Keduanya berjalan masuk dengan bergandengan tangan. Kali ini mereka tidak melakukan sandiwara seperti biasanya akan tetapi atas keinginan dari masing-masing untuk memulai semuanya dari awal.


Mama Dona sempat terheran-heran, karena ia bisa melihat senyum Candra yang tulus tanpa dipaksakan seperti terakhir kali mereka makan bersama.


"Ayo duduk! Mama sudah menyiapkan banyak makanan untuk kalian berdua," ucap Mama Dona.


"Terima kasih ma," ucap Hana. Mama Dona pun mengangguk.


Semuanya kini telah duduk di tempatnya masing-masing. Obrolan yang sekarang terkesan nyambung dan tidak canggung.


"Mama senang melihat kalian berdua yang sudah salin menerima satu sama lain. Meski kalian tidak bicara apapun. Mama bisa melihat hal itu dari raut wajah kalian dan batin seorang ibu. Semoga ke depannya akan terus membaik. Sehingga mama bisa cepat-cepat dapat cucu."


"Uhuk ... uhuk ... uhuk ..." Hana terbatuk-batuk karena terkejut.


Cucu? Aku saja dengan Candra baru mulai saling berpelukan. Aku tidak bisa membayangkan semuanya. Rasanya masih sangat aneh bagiku.


"Ma, jangan bicara yang aneh-aneh! Hana sampai batuk karena ucapan mama," cecar Cakka pada Mama Dona sambil memberikan Hana minum.

__ADS_1


"Terima kasih," ucap Hana pada Candra. Candra pun mengangguk.


"Apanya yang aneh? Kan mama bertanya seperti itu wajar, Can. Jika hubungan kalian sudah membaik, sebaiknya jangan menunda untuk punya anak. Lebih cepat itu lebih baik. Apalagi di usia kalian yang masih muda, masih anget-angetnya."


Abraham yang mendengar perkataan istrinya hanya bisa menggelengkan kepalanya. Ia masih enggan ikut berbicara di meja makan tersebut. Ia juga masih belum percaya sepenuhnya pada sang anak. Apa ia benar-benar sudah tak berhubungan lagi dengan Celine? Atau semuanya hanya berpura-pura. Masalahnya Candra pandai sekali untuk mengelabui orang. Tapi semoga saja, pikirannya buruknya itu salah. Ia benar-benar mengharapkan anaknya memiliki hubungan pernikahan yang bahagia.


"Iya nanti kita usahakan," ucap Candra.


"Nah, jawaban ini yang mama mau," ucap mama Dona sambil tersenyum.


Acara makan malam pun selesai. Candra dan papanya mengobrol di ruang tamu. Sementara Hana dan mama mertuanya memindahkan semua makanan ke dapur.


"Rupanya firasat mama tidaklah salah, mama percaya bahwa Candra memang akan menerimamu. Kalian hanya butuh waktu untuk saling menyesuaikan satu sama lain dan sering bersama."


"Iya ma, aku juga awalnya tidak menyangka Candra akan berubah. Aku bahagia."


Hanya saja, aku masih tidak tenang karena sepertinya Celine tidak akan mudah membiarkan Candra bersamanya. Apalagi melihat sikap wanita itu yang nekad dan selalu bermuka dua.


Di sisi lain, di ruang tamu, Abraham menanyakan hal penting pada anaknya.


Kepala Candra terangkat dan ia terdiam.


"Papa tahu semuanya. Semua tentang Celine yang tidak kau ketahui. Setidaknya kau bisa terbebas dari wanita seperti Celine. Dia tidak mencintaimu," jelas Abraham.


"Memang apa yang papa tahu? Lalu kenapa papa dulu mengizinkan aku untuk menjalin hubungan dengannya?" tanya Candra.


"Banyak. Biarlah kau tahu dengan sendirinya. Mulai sekarang tolong buka matamu lebar-lebar, jangan terbutakan oleh cinta dan percaya pada orang yang salah. Papa akan mulai percaya bahwa pernikahanmu dan Hana sudah terjalin lebih baik."


Kenapa papa seperti menyembunyikan sesuatu? Tapi apa? Memangnya papa tahu apa tentang Celine? Dia saja tidak terlalu peduli padaku.


Padahal, Abraham sangat menyayangi Candra, hanya cara dia mengungkapkan rasa sayangnya yang berbeda. Mungkin di mata Candra terkesan mengekang dan mengatur-atur Candra sesuai kehendak sang papa. Tetapi bagi Abraham itu adalah pelajaran bagi Candra, dia harus bisa bertahan di saat banyak orang yang menekannya. Ia harus kuat dan berjuang untuk melawan. Namun ternyata, Candra hanya menurut dan tidak melawan. Hingga akhirnya ia sering mengancam fasilitas yang Candra punya akan dihilangkan. Akan tetapi, semenjak ada Hana, semuanya berubah. Candra tidak lagi, menghabiskan uangnya untuk hal yang tidak penting. Abraham sadar, bahwa kehadiran Hana membuat sikap Candra sedikit berubah lebih baik.


"Sahabat papa sebentar lagi akan datang ke rumah. Papa harap kau bisa datang dengan Hana."

__ADS_1


"Kenapa aku dan Hana harus datang? Biasanya papa suka sendirian."


"Karena papa ingin mengenalkan mu dan Hana pada dia. Sudah, intinya kau harus datang jika papa perintahkan!"


Jika sudah berkata demikian, itu artinya Abraham tidak ingin dibantah. Candra pun hanya pasrah saja. Ia masih merasa hubungan antara dia dan papanya sangatlah jauh. Seperti ada jarak yang memisahkan keduanya.


Waktu pun sudah semakin malam, Hana dan Candra akhirnya pamit pulang ke rumah.


Sesampainya di rumah, mereka pergi ke kamarnya masing-masing untuk berganti pakaian. Sebelum itu, Candra berucap, "Mulai besok, kau pindahkan semua barang mu ke kamarku!"


Mendengar hal tersebut, membuat Hana tersenyum senang. Ia merasa Candra memang sudah bisa menerima dirinya sepenuhnya. Tapi, Hana harus tetap waspada. Karena bisa saja semuanya akan sirna karena pemikirannya sendiri yang terlalu berekspektasi.


"Baiklah," jawab Hana.


"Ya sudah, sana ganti baju dan langsung masuk ke kamarku!"


Setelah mengatakan hal tersebut, Candra masuk ke dalam kamarnya dan duduk sambil memikirkan ucapan mamanya yang ingin memiliki cucu.


"Mama menginginkan cucu, tapi hubunganku dan Hana saja masih canggung seperti ini. Aku bingung bagaimana memulai ingin bercinta dengan Hana. Rasanya, tidak baik jika aku memaksanya. Aku ingin semuanya terjadi karena saling menyukai. Haish!"


Candra mengacak-acak rambutnya frustasi. Ia benar-benar tidak bisa berpikir. Seketika ia teringat dengan Alvin. Sepertinya ia akan meminta saran dari sahabatnya itu. Ketika akan menelpon Alvin, Hana mengetuk pintu ketika akan masuk kamar Candra. Jadilah, Candra mengurungkan niatnya itu dan mengizinkan Hana masuk.


"Padahal tidak usah mengetuk pintu lagi. Toh sekarang ini akan jadi kamarnya juga," gumam Candra.


****


Terima kasih sudah membaca ceritaku sampai di bab ini. Semoga kalian menyukainya.


Jangan lupa berikan like dan vote nya teman-teman.


Ramaikan juga cerita ini dengan komentar-komentar kalian.


Kalian bisa juga memberikan dukungan untuk yoyo dengan menonton iklan yang ada di kolom pemberian hadiah.

__ADS_1


Jangan lupa follow akun Ig ku ya


@yoyotaa_


__ADS_2