Bukan Cinta Pertama

Bukan Cinta Pertama
Keterpurukan Edi


__ADS_3

Setelah 2 minggu Boy dan Sinta berpacaran tetapi belum ada satupun yang sudah mengungkapkan perasaan mereka masing -masing. Ya.. waktu itu Sinta menerimanya bukan karna mencintainya melainkan karna Boy menembaknya di depan teman nya dan teman Boy, akhirnya Sinta terpaksa menerima nya karna takut Boy merasa malu. Eitss.. tapi itu dulu ya kalau sekarang dia sudah ada rasa dengan Boy.


Saat di kos'an Boy


Boy sedang melamun di kamarnya tepatnya di jendela dekat ranjang memikirkan bagaimana cara dia mengungkapkan perasaan nya pada Sinta, ya.. meskipun mereka memang sudah ada status pacaran tapi mereka belum pernah mengungkapkan perasaan nya masing-masing. Bahkan Boy masih ragu apakah Sinta juga memiliki perasaan yang sama dengan dirinya.


"Aku sudah sangat mencintainya, aku ingin sekali dia mengetahui perasaan ku ini dan aku juga ingin tau apa dia juga merasakan hal yang sama dengan ku atau malah sebaliknya, jika memang dia tidak ada perasaan dengan ku aku akan menjauhinya sebelum perasaan ku padanya semakin dalam..." Gumam Boy dalam hati.


"Ya,, aku harus segera melakukan nya dan aku akan terima keputusan nya,, mungkin besok adalah waktu yang tepat untuk aku akan langsung mengatakan nya."


Ucap Boy lirih.


"Woyy Boy..! ngapain lo ngelamun disitu? ini masih siang bolong awas lo kesambet setan." Lamunan Boy langsung pecah saat tiba-tiba Sandi datang dari arah pintu kamarnya.


"Apaan sih lo berisik amat." Balas Boy ketus.


"Ya elah.. gitu aja kesel, Emang nya lagi Mikirin apaan sih lu?" Tanya Sandi sambil mmendudukkan pantatnya keatas ranjang Boy.


"Gak ada, gue cuman kangen BoNyok (Bokap Nyokap) doang." Jawab Boy berbohong, dia sedang tidak bernafsu untuk berbicara apalagi bercerita.


"Cih.. dasar anak Mami!" Ledek Sandi tak dihiraukan oleh Boy, dia malah kembali menatap keluar jendela yang menampakkan jalan raya yang menampakkan kendaraan umum melintas.


"Eh Boy,, gue penasaran deh sama cewek lo." Sandi masih belum mau menyerah, dia mencoba memecahkan keheningan antara dirinya dan Boy.


"Maksud lo?" Tanya Boy acuh.


"Lo emang beneran suka gak sih sama dia dan apa dia suka juga sama lo?" Bukan nya malah jawab eh malah nanya balik.


"Gak, gue gak ada perasaan apa-apa sama dia." Jawab Boy singkat, dia sedang malas berargumentasi dengan teman yang sudah dianggapnya saudara itu.


"Dan dia?.." Tanya Sandi lagi memastikan.


"Gue gak tau." Jawab nya ketus, dia benar-benar sedang tidak ingin mengobrol namun apalah daya, si Sandi nya kagak peka😂.


"Elahh ni bocah.. emang lo gak tanya langsung sama dia gitu?" Lagi- lagi Sandi bertanya yang membuat Boy semakin kesal saja.


"Gue gak peduli! asal lo tau gue pacarin dia cuman mau balas dendam doang dan abis itu gue bakal ninggalin dia jadi stop nanya tentang perasaan gue ke dia." Jawab Boy berbohong agar Sandi tidak bertanya tentang Sinta lagi.

__ADS_1


"Ok. Selow man,, kayaknya dendam lo dalem juga ya sama dia, tapi kan waktu itu lo bilang..." Kalimat Sandi terpotong karna Boy langsung menatap nya tajam yang artinya menyuruh untuk diam.


"Ok. Kalo gitu gue balik ke kamar gue mau tidur siang dulu." Ucap Sandi sambil berdiri dan berjalan keluar dan Boy hanya menatapnya sekilas kemudian kembali menatap keluar jendela lagi.


Disaat yang bersamaan di kediaman rumah Sinta


Sinta sedang berada di kamarnya sambil menatap langit- langit kamarnya lalu terpikir akan suatu hal.


"Gue sama Kak Boy uda 2 minggu pacaran tapi gue gak tau perasaan gue ke dia dan juga perasaan dia ke gue, dia emang baik, perhatian, soleh dan mendekati tipe wanita umumnya juga sih." Gumam Sinta dalam hati.


"Ahh kenapa gue malah mikirin dia sih, kan dari awal gue uda tau kalo dia macarin gue cuman buat mainan nya aja dan setelah itu dia bakal buang gue ibarat sampah." Ucap Sinta sambil menggeleng-gelengkan kepalanya. Tidak! dia tidak boleh berlarut-larut dalam situasi ini.


Dan tak selang beberapa menit Sinta pun terlelap dalam tidur siangnya.


___________


Keesokan harinya,


Seperti biasa setelah apel pagi di laksanakan semua siswa dan siswi diharapkan masuk ke ruangan masing-masing menunggu Guru mata pelajaran datang.


"Oh ya Tri,, emangnya lo udah pikirin kejutan apa yang bakal lo kasih ke Edi?" Tanya Sinta.


"Udah sih tapi gue mau minta pendapat lo nih. Rencana nya sih gue mau buat surprise ke dia dengan datang ke rumahnya pagi -pagi banget sebelum berangkat ke sekolah, gimana menurut lo?" Tanya Tria meminta saran sahabat karibnya.


"Emm.. pake kue ulang tahun?" Tanya Sinta dan langsung diangguki Tria.


"Dan kado?." Tanya Sinta lagi memastikan dan langsung diangguki Tria lagi.


"Ok. gue setuju ide lo." Ucap Sinta dan Tria pun tersenyum.


"..dan tadi lo bilang pagi- pagi banget?" Tanya Sinta lagi dan langsung diangguki Tria.


"Kenapa gak di sekolah aja?" Tanya Sinta penasaran. Emang sih kalau ke rumahnya langsung itu keliatan banget romance nya, tapikan bisa di sekolah juga sekalian sama temen-temen mereka juga supaya bisa ikutan ngerayain.


"Ahh lo tau lah Sin disini tuh semua orang pada berisik gue gak mau nanti gue jadi bahan gosipan apalagi kalo sampai ke telinga nya Guru BK itu, ihh amit-amit deh." Ucap Tria begedik ngeri.


"Emm.. iya juga sih ternyata lo uda pikirin mateng-mateng ya." Celetuk Sinta lagi sambil tersenyum menggoda.

__ADS_1


"Jelas dong, gue gak mau buat dia kecewa apalgi gue tau kalo orang tua nya dia itu gak pernah sama sekali merhatiin dia Sin makanya gue kasihan banget sama dia." Ucap Tria menunduk seakan dia bisa merasakan apa yang sedang dirasakan kekasihnya.


"Maksud lo?" Tanya Sinta penasaran.


"Iya, sebenernya Ibu yang tinggal dengan nya itu Ibu tirinya.." Ucap Tria merasa sedih.


"Ayahnya sama Ibunya bercerai karna Ayahnya mata keranjang dan setelah Ayah dan Ibunya resmi bercerai, Ibunya pergi meninggalkan dia dan Adik nya Edo, Dia sayang banget sama Ibu kandung nya Sin tapi Ibu nya gak mau bawa dia ataupun Adiknya.." Tria berhenti sebentar mengatur nafasnya, tenggorokan nya juga terasa tercekat saat menceritakan penderitaan sang kekasih.


"Bukan karna Ibunya gak sayang sama mereka tapi karna Ibunya juga bingung mau kemana dan katanya kalo Ibunya uda sukses Ibunya bakal jemput mereka. Asal lo tau ya pas saat- saat itu Edi masih 3 SMP lo bayangin aja Sin gimana terpuruknya dia dan selama seminggu Ayahnya udah dapat pengganti Ibunya dan disitu ada seseorang yang ngaruhin dia katanya sih 'hidup ini keras Edi kalo lo gini terus lo bakal gak bisa lawan ayah lo come on lah lo harus bangkit dari keterpurukan ini' ..'


"Siapa orangnya Tri?" Potong Sinta di selah selah cerita Tria, dia penasaran juga siapa yang udah ngaruhin Edi.


"Gak tau, gue gak nanya soalnya he..he.." Jawab Tria sambil nyengir.


"Huh.. yaudah lanjut-lanjut."


"Nah saat itu juga dia bangkit, tapi jadi berandalan.."


"Ya ya ya.. gue tau itu dia memang berandalan." Potong Sinta lagi.


"Iya sih tapi dia bilang dia uda mulai berubah katanya semenjak ada gue di hidupnya." Tria tersenyum di akhir ceritanya.


"Dan lo percaya?" Tanya Sinta sinis, dia memang tidak suka dengan Edi karna sifatnya yang berandal dan selalu bermasalah di sekolah. Eh tapi pacarnya juga sering buat masalah sih padahal, haha.


Belum sempat Tria menjawab Yana yang berdiri di depan pintu memanggil Sinta.


"Sinta..! udah siap blom curhat-curhatan nya? ada yang nyari in lo nih." Seru Yana dari ambang pintu.


"Siapa?" Tanya Sinta mengernyitkan keningnya.


"Siapa juga yang nyari pagi-pagi." Gumam nya dalam hati.


____________________________


**Like, Komen, Vote😀


Oke guys Happy reading👀**

__ADS_1


__ADS_2