
Flashback
Beberapa jam sebelum datang ke pesta ulang tahun Mikaila, Candra masih dilanda perasaan dilema. Antara ia harus datang atau tidak. Namun, jika ia tidak datang, Mikaila akan terus mengejarnya dan beranggapan pernikahannya tidaklah serius. Hanya main-main saja. Alhasil, ia pun memutuskan untuk datang dan mengajak Hana.
Masalahnya terletak pada Hana. Candra harus membujuk wanita itu supaya mau pergi ke pesta dengannya.
"Aih, bagaimana aku mengatakannya pada Hana? Sebenarnya aku tidak ingin meminta bantuannya. Haah.. karena kepepet, mau bagaimana lagi?"
Candra pun keluar dari kamarnya dan menuju ke pintu kamar Hana kemudian mengetuk pintu tersebut.
"Tok ... tok ... tok ..." bunyi ketukan pintu yang diketuk Candra.
Tak lama kemudian Hana membuka pintunya. Ia merasa heran sendiri. Tidak biasanya Candra mengetuk pintunya. Candra selalu bilang mereka adalah dua orang asing.
"Ada apa?" tanya Hana.
"Kau ada kegiatan malam ini?" tanya Candra.
Mau apa dia menanyakan kegiatanku? Apa dia mau mengajakku keluar? Apa kita akan makan malam bersama? Kenapa aku senang?"
Hana berusaha menyembunyikan raut senangnya dari Candra. Ia takut apa yang ia pikirkan ternyata tidak sesuai dengan apa yang akan diucapkan oleh Candra. .
"Tidak, kenapa memangnya?" tanya Hana balik.
"Temanku ulang tahun dan kau harus ikut denganku pergi ke pestanya," ucap Candra.
"Aku? Harus ikut? Kenapa begitu? Itukan temanmu," ujar Hana.
"Karena kau istriku!" jawab Candra menegaskan.
Hahaha, istri katanya.
"Istriku jika kita berada di luar rumah," imbuh Candra lagi.
Jangan terlalu berharap Hana. Ingat! Aku dan dia hanya orang asing yang tinggal di satu rumah yang sama.
"Apa yang akan aku dapatkan jika aku membantumu?" tanya Hana menanyakan keuntungan bagi dirinya.
Candra tampak memikirkan pertanyaan Hana.
"Aku akan mengabulkan apapun keinginanmu dalam sehari," jawab Candra.
Hana sedikit tertarik dengan keuntungan yang ia dapatkan. Ia pun menyetujui permintaan Candra.
__ADS_1
Candra pun memanggil stylis dan tukang rias untuk merias Hana dari ujung rambut sampai ujung kaki. Tentunya ia tidak ingin Hana direndahkan oleh tamu yang ada di pesta temannya. Meskipun ia tidak mencintai Hana, tetapi Candra masih memiliki hati nurani dalam dirinya.
Setelah selesai bersiap mereka pun berangkat ke pesta ulang tahun Mikaila.
Flashback end.
Sesampainya di rumah, Hana meminta Candra untuk tidak masuk ke dalam kamarnya dulu.
"Kau mau apa sih!? Aku mengantuk ingin tidur! Cepat katakan apa yang ingin kau sampaikan!" kesal Candra yang sudah tidak sabar untuk merebahkan dirinya di atas ranjang.
"Mengenai keuntungan yang aku dapatkan, aku ingin besok kau meluangkan waktumu. Lagian besok juga weekend, seharusnya kau tidak ada pekerjaan," ujar Hana.
"Iya, besok aku akan mengabulkannya. Sudah kan?" tanya Candra. Hana pun mengangguk.
Candra lalu pergi meninggalkan Hana sendirian di ruang tamu.
"Bisakah aku menyentuh hatimu? Apalah aku yang tidak ada apa-apa dibandingkan dengan mantanmu," ujar Hana yang pesimis.
"Tidak Hana, kau harus bisa membuatnya jatuh cinta padamu. Mama dan Sandra sudah mendukungmu. Aku tidak boleh mengecewakan mereka!"
Semangat Hana berkobar lagi. Setelah itu, ia pun masuk ke dalam kamarnya.
***
Suara berisik dari dapur terdengar sampai di kamar Candra, hal itu membuatnya terbangun.
Candra bangun dari tidurnya. Ia membuka pintu kamarnya, menuruni tangga dan berjalan ke arah dapur. Rupanya Hana sedang memasak banyak sekali menu makanan.
"Kau tidak salah memasak sebanyak ini?" tanya Candra yang terheran-heran.
"Tidak, aku ingin membaginya dengan orang-orang. Nanti kau harus menemaniku. Kau sudah janji padaku. Jadi tidak boleh dilanggar," ucap Hana mengingatkan.
"Ya ya ya, baiklah," jawab Candra.
"Kau tidak berkeinginan untuk membantuku?" tanya Hana yang sibuk mengaduk masakan yang ada di wajan.
"Daripada semuanya berantakan, lebih baik aku diam," balas Candra. Candra pun mengambil air dingin di dalam kulkas. Ia masih tidak percaya Hana mampu memasak sebanyak ini seorang diri. Sudah ada 35 kotak nasi yang sudah terisi makanan.
Hana melihat Candra yang terus memperhatikan dirinya dan kotak nasi yang telah ia sajikan. Ia pun meledek Candra.
"Apa kau lapar? Kau menginginkan makanan tersebut? Ambil saja jika kau mau. Aku tidak melarangnya," ucap Hana.
"Aku tidak berselera melihat makanan yang dibuat olehmu," balas Candra.
__ADS_1
Setelah mengatakan itu, Candra langsung kembali ke kamarnya.
"Apakah kau selamanya akan bersikap seperti itu padaku?" tanya Naya ketika Candra sudah tak terlihat lagi di hadapannya.
Beberapa jam kemudian, semua masakan sudah di masukan ke dalam kotak nasi. Total yang Hana buat sekitar 50 kotak nasi. Ia tersenyum bahagia. Dulu ketika ia masih menjadi pelayan kafe, ia hanya mampu memberikan 5 kotak nasi saja. Kini ia bisa memberikan nasi kotak 10 kali lipatnya. Bagaimana tidak, semenjak menikah dengan Candra, Hana tidak harus membayar sewa rumah seperti dulu ketika ia mengontrak.
Selesai itu, Hana berjalan menuju kamarnya. Sebelum, masuk ke kamarnya, ia mengetuk pintu kamar Candra terlebih dulu. Tak lama kemudian Candra membuka pintunya.
"Permintaan pertamaku, kau mengantar dan menemaniku membagikan makanan itu pada anak-anak di dekat taman. Silahkan bersiap-siap," ucap Hana.
"Kau tahu sendiri kan, kalau aku tidak suka berada di satu mobil dengan orang lain," tolak Candra.
"Tidak boleh menolak. Itu perjanjiannya kau harus mengabulkan permintaanku," jawab Hana.
Candra menghela napas kasar. Ia merutuki dirinya sendiri karena telah memberikan peluang untuk Hana menjajah dirinya.
"Jangan lama! Kasihan, mereka pasti kelaparan," ucap Hana yang meminta Candra untuk tidak berlama-lama ketika bersiap.
Hana kemudian menghilang dari hadapannya. Candra pun menutup kembali pintu kamarnya.
"Kau pikir mereka saja yang kelaparan, aku juga!" ucap Candra yang terus mendengar cacing diperutnya berbunyi.
"Jika selama ini aku berpikir Hana adalah gadis lugu dan polos. Ternyata aku salah. Ia cukup tegas dan sedikit mendominasi."
Dua puluh lima menit kemudian, Candra sudah berada di halaman rumahnya dengan mobil kesayangannya. Sementara Hana, ia sedang kesusahan untuk membawa kotak nasi yang telah ia siapkan.
Benar-benar tidak peka. Tidak adakah rasa peduli di hatinya? Ia tidak merasa kasihan padaku yang membawa beban berat begini? Setidaknya jika tidak ingin membantu, dia bisa membukakan bagasi mobilnya. Aih, dasar laki-laki tidak punya perasaan!
"Lama sekali! Aku sampai karatan menunggumu disini!" kesal Candra.
"Daripada karatan menunggu lebih baik kau membantuku saja. Buka bagasi mobilmu!" perintah Hana.
Ternyata Hana sedikit mengerikan ketika ia sedang emosi. Candra pun mengikuti perintah Hana. Setelah semua kotak nasi masuk ke dalam bagasi. Keduanya masuk ke dalam mobil Candra.
"Ingat ya, ini terakhir kalinya kau duduk di samping kemudi ku. Setelah ini, tak akan aku biarkan kau menumpang di mobilku lagi," ucap Candra dengan sedikit ancaman pada Hana.
"Ya ya ya." Hana hanya merespon seperti itu. Mobil pun melaju dengan kencangnya meninggalkan kediaman rumahnya.
****
Terima kasih sudah membaca ceritaku sampai di bab ini. Semoga kalian menyukainya.
Jangan lupa berikan like dan vote nya teman-teman.
__ADS_1
Ramaikan juga cerita ini dengan komentar-komentar kalian.
Kalian bisa juga memberikan dukungan untuk yoyo dengan menonton iklan yang ada di kolom pemberian hadiah.