
Hari yang ditunggu-tunggu Abraham pun tiba, Adam akan segera datang ke rumahnya. Ia pun meminta pelayannya untuk menyiapkan berbagai makanan kesukaan sahabatnya itu.
Abraham berdiri di dekat jendela sambil melihat-lihat apakah sudah ada mobil yang memasuki halaman rumahnya atau belum.
"Nunggunya sambil duduk pa," saran Mama Dona.
"Aku sudah tidak sabar Ma. Sudah lama sekali aku tidak bertemu dengan Adam."
"Mama tahu pa. Lebih baik duduk saja."
Bukannya duduk, Abraham justru pergi keluar dari rumahnya ketika melihat mobil asing masuk ke halaman rumahnya. Ia bisa menebak jika mobil tersebut adalah mobil Adam, sahabatnya.
Seorang pria paruh baya pun keluar dari mobil tersebut dengan dibukakan pintu oleh supirnya. Adam tersenyum ke arah Abraham. Abraham pun ikut tersebut dan segera menghampiri Adam dan langsung memeluk sahabat lamanya itu.
"Aku senang bisa bertemu denganmu lagi," ucap Abraham.
"Ya, aku juga. Aku jadi memiliki alasan untuk kembali ke negara asal ku," balas Adam dengan senyum pahit yang tak bisa dilihat oleh Abraham.
Pelukan tersebut pun terlepas. Kedua sahabat lama ini pun berjalan ke arah Mama Dona dan saling bersalaman.
"Senang bertemu denganmu kembali Adam." Adam pun mengangguk.
Pasangan suami istri itu menyambut Adam dengan baik. Sebagai sahabat lama tentunya Abraham sangat penasaran apa saja yang terjadi pada Adam hingga bisa hidup sendiri seperti ini tanpa anak dan istrinya.
"Sebelum aku menceritakan semuanya padamu, aku ingin melihat menantu mu. Dimana dia?" tanya Adam.
"Masih dalam perjalanan, mungkin sebentar lagi sampai," ucap Mama Dona menggantikan suaminya.
"Baiklah, kita bicarakan hal lain dulu." Abraham pun mengangguk.
Lima belas menit kemudian Candra dan Hana pun sampai di rumah mertuanya. Keduanya langsung mencium tangan orang tuanya dan laki-laki asing yang berada di sekitar mereka.
Adam terus memperhatikan wajah Hana dengan seksama. Dengan sekali lihat pun, ia bisa merasakan ada kemiripan antara Hana dengan istri dan anaknya.
"Hana, Candra, kenalkan ini om Adam, sahabat papa sewaktu kecil."
"Hai om," sapa Candra.
"Ternyata kau tumbuh jadi pria dewasa yang sangat tampan ya Candra. Dulu om ingat sekali, kau masih suka mengompol jika om gendong," ucap Adam dengan senyumnya.
"Iya kah om? Aku tidak mengingatnya," balas Candra.
"Wajar, dulu kau masih kecil."
Candra mengangguk.
__ADS_1
Hana menyapa Adam juga.
"Halo om, aku Hana istrinya Candra."
Deg!
Matanya sedikit terkunci ketika melihat mata Hana yang mirip sekali dengan mata anaknya.
"Kau mirip sekali dengan anakku," ucap Adam membuat semua orang yang ada disana terkejut.
"Dam," panggil Abraham.
Adam tidak menghiraukan panggilan sahabatnya itu. Ia justru fokus pada Hana.
"Siapa nama lengkap mu Nak?" tanya Adam.
"Hana Lorensia om," jawab Hana.
Deg!
"Boleh om tahu latar belakang keluargamu?" tanya Adam.
"Boleh om," jawab Hana membolehkan.
Sementara Candra bingung mengapa sahabat papanya ingin mengetahui hal mengenai Hana. Berbeda dengan Abraham, ia sangat yakin jika Hana adalah anak Adam setelah Adam mengatakan Hana mirip dengan anaknya.
Jawaban tersebut mampu membuat Adam kaget sekaligus memiliki harapan jika Hana adalah anaknya.
"Lalu, apa namamu diberikan oleh ibu panti?" tanya Adam lagi.
"Tidak om, kata ibu panti aku memakai kalung bertuliskan nama itu," jawab Hana lagi.
Deg!
Adam menitikan air matanya. Ia benar-benar tidak percaya bahwa anaknya masih hidup. Dengan segera ia memeluk Hana dengan perasaan haru. Hana yang mendapat pelukan justru merasa risih dan meminta Adam melepaskan pelukannya.
"Maaf om."
"Ini papa sayang. Apa kau tidak ingat papa sayang?" ucap Adam.
Hana benar-benar bingung. Ia tidak mengerti kenapa orang asing yang baru ditemuinya bisa mengira bahwa ia adalah anak dari pria paruh baya itu.
"Dam, apa kau yakin?" tanya Abraham yang melihat Adam itu. Meski banyak pertanyaan di dalam benak Abraham.
"Aku yakin sekali Abra. Kali ini aku akan menceritakan semuanya. Dulu aku berlibur di kota ini bersama istri dan anakku. Namun, karena ada urusan mendadak, aku harus pergi keluar kota. Jadi, aku tidak semobil dengan istri dan anakku karena jalur kami berbeda. Tiba-tiba saja, mobil yang ditumpangi istriku mengalami oleng dan mengakibatkan mobil tersebut jatuh ke jurang dan kemudian meledak hingga tak tersisa apapun. Karena kondisi mobilnya yang tidak terbentuk lagi, polisi mengatakan jika semua orang yang ada di dalam mobil tersebut hangus terbakar. Itulah alasan kenapa aku tidak lagi berada disini dan memilih tinggal di Negara lain."
__ADS_1
Mama Dona, Abraham, Candra dan Hana menganga mendengarkan penjelasan tersebut. Abraham tidak bisa membayangkan betapa terpuruknya sahabatnya saat itu.
"Rupanya setelah aku melihat wajah menantu mu ini, wajahnya mengingatkanku akan istriku. Tidak melakukan tes DNA pun aku sudah sangat yakin jika dia adalah putriku," ucap Adam dengan penuh keyakinan.
Hana tampak memperhatikan wajah Adam lekat-lekat. Ingin memastikan sesuatu juga disana.
"Benarkah om adalah papaku?" tanya Hana.
"Ya, jika kau masih ragu, kita bisa membuktikannya," ucap Adam.
"Kalau begitu, kita buktikan saja om," ucap Candra yang mewakili Hana.
Laki-laki itu pun meminta sehelai rambut Hana dan Adam. Setelah itu, ia meminta bantuan Raka untuk membawa rambut tersebut untuk dicek di lab rumah sakit.
"Hasilnya akan keluar besok," ucap Candra.
Dengan uang dan kekuasan, semuanya terasa begitu mudah. Semuanya begitu tidak sabar dengan hasil yang akan keluar nantinya.
"Karena semuanya sudah diurus, lebih baik kita menikmati makanan yang sudah disiapkan. Mari semuanya ke ruang makan," ajak Mama Dona.
Adam terus memperhatikan Hana, ia benar-benar merindukan putrinya itu. Ia yakin, sangat-sangat yakin Hana adalah putrinya.
"Papa harap kamu ingat papa sayang," gumam Adam.
Mereka pun makan dengan tenang walaupun di pikiran mereka sangat was-was dengan hasil yang akan keluar nantinya apakah Hana benar-benar anak Adam atau bukan.
Selesai makan, Adam berbincang dengan Abraham di tepi kolam renang.
"Dam, aku sungguh tidak tahu, jika kau mengalami hal semenyakitkan itu. Maaf, aku tidak tahu mengenai kecelakaan itu," ucap Abraham yang tak enak hati.
"Tak apa. Aku memang meminta media untuk tidak memberitakan tentang kecelakaan itu karena aku akan terus mengenang kejadian buruk itu jika ada beritanya sampai tersebar. Sebab itulah, kau tidak mengetahui hal tersebut."
"Semoga Hana memang benar anakmu Dam."
"Itu sudah pasti."
****
Terima kasih sudah membaca ceritaku sampai di bab ini. Semoga kalian menyukainya.
Jangan lupa berikan like dan vote nya teman-teman.
Ramaikan juga cerita ini dengan komentar-komentar kalian.
Kalian bisa juga memberikan dukungan untuk yoyo dengan menonton iklan yang ada di kolom pemberian hadiah.
__ADS_1
Jangan lupa follow akun Ig ku ya
@yoyotaa_