Bukan Cinta Pertama

Bukan Cinta Pertama
Merasa bersalahnya Enni


__ADS_3

Setelah memutuskan sambungan telpon Boy langsung berdiri menghampiri Ayah dan Ibunya.


"Ayah Ibu sudah pulang?" Tanya Boy setelah sampai di depan Enni dan Wijaya.


"Boy sayang.." Kata Enni sambil memeluk Putra nya itu, Boy pun membalas pelukan Ibunya karna walaupun dia kesal tapi tetap saja dia tidak bisa berbohong kalau dia juga merindukan Ibu yang telah melahirkan nya itu.


"Boy? kapan sampai dan dari mana kamu masuk? bukannya pintu tadi di kunci ya?" Tanya Wijaya selaku Ayah Boy sambil berjalan menuju ruang tengah.


"Tadi Siang Yah, tadi aku masuk dari jendela kamarku yang tidak di kunci." Jawab Boy dan melepaskan pelukan Ibunya dan mengajaknya berjalan ke ruang tengah .


"Huh.. anak Ibu jadi maling ya?" Ledek Enni dengan nada lembut sambil mengelus lembut kepala Boy.


"Hehe.. soalnya tadi Boy capek banget Bu, udah gitu laper lagi, maaf ya." Jawab Boy dengan nada manjanya.


"Iya sayang gapapa kok Ibu ngerti.. oh ya kenapa kamu baru pulang hem? biasanya tiap minggu kamu pulang tapi ini udah lebih dari sebulan kamu baru pulang kenapa? kamu kesel karna Ibu gak bolehin pindah kos'an hem?" Tanya Enni mencerca Boy dengan beberapa pertanyaan.


"Iya aku kesel sama Ibu, aku tuh mau fokus ujian dulu Bu lagian aku juga udah capek tiap malam harus kerja jadi paginya gak fokus belajar bawaan nya ngantuk, lagian tiap bulannya juga Ayah ngirimi uang ngapain coba Boy kerja? Boy itu mau fokus ujian Bu ." Jawab Boy mengeluarkan semua unek-unek dari dalan kepalanya.


"Ah tanpa kamu berhenti kerja pun kamu juga kayaknya uda berubah kok, gak kayak dulu lagi, Ibu gak tau apa alasan nya tapi yang Ibu tau kerjaan kamu gak ngaruh tuh." Jawab Enni santai.


"Ihh Ibu aku tuh berubah karna mau fokus ujian makanya aku bilang mau pindah supaya lebih fokus lagi." Ucap Boy mencibirkan bibirnya.


"Uda-uda.. kok malah bertengkar sih." Kali ini Wijaya angkat bicara setelah dari tadi menjadi pendengar yang budiman.


"Yah.. boleh ya aku pindah kos." Ucap Boy kini gantian memelas pada Wijaya.


"Iya Boy.. tapi nanti setelah selesai semester aja kan cuman 2 bulan lebih kan? habis itu boleh deh kamu pindah." Jawab Wijaya.


"Iya Ayah mu benar.. nanti habis libur panjang baru kamu Ibu bolehin pindah." Ucap Enni setuju.


" Kelamaan Bu.. Yah.. Boy udah gak kuat." Lagi-lagi Boy memohon dengan nada memelasnya.


"Yaudah kalo gitu gak usah pindah sama sekali sampai tamat." Jawab Enni Sarkas.


Karna mendengar pernyataan Ibunya, Boy mendengus kesal dan pergi meninggalkan rumah tanpa menghiraukan panggilan Ayahnya dan malah melajukan motor nya dengan sangat kencang hingga diatas rata- rata.


Karna merasa kacau Boy memutuskan pergi ke tempat tongkrongan biasanya dengan teman sekampungnya.


Sesampainya disana, terlihat teman- temannya sedang berbincang dan tertawa terbahak-bahak, Boy langsung duduk masih dengan wajah kesalnya.

__ADS_1


"Wahh.. Boy how are you brother?" Sapa Panji yang menyadari lebih dulu kedatangan Boy sambil mengangkat tangan nya ke udara untuk bertos dengan Boy.


"Fine." Jawab Boy singkat tanpa membalas tos'an tangan Panji yang menggantung di udara.


"Lo kenapa Boy kusut amat muka lo udah kayak baju yang udah lama kagak di seterika aje." Ucap Putra membuka mulut dan melihat wajah kesalnya Boy.


"Dan kenapa baru ini lo balik? sombong amat dah lu sekarang." Sambung Indra sambil memegang bahu Boy.


"Gue kesel banget sama BoNyok gue." Jawab Boy ketus.


"Memang nya kenapa sama Pamam Bibi Boy?" Tanya Panji yang memang sahabat sekaligus saudara Boy.


"Gue mau pindah kos'an aja kagak dikasih, gue uda capek tau gak tiap malem mesti begadang buat kerja." Ucap Boy dengan nada tinggi dan amarah nya juga belum mereda.


"Ahh.. daripada lo galau kayak gini nih mending kita ke Club aja gimana?" Ucap Indra memberi saran yang memang tidak suka yang namanya galau- galauan atau apalah itu namanya.


"Ide bagus tuh Ndra gue juga bingung banget mesti kemana." Jawab Boy setuju.


"Tapi ini uda mau Maghrib guys..."


"Udah deh kalo lo gak mau ikut gak apa biar kita aja yang pergi. " Ucap Boy memotong ucapan Panji yang langsung diangguki yang lain dan langsung melajukan motor mereka menuju Club.


*****


Sedangkan di rumah Sinta, dia sangat khawatir karna sejak Boy memutuskan sambungan sepihak tadi sore sampai sekarang belum sekalipun mengabarinya, dia melihat jam dinding yang menunjukkan pukul 19.27.


Berkali-kali dia mencoba menghubungi Boy tapi hasilnya nihil Boy tidak mengangkat telpon nya.


"Ih.. belum juga ada kabar darinya, kenapa sih seneng banget buat orang khawatir." Gerutu Sinta sambil mondar- mandir di dalam kamarnya.


"Sinta sholat Isya nak habis itu makan ya, Ibu Ayah sama Adik kamu mau pergi ke rumah Nenek disana ada paman yang berkunjung, kamu gak sekalian mau ikut gak?" Teriak Afni (Ibu Sinta) dari depan kamar Sinta sontak membuat Sinta kaget.


"Iya Bu bentar lagi Sinta keluar, Ibu aja deh yang pergi Sinta masih ada tugas nih." Jawab Sinta berbohong.


"Ohh.. yasudah kalau gitu." Ucap Afni Sambil beranjak pergi dari depan kamar Sinta.


*****


Di rumah Boy, Ayah dan Ibunya tampak cemas karna sejak sore Boy belum juga pulang, Wijaya sudah mencarinya kemana- mana tapi tidak ketemu juga dan akhirnya mereka memutuskan menunggu di ruang tengah.

__ADS_1


"Kemana sih kamu Boy? Maghrib gak pulang gak biasanya" Gumam Enni cemas sambil mondar-mandir di depan Wijaya dan sesekali melihat ke arah pintu.


"Ini semua gara-gara Ibu, mestinya biar saja Boy pindah kos apa salahnya lagian dia juga sudah lama di tempat kerjanya ya pastinya dia udah bisalah berfikir dewasa." Gerutu Wijaya menyalahkan Enni.


"Yah.. tolong cari Boy iTbu takut dia kenapa- napa Ibu janji kalo dia pulang nanti Ibu bakal bolehin dia pindah kos" Ucap Enni tanpa menghiraukan gerutuan Suaminya.


"Ayah udah cari kemana- mana tapi gak ketemu, si Panji juga tidak ada di rumahnya mungkin mereka sedang bersama, mending kita tunggu aja pasti bentar lagi dia pulang." Ucap Wijaya berusaha santai dan Enni hanya diam dan terus melihat ke arah pintu berharap pintu itu terbuka dan menampakkan wajah Putranya.


***


Pukul 21.45 Boy pun sampai rumah dan masuk ke dalam dengan sempoyongan karna terlalu banyak minum alkohol.


Ceklek...


Suara pintu terbuka dan menampilkan seorang Boy, Enni langsung menghampiri Boy lalu memeluknya sambil menangis.


"Boy sayang kamu darimana saja? kenapa baru pulang dan.." Ucapan Enni terpotong karna mencium bau alkohol.


".. kamu minum Boy?" Tanya Enni melepaskan pelukannya tapi masih dengan tangisan nya.


"Kenapa? Ibu gak suka hah? terserah.. Boy gak perduli." Jawab Boy sambil pergi menuju kamarnya tanpa memperdulikan Ibunya yang menangis.


"Boy..! jaga ucapanmu wanita yang kau bentak itu Ibumu dan apa kau tidak balik ke kos mu besok kau juga sekolah kan." Ucap Wijaya dwngan nada tinggi.


"Aku tidak mau sekolah lagi!" Bentak Boy dan berhenti melangkahkan kaki nya yang membuat tangis Enni semakin pecah.


"Kenapa kamu gini Boy? Ibu minta maaf karna udah buat kamu marah tapi asal kamu tau Ibu nyuruh kamu kerja sambil Sekolah itu supaya kamu tau arti kehidupan nak, Ibu mau kamu jadi anak mandiri karna Ibu tau Ibu dan Ayah sudah tidak muda lagi dan nanti saatnya pasti kamu, Adik dan Kakak-kakak kamu lah yang akan mengurusi kami." Ucap Enni panjang lebar sambil menangis tapi Boy tidak mengubrisnya dan melangkahkan kakinya kembali menuju kamarnya.


"... Boy Ibu janji kamu akan pindah kos tapi jangan gini lagi nak Ibu gak mau kamu begini, jangan kamu siksa diri kamu sendiri." Tangis Enni semakin pecah.


"Sudahlah Boy sekarang kamu masuk ke kamar besok kita akan mengurus kepindahan kamu, jangan buat Ibumu menangis lagi." Ucap Wijaya sambil memeluk Istrinya itu sedangkan Boy tidak menghiraukan perkataan Ayahnya, dia langsung masuk ke kamar dan tidur dengan lelap.


_


_


**Ah, sudahlah terserah kalian saja mau tinggalin jejak atau tidak😔


Happy reading👀**

__ADS_1


__ADS_2