
Makan malam pun sudah siap, Candra dan Hana kini duduk saling berhadapan di meja makan.
"Mau aku ambilkan atau ambil sendiri?" tanya Hana pada Candra.
"Kalau bisa diambilkan kenapa aku harus ambil sendiri? Lagipula tugas seorang istri itu harus melayani suami dengan baik," jawab Candra dengan datarnya.
Padahal di dalam hati Hana,
Iya sekarang kau bisa bicara seperti ini. Lalu bagaimana dengan kemarin-kemarin? Kita benar-benar orang asing.
Hana pun mengambilkan nasi untuk Candra.
"Apa segini cukup?" tanya Hana.
"Sudah," jawab Candra.
"Ambilkan aku sayurnya juga," pinta Candra.
Hana mengangguk. Mereka berdua pun makan dengan tenang, tanpa adanya obrolan apapun disana. Selesai makan, Hana langsung mencuci piring yang kotor.
"Biar aku saja, kau duduk saja disana. Kau sudah susah payah memasak. Kini giliran aku yang mencuci piringnya. Sebagai suami istri kita harus bekerja sama dengan baik. Saling meringankan tugas satu sama lain," ucap Candra.
Hana menuruti apa yang diucapkan Candra. Masih agak sedikit aneh baginya. Sikap Candra yang berubah tiba-tiba justru malah membuatnya canggung dan tidak bisa asal bicara seperti biasanya. Rasanya ia akan jadi bersalah, jika Candra bicara baik-baik dan dijawab ketus oleh dirinya.
Selesai membersihkan piring-piring kotor, Candra mengajak Hana ke ruang keluarga. Tidak mungkin mereka ke kamar, karena tidak bagus selesai makan langsung rebahan. Tidak baik untuk kesehatan.
"Jangan merasa canggung denganku. Jadi saja dirimu yang biasanya. Tidak usah pedulikan sikapku," ucap Candra yang menyadari sikap canggung Hana.
"Eung, iya," jawab Hana yang sedikit kikuk.
"Apa kau tidak ingin segera memiliki anak?" tanya Candra sambil menatap Hana.
Hana meneguk salivanya. Ia tidak percaya akan ditanya langsung seperti itu oleh Candra.
"Setiap wanita pasti ingin memiliki anak. Apalagi mereka yang sudah menikah," jawab Hana.
"Aku tidak bertanya tentang para wanita-wanita lain. Aku bertanya tentang keinginanmu. Apa kau ingin segera memiliki anak?"
"Kalau aku berkata ingin pun, tidak semudah itu," balas Hana lagi.
"Mudah saja," jawab Candra.
Kepala Hana langsung menengok ke arah Candra.
__ADS_1
"Mudah, kita hanya harus melakukan hubungan suami istri," jawab Candra dengan santainya. Padahal aslinya dia harus mengumpulkan keberanian tersebut dengan menyembunyikan rasa gugup di hatinya.
"Hah?" ucap Hana yang terkejut.
"Kenapa terkejut? Bukannya seharusnya kau sudah tahu? Jika ingin segera memiliki anak kita memang harus melakukan hubungan suami istri. Jika tidak saling menyentuh mana bisa memiliki anak, apalagi kamar saling terpisah."
Dengar, mudah sekali dia berbicara! Apa dia tidak memikirkan dulu kata-kata yang keluar dari mulutnya?
"Sudah beberapa hari ini, aku mendengar wanita-wanita di keluargaku menginginkan adanya anggota baru dalam keluarga. Lalu apa aku harus mengabaikan keinginan itu? Aku tidak bisa Hana. Mari kita buat anggota baru!"
Ajakan Candra membuat Hana melongo tidak percaya. Begitu mudahnya laki-laki dihadapannya ini mengajaknya berhubungan karena keluarganya yang menginginkan. Lalu bagaimana dengan dia sendiri?
"Jadi kau ingin memiliki anak karena keluargamu yang menginginkan? Bukan dirimu?" tanya Hana yang penasaran
"Tidak, aku juga menginginkan anak. Rasanya rumah terlalu sepi jika hanya kita berdua. Bagaimana? Mau melakukannya denganku?" ajak Candra lagi.
"Tapi, kita tidak saling mencintai. Apa kau tidak akan menyesal memiliki anak denganku?" tanya Hana tidak ingin hatinya akan hancur di kemudian hari.
Walaupun aku sudah mencintaimu, tetap saja sampai sekarang aku tidak tahu apa isi hatimu, Can.
"Untuk apa menyesal, aku kan sudah bilang, kita akan memulai semuanya. Itu artinya aku menerima semua yang ada dalam dirimu dan apa yang akan kau berikan padaku nantinya," jawab Candra.
Apa kau belum bisa melihat bahwa aku sudah mulai mencintaimu, Hana?
Semakin hari kata-kata yang keluar dari mulutnya semakin banyak. Aku bahkan tidak menyangka ternyata dia secerewet ini.
"Hana ..." panggil Candra ketika Hana tak merespon ajakannya. Ia juga meraih kedua tangan Hana.
"Jangan pikirkan hal yang tidak penting. Jawab saja ajakan ku. Mau atau tidak?"
"Apa kau sungguh-sungguh? Apa ini tidak terlalu cepat?" tanya Hana.
"Tidak, justru hal seperti ini katanya bisa mengeratkan hubungan suami istri. Lagian apa lagi yang kau pikirkan? Aku sudah tidak mungkin kembali lagi pada Celine."
"Tidak, aku tidak memikirkan apapun."
"Kalau begitu, apa kau mau melakukannya malam ini? Mungkin saja setelah melakukan itu, rasa cinta bisa muncul begitu saja. Seperti kisah cinta yang ada di dalam novel ataupun film."
Hana tampak menimang-nimang apa yang diucapkan oleh Candra. Ia sungguh tidak menyangka akan menghadapi pertanyaan seperti ini. Apa pasangan suami istri lain jika ingin berhubungan seperti ini? Rasanya jika menjawab iya, ia terkesan seperti wanita yang terlalu murah. Jika menjawab tidak, bukankah itu artinya dia melewatkan kesempatan begitu saja?
"Baiklah," jawab Hana.
"Baiklah apa?" tanya Candra yang pura-pura tidak mengerti ucapan Hana.
__ADS_1
"Ya itu ..."
"Itu apa? Bicara yang jelas," pinta Candra.
"Baiklah, akumaumelakukannya bersamamumalamini," ucap Hana dengan cepat.
"Apa? Aku tidak dengar? Kau bicara cepat sekali!" ujar Candra.
"His! Tau lah!" ucap Hana kesal lalu pergi.
"Bersihkan tubuhmu! Jangan lupa pakai minyak wangi juga! Aku tunggu di kamar pukul 21.00 nanti!" teriak Candra.
Hana pura-pura tidak mendengar dan masih terus berlari. Hal tersebut mengundang tawa kecil bagi Candra. Ia tidak menyangka kalau menggoda Hana akan semenyenangkan ini.
"Aku tidak boleh menyia-nyiakan malam ini. Malam ini harus berjalan dengan sempurna. Aku harus menyiapkan performa terbaikku."
Candra pun pergi ke kamarnya untuk bersiap-siap. Rupanya Hana tidak ada di kamarnya.
"Ah, mungkin saja dia bersih-bersih badan di kamarnya yang lama."
Candra pula membersihkan bulu-bulu halus yang ada di area wajahnya. Ia ingin terlihat sempurna dan tampan di hadapan Hana.
****
Sementara Hana di kamar yang dulu, ia berdiri tidak tenang. Ia lupa kini di kamar tersebut sudah tak ada lagi barang-barangnya. Barangnya kan sudah berpindah ke kamar Candra.
"Haish! Bodoh sekali aku! Harusnya ke kamar Candra dulu mengambil barang ku. Jika begini, bagaimana bisa aku mandi? Sementara tidak ada apapun disana?"
****
Maaf semuanya, aku baru bisa update hari ini.
Terima kasih sudah membaca ceritaku sampai di bab ini. Semoga kalian menyukainya.
Jangan lupa berikan like dan vote nya teman-teman.
Ramaikan juga cerita ini dengan komentar-komentar kalian.
Kalian bisa juga memberikan dukungan untuk yoyo dengan menonton iklan yang ada di kolom pemberian hadiah.
Jangan lupa follow akun Ig ku ya
@yoyotaa_
__ADS_1