Bukan Cinta Pertama

Bukan Cinta Pertama
Keluarga Baru dan kebahagiaan


__ADS_3

Sinta merasa sangat senang karna merasa seperti memiliki keluarga baru.


Setelah mereka selesai sholat Zuhur berjamaah, mereka pun makan siang yang sebelumnya sudah disiapkab oleh Enni dan Sinta sambil berbincang-bincang.


"Gimana enak gak Yah.. Boy..?" Tanya Enni antusias.


"Enak Bu." Jawab Boy dan diangguki Wijaya setuju.


"Itu Sinta loh yang masak." Goda nya sambil mengedipkan sebelah matanya pada Sinta.


"Ah Bu.. Ibu bisa saja bukanya Ibu ya tadi yang memasak dan aku kan hanya membantu." Ucap Sinta jujur.


"Boy kamu sering-sering ya bawa Sinta kesini biar Ibu bisa masak bareng dia lagi." Pintanya.


"Iya Bu.. Ibu tenang aja." Ucap Boy sambil memasukkan makanan ke mulutnya.


"Oh ya.. Sinta udah kelas berapa?" Tanya Wijaya.


"Masih kelas 1 Yah."


"Ohh masih kelas 1 toh, 2 tahun dibawah Boy dong." Ucap nya lagi.


"Emangnya kenapa Yah?" Tanya Sinta tidak segan dan sudah tidak merasa gugup lagi dan sudah menganggap keluarga Boy sebagai keluarga keduanya.


"Kirain seumuran sama Boy, kan kalo tamat nanti bisa langsung jadi mantu." Godanya kemudian terkekeh dan diikuti Enni pula.


"Haist.. Ayah ngaco tau gak, ya kali Boy nikah duluan sedangkan Abang-abang Boy belum pada nikah." Protes Boy yang kesal karna selalu digoda.


Ya Boy kesal karna digoda Ayah nya apalagi diumurnya yang masih muda dan Abangnya ada 3 yang bahkan belum ada yang menikah. Boy adalah anak keempat dari 5 bersaudara, dan sekarang Abang- abangnya sedang merantau sedangkan Adiknya ada di kota XXX yang sedang bersekolah dan duduk dikursi kelas 3 SMP. Mereka sudah diajarkan sedari kecil untuk hidup mandiri.


Setelah selesai makan siang bersama, Boy meminta ijin untuk menemani Sinta berkeliling kampungnya sebelum pulang nanti.


"Kalian hati-hati jangan jauh-jauh juga dan Boy jaga Sinta baik-baik jangan sampai dia kenapa-kenapa, kalau Sinta samapi lecet sedikit saja Ibu akan memenggal kepalamu." Ancam Enni.


"Anak Ibu sebenarnya siapa Sih, ya kalo aku dipenggal terus mati siapa dong yang bakal gantiin aku?" Protes Boy.


"Kan ada Sinta, dia yang bakal gantiin kamu." Jawabnya ketus yang membuat Boy memutar bola matanya nya malas.


"Yaudah lah terserah Ibu kita langsung pergi aja Bu soalnya nanti habis sholat asar kita udah langsung balik dan kita cuma punya waktu 2 jam lagi." Ucap Boy.


"Yasudah pergilah." Ucap Enni dan Boy langsung berjalan menuju keluar dan diikuti Sinta.


Sinta dan Boy pun menaiki motor Boy dan Boy langsung melajukan motornya dengan kecepatan dibawah rata-rata, sangat santai.


"Kita mau kemana Kak?" Tanya Sinta.


"Kita mau ke atas bukit, sayang pasti belum pernah kan liat pemandangan dari atas bukit?" Terka Boy.


"Jangankan ke bukit mau keluar rumah aja susah." Jawab Sinta dengan nada lucunya membuat Boy terkekeh.


15 menit perjalanan akhirnya mereka sampai di tempat tujuan.


"Wahh.. indahnya" Ucap Sinta takjub, dia menutup matanya dan merentangkan kedua tangannya sambil menghirup udara sekitar bukit dan mencoba menikmati keindahan alam ini.


"Sayang suka?" Tanya Boy tersenyum dan dengan cepat diangguki Sinta.


"Sangat, sangat suka.. makasih.."


"Untuk?"


"Semuanya.. Keluarga baru dan keindahan alam ini." Jawabnya dan perlahan membuka matanya dan melihat Boy yang sedang memotret dirinya tanpa seijin nya.

__ADS_1


"Ihh poto kok gak bilang-bilang sih, hapus gak?" Ucapnya kesal sambil mencipitkan matanya.


"Gak mau, coba aja rebut kalo bisa." Ucap Boy sambil mengulurkan lidahnya dan berlari sontak Sinta pun mengejarnya dan terjadinya kejar- mengejar.


Sinta yang sudah lelah mengejar Boy pun berhenti karna sudah ngos-ngosan sedangkan Boy yang melihat nya tertawa dan langsung memotret Sinta lagi yang sedang ngos- ngosan itu.


"Ihh Kak Boy!! Sini gak?" Ancam Sinta kesal.


"Gak mau!" Ucap Boy lalu tertawa lepas.


"Yaudah deh terserah.. aku capek duduk dulu yuk." Pasrah Sinta dan memilih mengalah.


Mereka sedang duduk bersampingan yang beralaskan dedaunan.


"Foto berdua yuk." Ajak Sinta dan langsung diangguki Boy.


Cekrek.. cekrekk.. cekrek.. hingga beberapa kali berfoto dengan gaya konyol mereka akhirnya selesai.


Tiba-tiba Boy memeluk Sinta dari samping dan meletakkan tangannya di bahu Sinta, Sinta kaget dan menatap Boy dan..


Cup


Boy mencium kening nya, dia kaget dan membelalakkan matanya.


"Sin.. aku sayang sama kamu." Ucapnya setelah melepaskan ciuman nya di kening Sinta.


"Aku juga sayang sama Kakak." Jawab Sinta, Boy yang mendengar jawaban Sinta pun tersenyum bahagia.


"Aku seneng kamu udah sayang sama aku dan aku juga mau minta tolong jangan pernah ninggalin aku ya, aku gak tau apa yang akan terjadi kalau kamu sampe bener- bener ninggalin aku." Ucap Boy serius dan melihat pemandangan di depannya.


"Kalau kita gak jodoh gimana?" Tanya Sinta melihat ke arah Boy. Boy yang mendengar langsung melepaskan pelukan nya dan menatap Sinta lekat.


"Kamu gak mau kita jodoh?" Tanya Boy sinis.


"Aku sayang kamu." Ucap Boy sambil menatap Sinta lekat.


"Aku juga sayang Kakak." Balas Sinta tersenyum.


Sekarang mereka sedang bertatapan sangat dekat dan Boy sedikit demi sedikit mendekatkan bibirnya ke bibir Sinta, Sinta yang menyadari itu sontak langsung bangun.


"Maaf Kak aku gak bisa." Ucapnya pelan yang kini sudah berdiri sedangkan Boy masih duduk ditempat nya tertunduk malu.


"Kita keliling-keliling kampung Kakak aja yuk." Ucap Sinta lagi mengalihkan pembicaraan.


"Yuk." Boy pun bangun dan tersenyum.


Mereka sudah setengah jam mengelilingi kampung Boy dan Boy melihat ada jualan bakso.


"Mau bakso?" tyanya Boy dan dengan cepat diangguki Sinta.


Mereka pun berhenti di tempat jualan bakso, Boy pun memesan bakso tersebut untuk mereka makan.


"Mas baksonya 2 ya." Seru Boy yang sudah duduk di bangku jualan bakso itu bersama Sinta.


"Ya tinggal 1 Mas." Ucap Tukang bakso itu.


"Yaudah satu aja Mas." Ucap Sinta menimpali Sontak membuat Boy menatapnya heran.


"Satu mangkuk berdua." Ucap Sinta menaik turunkan alisnya dan seketika Boy langsung tersenyum.


Pesanan pun datang mereka langsung melahapnya dengan bergantian menyuapi.

__ADS_1


"Aaaa...." Ucap Boy sambil menganga dan mengulurkan sendok ke mulut Sinta. Sinta tersenyum dan ingin menerimanya namun Boy malah memutar arah sendok dan memakannya.


"Ihh.. Kak Boy Sinta juga mau." Ucap Sinta cemberut yang membuat Boy terkekeh dan sekali lagi mengulurkan sendok berisi bakso ke arah mulut Sinta, akhirnya Sinta takut dikerjai tapi ternyata tidak.


Mereka selesai makan bakso, Boy langsung membayar tagihan bakso itu dan mereka pun memutuskan untuk pulang karna jam sudah menunjukkan pukul 15.25.


Sesampainya di rumah Boy dan Sinta langsung masuk ke rumah sambil mengucapkan salam bersamaan.


"Sudah puas jalan- jalan nya sayang?" Tanya Enni yang sedang menonton tv kepada Sinta.


"Sudah Bu, sangat puas malahan." Jawabnya tersenyum sumringah.


"Baguslah kalo gitu kalian mandi dulu habis itu sholat." Suruh Enni.


Baiklah Bu.." Ucap mereka bersamaan. Boy segera masuk ke kamar mandi yang ada di kamarnya sedangkan Sinta mandi di kamar mandi yang ada di dapur.


10 menit Boy akhirnya selesai mandi dan beranjak ke ruang sholat. Sedangkan Sinta 15 menit dia baru selesai mandi, karna tak membawa baju ganti dia tetap memakai pakaian nya yang sejak tadi di pakai nya.


Sinta berjalan menuju ruang sholat dan dilihat nya Boy yang sedang berdoa dengan khusyu', dia tersenyum sendiri melihat Boy sampai akhirnya dia tak sadar kalau Boy sudah selesai sholat dan melihat Sinta yang menatapinya.


"Hey.. hey.. kenapa bengong?" Tanya Boy yang sedari tadi mencoba membangunkan Sinta dari lamunannya.


"Eh? em.. iya kenapa?" Tanya nya balik dengan gelagapan.


"Harusnya aku yang nanya kenapa bengong disitu? kenapa gak langsung sholat?" Tanya Boy lagi.


"Em gapapa.. aku tadi liat Kakak khusyu' banget doa nya jadi gak pengen ngagetin." Ucapnya mencari alasan.


"Yasudah, sayang sholat lah dulu habis itu kita pulang, oh iya kamu udah kabarin Ibu belum?" tanya Boy yang lupa mengabari ibu Sinta.


"Uda kok, tadi pas di jalan sebelum nyampe rumah aku udah ngabarin Ibu duluan." Jawab Sinta dan hanya diangguki Boy.


"Sholat lah, aku akan tunggu di ruang tv sama Ibu ya." Ucap Boy seraya meninggalkan Sinta di ruang sholat.


Setelah selesai sholat, Sinta langsung ke ruang tv dan melihat Ibu dan seorang Anak lelaki yang sedang tidur di pangkuan Ibunya dengan memakai baju kaos lengan pendek dan celana boxernya diatas lutut.


Enni yang menyadari Sinta di belakangnya langsung mendudukkan Boy.


"Ada Sinta." Ucapnya pelan.


"Lalu kenapa kalau ada Sinta?" Tanya Boy polos.


"Kamu gak malu?" Tanya Enni tak percaya.


"Enggak." Jawabnya singkat padat dan juga polos, Enni yang mendengar itu menepuk jidat nya dengan tangan nya.


"Oiyah Sinta gak bawa baju ganti?" Tanya Enni karna melihat Sinta yang masih memakai baju yang dia pakai sejak sampai tadi, Sinta pun mengangguk.


"Yaudah kalo gitu tungguin bentar biar Ibu ambilin baju ganti buat kamu." Ucapnya seraya beranjak namun Sinta menggeleng.


"Gak usah Bu, ini aja juga gapapa kok lagian kita kan juga mau pulang sekarang." Tolak nya.


"Kamu yakin sayang?" Tanya Boy dan dengan cepat diangguki Sinta.


"Astaga ini anak di depan Ibunya berani banget manggil sayang." Gumam Sinta dalam hati.


"Ya sudah kalau gitu kalian berangkat sekarang aja entar kemaleman lagi pulangnya nanti orang tua nya Sinta marah dan gak bolehin Sinta main lagi kesini." Ucapnya sedih yang dibuat- buat.


"Em.. sayang disini dulu sama Ibu, aku mau ke kamar ganti celana sama ambil jaket." Ucapnya dan langsung berlari menuju kamarnya, Sinta dan Enni tertawa melihat tingkah Boy.


"Yaudah yuk." Ajaknya yang tiba-tiba muncul dari belakang yang membuat Sinta dnab Enni kaget.

__ADS_1


"Yuk.. yaudah kalo gitu Sinta sama Kak Boy pamit dulu ya Bu." Ucap Sinta sambil menyalami tangan Enni dan diikuti Boy.


"Kalian hati- hati jangan ngebut Boy jaga Sinta baik-baik buat Ibu!" Seru Enni, dan Boy mengangkat tangannya dan menghormat ke arah Enni dan setelah nya melajukan motor nya dengan kecepatan sedang.


__ADS_2