
Hana pun memberanikan dirinya memasuki kamar Candra. Ia berjalan secara perlahan agar tidak diketahui kedatangannya. Sialnya, Candra bisa mendengar langkah kaki Hana.
"Hana? Kau kah itu? Sudah selesai bersih-bersih badan?" tanya Candra yang kemudian kepalnya menyembul dari pintu kamar mandi.
Menyadari pakaian Hana masih sama seperti tadi, Candra yakin Hana belum bersih-bersih badan sama sekali.
"Aku akan menyelesaikan ini dengan cepat! Setelah itu, mandilah," perintah Candra.
Hana hanya terdiam.
Tak lama kemudian, Candra sudah menyelesaikan apa yang ia lakukan dan meminta Hana untuk bergegas.
"Aku akan keluar sebentar untuk membeli cemilan. Kau mau menitip sesuatu?" tawar Candra.
"Tidak," jawab Hana.
"Ya sudah, jangan lama-lama! Aku tunggu di atas ranjang!" ucap Candra kemudian keluar dari kamar.
Hana meletakkan tangannya di depan dadanya. Detak jantungnya begitu cepat. Ia bahkan tidak bisa mengontrolnya sama sekali.
"Tuhan, tolong sadarkan aku jika ini adalah mimpi! Tolong jangan biarkan aku bermimpi terlalu lama. Akan tetapi jika ini adalah nyata, bisakah selamanya akan tetap seperti ini?"
Hana berjalan ke kamar mandi sambil menetralkan debaran jantungnya. Ia menutup pintu, kemudian menyalakan air ke dalam bathtub.
Satu persatu kain yang menutupi tubuh Hana kini sudah tanggal. Hana memasukan tubuhnya yang sudah terisi dengan air. Tak lupa ia juga memasukan sabun beraroma lavender ke dalam bathtub tersebut.
Beberapa menit kemudian, Hana sudah selesai dengan kegiatannya. Ia keluar dengan memakai pakaian ganti yang tadi ia taruh di dalam kamar mandi. Rambutnya yang masih basah, membuat Hana harus berusaha mengeringkan rambutnya. Tak lama kemudian Candra masuk dengan membawa beberapa cemilan dan minuman segar di kantong plastik.
"Sudah selesai mandi?" tanya Candra. Hana pun mengangguk.
Candra menaruh kantong plastik isi belanjaan tersebut di atas meja. Ia kemudian beralih ke dekat Hana dan mengambil alih handuk yang Hana gunakan. Candra membantu Hana mengeringkan rambutnya. Hana seketika terdiam.
Apa ini nyata?
"Duduklah, aku akan membantumu mengeringkan rambut!" perintah Candra. Hana tak membantah sama sekali. Ia duduk di depan meja rias dengan Candra yang mengeringkan rambutnya.
Ketika Hana ingin mengambil alat pengering rambut, Candra menolak.
"Tidak usah pakai itu, kalau keseringan rambutmu bisa rusak."
"Baiklah, tapi rambutku akan lama keringnya," ucap Hana.
"Tidak apa-apa. Lagipula aku suka melakukan ini padamu," balas Candra dengan senyuman tipis di bibirnya. Hana bisa melihat itu dari cermin.
Sekitar dua puluh lima menit, akhirnya Candra selesai mengeringkan rambut Hana hingga setengah kering. Lalu ia berjongkok di hadapan Hana.
__ADS_1
"Sebelum melakukan semuanya, aku ingin bertanya satu hal dulu padamu. Apa kau tidak akan menyesali apa yang akan kita lakukan nanti?" tanya Candra.
Hana menggeleng pelan. Gelengan tersebut cukup bagi Candra untuk sebuah jawaban. Candra berdiri dari jongkoknya dan mengulurkan tangannya agar Hana berdiri.
Uluran tangan itu Hana terima. Kini Hana berdiri di tepat di hadapan Candra. Ia baru menyadari bahwa tubuhnya sependek ini. Tingginya hanya sebahu Candra.
Candra menatap lekat-lekat wajah Hana. Melihat wajah Hana yang memalingkan wajah, membuat tangan Candra menyentuh wajah itu agar tidak berpaling darinya. Setelah itu Hana menunduk.
"Hana ..." panggil Candra.
"Hm," jawab Hana.
"Hana ..." panggil Candra lagi.
"Ya?" jawab Hana.
"Hana ..." panggil Candra untuk ketiga kalinya.
"Apa lagi?" jawab Hana hingga membuat wajahnya mendongak menatap Candra balik.
"Nah ini yang aku mau. Kau menatap wajahku," ujar Candra.
"Hiss!" kesal Hana sambil mengerucutkan bibirnya.
Candra mencium bibir Hana yang mengerucut itu tanpa aba-aba, membuat Hana terkejut. Saking terkejutnya, Hana hanya diam menerima ciuman itu tanpa membalas.
Hana bernapas lega sambil menormalkan detak jantungnya yang sudah tidak karuan.
"Kenapa tidak membalas?" tanya Candra.
"Eum, aku tidak tahu caranya," jawab Hana dengan polosnya.
"Aku akan memberikan pelajaran tentang ciuman secara eksklusif padamu," ucap Candra sambil mengeratkan pelukannya.
"Pertama-tama tatap mataku secara mendalam. Tataplah dengan penuh cinta. Kemudian lihat bibirku, anggap saja bibir ini adalah permen atau makanan apapun yang kau sukai. Jika sudah, mari kita mulai mendekatkan bibir."
Hana menjadi gugup ketika mendekatkan wajahnya lagi ke wajah Candra. Belum juga siap, Candra sudah menyapu bibir Hana terlebih dulu. Candra memberikan dorongan pada Hana untuk membalas ciumannya. Satu gigitan di bibir Hana, agar Hana membuka mulutnya. Ketika mulut Hana terbuka, Candra akan mengeksekusi langsung area mulut Hana itu. Ciuman pun terjadi. Tak hanya itu, terjadi juga l*matan hingga beradu lidah di antara keduanya.
Hana mulai kehilangan napasnya, membaut Candra melepaskan ciuman tersebut untuk memberi ruang napas untuk Hana.
"Satu hal yang perlu diingat, jangan menahan napas saat berciuman, kau akan kehabisan napas," ujar Candra.
Hana mengangguk.
Candra kembali mendekatkan wajahnya, kini bukan bibir Hana yang diciumnya melainkan kelopak mata Hana bergantian.
__ADS_1
"Setelah ini, jangan kaget apa yang akan aku lakukan padamu. Cukup terima saja dan nikmati." Hana mengangguk lagi.
"Jangan mengangguk terus, bicaralah!" pinta Candra.
"Baiklah, aku akan mengikuti semua arahan mu," jawab Hana.
"Bagus."
Kecupan itu mulai berpindah dari mata, hidup, pipi lalu bibir dan kini berakhir di ceruk leher milik Hana. Awalnya hanya kecupan ringan, tapi lama-lama Candra menggigit leher Hana hingga membuat Hana mend*sah dan sedikit merintih kesakitan.
"Aku sudah membuat satu tanda di tubuhmu," ucap Candra yang berhenti dari kegiatannya.
Lalu tanpa aba-aba, Candra langsung menggendong tubuh Hana seperti koala. Hana yang tidak ada persiapan apapun dengan sigap langsung memeluk tubuh Candra dengan erat karena takut terjatuh.
Senyum tipis pun terlihat dari bibir Candra.
"Mau langsung atau pemanasan dulu?" tanya Candra.
"Memang ada seperti itu ya?" tanya Hana dengan polosnya.
"Ada, pilih yang mana?" tawar Candra.
"Terserah padamu saja," ucap Hana yang menyerahkan semuanya pada Candra.
"Baiklah, aku pilih pakai pemanasan," ucap Candra.
Setelah itu dengan pelan Candra merebahkan Hana di atas ranjang dan dirinya merangkak di atas tubuh Hana. Matanya tidak bisa berhenti menatap wajah Hana yang terlihat lebih cantik dari biasanya. Anak rambut yang menghalangi sebelah wajah Hana pun, Candra singkirkan dengan pelan.
"Hana apa kau tidak pernah melakukan seperti ini dengan mantanmu?" tanya Candra. Hana menggeleng.
"Aku hanya sebatas pegangan tangan," ucap Hana menjelaskan.
Candra tersenyum senang mendengarnya. Setidaknya ia mendapatkan orang yang tepat, yang bisa menjaga kehormatannya sebagai wanita.
"Denganku, kau tidak hanya akan berpegangan tangan. Kita akan saling menyatu tubuh dan peluh," ujar Candra.
****
Terima kasih sudah membaca ceritaku sampai di bab ini. Semoga kalian menyukainya.
Jangan lupa berikan like dan vote nya teman-teman.
Ramaikan juga cerita ini dengan komentar-komentar kalian.
Kalian bisa juga memberikan dukungan untuk yoyo dengan menonton iklan yang ada di kolom pemberian hadiah.
__ADS_1
Jangan lupa follow akun Ig ku ya
@yoyotaa_