
Sinta yang mendengar suara Ibunya langsung menyeka air matanya lalu membukakan pintu.
"Ibu.." Ucapnya sambil menyalami tangan Afni sedangkan Boy hanya bisa tertunduk.
"Nak.. kenapa kamu membiarkan Boy di depan?" Tanya Afni dan melihat ke arah Boy yang masih tertunduk.
".. Ibu kenapa pulang sendiri? apa Paman sudah pulang?" Tanya Sinta mengalihkan pembicaraan.
"Belum Paman mu belum pulang, Ibu kemari tadi niatnya mau jemput kamu soalnya Ibu pikir kamu sendirian di rumah tapi kayaknya gak jadi kan kamu ada tamu." Jelas nya dan Sinta hanya diam bingung mau menjawab apa.
"Nak.. kalau ada masalah itu di selesaikan dengan baik dan bijak." Ucapnya yang paham bahwa Boy dan Sinta sedang bertengkar.
"Maksud Ibu?" Tanya Sinta pura- pura tidak tau sedangkan Boy masih nyaman dengan tertunduk.
"Kamu pasti tau maksud Ibu, sekarang kalian masuklah dan bicarakan masalah kalian dengan dewasa, Ibu akan menunggu sambil mandi." Ucapnya sanbil tersenyum, dia tau sekali kalau Sinta dan Boy sedang bertengkar walau dia tak tau apa masalahnya.
"Tunggu apalagi ayo masuk." Ajaknya lalu menarik tangan kedua orang itu menuju ruang tengah dan mereka hanya menurut.
"Kalian selesaikan lah Ibu mau mandi dulu." Ucapnya langsung pergi meninggalkan kedua orang itu.
Setelah melihat Afni yang benar- benar sudah pergi Boy mencoba membuka mulutnya.
"Sin.. aku mau jelasin sama kamu plis kamu dengerin bentar ya bentar aja.. biar kamu gak salah paham lagi." Ucapnya sedikit memohon.
"Hem.." Hanya itu yang keluar dari mulut Sinta.
"Pertama tama aku mau minta maaf sama ka.." Ucapan nya terputus.
"Langsung saja!" Potong Sinta ketus tanpa melihat ke arah Boy.
"Baik,, jadi setelah kita telponan itu Ayah sama Ibu pulang dan kami bertiga sempat bertengkar soal perpindahan kos'an dan karna aku kesal aku memilih pergi dari rumah dan bertemu dengan teman- temanku, disana aku cerita tentang masalahku dan karna mereka melihat aku yang sedang kacau mereka mengajakku ke club, karna merasa kacau aku minum alkohol sangat banyak hingga mabuk berat sampai larut malam baru aku pulang.." Berhenti sejenak menghela nafas panjang dan melihat kearah Sinta sedangkan Sinta masih tidak bergeming bahkan tidak sekali pun melihat kearah Boy.
__ADS_1
".. dan setelah sampai rumah ternyata Ayah dan Ibu sedang menungguku, dan malam itu juga aku masih bertengkar dengan Ayah Ibu dalam keadaan mabuk berat, Aku gak tau apa saja yang sudah aku dan Ayah Ibu katakan namun saat aku bangun sudah siang dan saat itu juga Ibu masuk ke kamarku dan bilang kalau aku akan pindah kos hari ini diantarkan oleh Ayah, aku kaget kenapa Ibu tiba-tiba berubah pikiran apa karna pertengkaran saat aku mabuk aku juga tidak tau yang penting aku sangat senang karna Ibu berubah pikiran.." Mengatur nafas sejenak dan melirik ke arah Sinta namun dia masih saja diam tanpa melihat kearah Boy.
".. Jadi sekarang kamu tau kan kenapa aku gak ngabarin kamu? dan saat kamu telpon-telpon itu ponselku ada di saku, aku gak ngangkat telpon kamu bukan karna sengaja tapi karna saat itu aku sedang di club dan disitu sangat bising dan terlebih aku juga sudah mabuk. Dan saat nomor ku tidak aktif itu bukan karna aku sengaja matiin tapi karna memang batrai nya lobet." Cerita nya panjang lebar namun Sinta masih diam tanpa melihat ke arah Boy.
"Sin.. kamu mau kan memaafkanku?" Tanya nya sambil mengatupkan kedua tangannya di depan dada dan matanya sudah berkaca- kaca.
"Hem.." Hanya itu yang keluar dari mulut nya walau sudah mendengar penjelasn dari Boy, Diam memang percaya dengan penjelasan Boy namun dia masih gengsi untuk memaafkan nya.
"Hem? cuman itu?" Tanya Boy memastikan.
"Hem.." Lagi- lagi hanya itu yang keluar dari mulut nya tanpa melihat ke arah Boy.
"Apa kamu mau memaafkan ku?" Tanya nya lagi.
"Hem.." Itu lagi itu lagi yang keluar dari mulut nya membuat Boy frustasi dan mengacak-acak rambutnya.
Sinta yang melihat Boy frustasi ingin tertawa namun dia urungkan karna masih gengsi.
"Udah selesaikan?" Tanya nya dan langsung diangguki Boy.
"Tau.. tapi sebelum nya aku mau mastiin kalo kamu bener-bener sudah memaafkanku."
"Iya." Jawabnya singkat.
"Iya apa?" Tanya Boy lagi memancing Sinta.
"Iya aku maafin." Jawabnya ketus.
"Bener?" Tanya nya lagi yang membuat Sinta mengeram kesal dan menatap Boy tajam dengan tatapan membunuh.
"Iya deh iya.. senyum dulu dong." Ucapnya sambil tersenyum dan Sinta pun membuat senyum terpaksa yang membuat Boy terkekeh.
__ADS_1
"Kenapa tertawa?" Tanyanya ketus.
"Kamu imut kalo lagi pura-pura marah." Jawab Boy lalu terkekeh lagi dan Sinta pun mendengus kesal.
"Yaudah sana pulang lagian uda sore!" Usirnya lagi dengan wajah datar.
"Kamu ngusir aku?" Tanya Boy dengan ekspresi serius nya.
"Apaan sih,, ini udah sore entar pulangnya kemaleman lagi." Jawabnya santai.
"Yaudah deh kalo kamu ngusir." Ucapnya pura- pura sedih.
"Issh.. gak usah lebay deh! udah sana pulang." Ucapnya sambil memutar bola matanya malas.
"Gak ah aku mau disini aja nyaman soalnya." Ucapnya nyengir.
"Pergi gak! sebelum aku berubah pikiran buat maafin." Ucapnya mengancam.
"Iya deh iya aku pulang tapi cium dulu dong." Sambil menunjuk pipinya dengan jarinya yang membuat Sinta semakin kesal.
"Ekhem.." Tiba-tiba muncullah Afni dari dalam menuju ke arah mereka.
"Eh Ibu.. pas banget Boy mau pamit pulang dulu ya Bu." Ucapnya mengalihkan pembicaraan nya dengan Sinta dan berjalan menuju Afni dan menyalami nya.
"Udah selesai ngobrolnya?" Tanya Afni yang melihat Boy dan Sinta bergantian dan mereka hanya mengangguk secara bersamaan.
"Kamu hati-hati Boy jangan ngebut-ngebut." Ucap Afni pada Boy yang sudah menaiki motornya dan Boy hanya tersenyum manis lalu melajukan motornya menuju kos'an dengan perasaan yang bahagia.
" Ibu juga mau balik ke rumah Nenek kamu mau ikut gak?" Tanya Afni pada Sinta.
"Gak deh Bu Sinta di rumah aja, sampein aja salam ku sama Paman dan Bibi." Jawab Sinta menolak ajakan Ibunya.
__ADS_1
"Yaudah kalau gitu Ibu pergi dulu ya." Ucapnya dan langsung pergi meninggalkan Sinta.
Setelah Kepergian Boy dan Afni, Sinta memutuskan untuk masuk ke dalam rumah dan langsung mandi.