
Setelah sampai di rumah aisya dan andre membantu Rendy keluar dari mobil dan naik kursi roda , para penjaga membungkuk saat melihat kedatangan majikan mereka . aisya mendorong kursi roda dan andre membawa barang nya, aisya memencet bel rumah.
"mbak Nia buka pintu nya" Rafa memanggil nia padahal dia sendiri dekat dengan pintu tapi itu sudah jadi kebiasaan Rafa kalo lagi main game. nia berjalan Tergepoh gepoh untuk membuka pintu.
"tuan nona sudah pulang" ucap nia sopan dan mengambil barang bawaan dari andre.
"Rafa kapan kamu akan berubah, sangat dekat dengan pintu tapi masih suka merepotkan orang lain dasar pemalas" tanpa berpikir panjang Rafa langsung menghampiri Rendy dan aisya, meninggal kan main game nya begitu pula dimas dan Daniel menghampiri Rendy.
"kamu sudah pulang, kenapa tidak memberitahu kami, biar kami mempersiapkan nya" sambung Daniel.
"mas Rendy bilang mau beri kejutan untuk kalian" sambung aisya
"ohh.. Rendy sekarang juga sudah pandai buat kejutan ya" goda Rafa
"hey jangan bicara lagi biarkan dia masuk, Rendy selamat datang kembali ke rumah" ucap dimas dengan senyuman tulus.
"Terima kasih, dan belakangan ini sudah merepotkan kalian semua" balas Rendy dengan senyuman.
"tidak apa, lagi pula kita satu keluarga" sambung dimas dengan senyuman begitu pula yang lain nya.
"oh iya dimana rangga, kenapa nggak keliatan" Rendy mencari-cari rangga
"rangga di kamar nya dia sedang mempersiapkan diri untuk biasiswa untuk masuk universitas, apa ya namanya, apa ya gw lupa.. emm.. " Daniel kesal memikirkan sircuit otak nya rangga dia bisa mengingat semua nama pacar nya tapi nama satu universitas aja dia lupa, Daniel menggeleng kepala nya.
__ADS_1
"university of Oxford London, gua heran sama otak lo raf nomor ponsel cewek cantik lo ingat tapi kenapa kalau soal lain nya otak lo lambat" Daniel menggeleng kepala nya yang melbu yang lain nya tertawa melihat mereka berdua seperti anjing dan kucing.
"jadi dia mau kuliah di luar negeri, apa dia bisa sendirian di sana"
"mas apa kamu tahu sebenarnya bukan kami yang memanjakan rangga tapi kamu yang selalu memanjakan nya" Rendy tersenyum mendengar perkataan aisya "kak aku bawa mas Rendy kekamar biar dia istirahat" aisya mendorong kursi roda Rendy ke dalam kamar dimas mengikuti nya dari belakang, sampai di kamar mereka membantu Rendy berdiri dan merebahkan nya di ranjang.
"aku keluar dulu ya sekalian aku juga mau kasih tahu rangga kalau Rendy udah pulang" dimas pergi meninggalkan mereka berdua di sana.
"kamu pasti lelah cepat lah tidur" ucap aisya, Rendy menepuk kasur di sebelah kiri nya, aisya tersenyum dan naik ke atas kasur dan duduk di samping Rendy. rendy merebahkan Kepala nya di pangkuan aisya memeluk pinggang nya dan memejamkan matanya.
"jadi ini alasannya kamu ingin pulang" ucap aisya dan di balas senyum oleh Rendy.
Setelah Rendy tertidur pulas aisya mengangkat kepalanya pelan pelan ke atas bantal dan membetulkan selimut nya, aisya turun dari ranjang dan keluar dari kamar ke kamar rangga. di dalam kamar aisya melihat tumpukan buku di depan rangga.
"rangga... " panggil aisya
"apa kalo tidak ada perlu apa kakak tidak boleh ke kamar mu" canda aisya
"bukan begitu maksud ku, bang dimas bilang abang sudah pulang"
"iya.. tadi abang mu menanyakan mu, kenapa tidak menemui dia, abang kamu pasti akan sedih"rangga tidak menjawab dia hanya menunduk" di rumah sakit kamu juga tidak melihat nya, kalau pun kamu datang hanya melihat nya dari luar, dia sangat sering menanyai mu "
"aku takut menangis di depan nya jadi aku selalu menghindari nya agar tidak menangis di depan nya" air bening mulai membasahi wajah rangga. aisya mendekati rangga mengelus kepala nya .
__ADS_1
"kalo mau menangis menangis lah, aku sangat sering menangis di depan nya bukan kah rangga hanya bisa menangis dan manja di depan abang nya tapi kenapa sekarang tidak bisa, bicara lah di depan nya keluar kan semua di depan nya" aisya mengelus kepala rangga.
*******
Rangga membuka kamar pintu Rendy dan melihat Rendy sedang duduk sambil membaca buku. Saat melihat rangga masuk Rendy menyimpan buku nya.
"rangga.. kenapa diam saja di sana, masuklah" rangga menghampiri Rendy dan berdiri di depan nya "kenapa diam apa kamu tidak ingin berbicara dengan abang" saat Rendy bicara rangga mulai menangis sampai terisak "kenapa menangis apakah ada masalah.
" kak.. ai.. sya.. bilang.. aku.. harus.. menangis di depan abang, sebenarnya bukan aku tidak mau menemuimu tapi aku tidak ingin menangis di depan mu, kamu tidak akan menyalahkan ku kan"
"abang tidak akan menyalahkan mu bagaimana abang bisa menyalahkan adik seperti mu"
"emang nya aku adik seperti apa"
"kamu itu sangat penurut punya hati bersih dan lembut walau keliatan nya dingin tapi orang yang sesungguhnya mengenalmu pasti akan menyayangi mu contoh nya seperti kami yang sangat menyayangi mu, rangga selalu dewasa di depan orang lain tapi manja seperti gadis kecil terhadap keluarganya, jadi mana mungkin aku menyalahkan adik sebaik ini "
"jadi kamu tidak bisa meninggal kan adik sebaik ini karena dia sudah kehilangan mama papa dan ayah nya jadi dia tidak bisa kehilangan abang nya" ucap rangga
"baiklah" jawab Rendy sambil mengelus rambut rangga "kak dimas bilang kamu akan kuliah di London apa kamu akan baik baik saja bagaimana dengan fobia mu"
"tidak apa aku akan mengendalikan nya, lagi pula aku juga akan membawa teman ikan ku di
sana"
__ADS_1
"karena kamu sudah memutuskan makan abang akan mendukung mu"
bersambungβ€β€β€β€ π€π₯°π¦π©βπ¦³πππ₯Ίπβ€π€ππππ€£ππππππ