Bos Ku Dia Milikku

Bos Ku Dia Milikku
part 49


__ADS_3

Semua orang sudah turun untuk sarapan pagi, tapi pagi ini Rendy tidak memasak tapi nia yang memasak.


"mbak nia hari ini mbak yang masak, mas Rendy mana" tanya aisya


"katanya nggak enak badan non" jawab nia


"apa dia marah karena masalah kemarin ya"


"jangan banyak berfikir makan lah " sambung dimas


"kak aku ikut kakak ke kantor ya, aku bosan di rumah" ucap Rangga


"kenapa nggak ketemu temen temen kamu"


"malas mereka paling sama pacar nanti aku jadi nyamuk"


"makanya cari pacar" ucap Rafa, rangga mendengus kesal.


"sudah lah kak Rafa jangan terus menggoda nya, rangga kamu boleh ikut" ucap aisya


Setelah selesai sarapan mereka berangkat ke


kantor. Rendy membuka pelan matanya dia memegang kepala nya karena sakit tubuh nya sangat lemah dia ingin mengambil air di samping nya tapi tangan nya sangat lemah dan membuat gelas jatuh dari tangan nya. dia bangun dan melihat jam sudah sembilan pagi.


"mereka pasti sudah ke kantor" gumam Rendy dia menggerakkan badan nya menurunkan kakinya tanpa sengaja kakinya terkenal pecahan gelas yang dia jatuh kan"ahh.. apa kah ada orang "tapi tidak ada yang menjawab, Rendy mengambil kain dan membalut kakinya agar berhenti berdarah, karena luka yang cukup dalam dan kepala yang sakit Rendy agak kesusahan berjalan. Rendy berjalan menuju tangga karena kotak P3K ada di bawah di bawah juga tidak ada orang saat dia memanggil orang tidak ada yang datang jadi dia turun sendiri. saat Rendy menuruni tangga pandangannya mulai kabur tubuh nya menjadi lemah sekarang dia tidak bisa lagi menopang tubuh nya dan terjatuh hingga kebawah dan tidak sadarkan diri.


Nia yang baru kembali dari pasar terkejut melihat Rendy di lantai dia langsung menelpon aisya.


drut drut drut


"iya halo mbak nia"


"..........


" apa, oke saya pulang sekarang dan mbak nia tolong hubungi dokter rey" aisya mematikan ponsel nya dan mengambil tas nya.

__ADS_1


"ada apa kak, kok buru buru" tanya Rendy


"ayo kita pulang" tanpa banyak bertanya rangga langsung mengikuti aisya.


Sampai di rumah aisya berteriak memanggil nia.


"nia.. nia.. " panggil aisya


"iya nona" melihat raut wajah aisya yang tidak seperti biasa membuat bulu kuduk nya berdiri.


"bagaimana tuan bisa jatuh dari tangga" mendengar perkataan aisya rangga jadi terkejut.


"abang jatuh dari tangga"


"saya tidak tahu nona, saya baru pulang dari pasar tuan sudah pingsan nona" jawab nia ketakutan.


"apa dokter sudah sampai"tanya aisya berusaha mereda amarah nya.


" sudah nona sekarang dokter sedang memeriksa tuan "


Tak lama Rafa dimas dan Daniel juga kembali setelah mendengar kabar.


"aisya bagaimana kondisi Rendy" tanya dimas panik


"aku tidak tahu sudah hampir satu jam dokter tidak keluar, kak aku sangat takut gimana kalo.."


"jangan mikirin sembarangan dia pasti akan baik-baik saja " ucap dimas menenangkan aisya walaupun dirinya sebenarnya tidak bisa tenang. tak lama rey keluar wajahnya terlihat lesu.


"dokter bagaimana" tanya aisya tangannya sudah gemetar.


"tenang lah, umurnya panjang dia tidak mati" rey meminum air kandas dalam sekali teguk, dia menarik nafas panjang "ikut aku ada yang ingin aku bicarakan dengan kalian"


mereka mengikuti rey dan duduk di ruang tamu.


"aku akan memberitahu kalian tapi kalian harus berpura-pura tidak tau kalo tidak Rendy akan menghabisi ku"

__ADS_1


"langsung ke intinya jangan basa basi" Rafa yang sudah Sangat penasaran


Rey menarik nafas panjang "apa kalian tau sebenarnya setelah operasi aku mengetahui penyakit Rendy yang lain, dia mengidap tumor otak stadium lanjut" bagai di sambar petir saat mereka mendengar Rey mengatakan nya.


"lo ngomong apa Rey jangan becanda sekarang"ucap Rafa


" Rey gua tahu lo suka becanda tapi ini benar benar nggak lucu tahu nggak "sambung Daniel


" gw nggak becanda, selama ini Rendy yang meminta untuk merahasiakan nya"


"tapi kenapa lo tidak memberitahu kita" untuk pertama kalinya dimas berteriak kepada seseorang.


"karena aku adalah dokter dan aku sebagai dokter harus menuruti yang di inginkan pasien"


"tapi tidak bisakah kamu menganggap kami teman, untuk hal seperti ini tidak bisakah menganggap dirimu teman kami dan jangan memposisikan dirimu sebagai dokter"


"maaf, aku harus pergi" ucap Rey tanpa sadar air matanya terjatuh.


"kak rasanya hatiku sangat sakit, rasa nya aku tidak bisa bernafas, seluruh tubuh ku rasanya sangat sakit ah... ah... ahh. ha... ha... ah" aisya menangis sejadi jadi nya "rasanya lebih sakit saat dia bilang ingin putus dengan ku, rasanya sangat sakit kak" aisya menangis dan memukul dadanya.


Dimas memeluk aisya "aisya menangis lah sekarang tapi di depan Rendy kamu menangis kami juga tidak akan menangis" ucap dimas yang sebenarnya juga menangis, mereka tanpa sadar juga menangis. tapi tidak dengan rangga dia hanya berdiri seperti patung, Rafa yang melihat nya menghampiri nya.


"rangga" panggil Rafa tapi rangga tidak menjawab dia berjalan dan menaiki satu persatu tapi dia berhenti sebentar dan berjalan lagi sampai di kamar Rendy. rangga mengepalkan tangan nya dan menuruni tangga dengan cepat yang membuat semua orang terkejut rangga berjalan penuh kemarahan, dimas Rafa Daniel dan aisya mengikuti nya dari belakang , mereka melihat rangga masuk ke ruangan pengontrol dan menghajar semua orang di sana, Rafa segera menahan rangga.


"rangga ada apa" tanya dimas


"bang dimas periksa CCTV dari jam sembilan" dimas memeriksa CCTV jam sembilan dia mengepal kan tangan nya"kalau tidak ada mbak nia mungkin abang sudah... abang ku berjalan dengan kaki terluka dia memanggil tapi mereka


tidak mempedulikan abang ku sangat kesakitan. lihat bang dia memanggil orang tapi mereka tidak mempedulikan nya dia bahkan tidak bisa berjalan lagi, lihat dia terjatuh dari tangga"aisya memeluk rangga untuk menenangkan nya


Rafa mengambil pistol dan ingin menembak orang orang itu tapi di tahan oleh dimas.


"Rafa anggaplah ini sebagai perbuatan baik untuk Rendy, ampuni mereka dan kalian jangan pernah datang ke kediaman Wijaya kalau tidak bahkan jasad pu kalian tidak akan ada" ucap dimas dan orang orang itu langsung berlari keluar "bukan kah Rendy tidak ingin kita tahu maka kita tidak tahu" hari itu mereka semua paham kenapa Rendy melakukan itu semua.


bersambung β€πŸ­πŸ¦πŸ‘©β€πŸ¦³πŸ€πŸ₯Ίlike like like πŸ₯°β€πŸ­πŸ¦πŸ‘©β€πŸ¦³πŸ€πŸ₯ΊπŸ‘

__ADS_1


__ADS_2