
BOS MILYADER: Balas dendam
Sedangkan disisi lain Liana masih menangis sembari menggebrak-gebrak pintu kamar Lucas Anggara berharap seseorang akan datang membuka pintunya. Namun sampai leher Liana putus pun tidak akan ada seseorang yang datang menolongnya apalagi mengeluarkannya dari kamar Lucas Anggara.
“ Seseorang tolong buka pintunya, keluarkan aku dari sini, biarkan aku menemui mama. ” pinta Liana memohon sembari berulangkali memukuli pintu kamar, Liana menangis sampai terisak. Bahkan saat ini Liana merasa lemas tak bertenaga lagi.
“ Buka pintunya kumohon biarkan aku menemui mama. ” Liana mulai terduduk lemas akan tetapi tangannya tidak berhenti memukul-mukul pintu , sudah berjam-jam lamanya dia memohon dan menangis akan tetapi tidak ada seseorang yang peduli padanya.
“ Mama Liana rindu mama. ” Liana menangis dan menghentikan pukulannya itu, kemudian mendekap kakinya dalam pelukannya. Matanya sudah membengkak sehabis menangis berjam-jam lamanya. Hatinya sakit , sakit karena setiap hari harus menuruti segala perintah Lucas Anggara.
Kemudian Liana beranjak dari posisinya dan berjalan menghampiri telepon, telepon yang waktu itu dibanting kini sudah diperbaiki . Liana mulai mencoba menghubungi seseorang melalui telepon rumah itu , akan tetapi telepon itu tidak bisa digunakan . Ternyata jaringan disekitar kediaman Lucas Anggara masih dibatasi semenjak kejadian waktu itu. Jangankan menelfon orang lain , menelfon panggilan darurat saja tidak bisa .
Liana sudah tidak bisa berfikir jernih, apa yang harus dia lakukan agar dirinya bisa keluar dari kediaman Lucas Anggara sekarang? fikirannya sudah hampir buntu. Kemudian terlintas ide berbahaya difikirannya.
Hari mulai gelap saat ini sudah waktunya makan malam, meskipun Liana disekap didalam kamar akan tetapi pelayan selalu datang kekamarnya untuk memberikan jatah makan malamnya.
Tak lama kemudian terdengar suara ketukan dari balik pintu, seperti biasanya ketukan pintu itu menandakan pelayan sudah datang memberikan makan malam. Terdengar pelayan itu mulai membuka kunci pintu dan mendorongnya perlahan.
Saat pelayan itu baru saja membuka pintu ia tidak melihat seorang pun didalam, mungkin nona Liana sedang berada di kamar mandi, begitulah pikirnya.
“ Nona apakah anda sedang mandi, saya akan taruh makanannya dimeja . ” Kemudian pelayan itu berjalan maju kearah meja dan meletakkan makanan yang dibawanya, tanpa sepengetahuan dari pelayan itu Liana yang sedari tadi bersembunyi dibalik pintu langsung mengendap-endap berjalan kearah pelayan itu.
Liana sudah bersiap dengan penuh rencana, beberapa jam sebelumnya dia menemukan sesuatu yang sangat bermanfaat untuk membantunya kabur dari kediaman Lucas Anggara. Liana baru saja menemukan obat bius di laci Lucas Anggara .
Dan saat ini Liana hendak membius pelayan .
“ Maaf , maafkan aku , aku tidak punya pilihan lagi tolong bantu aku menggantikan posisiku aku harus meminjam bajumu sebentar , maaf . ” ucap Liana berbicara seorang diri saat dirinya baru saja berhasil membius pelayan pengantar makanan itu hingga jatuh pingsan.
Setelah beberapa menit kemudian Liana dan pelayanan itu sudah bertukar pakaian, Liana juga memapah pelayan itu tidur di tempat tidur lalu menutupi tubuh pelayan itu dengan selimut .
__ADS_1
“ Waktuku tidak banyak aku harus bisa pergi dari sini atau akan ada yang curiga. ” Liana berlari keluar dari kamar Lucas Anggara, ia hanya bisa menunduk dan berdoa semoga penyamarannya tidak terbongkar.
Saat ini Liana sudah berada didepan pintu masuk utama kediaman Lucas Anggara. Saat dirinya hendak pergi salah satu penjaga menanyainya.
“ Mau pergi kemana,jika bukan urusan penting tidak boleh keluar dari kediaman Lucas Anggara tanpa izin dari tuan . ” ucap penjaga menghentikan Liana pergi, sampai detik ini penyamarannya masih belum ada yang menyadarinya.
“ Saya, saya mau pergi membeli pembalut stok pembalut sudah kosong kepala pelayan meminta saya membelikannya supermarket-supermarket terdekat. ” jawab Liana sembari menunduk.
“ Baiklah cepat kembali. ”
“ Terimakasih. ” Alhasil Liana bisa lolos dari penjagaan kediaman Lucas Anggara dengan mudahnya, saat ini Liana mencari tumpangan untuk pergi kerumah sakit . Kebetulan disaku pelayan itu menyisakan beberapa uang tunai cukup untuk pulang pergi kerumah sakit.
Sesampainya dirumah sakit Liana langsung berlari sekencang-kencangnya, ia langsung bergegas keruangan mamanya. Sudah beberapa hari Liana tidak bertemu dengan mama tercintanya , dia sangat rindu dan ingin sekali memeluk mamanya. Namun saat Liana tiba diruangan mamanya Liana tak melihat mamanya berada dirungan itu, ruangan itu sudah kosong .
“ Dimana mama ? oh mungkin mama baru saja selesai operasi dan sudah dipindahkan, aku bisa tebak keadaan mama pasti jauh lebih baik setelah operasi . Yaya pasti begitu, kalau begitu temui dokter Frans dulu siapa tau dia bisa membantuku bertemu mama. ” gerutu Liana masih berfikir positif, Liana berlari sekencang-kencangnya pergi keruangan dokter Frans .
Setibanya dirungan dokter Frans Liana mengatur nafasnya yang terengah-engah itu.
“ Liana . ” ucap Dokter Frans terkejut saat dirinya melihat Liana .
“ Kamu duduk dulu ada yang ingin aku bicarakan padamu, Liana kamu kemana saja kenapa ponselmu tidak bisa aku hubungi, apa kau tidak ingin tau keadaan mamamu dia... ” jelas dokter Frans tak sempat selesai namun Liana langsung memotong pembicaraan dokter Frans saking senangnya.
“ Aku tau apa yang ingin dokter Frans katakan, pasti dokter mau bilang mama sudah mulai baikan kan ? sudah kuduga , bukankah sudah kubilang mamaku pasti bisa sembuh dari penyakitnya mengapa dokter Frans tidak percaya padaku, sekarang sudah terbukti kan. ”
“ Dokter Frans Liana sangat rindu mama, bisakah dokter Frans bantu Liana menemui mama. ” jawab Liana antusias sembari tertawa lirih , akan tetapi dokter Frans semakin terlihat muram, dokter Frans masih tak sanggup mengatakan berita duka mamanya secara langsung dan menyakiti hati Liana.
Namun apa daya dirinya tidak bisa merubah fakta bahwa nyonya modigit sudah meninggal dunia. Mau tidak mau dokter Frans harus berani mengatakannya. Kemudian dokter Frans mengajak Liana bertemu mamanya, tak diduga Liana sangat terkejut saat dokter Frans malah membawanya keruangan jenazah.
“ Dokter Frans apa anda bercanda denganku ? kenapa anda mengajakku ke tempat jenazah . Dokter ini tidak lucu, aku ingin segera bertemu mama jadi jangan bercanda lagi okay. ” ucap Liana saat dirinya dan dokter Frans baru saja tiba didepan ruangan jenazah.
“ Liana maafkan saya, saya sudah berusaha semaksimal mungkin tapi tuhan berkata lain , mungkin tuhan lebih sayang pada mama Liana . Nak kuatkan hatimu ini adalah kenyataannya, kamu harus bisa menerimanya. ” jawab dokter Frans terdengar sedih sembari menepuk pundak Liana pelan mencoba menenangkan Liana atas berita duka mamanya.
__ADS_1
Seketika Liana terhuyung lemas, air matanya tiba-tiba mengalir begitu deras, dirinya jatuh terduduk dilantai, kepalanya langsung pusing seakan mau pingsan. Liana masih tidak bisa percaya dengan apa yang dikatakan dokter Frans baru saja itu.
Mamanya telah meninggal ? seketika Liana langsung syokk !
“ Ini nggak mungkin ! nggak mungkin mama ninggalin aku ! dokter Frans katakan padaku ini pasti bohong kan. ” ucap Liana dengan nada tinggi sembari menatap kearah dokter Frans yang masih berdiri, sedangkan airmatanya masih mengalir begitu deras hatinya begitu hancur.
“ Nona Liana saya tidak berbohong ini lah kenyataannya, mama anda sudah tiada beliau sudah tidak kesakitan lagi sekarang. Saya turut berduka cita atas kematian nyonya modigit. ” ucap dokter Frans sembari berjongkok, dokter Frans berusaha menenangkan Liana yang sedang menangis perasaan tidak tega terlintas dalam benak dokter Frans saat ini.
Dokter Frans sangat kasihan melihat Liana, dia cuma berusia 23 tahun , akan tetapi diusia terindah dia malah harus kehilangan orang tuanya bertapa menyedihkannya Liana.
Kemudian Liana mengangkat kepalanya, Liana menatap kearah dokter Frans sekali lagi sembari menangis menyedihkan dan berkata,
“ Jelas jelas dokter bilang mama udah dapetin sumber jantung yang cocok, kenapa jadi begini ! kenapa mama ninggalin Liana ! kenapa ! ” tanya Liana sembari menangis histeris, sedangkan tangannya menarik jas putih dokter Frans, Liana terlihat sangat kasihan air matanya jatuh tak terbendung lagi.
“ Mama nggak mungkin ninggalin Liana, nggak mungkin...... nggak mungkin ! ” ucap Liana semakin lirih. Tiba-tiba Liana merasa semakin pusing dan jatuh pingsan dihadapan dokter Frans.
to be continue...
AUTHOR
Selamat membaca, semoga kalian suka ya teman teman❤️❤️ jangan lupa LIKE nya , komen dan sarannya ya supaya autornya bisa memperbaiki dari saran saran kalian semuanya hehe.
JIKA KALIAN SUKA JANGAN LUPA BERI AKU
komentar 💬
Like 👍
Favorit ❤️
__ADS_1
Tip ⭐
JANGAN LUPA LIKE DAN KOMEN YA TEMAN-TEMAN ❤️ !!! Like dan komen kalian adalah bentuk dukungan kalian pada author☺️