Bukan Cinta Pertama

Bukan Cinta Pertama
Rencana Licik Arif


__ADS_3

Satu tahun kemudian...


Tria sudah diangkat menjadi ketua pimpinan staf karna hasil kerjanya yang memuaskan, sedangkan Arif masih dengan posisinya sebagai seorang manajer, begitu pun dengan Boy yang direktur utama dan Sinta sebagai sekretarisnya.


Dan seperti biasa saat Tria dan Arif bersitatap muka mereka selalu bertengkar dan pertengkaran mereka tak kenal tempat.


Arif di ruangan nya bukannya bekerja tapi malah memikirkan bagaimana cara menjinakkan Tria agar tak bisa membantahnya.


"Agghh... kenapa gue jadi mikirin dia sih.. tapi gimana ya caranya supaya dia gak bisa berani lagi sama gue." Ujarnya frustasi.


Dia mengangkat sebelah alisnya, tiba-tiba dia teringat dengan Boy dan Sinta. Dia menyeringai lalu segera bergerak dari kursi nya menuju ke ruangan Boy. Dia langsung menerobos masuk ruangan Boy tanpa menghiraukan Sinta yang memanggilnya. Boy yang sedang fokus pun mengalihkan pandangannya ke arah pintu.


"Ngapain lo?" Tanya Boy to the point.


"Gue mau Tria jadi sekretaris gue mulai besok." Jawabnya langsung sambil duduk di kursi yang bersebrangan dengan Boy. Sontak Boy pun terkejut dengan permintaan Arif yang tiba- tiba.


"Kenapa lo tiba- tiba pengen dia jadi sekretaris lo? bukannya kalian gak pernah akur?" Tanya Boy heran karna menurutnya jika Arif dan Tria sering berdekatan maka semakin sering mereka ribut.


"Nah justru itu.. gue pengen dia jadi sekretaris gue supaya.. dia gak bisa ngebantah gue lagi." Jawab Arif. Boy diam sejenak mencoba mencerna perkataan Arif.


"Ok." Ucap Boy setelah beberapa saat diam berfikir dan membenarkan perkataan Arif.


Arif yang mendengar nya pun tersenyum puas merasa rencana nya membuat macan betina tunduk akan berjalan lancar.


"Oke kalo gitu gue balik ke ruangan gue ya." Ujarnya berpamitan.


"Sekalian lo panggilin dia suruh keruangan gue sekarang." Perintah Boy dan dengan cepat Arif mengangkat kedua jempolnya.


Arif langsung mendatangi tempat kerja Tria yang satu lantai di bawah tempatnya bekerja.


"Lo di dipanggil sama Pak direktur." Ujarnya saat sudah di hadapan Tria. Tria yang tadinya sedang fokus tiba-tiba mendengar suara yang tak asing langsung mendongak menatap orang tersebut. Dia menatap sekelilingnya.


"Gue?" Tanya nya sambil menunjuk dirinya sendiri. Arif yang melihatnya pun kesal.


"Bodoh! ya iya lah elu emang gue ngomong sama siapa lagi di ruangan ini?" Bentak Arif.


"Biasa aja dong gak usah pake teriak gitu gue gak budeg kali." Balasnya ketus.


"Yaudah sana." Perintahnya


"Kenapa direktur manggil gue?" Tanya nya ketus.

__ADS_1


"Mana gue tau, emang gue Bapaknya." Balas Arif tak kalah ketus.


"Lo ya.. huhhh.. dasar nyebelin." Sambil mengeram kesal lalu langsung beranjak pergi ke ruangan Boy tanpa menghiraukan Arif yang tersenyum licik padanya.


"Sin.. Pak Boy nya ada?" Tanya nya pada Sinta.


"Ada, emangnya ada perlu apa Tri?" Jawab Sinta sekaligus bertanya.


"Dia manggil gue ya?" Bukannya menjawab dia malah bertanya.


"Em.. kayaknya gak ada deh, emang siapa yang bilang?" Mereka malah saling mengajukan pertanyaan.


"Arif." Jawab nya Singkat yang membuat Sinta tertawa kecil.


"Kenapa kok ketawa?" Tanya nya lagi.


"Kamu yakin Arif gak lagi ngerjain kamu?" Tanya Sinta yang paham betul sifat Arif, Tria yang mendengar nya pun membenarkan perkataan nya.


"Tapi gak tau juga sih, emang barusan Arif baru aja keluar dari ruangan Pak Boy, mana tau aja nitip pesen buat Arif manggilin kamu." Sinta menduga. Tria semakin bingung dibuatnya.


"Yaudah yuk aku anterin masuk." Ajak Sinta sambil berjalan duluan.


"Masuk!" Seru Boy dari dalam ruangan nya


"Assalamualaikum Pak." Sapa Sinta.


"Waalaikumsalam Sinta ada apa?" Tanyanya tanpa mengalihkan pandangannya dari laptopnya.


"Apa benar Bapak memanggil Tria?" Jawab Sinta dengan pertanyaan.


"Ah iya benar saya benar-benar lupa, kalau begitu kamu boleh pergi Sinta." Ujar Boy lalu beralih menatap Tria.


"Duduk Tria." Pinta Boy.


"Terimakasih Pak." Seraya duduk di kursi yang bersebrangan dengan kursi Boy.


"Baiklah saya memanggil kamu kesini karna saya ingin mengangkat kamu jadi sekretaris menejer." Ujar Boy menjelaskan, Tria yang mendengar nya pun berusaha mencerna.


'Sekretaris menejer?' Bertanya pada batinnya.


"Tria?" Panggil Boy karna tak ada jawaban dari Tria.

__ADS_1


"Ah iya Pak,, maksud Bapak saya jadi sekretaris menejer Arif?" Tanya Tria memastikan dan benar saja Boy langsung mengangguk.


"Tapi Pak.. saya baru 1 minggu dia angkat jadi pimpinan staf Kenapa sekarang sudah diangkat lagi sebagai sekretaris menejer?" Tria berusaha menolak.


"Karna saya lihat kamu cocok jadi sekretaris terlebih karna cara kerja kamu yang memuaskan." Jawab Boy santai. Tria pun tak bisa berbuat apa- apa lagi dia hanya bisa pasrah.


"Kamu bisa bekerja sebagai sekretaris menejer Arif mulai besok." Lanjutnya lagi karna merasa tak ada jawaban dari Tria.


Tria menghela nafas pasrah, "Baik Pak." Jawab nya pasrah.


"Baik, kamu boleh pergi." Pinta Boy.


"Saya permisi Pak." Ujar Tria lalu langsung beranjak pergi dari ruangan Boy.


Saat sudah di luar ruangan Boy, Sinta melihat wajahnya Tria yang lesuh sehabis dari ruangan Boy.


"Kenapa Tri? apa ada masalah?" Tanya Sinta.


"Ada." Jawab Tria lesuh.


"Masalah apa? besar gak?" Tanya Sinta lagi.


"Masa gue diangkat jadi sekretaris menejer sih Sin kan nyebelin." Merengek seperti anak kecil. Sinta yang mendengar nya pun sontak tertawa.


"Aku udah duga sih." Ujar Sinta.


"Apa?" Tanya Tria.


"Arif punya rencana buat ngerjain kamu." Jawabnya.


"Ihh dasar nyebelin ya tu orang, awas aja gue kasih pelajaran." Ucapnya kesal dengan meremas bawahan jilbabnya membayangkan bahwa itu adalah Arif.


"Eh kamu gak bisa macem-macem lagi sama dia loh kan dia udah jadi bos kamu." Ucap Sinta menggoda.


"Ihh lo kok jadi belain dia sih." Ucapnya semakin kesal.


"Bukannya belain tapi cuman ngingetin." Jawab Sinta.


"Tau ah." Balasnya cuek lalu langsung beranjak pergi ke ruangan nya dengan perasaan kesal.


Sedangkan Arif di ruangan nya sedang senyum- senyum sendiri membayangkan seorang macan betina sebentar lagi akan berhasil dijinakkan nya. Dia sudah tidak sabar menunggu hari esok.

__ADS_1


__ADS_2