
"Huh, dasar tidak punya hati."
"Siapa yang tidak punya hati?"
Candra kaget saat mendengar suara Hana. Ia pun berdiam diri tanpa menjawab pertanyaan Hana. Hancur sudah harga dirinya jika Hana tau, kalau dia kelaparan dan hendak memakan sup buatan Hana yang ia bilang tidak selera memakannya.
"Mau apa kau ke dapur?" tanya Candra mengalihkan pembicaraan.
"Mengambil puding, kau mau?"
Hana menjawab sambil mengambil puding dari dalam kulkas lalu menawarkannya pada Candra.
"Jika kau tidak mau, akan aku habiskan," ucap Hana sambil menyuapkan satu potong puding ke mulutnya.
Candra masih berusaha menahan untuk tidak tergoda saat Hana memakan puding dengan lahapnya. Ia pun menurunkan egonya dan mengambil satu potong puding lalu melahapnya.
Kok enak? Apa dia membuatnya sendiri?
Tanpa sadar, Candra terus mengambil potongan puding tersebut hingga habis. Bahkan Hana hanya memakan dua potong puding saja. Hana tersenyum tipis melihatnya. Entah kenapa ia begitu senang saat Candra menghabiskan puding yang ia buat.
"Loh, kok habis? Rasa-rasanya aku baru makan sedikit," tanya Candra keheranan.
"Sedikit? Kau tak sadar jika satu piring puding itu tiga per empatnya kau yang menghabiskannya?"
Glek!
Candra menelan ludah, saking laparnya ia tanpa sadar sudah menikmati puding tersebut.
"Besok belikan lagi puding seperti tadi untukku," ucap Candra kemudian meninggalkan dapur dan kembali ke kamarnya.
"Baru saja aku ingin bilang, kalau puding tadi adalah buatan ku, huft .... Setidaknya dia terlihat menyukainya."
***
Sementara Candra, kini ia merebahkan tubuhnya ke ranjang berukuran king size, lalu melihat langit-langit di kamarnya. Padahal tadi ia begitu lapar, tapi sekarang rasa lapar itu sudah hilang setelah memakan puding.
"Ternyata dia tak terlalu buruk bagiku."
Candra tanpa sadar mengucapkan kalimat tersebut. Beberapa detik kemudian ...
"WHAT!? Apa yang barusan aku ucapkan? Tidak, tidak! Itu mungkin karena dia agak baik padaku hari ini. Ya, ya, ya, mungkin karena itu. Lebih baik aku menyelesaikan pekerjaanku saja."
Candra pun bergegas bangun dari posisi tidurnya dan menuju ke ruang kerjanya yang masih berada di dalam kamarnya. Ia mendesain kamar pribadinya dengan satu ruangan khusus untuk ruang kerjanya.
Jika Candra sudah berhadapan dengan dokumen-dokumen, itu adalah sebuah momen yang paling susah untuk mengajaknya berbicara. Kecuali jika Candra sendiri yang memulai pembicaraan tersebut. Tak terasa waktu sudah menunjukkan pukul 1.00 dini hari. Ia pun segera merapihkan dokumen tersebut dan kembali ke ranjangnya untuk mengistirahatkan tubuhnya.
***
__ADS_1
Keesokan harinya, di gedung AH Group, tepatnya di pantry perusahaan, Hana sedang membuatkan kopi untuk Candra. Tentunya ini semua atas perintah dan permintaan dari Candra sendiri, harus dan harus Hana yang membuat dan mengantarkan kopi tersebut.
Saat kopi telah selesai dibuat, Hana pergi ke ruangan Candra.
Tok.. tok.. tok..
"Permisi Pak, saya mau mengantarkan kopi pesanannya."
"Masuk, taruh saja di meja," jawab Candra tanpa melihat Hana.
Hana pun meletakkan kopi tersebut, dan bergegas pergi keluar ruangan Candra. Namun, sebelum itu terjadi, Candra segera memanggil Hana.
"Hana, tolong belikan saya bolu pandan di toko roti yang baru saja kemarin opening yang berada di ujung jalan sana. Tidak pakai lama. Uangnya ada di meja saya."
"Baik, Pak."
Dengan berat hati, Hana mengambil uang di meja Candra dan keluar dari ruangan Candra. Ia pun mengomel-ngomel atas perintah semaunya dari Candra.
"Is, semakin hari kenapa dia semakin menyebalkan sih! Di kantor dia memperlakukan aku seperti pesuruhnya, lalu di rumah, ia memperlakukan aku seolah-olah hanya ada dia di rumah itu. Dasar laki-laki plin-plan," gerutu Hana.
Saking kesalnya, Hana yang sedari tadi berjalan menuju toko kue pun tanpa sengaja menendang sebuah kaleng sampai mengenai kepala seseorang.
"Aw," suara teriakan orang yang tanpa sengaja mendapatkan serangan dari Hana.
Hana terkejut dan langsung menghampiri laki-laki tersebut.
"Angkat wajahmu! Minta maaf sambil menatap wajahku! Dan liat apa yang sudah kau lakukan pada dahiku!"
Ketika Hana mengangkat kepalanya, laki-laki itu terpaku melihat mata indah milik Hana.
Cantik sekali wanita ini.
"Sekali lagi saya minta maaf. Setelah dilihat-lihat dahi anda tidak terlalu benjol. Sesampainya di rumah nanti, anda bisa mengompresnya sendiri. Maaf, saya sedang buru-buru. Permisi."
"Tung ...."
Ucapan laki-laki tersebut terhenti, saat Hana sudah berjalan menjauh.
"Sial sekali hari ini. Aku jadi merasa tidak enak sudah meninggalkan laki-laki tadi tanpa bisa mengobatinya. Semoga saja, dia bukanlah orang yang pendendam."
***
Sementara di ruangan CEO, Candra sudah hampir menunggu 30 menit, namun Hana belum juga kembali ke kantor.
"Kemana dia? Kenapa lama sekali? Padahal kan hanya membeli bolu saja."
"Awas kau Hana, akan ku buat kau selalu menderita karena sudah menikah denganku."
__ADS_1
Tak lama kemudian, pintu terbuka tanpa adanya permisi ataupun ketikan terlebih dulu. Candra sudah bisa menebak siapa yang datang ke ruangannya.
"Hai, Can. Semakin hari rasanya wajahmu semakin suram saja. Kenapa? Apa kau tidak diberi jatah oleh Hana? Hahaha."
"Diam kau! Pergi sana! Mengganggu waktuku saja!"
"Galak sekali, CEO muda ini. Aku kemari karena ingin memberikan sesuatu untukmu."
Alvin meletakkan sebuah undangan pesta ulang tahun dari Mikaila, teman sekampus mereka dulu.
"Kau harus datang, karena ini permintaan dari Mika. Kau tahu sendiri kan, dari dulu dia itu begitu menyukaimu, Can. Setidaknya beri dia penjelasan untuk menyerah karena kau sudah menikah."
Candra menghela napas kasar sambil mengacak-acak rambutnya pelan. Masalah satu belum selesai, masalah lain pun muncul. Sejujurnya, Candra bukanlah tipe orang yang menyukai pesta. Ia malah paling malas mendatangi sebuah pesta, kecuali jika di dalamnya ada kesepakatan bisnis.
"Aku tidak tahu. Aku sudah bosan menjelaskan hal seperti ini berulang kali padanya."
"Jika kau malas menjelaskannya, datanglah dengan membawa Hana. Dengan begitu dia akan percaya jika kau sudah menikah. Karena dia tidak akan percaya sebelum kau memberikannya bukti yang konkret."
"Akan aku pikirkan nanti."
"Ais, kenapa dia lama sekali sih!" kesal Candra karena Hana tak kunjung datang ke ruangannya.
"Kau sedang menunggu siapa?" tanya Alvin penasaran.
"Hana," jawab Candra singkat.
"Oh.."
Tak lama kemudian Hana pun mengetik pintu dan ketika sudah dipersilahkan masuk, Hana pun masuk sambil mengatur napasnya yang sudah tidak beraturan.
"Hosh... hosh... hosh...."
Alvin keheranan melihat Hana mandi keringat. Ia pun mengamati bingkisan yang dibawa Hana.
"Yang benar saja, kau menyuruh Hana untuk membelikanmu bolu pandan di siang terik seperti ini! Kejam sekali menjadi suami."
"Hana, lain kali tolak saja pemintaan dia."
"Cepat kemarikan bolu pandannya. Aku sudah kelaparan karena menunggumu hampir sejam lamanya."
Hana memberikan bingkisan tersebut kemudian berjalan keluar tanpa pamit terlebih dahulu.
"Kau bilang aku suami yang kejam, 'kan? Kau tidak lihat bagaimana tingkah lakunya barusan. Ia seperti istri yang tidak tahu tata krama."
Alvin menggelengkan kepalanya, ia tak mau ambil pusing perkataannya tadi. Ia pun pergi dari ruangan Candra tanpa permisi seperti Hana.
***
__ADS_1
Jangan lupa tinggalkan komentar ya.