
...BOS MILYADER : BALAS DENDAM...
...Chapter 68...
Sepulang dari taman kanak-kanak , Kastil .
Elenia langsung berlari ke kamar setiba di kastil , bibi Lu yang bingung dengan Elenia langsung mengikutinya berlari... ia khawatir bila Elenia terjatuh saat berlari , apalagi kondisi tubuhnya sedang tidak baik-baik saja.
" Nona jangan lari, awas jatuh ! "
Elenia tidak mendengarkan teriakan Bibi Lu , entah apa yang terjadi dengannya sehabis pulang belajar .
Begitu tiba dikamar ...bibi Lu melihat Elenia tengkurap di atas tempat tidurnya. Ia menangis lagi , sesegukan sampai sulit bernafas .
" Sayang... kenapa menangis ? berhenti menangis ya , bibi jadi ikut sedih . " cemas , sambil mencoba membalikkan badan Elenia .
Setelah berhasil membalikan badan Elenia bibi Lu terkejut, Elenia mimisan .
" Astaga ... ! nona Elenia... kenapa bisa begini ! " sambil mengusap darah yang keluar dari hidungnya , buru-buru mengambil alat bantu pernafasan .... Tangannya gemetar hebat , kemudian bibi Lu segera menelfon dokter pribadi .
Beberapa jam kemudian.
Elenia sudah ditangani oleh dokter , ia diberikan obat penenang agar bisa istirahat sejenak. Kemudian dokter mengajak bibi Lu berbicara secara pribadi .
" Begini .. dengan berat hati saya harus menyampaikan berita yang kurang enak didengar . Kondisi nona Elenia sudah sangat mengkhawatirkan ! penyakit Leukemia nya semakin parah.... transplantasi sumsum tulang belakang sampai sekarang masih belum ditemukan yang cocok, apakah orangtua dan saudara-saudaranya tidak mau diperiksa kecocokannya sampai sekarang ? apa tidak kasihan .. sekecil itu harus menahan rasa sakit yang dideritanya sejak kecil ? saya takut ...... obat dan terapi saya tidak bisa digunakan dalam jangka panjang . "
" Bagaimanapun juga .. kita harus segera mendapatkan transplantasi sumsum tulang belakang itu sebelum waktu 6 bulan . jika tidak... obat dan terapi yang saya berikan tidak bisa menahan penyakitnya dalam jangka panjang . "
DEG !
Bibi Lu tak kuasa menahan air mata , dari kecil ia harus melihat nona kecilnya menderita kesakitan .
" Jangan dibiarkan dia berfikir berlebihan, itu juga mempengaruhi kesehatannya . Dari pemeriksaan saya sepertinya nona Elenia kecapean dan kebanyakan berfikir sehingga membuatnya stress hingga mimisan , ditambah lagi menangis membuat dadanya sesak , bahaya . "
" Maafkan saya dok, seharusnya saya tidak mengizinkannya pergi ke taman kanak-kanak, seharusnya nona belajar dirumah saja agar tidak kecapean . Dan untuk transplantasi itu ... sulit sekali mendapatkan donor yang cocok . " sambil menangis , menyalahkan dirinya .
Mengingat bibi Lu pernah berusaha menghubungi kediaman Lucas Anggara , namun Lucas Anggara menolak berbicara apabila berhubungan dengan putrinya . Tidak pernah merawat ataupun menengok putrinya, setidaknya dengarkanlah kondisinya ! kenapa ada orang berhati kejam seperti itu . Dia telah melewatkan pertumbuhan putrinya , bahkan saat putrinya sedang sekaratpun dia tidak mau mendengarkan keadaan putrinya.
Hati bibi Lu seperti teriris . Kasihan melihat Elenia .
" Saya akan berusaha untuk dapatkan sumsum tulang belakang yang cocok dok , saya akan berusaha lebih keras lagi ! nasibnya sedang dipertaruhkan sekarang, saya tidak bisa tinggal diam dan menunggu terus begini. "
__ADS_1
"Semoga segera mendapatkan pendonor yang cocok, jika kedua orangtuanya tidak bisa karena alasan yang pernah anda katakan pada saya itu, setidaknya bantu cari ke saudara.. walaupun kecocokan 50% sudah bisa melakukan operasinya . "
" Iya dok, baik , saya akan berusaha ! saya pasti akan mendapatkannya , tidak peduli bagaimanapun caranya . Bahkan jika saya harus terbang ke negara lain ... mengemis dan berlutut ! saya tetap akan mencoba membujuk ayahnya untuk melakukan tes kecocokan transplantasi itu. "
" Baguslah kalau begitu, jangka waktunya tidak banyak ... hanya 6 bulan saja . Semoga anda bisa membujuknya dalam waktu yang singkat itu. "
" Ya dok ! . "
Setelah semua usai, bibi Lu mencoba menghubungi kediaman Lucas Anggara melalui Helian Moura asistennya.
- panggilan tersambung -
" Halo, halo . "
" Adaapa bibi Lu ? ada yang bisa saya bantu ? "
" Tuan, tuan Helian .. tolong .. tolong saya ! saya mohon ! " menangis sesenggukan .
" Tenangkan bibi dulu okay ? saya akan bantu jika saya bisa bi. "
" Tolong ... bantu sampaikan kepada tuan besar Lucas .. putrinya sedang sakit sekarang, untuk kali ini saja ... bisakah ? bisakah tuan Helian bilang ke tuan besar ... Nona kecil ingin bertemu dengannya , dan ada hal penting yang ingin saya bicarakan dengan tuan besar . Ini benar-benar penting dan sangat mendesak ! bisa bantu saya agar dapat bicara dengan beliau ? "
" Ya , baik. "
Helian mendekati Lucas , ia bilang bahwa pengasuh nona kecil ingin bicara hal penting dengannya. Namun Lucas menolak semua yang bersangkutan dengan putrinya sendiri ! bahkan menyuruh Helian keluar dari ruang kerjanya .
" Maafkan saya , tuan tidak bisa berbicara dengan anda . Jika ada hal yang sangat penting dan mendesak bisa langsung katakan pada saya .. nanti saya akan sampaikan . "
Dalam hati bibi Lu sangat sakit hati, bagaimana bisa ada orang tua sekeji dia ?
" Beritahu beliau... Anaknya sedang sakit, sakit parah ! transplantasi sumsum tulang belakang ... nona Elenia membutuhkannya .. bisakah tuan besar Lucas bersedia datang kemari untuk melakukan tes kecocokan ? sekalian ia menengok putrinya ? saya mohon . Saya tidak tega melihat keadaannya . " sambil menangis.
" Akan saya sampaikan padanya , saat ini beliau bilang sedang tidak bisa diganggu, beliau sebentar lagi akan melanjutkan rapat penting . Akan saya usahakan dan coba membujuknya nanti setelah rapat selesai. "
" Terimakasih tuan Helian , terimakasih ! "
" Saya akan mencoba membujuk beliau sebisa mungkin. Bagaimana kondisi nona kecil sekarang? Apa dokter sudah memeriksa keadaannya ? apa kata dokter ? "
" Dokter bilang penyakitnya bertambah parah, dalam kurun waktu 6 bulan jika transplantasi itu tidak bisa dilakukan maka obat dan segala terapi yang diberikan dokter mungkin tidak akan bisa menghambatnya lagi . Saya benar-benar tidak tega , sejak kecil tubuhnya sangat lemah . Saya tidak berdaya melihatnya tuan Helian . hiks... hiks.... "
__ADS_1
Helian terkejut saat mendengar kabar Elenia sakit parah seperti itu , tuannya benar-benar berhati sekeras batu . Semoga penderitaan tidak terjadi pada putrinya Liana .
Keesokan harinya.
Bibi Lu tidur disamping Elenia , kemudian bibi Lu terbangun saat jemari kecil mengelus kepalanya . Matanya sembab sehabis menangis kemarin .
" Bibi, kenapa bibi tidur dengan posisi seperti itu . pasti sangat capek kan ? " tanya Elenia , wajahnya pucat .
" Bibi habis menangis ya ? "
" Tidak kok sayang, bibi tidak capek .. tidak menangis juga . Tunggu sebentar disini ya... bibi ambilkan bubur dulu ya.. kemarin bibi sudah bilang ke dapur untuk membuatkan nona bubur yang enak . "
Elenia menarik tangan bibi Lu agar tidak pergi .
" Bi, jangan pergi. Elen mau mengatakan sesuatu pada bibi . " tangan mungilnya bergemetar .
" Baiklah baiklah... bibi duduk disini dulu untuk mendengarkan nona . " sambil tersenyum.
" Bi, Elenia tidak tau sebenernya Elenia sakit apa ... kalau dilihat dari reaksi bibi sepertinya Elen sakit parah ya ? apa sulit disembuhkan ? "
DEG !
" Walaupun bibi tidak bisa mengatakannya Elen tau pasti yang dikatakan Elen benar. " nada anak kecil yang khas , kemudian tersenyum tapi menangis.
" Bi , bisakah mengabulkan keinginan terakhir Elen ? "
" Ssssstt , jangan bilang begitu nona Elen, apa yang anda maksud keinginan terakhir . Nona akan baik-baik saja ! "
" Tidak ada yang tau kedepannya bi . "
" Elen ingin melihat rupa orang tua Elen . meskipun sekedar foto pun tak apa . "
Disaat seperti ini bibi Lu hanya ingin menuruti keinginan Elenia , meskipun itu melanggar aturan kontrak kerjanya . Rasa ingin tau yang besar ... bibi Lu sudah tidak dapat mencegahnya lagi, takutnya Elenia akan sering banyak berfikir dan kondisinya bisa down lagi .
" Baik , setelah makan nanti saya akan perlihatkan pada nona kecil . Tapi nona harus cepat sembuh ya ? " sambil menahan tangis .
>>> To be continue <<<
...Hallo semuanya sampai jumpa di episode selanjutnya ya , jangan lupa tinggalkan like dan komentar kalian ya ♥️🐰...
__ADS_1