
Paginya Hana terbangun dari tidurnya. Hana tidur di sofa, sementara Candra tidur di kasur. Hana masih merasa bersalah karena kejadian kemarin. Ia beranjak dari sofa ke kamar mandi untuk membersihkan diri.
Setelah membersihkan diri, Hana turun dari kamar Candra dan langsung menuju ke dapur. Ia bertemu dengan Dona, mama mertuanya yang sedang menyiapkan sarapan pagi.
"Pagi Hana," sapa Dona dengan tersenyum.
"Pagi juga Tante," balas sapaan dari Hana sambil tersenyum juga.
"Jangan panggil Tante lagi, panggil saja mama seperti Candra dan Sandra. Kau sudah menjadi bagian dari keluarga ini sekarang."
"Baiklah," jawab Hana. Ia menuruti saja kemauan Dona. Hana berjalan mendekati Dona dan langsung membantu Dona memasak di dapur. Dona tidak menolak bantuan Hana tersebut. Ia malah tersenyum senang. Ia pernah membayangkan sebelumnya akan bisa memasak bersama dengan menantunya. Karena jika di lihat dari mantan tunangan Candra sebelumnya, dia enggan sekali berada di dapur.
Beberapa jam kemudian, Candra sudah bangun dari tidurnya, dan sudah membersihkan diri juga. Ia sekarang hanya memakai kaos pendek dan celana panjang saja, berbeda sekali dengan penampilannya saat berada di perusahaan. Ia pun pergi menuju ke ruang makan. Rupanya semua masakan sudah disiapkan di meja makan, dan ternyata semua anggota keluarganya sudah berada di sana termasuk dengan Hana.
"Akhirnya kau turun juga, tadinya mama menyuruh Hana untuk memanggilmu. Tapi, ternyata itu tidak perlu. Mari makan."
Suasana di meja makan sangatlah canggung bagi Hana. Ia masih tidak percaya bahwa sekarang ia sudah menjadi menantu dari orang kaya. Sedangkan yang lainnya mereka mengobrol di sela-sela makan.
"Jadi, jam berapa kau akan pindah?" tanya Abraham.
"Nanti siang pa," jawab Candra.
"Ih, kok pindah? Kenapa tidak tinggal disini saja?" tanya Sandra penasaran.
Candra tidak membalas pertanyaan Sandra. Ia hanya menghela napas sejenak kemudian melanjutkan makannya lagi. Sandra yang merasa diabaikan pun merajuk. Dona yang melihat itu langsung menjawab pertanyaan Sandra mewakili Candra.
"Kakakmu sudah dewasa. Biarkan dia membina rumah tangganya sendiri. Setiap pasangan suami istri pasti ingin memiliki privasi sendiri. Lebih baik mereka tinggal terpisah dengan kita, supaya bisa mengenal satu sama lain juga. Kalau kau rindu sama kakakmu. Kau bisa main kesana."
"Hh, baiklah mama," ucap Sandra yang sedikit sedih.
***
Siangnya, Hana dan Candra sudah pindah ke rumah baru. Hana takjub dengan desain rumah yang ia lihat. Tidak sebesar rumah papa mertuanya, namun tampak nyaman dan banyak sekali pepohonan di pekarangan rumah.
"Kampungan sekali!" gumam Candra saat melihat Hana yang melihat hana yang sedang takjub.
__ADS_1
"Heh, kamarmu berada di lantai dua. Di samping kamarku. Kamarku yang pintunya warna cokelat. Dengarkan aku baik-baik! Ingat, pernikahan kita hanya sebuah kesepakatan yang saling menguntungkan. Jadi, jangan berharap lebih. Kau harus ingat posisimu. Dan jangan pernah kau ikut campur dalam urusan pribadiku. Anggap saja kita adalah dua orang asing yang tinggal di satu rumah!"
Hana sudah menduga ini sebelumnya, mana mungkin ia bisa berharap banyak dari Candra. Pernikahan ini saja terjadi bukan atas dasar suka sama suka. Ia harus berusaha untuk tidak jatuh pada pesona Candra.
"Paham, tidak!?"
"Iya, paham," jawab Hana.
"Bagus. Satu hal lagi, aku tidak menggunakan pembantu di rumah ini. Aku tidak ingin akan ada berita buruk lainnya yang tersebar di media. Jadi, semua pekerjaan rumah aku serahkan padamu. Bersikaplah selayaknya istri jika ada tamu dan di luar rumah. Jika di dalam rumah, itu terserah padamu."
Setelah mengatakan itu, Candra pun memasuki kamarnya. Ia pun segera menutup pintu, karena ia enggan melihat Hana terlalu lama. Hana terkejut, karena pintu kamar Candra ia tutup dengan sedikit keras.
"Lagi dan lagi, nasib buruk menimpaku. Tapi, tak apalah. Yang terpenting dia tidak mengatur-atur kehidupanku. Baiklah Hana, mari kita hadapi neraka yang akan datang ke depannya. Semangat!"
Hana pun memasuki kamarnya. Nyaman, itulah kesan pertama saat melihat kamarnya. Ia pun merebahkan tubuhnya di kasur lalu memejamkan matanya.
***
Malam harinya, Hana menyiapkan sebuah makanan untuk disantap saat makan malam. Untungnya, siang harinya kulkas di dapur sudah diisi oleh sayuran dan bahan masakan lainnya oleh Dona. Ia hanya tinggal mengeksekusi bahan-bahan tersebut menjadi sebuah hidangan yang lezat.
"Aa..ku barusan memasak makan malam untuk kita."
"Lalu? Kau berharap aku akan makan malam berdua denganmu? Jangan mimpi!"
"Aku masak banyak," ucap Hana.
"Aku tidak memintamu melakukannya."
"Setidaknya, makanlah sedikit. Apa kamu tidak bisa menghargai orang yang sudah bersusah payah membuatkan makanan untukmu?"
"Tidak, karena orang yang memasaknya adalah dirimu. Pergi sana! Jangan ganggu aku lagi!"
Brakkk!
Candra menutup pintunya dengan keras.
__ADS_1
"Sabar, sabar," gumam Hana sambil mengelus dada.
Alhasil Hana makan sendiri di meja makan dengan hidangan yang begitu banyak. Ia sampai bingung sendiri bagaimana cara untuk menghabiskan makanan tersebut.
"Sebaiknya aku simpan untuk besok pagi. Perutku sudah kenyang rasanya."
***
Di AH Group
Pagi-pagi sekali Candra sudah berada di perusahaannya. Ia duduk sambil menyandarkan kepalanya di kursinya. Tak lama kemudian, Alvin sahabatnya datang.
"Weh, pengantin baru bukannya menikmati masa cutinya, ini malah pagi-pagi sudah di kantor saja," ucap Alvin meledek.
"Diam kau!" kesal Candra.
"Dasar Tempramen!" cibir Alvin dengan kesal juga.
Alvin duduk di sofa yang ada di ruangan Candra tanpa dipersilahkan oleh sang CEO.
"Sebenarnya, tujuanmu kesini untuk apa?" tanya Candra penasaran. Karena tak biasanya ia melihat Alvin sepagi itu.
"Hanya ingin datang. Memang tidak boleh? Sekalian aku mau melihat lekukan raut wajahmu," ucap Alvin sambil terkekeh.
"Kau tau, raut wajahmu sekarang penuh dengan aura gelap. Tiada cahaya sebagai peneranganmu. Apa menikah dengan Hana membuatmu tertekan?" tanya Alvin.
Sebagai sahabat sebenarnya ia mendukung pernikahan ini, supaya Candra bisa melupakan masa lalunya. Namun, di sisi lain, ia tidak ingin melihat sahabatnya tersiksa lagi. Untuk itu, ia akan berusaha membuat Candra benar-benar lupa dengan masa lalunya.
"Tidak perlu dijawab pun, kau sudah tau jawabanku," jawab Candra sambil menghela napas.
"Baiklah, baiklah. Lalu apa kau akan membiarkan Hana tetap jadi office girl di perusahaan ini?" tanya Alvin lagi.
"Itu terserah dia. Aku tidak akan mencampuri urusannya begitu juga dia padaku," jawab Candra dengan lantang.
"Lalu apa bedanya kalian menikah atau tidak? Benar-benar dua orang yang menyusahkan," gumam Alvin dengan suara yang hampir tidak terdengar oleh Candra.
__ADS_1