
Sore harinya Hana sudah berada di rumah. Ia membersihkan rumah dari lantai atas sampai lantai bawah. Tak lupa, ia juga menyiapkan makan malam untuknya dan Candra. Meski, ia sendiri tak yakin Candra akan memakan masakan buatannya.
Hana duduk di depan televisi menonton acara komedi sambil menunggu Candra pulang dari kantor. Setengah jam kemudian, terdengar pintu rumah terbuka. Sudah pasti itu Candra yang membukanya. Hana berdiri dari duduknya dan menghampiri Candra layaknya seorang istri yang menunggu kepulangan suaminya.
"Kau sudah pulang," sapa Hana.
Candra tak membalas sapaan Hana, ia malah terus berjalan tanpa menghiraukan Hana. Hana hanya bisa menghela napas kasar. Kemudian mengikuti Candra di belakangnya. Saat sudah berada di depan kamar Candra, Candra membalikkan badannya.
"Sudah kubilang, jangan ikut campur urusanku. Kita hanya dua orang asing yang ditinggal di satu rumah!" ucap Candra dengan ketusnya.
"Aku hanya mau melakukan tugasku sebagai seorang istri. Apa itu salah?"
"Salah. Karena aku tidak menganggapmu seorang istri."
"Tidak bisakah kau menghargai pernikahan ini? Meskipun tanpa ada cinta di antara kita. Bisakah kita berteman?"
"Berteman katamu? Cuih...Jangan harap!"
Candra kemudian membanting pintu kamarnya. Hana yang melihat itu langsung mengelus dada. Sebenci itukah dengan pernikahan ini?
Hana turun dari lantai atas dan kembali menonton televisi. Ia sesekali meratapi nasibnya yang selalu saja tidak dianggap.
*******
Keesokan harinya, di Negara C, seorang pria paruh baya duduk termenung sambil melihat foto keluarganya. Ia berharap bahwa anaknya masih hidup, dan menjalani kehidupannya dengan bahagia.
"Papa cuma bisa berharap kau masih hidup, Nak. Papa kesepian sendirian disini. Seharusnya dulu papa bisa menjagamu lebih baik lagi."
Tak terasa air mata pun jatuh ke pipinya. Kesendirian, kesepian tanpa adanya keluarga membuatnya selalu meratapi nasibnya. Padahal ia memiliki banyak hal. Di mulai dari harta, rumah, dan kemewahan lainnya. Semua itu menjadi tak berarti baginya.
******
Di kediaman Abraham, dua wanita sedang berbincang di ruang keluarga.
"Ma, menurut mama apa Kak Hana bisa membuat Kak Candra kembali ke sifatnya yang dulu?" tanya Sandra pada Dona.
"Mama yakin, Hana bisa membuat kakakmu kembali seperti dulu lagi. Mama bisa melihat Hana itu selalu memiliki ketulusan dalam segala hal yang ia lakukan. Kakakmu butuh orang seperti dia."
"Tapi, aku kasian pada Hana, ma. Pasti dia selalu dimarahin sama Kak Candra."
"Jangan bicara seperti itu. Semoga saja kakakmu bisa berubah dalam waktu dekat."
__ADS_1
"Ya, semoga."
Ternyata obrolan dua wanita tersebut di dengar oleh Candra yang tanpa disengaja akan memasuki ruang keluarga.
"Apa istimewanya dia?" gumam Candra pelan.
Candra pun menghampiri dua wanita tersebut.
"Ma, apa papa ada di rumah?"
Tiba-tiba dua wanita tersebut dikejutkan dengan suara bariton dari laki-laki yang sedang mereka bicarakan.
"Aduh, kau ini. Buat mama kaget saja. Papamu lagi pergi ke luar kota."
"Kenapa sekarang papa jadi sering ke luar kota ma?"
"Entah," jawab Dona yang memang tidak tahu.
"Kak Hana tidak ikut?" tanya Sandra saat Candra tak menanggapi pernyataan dari Dona.
"Tidak," jawab Candra seadanya.
"Apa sih? Aku memang kemari hanya ingin bertemu papa. Ada banyak hal yang mau aku bicarakan mengenai perusahaan. Kenapa harus repot-repot mengajaknya. Menyusahkan!"
"Sudah, sudah... karena papa tidak ada di rumah, lebih baik kau pulang saja. Kasian Hana sendirian di rumah. Lagian, kenapa kau tidak mempekerjakan pembantu Candra? Setidaknya saat kau tinggal pergi ada orang yang menemani Hana."
"Dasar pelit!" cibir Sandra.
"Diam kau bocah!" kesal Candra.
"Ya sudah, aku pulang ma. Mengenai pembantu itu sudah aku sepakati berdua dengan Hana, Ma. Kami tidak mau ada pembantu di rumah."
"Baiklah, hati-hati di jalan ya, Nak."
********
Sesampainya di rumah, Candra tak melihat Hana menyambut kepulangannya seperti sebelum-sebelumnya. Ia kemudian mendengar suara-suara berisik dari dapur. . Tanpa sadar, Candra berjalan ke dapur hanya untuk melihat apa yang dilakukan Hana. Rupanya Hana sedang mengeksekusi sayuran dan lauk di dapur. Kemudian Candra menaiki tangga dan masuk ke kamarnya.
Beberapa menit kemudian Candra turun dari kamarnya ke dapur. Ia melihat Hana yang sedang menuangkan sup ke dalam mangkok. Hana menyadari Candra yang berada di dapur. Ia pun mengajak Candra untuk makan bersama.
"Apa kau mau makan bersamaku? Aku sudah membuatkan sup ayam untuk makan malam."
__ADS_1
"Tidak perlu. Makan saja sendiri. Aku tidak berselera untuk memakannya."
Candra menjawab ajakan Hana dengan posisi sedang mengambil jus jeruk dari dalam kulkas lalu meminumnya. Ia kemudian kembali ke kamarnya.
"Huft, selalu saja begitu. Apa kita harus benar-benar jadi orang asing?"
Hana bermonolog pada dirinya sendiri. Ia pun menghabiskan makan malamnya sendirian seperti sebelum-sebelumnya. Bagi Hana, ini seperti ia benar-benar tinggal sendiri. Hanya saja, di rumah yang dulu ia tempati, ia masih bisa mendengar suara berisik dari tetangga, sedangkan disini yang ia dengar hanya kesunyian.
"Candra sesulit itukah aku menembus hatimu?"
Hana tersenyum kecut ketika mengucapkan pertanyaan itu.
"Hana jangan berharap lebih. Wajar kalau hatinya susah ditembus. Tidak ada yang menarik dari dirimu."
Hana menyadarkan hatinya untuk tak berharap terlalu banyak. Selesai makan, ia mencuci piring kemudian kembali ke kamarnya.
*********
Sementara di kamar sebelah, Candra kini menahan rasa laparnya. Niat awalnya ia pergi ke rumah orangtuanya ingin bicara soal bisnis dan sekalian ikut makan malam. Apalah daya ternyata Abraham tidak berada di rumah.
Krucukkk.....
(Anggap suara perut bunyi ya, hehe.)
"Haish, kenapa kau lapar di saat yang tidak tepat sih? Bagaimana mungkin aku turun ke bawah dan meminta makanan dari Hana. Bisa turun harga diriku. Lebih baik aku pesan online saja."
Candra pun segera mengambil handphone nya. Sialnya, Candra sudah tak bisa lagi menahan rasa laparnya. Alhasil ia tak jadi memesan makanan online dan turun ke dapur.
"Is, dimana sih dia menyimpannya? Tidak tahu apa kalau aku sudah lapar."
Candra terus menggerutu sambil mencari-cari sup yang telah Hana buat tadi. Tanpa sadar, ia menjatuhkan sendok ke lantai.
"Ish, ini lagi, kenapa pakai jatuh segala." Ia pun mengambil sendok yang berserakan dan menempatkannya ke tempat semula.
"Apa jangan-jangan sudah dihabiskan oleh Hana?" Candra pun tampak berpikir.
"Huh, dasar tidak punya hati."
"Siapa yang tidak punya hati?"
Candra kaget saat mendengar suara Hana. Ia pun berdiam diri tanpa menjawab pertanyaan Hana. Hancur sudah harga dirinya jika Hana tau, kalau dia kelaparan dan hendak memakan sup buatan Hana yang ia bilang tidak selera memakannya.
__ADS_1