
"Karena kita sudah sepakat memulai semuanya dari awal. Kita mulai dengan tidur sekamar berdua," usul Candra.
"Baiklah," balas Hana mengiyakan.
Dan kini mereka berada di kamar yang sama, yaitu di kamar Candra. Kamar tersebut bernuansa gelap.
"Jika kau tidak suka warnanya, kau boleh mengganti warnanya," ucap Candra.
"Tidak, tidak perlu. Biarlah seperti ini. Jika sudah kotor barulah aku mengganti semuanya."
Candra berjalan dan langsung berbaring di ranjangnya. Ia menepuk tempat di sebelahnya agar Hana tidur di sebelahnya.
Haruskah aku tidur bersamanya malam ini? Tidak akan terjadi sesuatu padaku kan? Dia tidak mungkin langsung mau bercinta denganku, kan?
"Kenapa kau masih berdiri disitu? Apa kakimu tidak bisa berjalan? Atau harus aku gendong?"
Setelah mendengar kata gendong, Hana dengan cepat langsung memposisikan dirinya di samping Candra.
"Dari tadi kek," ucap Candra yang kemudian memeluk Hana tanpa izin.
"Eh." Hana terkejut akibat pelukan tiba-tiba dari Candra.
"Jangan menolak! Kita sudah sepakat. Jadi kau harus terbiasa dengan sikap baruku!" Setelah mengatakan hal itu pada Hana, Candra pun memejamkan matanya.
Tak lama kemudian, suara dengkuran halus terdengar. Rupanya Candra sudah tertidur dengan pulasnya. Sementara Hana, ia masih tidak percaya dengan sikap Candra yang bisa cepat berubah seperti ini.
"Apa ini nyata? Aku masih merasa seperti mimpi. Apa kita benar-benar akan menjalani kehidupan sebagai suami istri sebagaimana mestinya? Bolehkah sekarang aku menunjukkan rasa cintaku secara langsung? Bolehkah?"
__ADS_1
Hana bertanya seolah-olah sedang berbicara dengan Candra. Ia menatap wajah tenang itu dengan senyuman manis di bibirnya. Ia mengusap kepala Candra dengan sayang lalu kemudian tertidur.
****
Paginya, Candra terbangun lebih dulu. Ia merasa tidurnya sangat nyenyak sekali berbeda dengan biasanya. Ketika ia membuka matanya, ada Hana di sampingnya. Posisi mereka masih saling berpelukan. Kini gantian Candra yang mengusap rambut Hana kemudian mencium kening Hana.
"Aku akan berusaha yang terbaik untukmu. Kau tidak perlu melakukan apapun untuk menarik perhatianku lagi. Karena akulah yang akan datang padamu. Terima kasih sudah bersabar selama ini."
Ucapan itu diakhiri dengan sebuah kecupan di bibir Hana. Senyum Candra terus mengembang ketika melihat Hana yang mulai terganggu tidurnya. Namun, ia tak berniat membangunkan Hana. Candra pun turun dari ranjangnya dan beralih ke kamar mandi.
Tak lama kemudian, Hana pun terbangun, ia merasa heran karena kamarnya berubah jadi bernuansa gelap. Seketika ia tersadar.
"Ah, aku lupa. Rupanya mulai semalam aku akan tidur disini."
"Kemana Candra?" ujar Hana ketika Candra tak lagi ada di ranjang.
Selesai mandi, Candra yang mengenakan handuk kimono keluar dari kamar mandi dan melihat setelah kemeja yang sudah disiapkan oleh Hana. Ia tersenyum.
"Semuanya sudah dimulai. Rupanya tidak terlalu buruk juga pilihanmu."
Candra segera memakai kemeja tersebut. Ia melihat pantulan dirinya di cermin. Rasanya hari ini terasa berbeda dari hari biasanya. Ia ingin terus-terusan tersenyum. Sampai akhirnya suara dering telepon membuyarkan segalanya.
"Halo Candra."
"Halo ma, ada apa? Tidak biasanya mama meneleponku pagi-pagi seperti ini?" tanya Candra yang merasa heran.
"Memangnya tidak boleh?" tanya sang mama.
__ADS_1
"Ya boleh."
"Ya sudah kalau boleh jangan banyak tanya. Mama cuma ingin menanyakan saja, bagaimana hubunganmu dengan Hana? Apa kau masih belum bisa membuka hatimu?"
"Kenapa sih ma? Mama penasaran sekali tentang perasaanku dan hubunganku dengan Hana? Lagian yang menjalani pun aku. Mama tidak usah ikut campur. Biar aku saja yang mengurusnya."
"Bukan begitu. Mama cuma ingin melihatmu bahagia bersama Hana, Candra. Karena meskipun kau mencintai Celine, Hana tetaplah istrimu. Celine masa lalu mu. Hargai perasaannya."
"Iya, iya, aku mengerti ma. Kalau mama ingin tahu jawabannya. Mama bisa lihat sendiri nanti. Aku dan Hana akan datang ke rumah mama untuk makan malam bersama."
"Baiklah, mama tunggu kedatangan kalian nanti di rumah. Kalau begitu mama tutup ya."
Telepon pun berakhir. Candra menghela napas sejenak sambil mengingat-ingat ucapan mamanya.
"Selama ini aku memang tak pernah menghargai perasaanmu dan kehadiranmu. Tapi, mulai saat ini. Aku akan berusaha yang terbaik."
****
Terima kasih sudah membaca ceritaku sampai di bab ini. Semoga kalian menyukainya.
Jangan lupa berikan like dan vote nya teman-teman.
Ramaikan juga cerita ini dengan komentar-komentar kalian.
Kalian bisa juga memberikan dukungan untuk yoyo dengan menonton iklan yang ada di kolom pemberian hadiah.
Jangan lupa follow akun Ig ku ya
__ADS_1
@yoyotaa_