BOS MILYADER: Balas Dendam

BOS MILYADER: Balas Dendam
Papa gendong Elen


__ADS_3

...BOS MILYADER : BALAS DENDAM...


...Chapter 71...


KASTIL



Ding dong! Suara bel yang khas berbunyi, rupanya tuan mereka sudah tiba di kastil . Untuk pertama kalinya Bibi Lu melihat wajah Lucas Anggara secara langsung . Mula-mula ia menyambut kedatangannya dengan sangat ramah .


" Selamat datang tuan besar Lucas ! senang melihat anda datang kemari . Mari tuan... silahkan anda dan rekan anda masuk dulu diluar anginnya sangat kencang . " tersenyum ramah .


Dia bahkan tidak berani menatap Lucas Anggara lebih lama , sekilas bibi Lu hanya menyadari beberapa hal yaitu Lucas Anggara adalah seseorang yang memiliki tubuh tinggi dan wajah yang sempurna , Apalagi bagian matanya itu sempat membuat dirinya kaget ..... sangat mirip dengan mata Elenia kecilku ! yang kedua dia terlihat sangat dingin dan menakutkan ! cara berdirinya saja bisa membuat orang langsung merasakan takut ! mungkin sekali dia berbicara semua orang akan bertekuk lutut dihadapannya !


Mereka berdua pun masuk, bibi Lu memimpin jalan ke ruang makan.


" Tuan besar Lucas , tuan Helian yu . Silahkan duduk disini dahulu untuk makan malam sejenak . Koki kami sudah menyiapkan beberapa menu masakan dan semoga kalian menyukainya . Jika dirasa tidak sesuai dengan selera anda kami mohon maaaf, kami akan segera menggantinya dan membuatkan yang baru secepatnya . " ucap Bibi Lu dengan sangat hati-hati takut salah dalam berucap .


Helian menatap ke arah tuannya. Menunggu jawaban Lucas Anggara. Untuk pertama kalinya Lucas Anggara menjawab ucapan Bibi Lu ,


" Tidak perlu mengganti makananya , saya tidak ingin membuang-buang waktu terlalu lama . "


" Sekarang kamu boleh pergi, lebih baik suruh dokter pribadi keluarga untuk segera bersiap .. setelah saya sudah siap saya akan memberitahu bibi Lu dan sampaikan pada mereka untuk datang menemuiku ! mengerti ? "


" Baik tuan besar , saya mengerti . " Bibi Lu mengangguk kemudian bergegas pergi meninggalkan mereka berdua. Nada bicara barusan benar-benar seperti mengintimidasi seseorang . Sangat menakutkan !


Setelah Bibi Lu pergi mereka berdua memulai makan malam . Suasana begitu sunyi, kastil yang begitu besar dan megah ini bagaikan kasil tak berpenghuni ! tidak beda jauh dengan kediaman Lucas Anggara , sama-sama sunyi seperti tidak ada kehidupan saja di dalamnya .


Ditengah-tengah makan malam yang sudah berlangsung agak lama Helian berbicara sendiri .


" Kenapa saya tidak melihat nona kecil ya sejak tadi ? " sambil celingak-celinguk.


" Baguslah kalau dia tidak muncul sama sekali atau suasana hatiku akan buruk kalau sampai aku melihatnya . " jawab Lucas Anggara dengan nada tak senang .


" Pelankan suara anda tuan, bagaimana jika nanti nona kecil tiba-tiba datang dan mendengarnya ? dia pasti sakit hati . "

__ADS_1


" Bukan urusanku , sudah bagus aku mau datang kesini dan mau menolong hidupnya yang tidak ada harganya bagiku. Lebih baik jangan mempersulitku selama aku masih ada disini . "


Kemudian Lucas Anggara berdiri dari duduknya , selera makannya hilang , ia pergi meninggalkan Helian sendirian . Ia sangat lelah setelah melakukan perjalanan panjang seharian, waktunya memilih salah satu kamar untuk beristirahat sejenak. Ditengah ia bingung mencari kamar mana yang cocok tiba-tiba ia berpapasan dengan Bibi Lu .


" Tuan besar anda sedang mencari ruangan untuk istirahat ? biar saya bantu carikan untuk anda .. mari ikuti saya . " ramah tamah.


Tanpa menjawab Lucas Anggara mengikuti Bibi Lu . Dan sampailah mereka disalah satu ruangan .


" Tuan besar ini adalah kamar terbesar di kastil ini, kamar ini juga dibersihkan setiap hari ,, jadi bisa ditempati langsung oleh anda . Kalau begitu saya permisi dahulu tuan ! " Bibi Lu hendak pergi namun Lucas menghentikannya .


" Tunggu sebentar . "


" Ya tuan , apa ada yang bisa saya bantu ? "


" Saya mau mandi dulu , 1 jam lagi tolong kamu atur para dokter itu menemuiku di kamar ini . Jangan sampai terlambat dan membuang waktu berharga saya , apa kamu mengerti ? "


" Ya tuan , saya mengerti.. kalau begitu saya pamit undur diri . Selamat malam ! " Bibi Lu keluar dari kamar tersebut. Kemudian kembali ke kamar Elenia untuk mengecek apakah nona kecilnya tidur dengan nyenyak ? karena pengaruh obat Elenia jadi bisa tidur lebih awal sekarang .


Didalam kamar Elenia.


" Tidur yang nyenyak ya sayangnya bibi . Maaf bibi kemarin tidak bisa memperlihatkan foto papa Elenia , karena bibi tidak punya fotonya . Dulu bibi punya 1 di ponsel bibi tapi demi keamanan bersama bibi sudah lama menghapusnya . "


" Sebentar lagi nona sudah bisa bertemu papa secara langsung loh . Jadi bibi harap nona bisa lekas sembuh ! " sambil menitikkan air mata , mengelus dan memeluk Elenia.


Disisi lain, di dalam kamar Lucas Anggara.


Ada dua orang dokter spesialis kanker sedang berdiskusi bersama Lucas Anggara sekarang.


" Karena anda adalah ayah kandung dari pasien maka kita bisa melakukan transplantasi Alogenik jika nanti hasilnya cocok . Meskipun anda ayah kandungnya saya tidak bisa menjamin kecocokannya , terkadang anak bisa memiliki kecocokan sumsum tulang belakang dengan ibunya / atau bahkan cocok dengan ayahnya , terkadang juga ada yang tidak cocok dengan keduanya . Presentase menemukan pendonor sumsum tulang belakang memang tidak besar. Tapi jika bisa menemukan pendonor yang tepat penyakit Leukemia ini bisa ditangani . "


" Jadi apakah tuan sudah siap untuk diperiksa kecocokannya ? "


" Ya saya siap , silahkan periksa . " ucapnya tanpa ekspresi , dia tidak peduli dengan penjelasan sang dokter panjang dan lebar . Intinya dia mau datang kemari karena Shi Nian yang memintanya dalam mimpi . Ia berharap agar semuanya cepat selesai dan dirinya bisa kembali .


" Baik , pertama-tama kita akan melakukan tes kecocokan HLA ( human leukocyte antigen ) terlebih dahulu . " ujar sang dokter , di kastil ini peralatan semua sudah lengkap dan memadai , semua di fasilitasi oleh Lucas Anggara tentunya.

__ADS_1


" Baik , lakukan saja apa yang kamu perlukan untuk proses pemeriksaannya . Asal... lakukanlah dengan cepat ! "


" Baik tuan . "


Beberapa puluh menit kemudian , proses pengambilan sel induk darah dari pendonor selesai . Lucas Anggara diberikan infus untuk pemulihan. Sedangkan kedua dokter pergi untuk melakukan pemeriksaan di ruangannya . Apakah hasilnya cocok atau tidak masih belum di ketahui (?) Hasil tes baru bisa dipastikan besok pagi kata ujar sang dokter pada Lucas Anggara sebelum pergi .


Keesokan harinya,


Setelah bangun tidur Lucas Anggara merasa kondisinya lebih membaik , dia pun sudah bisa melakukan aktivitas seperti biasanya . Kebetulan dia punya teman di negara F , jadi dia mau pergi menemuinya dibandingkan berdiam diri dikastil menunggu waktu .


Setelah bersiap-siap lucas Anggara turun ke lantai bawah . Tiba-tiba ada anak kecil terjatuh dihadapannya saat sedang bermain bola dengan bonekanya . Melihat kejadian itu Lucas Anggara membeku ditempat ! apakah gadis kecil itu adalah putrinya ?


Detak jantungnya berdegup kencang !


dag dig dig .. dag dig dug...


Seketika Lucas Anggara tersadar ! dia membencinya ! pasti ada yang salah dengan jantungnya barusan , kenapa berdebar kencang begini saat melihat gadis kecil itu. Dirinya bahkan tidak mau mengotori tangannya untuk membantu Elenia berdiri , sampai Elenia berdiri sendiri !


Kemudian Elenia terkejut melihat seorang pria asing ada dikastilnya . Dia menatapi wajah pria dewasa dihadapannya ini . Matanya sama persis dengannya , hati kecilnya yang merindukan sesosok ayah mulai memberanikan diri berkata ,


" Apa kamu adalah papaku ? "


Lucas Anggara terbelalak kaget saat gadis kecil itu bertanya .


Kemudian Lucas Anggara melihat di belakang Elenia ... seorang Bibi Lu tengah bersujud, memohon belas kasihan sambil menangis ! berharap Lucas Anggara mau mengakui Elenia sekali saja , biarkan Elenia merasa senang sekali saja diseumur hidupnya ini .


Mengingat anak ini yang penyakitan , Lucas Anggara terpaksa mau mengabulkannya ! padahal dia bukan tipe orang yang mau menuruti keinginan seseorang walaupun dia memohon dibawah kakinya sekalipun . Sandiwara pun dimulai .


Lucas Anggara jongkok, agar setara dengan Elenia . Dia yang tidak bisa tersenyum hanya bisa berkata .


" Ya aku adalah papamu . " jawabnya dingin .


" Benarkah ? sungguh ? sudah ku duga papa tidak mungkin tidak menginginkan Elen ! " dengan sangat gembira Elenia merangkul Lucas Anggara .


" Papa , Elen ingin digendong papa bolehkah ? "

__ADS_1


" Ya tentu saja , sini , papa gendong ! "



__ADS_2