
Esok harinya, Hana melakukan aktivitas di rumah saja. Hanya saja, ternyata bukan hanya dirinya yang di rumah Candra pun begitu.
"Kau tidak berangkat kerja?" tanya Hana.
"Tidak," jawab Candra singkat.
"Memang tidak ada pertemuan penting hari ini?"
"Kalau ada pun, masih ada Raka yang bisa mengurusnya."
"Kalau semuanya dilimpahkan pada orang lain, lalu apa yang kau kerjakan? Mentang-mentang bos jadi seenaknya dengan bawahan," sindir Hana yang membuat Candra langsung menatap Hana.
"Kalau tidak tahu apapun, jangan asal bicara. Aku di rumah pun karena dirimu. Aku takut kau akan kesulitan jika di rumah sendirian dengan lenganmu yang memar itu."
"Memangnya lenganku patah? Ini cuma memar. Tidak usah berlebihan. Lebih baik kau kerja saja sana!" ucap Hana.
Candra menghela napas sejenak. Rasanya kesal sekali. Di saat dirinya ingin menghabiskan waktu berdua dengan Hana di rumah, justru Hana tidak ingin bersamanya. Tidak tahukah jika Candra sedang berusaha untuk mendekatkan diri dengan Hana. Meski hanya memar, itu tetap saja sakit.
"Hana, apa kau tidak tahu kalau aku mengkhawatirkan mu?" tanya Cakka yang membuat Hana langsung terdiam.
"Tidak salah kan, jika suami ingin merawat istrinya?"
Lagi-lagi Hana terdiam.
"Aku ingin dengan seringnya kita bersama, kita bisa saling memahami satu sama lain."
Hana jadi merasa bersalah. Tidak seharusnya ia mengatakan hal yang tidak ia ketahui dengan pasti.
"Kalau begitu, mari kita saling mengenal satu sama lain. Ayo ke ruang keluarga," ucap Hana lalu menarik tangan Candra.
Candra terus memperhatikan tangan Hana yang menariknya. Senyum kecil pun terlihat di bibir Candra.
Kini keduanya sudah berada di ruang tamu. Duduk saling berhadapan.
"Silahkan tanyakan apapun yang ingin kau ketahui tentang aku. Aku akan menjawab semuanya dengan jujur. Begitu pula sebaliknya, kau harus menjawab jujur semua pertanyaan yang aku ajukan," ujar Hana.
"Apa kau punya mantan?" tanya Candra. Karena ia yakin Alaska, rekan kerjanya itu pernah memiliki hubungan dengan Hana. Tapi, dulu ia masih terlalu gengsi untuk memaksa Hana agar menjawab pertanyaannya. Dan inilah saatnya.
"Ya, aku punya dan itu hanya satu," jawab Hana.
__ADS_1
"Apa itu Alaska?" tebak Candra. Hana pun mengangguk.
"Kenapa kalian berpisah? Jika dilihat-lihat Alaska masih mencintaimu buktinya ya kejadian kemarin-kemarin saat dia berada di kantor ku."
"Kesenjangan sosial. Aku dan dia berada di kasta yang berbeda. Dia anak orang kaya sementara aku adalah anak panti asuhan yang tidak tahu siapa orang tuaku sendiri," jawab Hana.
"Apa kau pernah menanyakan tentang keberadaan mu disana?" tanya Candra.
"Pernah, ibu panti hanya bercerita jika aku ditemukan di dekat jurang olehnya dengan seorang wanita yang sekarat dan banyak luka di tubuhnya. Aku yakin dia adalah ibuku. Hanya saja, beberapa menit setelahnya ia menghembuskan napas terakhirnya. Dan mengenai papa, aku masih ingat wajahnya meski samar-samar di kepalaku. Namun, sampai sekarang aku tidak tahu dimana keberadaannya. Aku juga tidak tahu apa dia masih hidup atau sudah meninggal."
Cakka merasa sedih mendengar kisah masa lalu Hana. Ia tak bisa membayangkan dirinya jika di posisi Hana.
"Mungkin saja papamu masih hidup," ucap Candra.
"Bisa saja seperti itu. Tapi aku sudah tidak mau banyak berharap lagi. Hidup seperti ini saja sudah sangat bersyukur. Walaupun di awal-awal terasa sangat menyakitkan."
Secara tidak langsung Hana menyindir Candra. Entah laki-laki itu sadar atau tidak. Namun ternyata, laki-laki itu tidak sadar dan hanya memberi respon mengangguk-angguk.
"Lalu apa yang kau sukai?" tanya Candra lagi.
"Aku tidak muluk-muluk orangnya. Hal yang aku sukai sangat sederhana seperti melihat orang lain tersenyum bahagia karena ku contohnya."
Hana hanya tersenyum mendengar ucapan itu. Baginya semua yang diucapkan Candra bukanlah sesuatu yang membuatnya bahagia, melainkan sebuah keinginan sesaat.
Dengan spontan Hana menggeleng. Candra seakan mulai mengerti tentang Hana. Wanita ini memang tidak memandang segalanya dengan materi. Namun, memasang sesuatu dari cara yang berbeda.
"Apa masih ada lagi yang ingin kau tahu?" tanya Hana.
"Sepertinya kali ini sudah, entah jika lain kali."
"Baiklah, berarti sekarang giliran ku." Candra mengangguk.
"Apa kau membenci kehadiranku dan pernikahan ini?"
Candra mengangguk.
"Aku memang membencimu yang tiba-tiba merubah hidupku yang awalnya lajang menjadi seorang pria beristri. Intinya aku benci semua tentangmu. Aku berpikir kau juga adalah wanita matre yang memanfaatkan pernikahan ini untuk meraup keuntungan yang besar karena bisa menikahi anak konglomerat sepertiku. Namun, lama kelamaan rasa benci itu mulai pudar ketika melihat tingkah laku mu. Tanpa sadar, aku merasa kehadiranmu bukanlah salahmu. Jadi, sebenarnya tidak ada alasan untukku membenci."
Hana yang mendengar jawaban itu merasa senang. Setidaknya kehadiran yang dulu tidak diinginkan kini menjadi sesuatu yang mungkin sedikit diakui dan disadari.
__ADS_1
"Apa kau benar-benar tidak akan kembali pada Celine? Secara dia adalah orang yang selama ini kau cintai."
Dengan mantap Candra menggeleng. Ia sudah memutuskan pilihannya untuk memilih Hana yang menjadi pendampingnya.
"Aku sudah mengatakan hal itu kemarin, aku ingin memulai semuanya denganmu. Jadi, semua masa lalu akan aku lupakan. Biarlah itu jadi kisah yang hanya aku dan dia saja yang tahu."
Hana pun mengangguk mengerti. Ia juga tidak ingin mengetahui masa lalu Candra itu. Yang mungkin saja akan membuatnya merasa sakit. Jadi, lebih baik tidak usah diceritakan sama sekali.
"Apa kau tidak malu mengakui aku sebagai istrimu di depan karyawan mu sendiri?" tanya Hana lagi. Candra pun menggeleng.
"Benar tidak malu? Aku hanya seorang tukang bersih-bersih lho!"
"Kenapa harus malu? Memang apa yang salah dengan tukang bersih-bersih? Itu sebuah pekerjaan juga kan? Mamaku tidak pernah mengajariku untuk membeda-bedakan pekerjaan dan status sosial orang lain," jawab Candra.
"Benarkah? Rasanya sedikit aneh. Ketika pertama kali kita bertemu kau tampak arogan dan tidak menyukai orang-orang biasa."
"Itu kan pemikiran mu saja," ucap Candra.
"Kau tidak menanyakan apa yang aku sukai?" tanya Candra. Hana menggeleng.
"Aku sudah tahu semuanya," jawab Hana.
"Oh, kau sudah banyak mencari tahu tentangku rupanya. Jangan-jangan kau juga sudah menyukaiku."
Hana terdiam. Ucapan Candra tepat sekali. Ia memang sudah menyukai Candra, hanya saja sengaja ia sembunyikan.
****
Terima kasih sudah membaca ceritaku sampai di bab ini. Semoga kalian menyukainya.
Jangan lupa berikan like dan vote nya teman-teman.
Ramaikan juga cerita ini dengan komentar-komentar kalian.
Kalian bisa juga memberikan dukungan untuk yoyo dengan menonton iklan yang ada di kolom pemberian hadiah.
Jangan lupa follow akun Ig ku ya
@yoyotaa_
__ADS_1