Bukan Cinta Pertama

Bukan Cinta Pertama
Hari terakhir


__ADS_3

Sudah 2 bulan berlalu setelah waktu itu Sinta weekend bersama Boy ke kampung halaman Boy. Kini adalah weekend setelah ujian usai, dan satu minggu lagi akan pembagian rapot hasil belajar selama satu semester. Sinta sedang membaca novel di kamarnya, dia amat sangat malas untuk keluar rumah terlebih cuaca yang sangat panas diluar.


Tiba-tiba dia merasa bosan dan mengakhiri kegiatan nya yang membaca novel dan beralih ke ponsel yang ada di sampingnya. Dia mencoba mangotak-atik nya, dia tersenyum saat melihat fotonya dengan Boy namun seketika dia tersadar.


"Dia sekarang berubah, sudah tidak dulu lagi , sudah 3 minggu dia gak main kesini bahkan untuk mengabariku saja rasanya dia sudah enggan, tapi aku tidak boleh egois karna aku masih ingat pesannya satu hari sebelum ujian."


*Flashback*


Saat itu jam masih menunjukkan pukul 10 lebih namun Sinta sudah selesai dengan pekerjaan rumahnya dan sekarang sedang bercanda tawa dengan adik-adik nya di teras rumahnya.


Saat mereka sedang asik tertawa tiba- tiba datang lah seseorang lelaki yang amat sangat mereka kenali berhenti tepat di depan mereka.


"Kak Boy!!" Teriak Fitri kegirangan dan langsung berlari memeluk Boy yang sudah ingin berjalan ke arah mereka, ya lelaki itu adalah Boy.


Sinta memang sudah tak heran lagi saat Boy tiba-tiba datang tanpa mengabari karna menurut Boy kalau rumah Sinta adalah rumahnya juga.


"Masuk yuk." Ajak Sinta seraya melangkahkan kakinya masuk duluan dan Boy pun mengikut di susul adik-adik Sinta.


Sinta sedang ke dapur membuatkan minuman dingin tiba-tiba Boy datang menghampirinya.


"Sayang Ibu sama Ayah dimana?" Tanya nya yang membuat Sinta terkejut.


"Eh.. ngagetin aja ih.. Ayah biasa lagi kerja, kalo Ibu tadi katanya belanja sayuran dan sekalian mampir ke rumah Nenek juga sih."


"Ohh.. sini biar aku mantuin." Sambil merebut gelas yang dipegang Sinta.


"Udah gak usah kamu duduk manis aja disitu oke." Ucapnya merebut balik gelasnya, Boy hanya tersenyum dan mengangguk lalu duduk di kursi makan.


Boy melihat Sinta yang sedang membuat minuman itu sambil tersenyum, Sinta yang merasa diperhatikan akhirnya memecahkan lamunan Boy.


"Kenapa senyum?"


"Kamu cantik." Ucapnya spontan lalu tersenyum manis saat melihat wajah Sinta yang sudah merah merona.


"Ish apaan sih ga jelas banget." Ucapnya salah tingkah, Boy pun terkekeh.


"Oh iya sayang.. Ibu kira-kira pulangnya masih lama gak?" Tanya Boy mengalihkan pembicaraan.


"Em.. katanya sih tadi jam setengah 11, kenapa emangnya?" Sinta bertanya balik.


"Aku mau minta ijin mau jalan-jalan sama kamu, kamu mau kan?" Mereka saling tanya bertanya.


"Em.. gimana ya bukannya aku gak mau cuman kan besok kita ujian.."


"Bentar aja kok gak lama bener deh." Sambil mengangkat jari telunjuk dan tengahnya membentuk huruf V.


"Huh.. yaudah deh tapi bener ya cuman bentar."


"Janji sebelum asar kita udah nyampek rumah." ucapnya menimpali.

__ADS_1


"Yaudah kita tunggu Ibu pulang dulu ya." Boy langsung mengangguk cepat.


"Yuk ke depan gabung sama adik-adik" Ucapnya sambil membawa nampan berisi jus jeruk 4 gelas, Boy pun mengikut.


Sampai di ruang tengah ada Boy Sinta dan kedua adik Sinta yaitu Pitri dan Putri. Mereka duduk di lantai karna memang lebih menyenangkan sambil bencanda dan juga tertawa dengan tingkah konyol Pitri dan ditambah lagi Boy yang memang humoris, Sinta hanya diam dan sesekali tertawa jika menurutnya lucu.


Selang beberapa menit Afni pulang dengan membawa kantong berisi belanjaan.


"Yeyy Ibu pulang." Teriak Pitri sambil berlari menuju Ibunya.


"Heyy hati- hati anak manis nanti bisa jatuh." Tegur Boy.


"Ehh ada nak Boy, udah lama Boy?" Tanya Afni saat melihat kebaradaan Boy disana.


"Em lumayan lah Bu sekitar setengah jam'an."


"Ohh.. kalau begitu Ibu masuk dulu ya mau masak."


"Emm Bu.." Panggil Boy lagi.


"Iya kenapa nak?"


"Boy mau minta ijin keluar bentar sama Sinta, boleh gak Bu?"


"Mau kemana? kan besok harus ujian Ibu gak mau kalian kenapa-napa."


"Yasudah pergilah tapi jangan lama-lama ya." Ucapnya karna memang ini bukan pertama kalinya Boy meminta ijin membawa Sinta.


Mereka pun segera pergi meninggalkan rumah Sinta. Saat di perjalanan Boy bertanya.


"Sayang kita makan dulu atau jalan- jalan dulu?"


"Terserah Kakak aja deh aku ngikut."


"Yaudah kita makan dulu aja kalo gitu."


Selang 20 menit di perjalanan akhirnya mereka sampai di sebuah kafe yang terlihat sangat ramai karna memang hari ini adalah weekend. Mereka masuk lalu duduk di meja berhadapan di batasi meja.


"Mau pesan apa Kak?" Tanya seorang pelayan kafe.


"Nasi goreng klasan nya 2 jus jeruk 2."


"Itu saja Kak?" Tanya pelayan itu lagi, Boy melihat ke arah Sinta.


"Sayang mau nambah yang lain?" Dengan cepat Sinta menggeleng.


"Baiklah mohon ditunggu sebentar ya Kak." tersenyum menunduk lalu pergi.


Tak lama kemudian pesanan mereka pun datang. Mereka langsung memakannya dan sesekali berbicara namun kebanyakan diam.

__ADS_1


"Sudah selesai?" Tanya Boy dan Sinta mengangguk.


"Kita jalan sekarang?" Tanyanya lagi dan lagi lagi Sinta hanya mengangguk.


Setelah membayar tagihan Mereka langsung jalan, Boy membawa Sinta ke sebuah danau yang sangat indah.


Sebelum ke danau mereka sempat mampir untuk sholat zuhur.


"Kita ngapain kesini?" Tanya Sinta Sambil melihat-lihat pemandangan sekitar danau yang amat indah.


"Kan jalan-jalan sayang."


"Oiya yah lupa."


"Kita duduk disitu aja yuk." Sambil menarik tangan Sinta menuju kursi putih panjang yang sudah tersedia.


Mereka duduk berdampingan namun hanya diam satu sama lain, mereka sibuk dengan pikiran nya masing- masing.


"Emm.. Sayang?" Panggil Boy dengan wajah serius memecahkan keheningan.


"Iya kenapa?" Tanya Sinta santai tanpa melihat kearah Boy.


"Besok kita ujian kan?" Tanyanya, Sinta pun mengangguk.


".. dan setelah ini dan mulai besok aku bakal sibuk sama ujian dan mungkin gak akan punya banyak waktu sama kamu, dan mungkin juga ini kencan terakhir kita, jadi aku mohon sama kamu nanti saat aku jarang ngasih kabar tolong jangan mikir yang enggak-enggak ya, dan kamu juga mau kan setia sama aku?"


"Emm.." Sinta bingung harus jawab apa dalam hatinya berkata apakah dia sanggup jika Boy akan jauh darinya.


"Sin kamu sayangkan sama aku? aku janji kok walaupun aku nanti sibuk pasti tetep usaha buat ngabarin kamu."


"Iya Kak aku percaya kok sama dan aku pasti akan sabar nunggu kabar dari Kakak." Ucapnya menunduk menahan agar air matanya tidak jatuh.


"Aku tau kamu pasti percaya sama dan aku juga juga percaya kalo kamu gak bakal hianatin cinta kita."


"Nanti setelah lulus Kakak mau lanjut kemana?" Ucapnya mengalihkan pembicaraan.


"Kayaknya sih langsung kerja aja nyusul abang ke kota XXX," Seketika Sinta terkejut dan matanya membulat karna rasanya itu adalah kota yang sangat jauh.


"Udah gak usah kaget gitu, meski aku udah jauh pasti akan tetep ngabarin kamu kok." Ucapnya seakan menenangkan Sinta. Sedangkan sinta hanya diam dan berfikir di dalam hatinya.


"Apakah ini adalah hari terakhir kami bisa dekat? dan apa kami masih akan bisa selalu menjaga komitmen meski tak kunjung bertemu? dan apakah dia bisa menepati janjinya? dan apakah aku juga bisa bila harus tak bertemu dengannya?" Pertanyaan demi pertanyaan muncul di benak Sinta namun dia tak kuasa mengatakannya pada Boy dia memilih diam.


"Sinta mau kan Berjanji?" Sambil mengangkat jari kelingkingnya ke arah Sinta, Sinta bingung harus berbuat apa dan terpaksa dia menyodorkan jari kelingkingnya juga.


Setelah itu Boy langsung mengajak Sinta pulang sesuai janjinya pada ibu Sinta hanya sebentar dan ini sudah menunjukkan pukul 3 sore.


Mereka sampai di rumah Sinta, Boy langsung berpamitan dengan Afni dan segera pergi menuju kos nya.


Sedangkan Sinta entah apa yang ada di pikirannya dia langsung masuk ke kamar dan melamun di ranjang nya dan seketika dia pun tertidur.

__ADS_1


__ADS_2