
Semenjak kegiatan di malam itu, Candra bersikap sedikit lebih lembut pada Hana. Ya meskipun masih belum terlihat terlalu jelas. Hanya saja, hal itu membuat Hana yakin, kalau perlahan-lahan sikap arogan dan dingin itu akan mencair padanya.
Hana melakukan tugasnya dengan wajah yang riang gembira. Ia membersihkan pintu masuk yang terbuat dari kaca. Rupanya ada orang yang memperhatikannya.
"Benarkah itu Hana?" tanya si laki-laki menebak-nebak.
Daripada salah menebak orang, si laki-laki pun mendekat untuk memastikan.
"Jadi, kau benar Hana? Aku tidak salah mengenali orang kan?" tanya si laki-laki.
Hana terkejut ketika ia bertemu dengan mantan kekasihnya dulu. Dengan cepat Hana membereskan alat pembersih yang ia gunakan dan bergegas pergi dari hadapan si mantan.
"Hana! Tidak bisakah kita bicara dan memperbaiki hubungan kita?" tanya si laki-laki.
"Maaf aku tidak bisa Alaska," ujar Hana yang langsung pergi menghilang dari hadapan Alaska.
Rupanya kejadian itu, tak luput dari penglihatan Candra. Ada sedikit rasa penasaran yang menghantui pikirannya. Apakah Alaska mengenal Hana? Jika iya, apa hubungan keduanya?
Seketika Candra memilih untuk kembali ke ruangannya sambil menunggu Alaska mengunjunginya.
Pintu diketuk oleh seseorang, Candra pun membiarkan orang tersebut masuk. Benar saja, Alaska sungguh mengunjungi ruangannya. Candra mempersilahkan Alaska untuk duduk. Keduanya saling mengobrol mengenai kelanjutan kerjasama mereka. Ketika akan meninggalkan ruangan Candra, Alaska menanyakan suatu hal pada Candra.
"Apa aku boleh sering berkunjung ke perusahaan mu?" tanya Alaska.
Pertanyaan Alaska membuat alis Candra berkerut.
"Aku sebenarnya tidak masalah jika kau ingin sering berkunjung ke perusahaan ku. Hanya saja, untuk apa? Semua kerjasama kita akan dilakukan oleh ketua pelaksana, lalu alasan apa yang membuatmu ingin sering kesini?" tanya Candra ingin mengetahui alasan Alaska.
"Ada seseorang yang harus aku dapatkan kembali hatinya. Apa alasan itu cukup?"
"Baiklah. Sudah cukup. Semoga sukses."
Candra mengizinkan dan mendukung Alaska untuk mengejar seseorang yang dicari Alaska tanpa tahu siapa orang tersebut.
Setelah mendapat perizinan dari Candra, Alaska keluar dari ruangan Candra dan menimbulkan banyak pertanyaan di pikiran Candra.
"Tidak mungkin orang itu adalah Hana kan?"
"Aih! Sudahlah! Kenapa aku jadi memikirkannya!? Lagian aku masih menunggu Celine."
Candra masih mengharapkan mantan tunangannya kembali padanya. Benar-benar definisi pria setia tapi bodoh.
__ADS_1
***
Keesokan harinya, Alaska datang lagi ke perusahaan Candra, ia sampai duduk menunggu di lobi untuk melihat Hana. Saat yang ia tunggu terlihat, Alaska mulai mendekati Hana.
"Saat jam makan siang. Aku ingin berbicara denganmu. Aku mohon kau mau dan tidak menolak, please!" ucap Alaskan sambil memohon dengan kedua tangannya yang saling menyatu.
Hana menghela napas dan kemudian mengangguk. Percuma saja terus-terusan menolak, Alaska pasti akan lebih gencar lagi memaksa dirinya.
"Aku tunggu di cafe seberang saat jam makan siang. Sampai bertemu nanti."
Alaska berjalan keluar dari perusahaan, Hana menatap punggung Alaska yang sudah tak terlihat lagi.
Lagi-lagi hal tersebut terlihat oleh Candra. Membuat Candra tidak bisa diam dan dirinya mulai gelisah. Akhirnya ia memanfaatkan kekuasaannya untuk memanggil Hana ke ruangannya dengan alasan ruangannya kotor dan perlu dibersihkan.
Candra sudah menunggu kedatangan Hana dengan kedua tangan yang menyilang di depan dada dan tatapan mata yang tajam seolah Hana telah melakukan sebuah kesalahan.
"Glek." Hana menelan salivanya ketika melihat tatapan mata mengerikan dari Candra.
"Bagian mana yang harus saya bersihkan, Pak?" tanya Hana yang berusaha untuk profesional di tempat kerja.
"Cepat kesini!" perintah Candra sambil menunjukkan tempat yang harus dibersihkan Hana dengan gerakan kepalanya.
"Baik pak."
Rasa kesal mulai timbul di hati Hana.
Memangnya tidak ada hal lain yang bisa dilakukannya selain mengerjai ku? Benar-benar CEO menyebalkan!
"Eh, kau jangan mengumpat ku di dalam hati ya!" ujar Candra yang seolah tahu isi hati Hana.
"Dasar cenayang," gumam Hana.
"Apa kau mengucapkan sesuatu?" tanya Candra yang mendengar sedikit suara yang tidak terlalu jelas.
"Tidak," jawab Hana tanpa ragu.
Sudah berkali-kali Hana membersihkan tempat itu, dan berkali-kali juga Candra sengaja menaruh sampah disana. Hana mulai geram dan akhirnya ia berdiri dan menatap tajam Candra.
"Apa!? Berani melawanku? Mau aku pecat!?"
Seketika nyali Hana menciut kembali. Candra terkekeh pelan, rupanya mengerjai Hana sangatlah mengasyikan. Ia bisa melihat raut wajah Hana yang kesal dan tatapan mata tajam penuh amarah padanya membuat Hana semakin terlihat mempesona.
__ADS_1
Eh, apa mempesona? Tolong sadarlah Candra! Apa yang mempesona dari wanita ini! Astaga! Sepertinya aku memang salah memakan sesuatu!
Candra berperang dengan pikirannya sendiri. Ia kemudian berpindah ke sofa dan duduk di sana. Kali ini ia benar-benar akan bertanya serius pada Hana.
"Tolong kau jawab pertanyaan ku! Apa kau mengenal Alaska?"
Mendengar nama Alaska disebut, Hana langsung terdiam dan berhenti membersihkan tempat yang kotor.
Melihat respon Hana yang terdiam, sudah bisa dipastikan bahwa Hana mengenal Alaska.
"Apa pertanyaan itu harus aku jawab?" tanya Hana yang mulai berbicara secara non formal karena Candra bertanya bukan tentang pekerjaan melainkan ranah pribadinya.
Candra seketika bingung. Mau menjawab atau tidak itu memang hak Hana. Tapi entah kenapa ia menginginkan sebuah jawaban yang mengatakan bahwa Hana tidak mengenal Alaska. Baik itu yang ia lihat hari kemarin dan hari ini hanya sebuah kebetulan saja. Candra benar-benar ingin mendengar jawaban tersebut.
"Terserah mu saja," ujar Candra dengan ketus.
"Aneh! Kau yang tanya kenapa juga kau yang kesal!?"
Hana terheran-heran dengan sikap Candra hari ini. Sangat-sangat berbeda dengan biasanya.
"Suka-suka aku lah!"
"Semuanya sudah bersih, bolehkah saya kembali?" tanya Hana yang mulai berbicara formal lagi.
"Silahkan!"
Ketika Hana berjalan menuju ke pintu, Candra tiba-tiba bersuara lagi.
"Perlu kau ingat dan amalkan. Jika di luar kau harus menjaga sikapmu, jangan dekat dengan laki-laki lain. Kau harus menjaga nama baik ku dan keluargaku. Jika di rumah, itu terserah kau. Kau mau salto atau berlari-lari pun aku tak masalah."
Lagi-lagi Hana dibuat terheran-heran oleh Candra. Apa pria ini habis kepentok sesuatu? Atau jangan-jangan ia terkena virus? Tak biasanya Candra mengungkit tentang sikap Hana. Biasanya juga pria itu akan bodo amat. Toh, tak ada yang tahu kalau ia adalah istri Candra karena penampilannya berbeda 180 derajat.
****
Terima kasih sudah membaca ceritaku sampai di bab ini. Semoga kalian menyukainya.
Jangan lupa berikan like dan vote nya teman-teman.
Ramaikan juga cerita ini dengan komentar-komentar kalian.
Kalian bisa juga memberikan dukungan untuk yoyo dengan menonton iklan yang ada di kolom pemberian hadiah.
__ADS_1
Jangan lupa follow aku Ig ku ya
@yoyotaa_