
Tidak pernah Hana duga sebelumnya, anak orang kaya akan masuk dan tidur di rumahnya. Hana melihat ke arah Sandra yang sedang tengkurap di ranjang miliknya. Ia melihat beberapa foto album SMA milik Hana.
"Ternyata Kak Hana dari dulu sudah cantik ya? Pasti banyak yang suka. Ada berapa banyak orang yang mengejar Kak Hana?" tanya Sandra.
"Wajah tidak selalu jadi objek pertama Sandra. Terkadang kekuasan dan kekayaan lah yang jadi objek pertamanya. Dulu di SMA aku hanya menjadi figuran saja. Bukan aku yang jadi pemeran utamanya. Tapi, dulu ada satu orang yang menyukaiku. Kami berpacaran namun berakhir karena kesenjangan sosial," jelas Hana yang sedang mengaduk susu hangat untuk Sandra.
"Wahhh, aku rasa semua orang itu buta warna."
"Tidak Sandra, mereka memilih yang benar. Lagipula aku memang bukan apa-apa di masa lalu. Begitu juga sekarang."
Hana berbaring di samping Sandra dan melihat langit-langit kamarnya. Banyak hal yang terjadi setelah Hana bertemu Candra. Salah satunya Hana memiliki teman untuk berbagi cerita yaitu Sandra. Terkadang Hana berpikir, mungkin keputusan yang diambilnya benar. Karena belum ada kejadian buruk yang menimpanya setelah bertemu Candra. Yang ada hanya kejadian baik. Maka dari itu, Hana sudah memutuskan untuk melakukan yang terbaik untuk Candra ke depannya. Namun siapa yang tahu, bisa saja apa yang Hana pikirkan malah akan membuat dirinya mendapatkan masalah yang bertubi-tubi datangnya.
"Apa kau nyaman tidur di ranjang kecil ini? Sebenarnya aku merasa tidak enak denganmu. Rumahku bukanlah tempat yang seharusnya kau kunjungi." tanya Hana.
"Kak Hana salah. Aku tidak menganggapnya demikian. Aku malah bersyukur bisa mengunjungi rumah Kak Hana. Terlihat sederhana namun menghangatkan. Meskipun Kak Hana sendirian, Kak Hana bisa melakukan apapun yang kau mau di rumah. Tidak seperti aku, rumahku bukan rumah bagiku. Aku tidak merasa nyaman di rumah. Banyak hal yang harus aku ikuti."
Sandra membalikkan posisinya menjadi terlentang. Ia mengikuti arah pandang Hana.
"Sangat menyenangkan aku bisa bertemu denganmu. Ini pertama kalinya aku menginap di rumah seseorang. Padahal hal yang seperti ini biasanya dilakukan oleh para remaja."
Hana lagi-lagi merasa iba dengan Sandra. Ada banyak sisi yang sepertinya tidak Sandra perlihatkan di depan keluarga. Namun berbeda ketika ia berada di dekat Hana. Sandra bisa mengungkapkan semua isi hatinya tanpa takut akan apapun.
"Mulai saat ini, jika ada pemintaan yang ingin kau lakukan. Sebut saja, aku akan melakukannya bersamamu."
Mendengar ucapan Hana, Sandra terharu dan bahagia. Ia tak sadar air mata pun turun ke pipinya. Sandra pun memeluk Hana.
"Aku jadi semakin ingin kau masuk dalam keluargaku. Aku harap Kak Hana bisa bertahan sampai akhir."
Perkataan Sandra tersebut merupakan sebuah keinginan, pengharapan, dan juga kekhawatiran. Sandra tidak tahu apa yang akan terjadi setelah Hana menikah dengan Candra. Namun sepertinya itu bukanlah sesuatu yang akan berjalan mulus. Ada banyak goresan yang harus dialaminya.
"Semoga saja. Aku juga berharap seperti itu."
Keduanya mulai memejamkan matanya dan sampai tak sadar akhirnya tertidur.
__ADS_1
****
Waktu menunjukkan pukul 06.30, Candra terbangun dari tidurnya setelah mendengar bunyi alarm dari ponselnya. Hanya saja ia merasa ada sesuatu yang aneh. Ia tidak mendengar suara bising yang biasa ia dengar setiap pagi setelah Sandra pulang. Candra pun bergegas mandi.
Selesai mandi, Candra bersiap-siap. Ia mengenakan kemeja berwarna putih kemudian menutupnya dengan jas hitam. Sentuhan terakhir berada pada rambutnya. Candra memakai sedikit gel rambut untuk menata rambutnya.
Candra menuruni tangga dan duduk di meja makan. Hanya ada Dona di meja makan.
"Ma, papa dan Sandra kemana?" tanya Candra ingin tahu.
"Papa pergi ke luar kota pagi-pagi sekali. Sandra menginap di rumah Hana. Apa mereka tidak bercerita padamu?" Candra menggeleng cepat.
Ada yang mengganggu pikirannya. Kenapa Sandra menginap di rumah Hana? Ada apa dengan mereka? Sedekat itukah mereka?
"Kenapa mama mengijinkan Sandra menginap di rumah Hana? Bukankah Hana adalah orang baru bagi Sandra. Jika terjadi hal buruk dengan Sandra. Bagaimana mama menghadapinya?"
"Mama percaya. Hana bukanlah orang jahat. Saat Sandra menceritakan tentang Hana, ia begitu antusias. Bagaimana mungkin mama melarangnya."
"Tapi ma ..."
"Sandra sudah besar. Ia bisa membedakan orang yang baik dan buruk. Kau tidak perlu khawatir," Dona menghela napas sejenak dan berkata lagi, "Sandra butuh seseorang yang bisa mendengar keluh kesahnya. Meskipun Sandra terlihat ceria, mama tahu bahwa sebenarnya ia merasa tertekan selama ini. Hanya saja Sandra selalu diam. Ini yang paling membuat mama khawatir."
Candra hanya diam mendengar penjelasan Dona. Ia mengambil sepotong sandwich dan melahapnya. Kemudian ia meminum segelas susu putih yang dibuat Dona.
"Aku berangkat ma," pamit Candra setelah selesai makan. Ia mencium pipi kanan Dona lalu menghilang dari pandangan Dona.
"Semoga kau selalu beruntung, Nak."
****
Suasana pagi di rumah Hana terlihat berbeda dari biasanya, Hana kini memasak dengan porsi yang lebih banyak. Sandra duduk di meja makan menunggu hidangan tersebut disiapkan. Aroma ayam rendang sudah tercium ke inda penciuman Sandra.
"Wah, dari aromanya saja sudah bisa ditebak. Pasti masakan buatan Kak Hana rasanya enak," puji Sandra sebelum memakan masakan Hana.
__ADS_1
"Dirasakan dulu sebelum berkomentar. Setelah mencicipinya dengan lidahmu. Barulah kau bisa menyimpulkan apakah rasanya enak atau tidak. Begitulah aturannya," jelas Hana.
"Baiklah, baiklah. Boleh aku makan sekarang?"
"Tentu saja. Silakan dinikmati."
Sandra menyantap ayam rendang buatan Hana dengan lahap. Apa yang ia katakan sebelum memakannya memanglah benar. Rasa makanan Hana sungguh enak. Bahkan lebih enak dari masakan Dona.
"Ini luar biasa!" ucap Sandra sambil memberikan dua jempol di depan Hana. Hana hanya tersenyum membalasnya. Ia senang melihat Sandra makan dengan lahap.
Lima belas menit pun berlalu, Sandra dan Hana sudah menyelesaikan makan mereka. Piring yang kotor langsung dicuci setelah makan.
"Kak Hana, biar aku yang antar ke kantor hari ini." Sandra memberikan penawaran pada Hana.
"Tidak perlu. Aku akan naik bus. Kau pulang saja. Pasti mamamu sudah menunggu di rumah."
"Kalau begitu, berapa harga makanan yang Kak Hana buat tadi? Aku akan membayarnya."
"Eh, tidak perlu. Itu bukan sesuatu yang harus kau bayar. Aku senang melakukannya."
"Kalau begitu, Kak Hana juga jangan menolak ajakan ku. Karena aku pun akan senang jika melakukannya."
Hana sudah tidak bisa lagi menolak. Rupanya ada kesamaan di antara Sandra dan Candra. Keduanya sama-sama pintar membuat Hana terintimidasi. Akhirnya Hana diantar ke kantor oleh Hana. Setelah itu, Sandra pulang ke rumahnya.
****
Abraham pergi mengunjungi rumah lama sahabatnya. Namun yang ia dapatkan adalah rumah tersebut sudah berpindah kepemilikan. Tak ada lagi petunjuk agar Abraham bisa bertemu dengan sahabat lamanya.
"Apa kau tidak tahu kemana dia pindah?" tanya Abraham.
"Tidak. Pak Adam tidak mengatakan apapun."
Abraham pun pergi dari rumah tersebut dan memasuki mobilnya.
__ADS_1
"Kau ada dimana sekarang Adam?"