
Empat hari kemudian, Candra sudah diperbolehkan untuk pulang ke rumah. Ia benar-benar merasa sudah lebih baik dari sebelumnya. Hanya saja, ia masih dilarang untuk berangkat ke kantor oleh sang mama. Hal itu membuat Candra kesal.
Lalu apa bedanya ia dirawat di rumah sakit atau pulang tanpa boleh melakukan apapun yang ia suka? Keduanya sama-sama tidak menyenangkan bagi Candra. Apalagi ia harus melihat Hana 24 jam di rumah. Tentunya itu juga atas permintaan sang mama yang meminta Hana untuk mengambil cuti yang berkepanjangan.
"Apa kau lapar? Ingin aku buatkan sesuatu?" tanya Hana pada Richard yang kini duduk sambil menonton televisi.
"Ambilkan saja yang ada di kulkas. Kau tidak perlu repot-repot untuk membuatkan aku makanan," ucap Candra.
"Baiklah."
Hana lalu pergi ke dapur dan mengambil jus mangga untuk Candra serta membawa beberapa cemilan ringan.
"Ini, silahkan dinikmati," ujar Hana ketika menaruh semua makanan dan minuman yang ia bawa.
Tak ada ucapan terima kasih dari Candra untuk Hana. Lelaki itu malah menyuruh Hana untuk membukakan cemilan itu. Hana dengan senang hati menuruti permintaan Candra.
Hening. Kata yang bisa menjelaskan suasana kala itu. Tak ada suara yang keluar dari mulut keduanya. Hanya ada suara decapan dari mulut Candra yang menikmati cemilan.
Keduanya saling menghela napas bersamaan. Hingga keduanya saling menatap kemudian dengan cepat memutus tatapan mata tersebut.
Ada getaran aneh yang muncul dari dalam diri Candra. Namun, bisa dipastikan Candra belum mengetahui getaran apa yang ia rasakan.
Lebih baik aku kembali ke kamar saja. Lagipula tak ada untungnya aku berdua dengan Hana. Lagian mama ada-ada saja sih! Seharusnya Naya disuruh kerja saja. Supaya aku bisa melakukan apapun semauku di rumah. Setidaknya tidak ada sepasang mata mengawasi ku.
Tanpa berucap, Candra pergi begitu saja meninggalkan Hana dengan televisi yang masih menyala.
"Huh! Harus sesabar apa lagi aku menghadapi kelakuanmu?" cecar Hana ketika melihat Candra sudah berjalan menaiki tangga menuju ke kamarnya.
***
Sementara Candra di dalam kamar, ia meletakkan tangannya di dadanya, merasakan sebuah debaran yang begitu cepat.
"Aku tidak mungkin jatuh cinta padanya kan? Oh, jelas tidak mungkin. Aku masih mencintai Celine, iya aku masih mencintai dia. Mungkin saja debaran ini karena kaget dan gugup saja. Ya, pasti begitu."
__ADS_1
Candra menolak untuk menyadari perasaannya.
Setelah itu, ia duduk di depan komputernya. Meskipun dilarang oleh mama nya untuk bekerja, Candra tetap bekerja dari rumah.
Tak lama kemudian ponsel Candra berdering. Memperlihatkan nama Raka di layar ponselnya.
"Halo, bagaimana untuk meeting dengan perusahaan Lazmon Group? Berjalan dengan lancar kan?" tanya Candra pada sekretarisnya.
"Meeting berjalan lancar Bos. Hanya saja CEO dari perusahaan Lazmon Group ingin bertemu dengan anda lebih dulu sebelum memutuskan sebuah kesepakatan kerjasama itu," jawab Raka.
"Baiklah, buatkan jadwalku untuk bertemu dengannya besok sore," pinta Candra pada Raka.
"Baik bos," jawab Raka.
Setelah itu, Candra mematikan panggilan tersebut. Ia berjalan ke ranjangnya dan duduk di tepi ranjang. Ia merasakan sesuatu yang berbeda.
Ketika berada di rumah sakit, Hana selalu membantu Candra ketika akan naik ke ranjang, bahkan wanita itu begitu telaten menjaganya ketika di rumah sakit. Mengambilkan semua kebutuhannya dari makanan hingga pakaian gantinya. Benar-benar seperti perawat.
"Aih! Kenapa aku harus memikirkannya! Dia sendiri kan yang meminta untuk aku menganggapnya seorang perawat! Tapi kenapa jadi aku yang tidak menganggapnya seperti itu setelah berada di rumah? Aih, sepertinya pikiranku mulai melantur. Sebaiknya aku tidur siang saja."
***
Di negara C, Adam sibuk mengurus perusahaannya yang bernama Lorens Group. Ia bahkan sengaja selalu menyibukkan diri dengan pekerjaannya. Mengurangi waktu istirahat dan menghabiskan waktunya di kantor.
Hidupnya hampa, tak ada pasangan atau pun anak yang mendampinginya. Semuanya sudah pergi meninggalkannya sendirian.
"Hana, kalau saja kau masih hidup. Mungkin saja sekarang kau sudah secantik mamamu dan mungkin juga kau sudah menikah atau bahkan papa sudah memiliki cucu. Setidaknya papa tidak hidup sendirian."
Adam menghela napas sejenak. Ia kemudian fokus kembali untuk menyelesaikan pekerjaannya. Ketika ia membuka email dari para klien, tiba-tiba ada sebuah email dari sahabat lamanya.
"Abraham? Untuk apa dia mengirimkan pesan email padaku? Aku kira dia sudah melupakanku."
Adam pun segera membuka pesan email dari Abraham.
__ADS_1
Hai Adam, apa kabarmu?
Kau masih mengingat aku kan?
Aku berusaha mencari mu di rumah lamamu dan rumah ketika masa kecil kita dulu. Namun, kau tak ada di tempat keduanya. Dimana kau?
Apa semuanya baik-baik saja?
Beberapa bulan lalu aku berjumpa dengan seorang gadis yang bernama 'Hana Lorensia' seketika aku langsung teringat dirimu. Teringat akan nama anakmu dan nama marga keluargamu. Tapi tentu saja aku tidak bisa langsung mengklaim bahwa ia benar anakmu. Masalahnya, gadis itu sudah lama tinggal di panti asuhan. Tentu itu sangat tidak mungkin jika gadis itu adalah benar anakmu. Pasti kau akan menjaganya dengan baik bersama istrimu. Tidak mungkin kau membiarkan darah daging mu tumbuh tanpa kasih sayangmu.
Untuk memastikan semuanya, aku ingin kau datang ke rumahku. Karena sekarang gadis itu sudah menikah dengan putraku, ia sudah menjadi menantuku.
Adam terdiam sesaat setelah membaca email tersebut. Bagaimana mungkin anaknya masih hidup? Jelas-jelas Adam melihat dengan mata kepalanya sendiri bahwa mobil yang ditumpangi oleh istri dan anaknya jatuh ke jurang dan meledak saat itu juga.
"Tidak mungkin dia anakku kan? Tapi, aku berharap dia benar-benar anakku. Apa aku harus terbang ke tempat dimana banyak sekali kenangan buruk itu? Apa aku sanggup?"
Setelah kecelakaan 22 tahun yang lalu itu, Adam mengalami depresi berat karena ditinggal oleh istri dan anaknya. Sehingga ia memutuskan untuk pindah ke negara lain dan menjalani kehidupan barunya. Bukan melupakan kenangan indah bersama istri dan anaknya, akan tetapi ia ingin mengubur dalam-dalam kenangan buruk yang ia alami.
"Tapi, nama Hana Lorensia, bisa saja bukan hanya anakku saja. Bagaimana ini?"
Adam terus berpikir, apakah ia harus kembali dan memastikan semuanya? Atau tetap berada disana dan penasaran dengan gadis yang dimaksud Abraham?
****
Terima kasih sudah membaca ceritaku sampai di bab ini. Semoga kalian menyukainya.
Jangan lupa berikan like dan vote nya teman-teman.
Ramaikan juga cerita ini dengan komentar-komentar kalian.
Kalian bisa juga memberikan dukungan untuk yoyo dengan menonton iklan yang ada di kolom pemberian hadiah.
Jangan lupa follow aku Ig ku ya
__ADS_1
@yoyotaa_