Bitter Sweet Marriage

Bitter Sweet Marriage
Bab 54 - Hana Sadar


__ADS_3

Dua hari kemudian, Hana sadar. Candra yang ada di dekat Hana pun bahagia dan terus mengucapkan syukur. Ia pun menekan tombol disana untuk memanggil dokter agar datang.


Dokter pun datang dan memeriksa keadaan Hana.


"Keadaannya sudah membaik. Setelah ini, Nyonya Hana bisa dipindahkan ke ruang rawat."


"Terima kasih dokter."


Setelah dokter pergi, Candra terus mengecup tangan Hana. Ia benar-benar bahagia istrinya sudah sadar.


"Can ... " panggil Hana dengan suara lirihnya.


"Jangan mengatakan apapun dulu. Meskipun keadaanmu sudah membaik, tubuhmu masih sangat lemah juga luka yang ada di perutmu masih sangat basah. Jadi lebih baik diam dan lihat aku saja!" ucap Candra.


Ucapan itu membuat lengkungan senyum di bibir Hana.


"Apa kau tahu? Selama dua hari ini, aku tidak enak makan, tidak memiliki hasrat untuk melakukan apapun. Aku hanya ingin menunggumu di rumah sakit dan melihatmu sadar," curhat Candra.


"Ma-af," ucap Hana.


"No, no, no, sudah aku bilang kau cukup diam saja. Biar aku yang berbicara!" cegah Candra agar Hana tidak mengatakan hal lain lagi.


"Aku merasa tersiksa tanpa kehadiranmu. Bahkan aku sangat takut kehilanganmu sayang. Meskipun Dokter mengatakan kau akan sadar, tapi tetap saja aku takut akan kemungkinan terburuknya. Terima kasih, kau sudah berjuang. Setelah ini, aku akan menjagamu dengan baik."


Hana menganggukkan kepalanya. Candra mengusap rambut kepala Hana dengan sayang.


*


*


Di sore harinya, Hana sudah dipindahkan ke rumah rawat VIP. Disana Hana bisa dikunjungi oleh siapapun tanpa harus masuk satu per satu.


"Mama bersyukur kau sudah sadar sayang. Apa kau masih merasakan sakit?" tanya Mama Dona.


"Masih Ma."


Candra yang melihat mamanya mengajak berbicara Hana pun langsung bersikap posesif.


"Ma, tolong biarkan Hana beristirahat saja. Jangan tanyakan hal apapun dulu," larang Candra.


"Lihatlah suamimu yang mulai posesif ini."


Hana tersenyum karena itu.


"Lebih baik mama pulang saja, biar aku yang menjaga Hana disini," pinta Candra.


"Tidak mau," tolak sang mama.


"Ya sudahlah terserah mama saja."


"Sana pergi jauh-jauh! Kau tidak malu apa? Sudah dua hari ini kau belum mandi. Bau tubuhmu mencemari udara di ruangan ini!"


Hana terkekeh pelan karena ucapan sang mama mertuanya.


"Ih, mama! Kenapa mengatakan itu pada Hana," rengek Candra.


"Supaya kau mandi lah. Sana pergi! Masa iya kau ingin terus disini dan membiarkan Hana mencium bau tubuhmu! Dasar laki-laki!"

__ADS_1


Candra pun merengut kesal. Ucapan mamanya tak bisa terbantahkan. Ia pun pergi ke kamar mandi yang ada di kamar rawat Hana.


"Benar, Candra tidak mandi dua hari ma?" tanya Hana memastikan.


"Iya, di cuma cuci muka saja dan memakai parfum supaya terlihat habis mandi. Padahal mama tahu, kalau Candra tidak terlalu suka pakai parfum yang berlebihan. Jadi, mama tahu kenapa dia melakukan itu. Selama dua hari ini juga, Candra setia menunggumu di luar ruangan. Bahkan ia tidak lagi pergi ke kantor dan menyerahkan tugasnya pada papa mertuamu dan Raka. Tapi, mama bersyukur karena ia masih mau makan walau harus mama paksa-paksa," jelas sang mama.


"Maafkan aku ma, karena aku Candra jadi begitu."


"Tidak, tidak, ini bukan salahmu. Semua yang terjadi adalah musibah oke. Yang terpenting sekarang, kau harus cepat keluar dari rumah sakit dan beraktivitas seperti biasanya. Dengan begitu mama akan sangat senang."


"Iya ma," jawab Hana.


*


*


Di malam hari, hanya ada Candra yang menemani Hana di rumah sakit. Sementara mama dan papanya kembali ke rumah.


"Kau ingin makan sesuatu sayang?" tanya Candra.


"Tidak, perutku rasanya selalu sakit jika diisi makanan," tolak Hana.


"Atau kau ingin menonton televisi?" tawar Candra.


"Boleh, aku juga bosan terus berbaring seperti ini. Setidaknya dengan menonton, kebosanan ini sedikit teratasi."


Alhasil, Candra pun mulai menyalakan televisi dan memilih acara televisi yang cocok untuk menemani kebosanan Hana. Tak lama, ponsel Candra berdering.


"Ada apa?" tanya Candra ketika sudah mengangkat telepon itu.


Candra menjauhkan ponselnya dari telinganya karena suara Alvin begitu keras.


"Siapa?" tanya Hana.


"Alvin," jawab Candra lirih.


"Tidak perlu cerita pun, kau akhirnya tau kan?"


"Ya memang, tapi tetap saja, aku kesal. Rasanya aku ingin sekali mencabik-cabik tubuh wanita ular itu! Otaknya sudah pindah ke ayam kali makanya berbuat nekat seperti itu!" kesal Alvin.


"Lalu bagaimana keadaan Hana?" lanjut Alvin lagi.


"Sudah sadar dan membaik," jawab Candra.


"Alihkan panggilan jadi video. Aku ingin melihat langsung keadaannya," pinta Alvin.


Panggilan tersebut berubah menjadi panggilan video.


"Bagaimana keadaanmu Hana? Sudah lebih baik?" tanya Alvin.


"Sudah, terima kasih sudah mengkhawatirkan aku juga," ucap Hana.


"Tentu saja, cepatlah sembuh agar aku bisa segera menggendong keponakanku," ujar Alvin.


"Haish! Mulutmu itu ya! Lukanya saja belum mengering, aku tidak tega lah pada Hana," ucap Candra mengalihkan kameranya pada dirinya bukan pada Hana lagi.


"Aku berkata seperti itu, agar Hana cepat sembuh tahu," balas Alvin.

__ADS_1


"Terserahlah."


"Ya sudah, karena aku sudah melihat keadaan adik iparku. Aku tutup ya."


"Heh! Sejak kapan aku jadi adikmu, hah?"


Ketika Candra sedang marah-marah ke Alvin, Alvin justru mematikan panggilan video tersebut.


"Bikin kesal saja!"


"Jangan marah-marah terus, nanti cepat tua," ucap Hana.


"Tidak kok," ucap Candra mengelak perkataan Hana.


"Bagaimana dengan Celine?" tanya Hana tiba-tiba.


"Di penjara," jawab Candra.


Hana menghela napas kasar. Sebenarnya ia tidak ingin Celine di penjara. Namun, perbuatannya memang sudah tidak bisa lagi ditoleransi. Takutnya, ia melakukan hal jahat juga kepada orang lain.


"Tidak perlu memikirkan orang yang sudah menyakitimu. Cukup pikirkan aku saja yang ada di hadapanmu, sayang," ucap Candra.


"Iya," jawab Hana.


"Bagaimana serial dramanya kau suka?" tanya Candra.


"Tidak," jawab Hana.


"Ya sudah, lebih baik kau istirahat saja. Hari sudah semakin malam," ucap Candra.


Hana mengangguk.


Tiba-tiba Candra menaiki ranjang yang sama dengan Hana.


"Eh ... " Hana terkejut.


"Aku akan tidur disini bersamamu. Aku sengaja meminta ranjang yang besar agar aku bisa memelukmu. Aku janji tidak akan menyentuh lukamu itu."


"Dasar!"


"Hehe." Candra terkekeh lalu memeluk Hana dengan pelan. Tak lama kemudian keduanya pun terlelap ke alam mimpi mereka masing-masing.


*


*


Terima kasih sudah membaca ceritaku sampai di bab ini. Semoga kalian menyukainya.


Jangan lupa berikan like dan vote nya teman-teman.


Ramaikan juga cerita ini dengan komentar-komentar kalian.


Kalian bisa juga memberikan dukungan untuk yoyo dengan menonton iklan yang ada di kolom pemberian hadiah.


Jangan lupa follow akun Ig ku ya


@yoyotaa_

__ADS_1


__ADS_2