Bitter Sweet Marriage

Bitter Sweet Marriage
Bab 47 - Hasil Tes DNA


__ADS_3

Hari telah berganti. Adam, Hana dan Candra menginap di kediaman Abraham. Selain, agar mudah dicari untuk dikumpulkan, Abraham juga ingin bernostalgia bersama sahabatnya itu.


Siangnya, mereka berkumpul di ruang tamu untuk melihat hasil tes DNA kemarin.


"Berdasarkan dari hasil lab yang saya bawakan ini. Dokter mengatakan jika Tuan Adam dan Nona Hana memiliki kemiripan hampir 99%. Itu artinya Nona Hana adalah anak kandung dari Tuan Adam," jelas Raka.


Adam tersenyum penuh haru, ia sudah menduga hasilnya akan seperti itu. Ia berjalan menghampiri Hana.


"Ini papa sayang, maaf papa lalai selama ini. Karena saking terpuruknya papa melihat kecelakaan itu, papa pikir kau sudah meninggal bersama mamamu."


Air mata menetes begitu saja ke pipi Hana. Ia masih tidak menyangka, papanya masih hidup dan tidak menyangka nya lagi papanya adalah sahabat papa mertuanya.


"Papa ... " panggil Hana diiringi isak tangisnya. Ia pun langsung berhambur ke pelukan papanya. Memeluk dengan erat mengisyaratkan kerinduan yang amat mendalam.


"Maafkan papa sayang," ucap Adam sambil mengelus kepala anaknya.


Mama Dona yang melihat itu pun meneteskan air matanya. Ia bisa membayangkan bagaimana sedihnya kedua orang itu menjalani kehidupannya selama ini. Yang satu hidup dengan kesendirian dan yang satunya hidup dengan serba kekurangan dan tanpa kasih sayang orang tua.


"Rupanya dugaan papa benar, Ma," ucap Abraham yang memeluk istrinya yang kini ikut menangis.


"Iya Pa. Mama jadi sedih dan bahagia di saat bersamaan."


Sementara Candra, ia juga tersenyum penuh haru. Ia membiarkan anak dan ayah itu saling bicara berdua. Pasti banyak hal yang keduanya ingin tahu.


****


Di taman samping rumah Abraham, Hana dan Adam duduk dengan Hana yang menyandarkan kepalanya di bahu sang ayah.


"Papa ingin tahu bagaimana kehidupanmu selama ini. Apa di panti semuanya orang baik?"


"Hidupku begitu sederhana pa. Dibilang serba kekurangan juga tidak, intinya semuanya cukup. Hanya saja, karena aku anak panti dan tidak memiliki pendidikan yang tinggi kerap kali aku dihina dan diremehkan orang-orang. Kalau anak-anak di panti semuanya baik pa, paling yang tidak suka hanya beberapa dan aku pun tidak terlalu memperdulikan itu."


Mendengar jawaban dari anaknya, membuat hati Adam teriris. Jika saja ia tahu anaknya masih hidup, ia pasti akan memberikan kehidupan dan pendidikan yang layak untuk anaknya. Jadi, ia tidak mengalami hal buruk seperti itu.


"Maafkan papa, karena papa tidak mencari tahu lebih lanjut tentang kecelakaan itu."


"Sudah pa, semuanya sudah berlalu. Semuanya bukan salah papa. Itu semua sudah menjadi takdir Tuhan. Jika saja aku tidak ditolong oleh ibu panti dulu mungkin aku benar-benar pergi ikut dengan mama."

__ADS_1


"Kau benar sayang. Setelah ini papa janji akan membayar semuanya."


"Cukup berikan kasih sayang padaku pa. Itulah yang aku inginkan," pinta Hana.


"Tidak sayang. Bukan hanya kasih sayang yang akan papa berikan tapi juga harta dan warisan padamu. Apa yang papa lakukan selama ini, sebenarnya untuk menyibukkan diri agar tidak terus mengingat masa lalu. Karena anak papa masih hidup, semuanya akan menjadi milikmu," ucap Adam.


"Papa memiliki perusahaan besar di Negara C dan beberapa cabangnya di negara tetangga. Papa juga memiliki beberapa restoran disini dan usaha kecil lainnya. Semuanya akan papa serahkan padamu."


Hana terkejut dan tidak menyangka rupanya papanya bukanlah orang biasa melainkan pebisnis hebat. Bahkan aset dan kekayaan yang disebutkan oleh Adam pun membuat Hana tidak bisa langsung mengingatnya.


"Tapi aku tidak tahu apapun tentang itu pa. Aku hanya lulusan SMA. Daripada semuanya bangkrut, lebih baik papa memilih orang lain saja yang berkompeten," tolak Hana.


"Kau kan bisa belajar sayang. Papa juga tidak mungkin langsung memberikan semuanya padamu yang masih belum tahu apapun tentang dunia bisnis. Kau bisa belajar pada suamimu. Dia pebisnis dan pemimpin yang hebat."


Hana terdiam. Ia benar-benar tidak begitu tertarik tentang dunia yang digeluti papanya.


"Jika memang tidak tertarik. Papa akan meminta menantu papa untuk mengurusnya."


"Itu jauh lebih baik pa."


Keduanya sama-sama terdiam dan menikmati waktu bersama. Setelah puluhan tahun tidak bertemu.


Adam tidak menjawab akan tetapi ia meraih dompet yang ada di saku celananya, mengambil foto yang ada di dalam dompetnya dan memperlihatkannya ke Hana.


"Ini mama dan kau ketika usiamu masih satu tahun."


Hana meraih foto itu dan air mata pun menetes begitu saja. Ia sedih karena tidak bisa ingat apapun baik itu tentang mama ataupun papanya ketika ia kecil dulu. Andaikan ia bisa mengingatnya, mungkin saja ia akan merasa lebih bahagia, meski hanya ingatan kecil bersama kedua orangtuanya.


"Kita sudah terlalu lama duduk disini, kasihan suamimu, pasti dia ingin bersamamu," ucap Adam sambil mengusap rambut anaknya.


Keduanya pun akhirnya pergi dari taman dan masuk ke dalam rumah.


****


Malam harinya, Adam masih berada di kediaman Abraham. Ia mengatakan pada Abraham tentang rencananya yang akan kembali tinggal di negara asalnya.


"Benarkah? Aku senang sekali jika kau akan menetap disini. Lalu bagaimana dengan perusahaan mu yang disana?" tanya Abraham.

__ADS_1


"Aku akan memindahkan pusatnya kesini. Lagipula, aku memiliki banyak bawahan yang setia. Aku akan meminta salah satu dari mereka untuk mengurus perusahaan ku yang ada disana. Untuk sementara waktu, aku ingin menginap disini sambil mencari-cari rumah untukku. Apa boleh?"


"Tentu saja boleh."


"Terima kasih."


Abraham pun mengangguk.


****


Berbeda dengan Hana dan Candra, pasangan tersebut sudah pulang dari kediaman Abraham di sore harinya.


Kini di hening nya suasana malam, keduanya saling berpelukan dan mengobrol.


"Ternyata kau bukanlah orang biasa sayang. Papa Adam memiliki banyak kekayaan. Sekarang, jadi aku yang merasa insecure padamu. Aku bukanlah apa-apa dibandingkan papamu."


"Semua itu tidak akan mengubah apapun dari diriku. Yang memiliki kekayaan adalah papa bukan aku."


"Tetap saja, semuanya akan menjadi milikmu nantinya. Karena papa Adam hanya memilikimu sebagai ahli warisnya."


"Sudahlah, aku tidak ingin membicarakan hal tersebut. Bicarakan hal lain saja," pinta Hana yang sudah tidak tertarik karena Candra terus membicarakan mengenai kekayaan.


"Eum, bagaimana jika kita saling bersatu tubuh dan peluh saja?"


Belum juga dijawab oleh Hana, Candra langsung menyerang Hana dengan ciumannya.


"Eumpp ... "


****


Terima kasih sudah membaca ceritaku sampai di bab ini. Semoga kalian menyukainya.


Jangan lupa berikan like dan vote nya teman-teman.


Ramaikan juga cerita ini dengan komentar-komentar kalian.


Kalian bisa juga memberikan dukungan untuk yoyo dengan menonton iklan yang ada di kolom pemberian hadiah.

__ADS_1


Jangan lupa follow akun Ig ku ya


@yoyotaa_


__ADS_2