Bitter Sweet Marriage

Bitter Sweet Marriage
Bab 52 - Hana Tertusuk


__ADS_3

Beberapa waktu sebelumnya, di saat Celine tahu Candra membongkar aibnya. Wanita itu sangat marah dan kesal. Alhasil ia pun mengambil jaket di lemari dan pisau yang ada di dapurnya serta tali yang ada di gudang apartemennya.


Berjalan keluar dari apartemen, mengemudikan mobilnya menuju ke suatu tempat.


*


*


Tempat yang Celine tuju adalah rumah Candra, ia yakin jika Hana ada di dalam rumah. Karena tidak mungkin, Candra membenarkan Hana berkeliaran di luar ketika suasana tidak kondusif. Untuk melewati gerbang rumah Candra yang dijaga ketat oleh satpam, Celine berpura-pura menjadi sales dan menawarkan produk minuman pada si satpam. Satpam itu pun menerima karena gratis. Beberapa lama kemudian, satpam itu tergeletak tak berdaya di atas tanah.


"Satu penghalang sudah lenyap."


Celine berjalan masuk dengan santainya. Ia berputar-putar di halaman rumah Candra sambil menikmati udara yang masuk ke tangga hidungnya.


"Harusnya aku yang jadi pemilik rumah ini! Semuanya karena kehadiran wanita itu! Jika saja, dia tidak datang, mungkin aku akan bisa menempati posisiku kembali!"


Tepat berada di depan pintu, Celine membuka pintu tersebut seperti ia pemilik rumahnya.


Sementara Hana yang berada di dalam kamar, sambil menonton konferensi pers yang dilakukan suaminya, ia tidak mendengar suara pintu yang terbuka itu.


Hingga ...


Brak!


Pintu kamar dibuka dengan kencang oleh Celine membuat Hana terkejut bukan main.


"Hai!" sapa Celine dengan senyum manisnya.


"Mau apa kau datang ke rumahku?" tanya Hana dengan tatapan sengitnya.


"Hanya datang, memang tidak boleh? Lagipula dulunya, rumah ini dibuat untukku," jawab Celine.


"Iya, tapi kau menyia-nyiakan semuanya," tambah Hana.


Celine kesal dan langsung menjambak rambut Hana dengan keras.


"Aww!" Hana merintih kesakitan.


"Kau pikir, kau akan menjadi pemenang karena sudah berhasil mengambil hati Candra? Kau salah besar! Aku masih belum kalah karena aku akan melenyapkan mu!"


"Aww awww sakit!" teriak Hana yang rambutnya terus ditarik oleh Celine.


"Rasakan! Inilah balasan untukmu!" ujar Celine.

__ADS_1


Hana yang tidak ingin ditindas pun mengerahkan seluruh tenaganya untuk melawan. Ia mendorong tubuh Celine hingga terjerembab mencium lantai.


"Kurang ajar kau!"


Celine tiba-tiba mengeluarkan pisau yang ia bawa dari rumahnya. Ia pun berjalan mundur dan menutup pintu agar Hana tidak bisa lari darinya.


Hana jadi panik, takut dan gelisah dalam waktu bersamaan. Ia tidak menyangka bahwa Celine akan senekat ini. Pikirannya seperti sudah terobsesi dengan Candra Candra dan Candra.


"Singkirkan pisau itu!" pinta Hana.


"Kau takut?" tanya Celine.


Tak bisa dipungkiri, Hana memang takut. Tubuhnya sudah bergetar saking takutnya akan tetapi ia berusaha melawan semua itu dengan sisa keberanian yang ia miliki.


Hana mendekat dan bermaksud menyingkirkan pisau itu dari tangan Celine. Hanya saja, Celine bergerak lebih cepat daripada gerakan Hana. Hingga akhirnya, Hana terperangkap di dekapan Celine dengan tangan Celine yang mengunci leher Hana.


"Kau sudah tak bisa lagi melawanku!" ucap Celine.


Tangan satunya yang nganggur, Celine gunakan untuk mengambil lakban hangat da di kamar Candra untuk menutup mulut Hana. Kemudian tali yang ia bawa dipakai untuk mengikat kedua tangan Hana ke belakang.


Celine tersenyum melihat Hana yang sudah tak bisa melakukan apapun. Ia pun membawa Hana yang memberontak itu keluar dari rumahnya ke sebuah gedung.


*


*


"Aku tidak main-main dengan ucapan ku Can! Tentukan pilihanmu sekarang juga!"


"Dasar gila! Kau psikopat!"


Celine hanya tersenyum smirk mendengar ucapan Candra itu.


"Terserah kau mau menyebutku apa! Aku tidak peduli!"


Candra mulai memikirkan celah agar ia bisa mendekat ke Hana dan melepaskan ikatan itu. Namun, Celine tak pernah menjauh dari Hana. Ingin melawan dan memukul, tapi Candra sadar Celine adalah perempuan. Ia tidak mungkin melakukan itu pada perempuan.


"Cepat berikan jawabanmu!" perintah Celine.


"Aku tetap memilih Hana," jawab Candra dengan mantap.


"Baiklah, siapkan hati yang lapang, aku akan membunuh wanita ini di hadapanmu," ancam Celine.


Saat pisau itu akan menyentuh leher Hana kembali, Candra segera menghalau itu dengan memegang tangan Celine dengan kuat. Celine pun tidak tinggal diam, ia memberontak dan pisau itu berhasil menyayat tangan Candra hingga mengucurkan darah.

__ADS_1


Hana yang duduk diikat dengan mulut yang dilakban mulai menggerakkan kursi karena tidak ingin Candra terluka.


"Aku tidak pernah main-main dengan kata-kataku!" ucap Celine dengan tegas.


Candra menahan sakit karena luka sayatan itu. Namun, poin pentingnya, kini Celine sudah berada agak jauh dari Hana. Jadi Candra bisa membuka tali yang mengikat Hana dan membebaskan Hana.


"Tetaplah berada di belakangku! Jangan jauh-jauh. Aku takut wanita gila itu benar-benar nekat!"


Hana pun mengangguk.


"Sialan! Jika aku tidak bisa memilikimu! Maka kau yang harus mati!" teriak Celine dengan penuh amarah.


Ia menodongkan pisaunya ke arah Candra, mencoba menusukkannya ke bagian tubuh Candra. Namun tidak berhasil, karena gerakan tubuh Candra yang gesit. Hingga suara mobil polisi pun terdengar lalu Raka pun muncul dari persembunyiannya.


"Kau sudah tertangkap basah Celine!" ucap Raka.


"Sialan!" Celine marah dan kesal, ia pun menyerang dengan membabi buta ke arah Candra. Namun, Raka berhasil menahan itu dengan memegang tangan Celine.


"Kau ingin jadi pembunuh? Kau tidak kasihan pada anakmu? Dia lahir dari hasil hubungan terlarang dan sekarang kau mau menambah beban lagi di hidup anakmu?" ucap Raka.


Celine kesal dan memberontak lagi hingga membuat Raka terjatuh dengan sayatan mengenai kaki Raka. Celine berlari dan ingin menusukkan pisaunya ke arah Candra. Namun, Hana menghalangi itu dengan tubuhnya. Alhasil Candra selamat dari serangan Celine, dan Hana yang terkena tusukan itu.


Tubuh Hana langsung terhuyung dan akan terjatuh. Tapi tubuh Candra menahan itu. Darah mulai keluar dari tubuh Hana. Candra menangis melihat itu. Ia benar-benar merasa bersalah karena tidak bisa menjaga orang yang ia cintai.


"Kau akan baik-baik saja sayang. Aku yakin itu. Tahan lah sebentar, aku akan menelpon ambulan," ucap Candra. Sayangnya, ia lupa tidak membawa ponselnya. Alhasil, ia pun menatap Raka. Raka yang tahu arti tatapan itu pun langsung melakukan tugasnya.


Celine yang melihat peluang disana, ingin melancarkan aksinya kembali dengan mencabut pisau yang menancap di perut Hana. Namun, semuanya gagal karena polisi datang dan langsung menembak kaki Celine dengan satu tembakan.


"Awww!" Celine menjerit kesakitan.


Polisi yang lain pun datang untuk meringkus Celine. Sementara Raka, ia terbangun dari posisinya, berjalan tertatih untuk membantu bosnya.


****


Terima kasih sudah membaca ceritaku sampai di bab ini. Semoga kalian menyukainya.


Jangan lupa berikan like dan vote nya teman-teman.


Ramaikan juga cerita ini dengan komentar-komentar kalian.


Kalian bisa juga memberikan dukungan untuk yoyo dengan menonton iklan yang ada di kolom pemberian hadiah.


Jangan lupa follow akun Ig ku ya

__ADS_1


@yoyotaa_


__ADS_2