
Saat ini Boy sedang berbincang bersama Sahara, ya Sahara memang sudah sembuh satu bulan yang lalu karna Sinta.
"Bu.. Ibu ikut Boy besok ya." Ucap Boy dengan nada memelas.
"Ibu tidak enak sama orang tua kamu, nanti saja Ibu berangkatnya bareng Arif saja ya." Tolak Sahara yang merasa tidak enak dengan keluarga Boy di kampung.
"Bu.. ayolah plisss Boy mohon, orang tua Boy pasti sangat senang karna Ibu mau datang ya ya ya Bu mau ya." Kali ini dia duduk di lantai dengan tangannya diletakkan di paha Sahara.
Sahara menghembuskan nafas nya lalu mengangguk, Boy yang melihatnya pun merasa senang dan berdiri kemudian memeluk Sahara Sayang. Sahara tersenyum melihat tingkah manja Boy padanya, dia jadi merasa mempunyai seorang putra.
____
Keesokan harinya...
Pukul 9 pagi Boy dan Sahara pun berangkat menuju ke kampung halaman Boy, karna 6 hari lagi akan diadakan acara pernikahan antara Sinta dan Boy. Mereka berangkat hanya berdua saja.
Setelah memakan waktu sekitar 10 jam lebih akhirnya mereka sampai di kampung halaman Boy. Keluarga Boy menyambut mereka dengan sangat ramah. Memang sebelumnya Boy sudah mengabari bahwa dia pulang dengan Sahara Ibu angkatnya.
Sesampainya disana mereka langsung mengantarkan Sahara ke kamarnya karna mereka tau pasti Sahara sangat kelelahan setelah menempuh perjalanan jauh. Sahara merasa tidak enak dengan perlakuan berlebihan mereka namun tetap menurut karna memang punggung nya butuh tumpuan.
6 Hari kemudian...
Hari ini adalah hari dimana Sinta dan Boy bersatu kembali dengan ikatan pernikahan setelah sebelum nya pernah menjalani hubungan tanpa ikatan alias Cinta Monyet.
Sinta sedang dihias oleh seorang perias di dalam kamarnya, ya walaupun memang tidak dirias sama sekali hanya memoles karna Sinta yang melarangnya lagian juga dia memakai cadar pasti tidak akan terlihat juga, namun juga sedikit dipoles agar tidak terlihat pucat.
Di sana juga ada Tria yang sudah lengkap dengan kebaya batik nya serta riasannya yang sedang duduk di tepi ranjang di belakang Sinta asik chattingan dengan Arif yang sedang menuju kemari.
"Wahh cantik sekali calon pengantin nya." Puji sang perias saat sudah selesai melakukan tugasnya, Tria yang mendengarnya pun mengalihkan pandangannya ke arah Sinta dan tersenyum menggoda.
"Ehem.. ciye-ciye yang bakal nikah." Goda Tria, Sinta merasa malu dan hanya menundukkan kepalanya.
"Akhirnya lo sama Kak Boy Bersatu juga ya, kata anak jawab now ya ibaratnya CLBK Cinta Lama Bersemi Kembali, uhhh tapi bedanya sekarang bersatu dalam ikatan pernikahan." Cerocos Tria.
"Tri.. udah ahh aku malu." Ujar Sinta lirih. Tria pun terkekeh.
"Em maaf mbak saya permisi dulu tugas saya sudah selesai nanti saya akan kembali lagi saat acara resepsi." Ujar sang perias.
"Iya terima kasih banyak mbak." Balas Sinta.
"Udah sih Sin gak usah tegang gitu, buka dulu deh tu cadar kata si Arif juga mereka 1 jam'an lagi baru nyampek." Ujar Tria. Sinta pun mengangguk dan membuka cadarnya.
Setelah satu jam lebih mereka ngobrol akhirnya terdengar suara bising dari arah luar.
"Eh kayaknya rambongan Kak Boy udah dateng tuh, bentar ya aku mau mastiin dulu." Ucap Tria lalu beranjak keluar kamar. Sinta hanya mengangguk.
"Gimana?" Tanya Sinta saat Tria kembali.
"Udah dateng, Kak Boy ganteng banget tau." Goda nya. Sinta pun menundukkan kepalanya.
Beberapa saat kemudian terdengar suara lantang menggunakan mikrofon sampai ke kamar Sinta.
"Saudara Boy Putra Wijaya?" Panggil Ayah Sinta dengan lantang sambil mengulurkan tangannya.
"Ya saya Boy Putra Wijaya." Jawab Boy tak kalah lantang sambil menjabat tangan Ayah Sinta tetapi sangat terlihat jelas kegugupan di wajahnya. Ayah Sinta bisa merasakan tangan Boy yang keringat dingin dan gemetaran tetapi dia mencoba untuk terlihat tenang.
"Saya nikah kan dan saya kawinkan engkau Boy Putra Wijaya dengan putri saya yang bernama Sinta Dewi Utami binti Firman Syahputra dengan emas kawin seperangkat alat sholat di bayar tunai!"" Ucap Ayah Sinta dengan lantang sambil menghentakkan tangan nya dan Boy ke atas meja agar mengurangi kegugupan Boy.
__ADS_1
"Saya terima nikah dan kawan nya Sinta Dewi Utami binti Firman Syahputra dengan emas kawin seperangkat alat sholat di bayar tunai!" Ucapnya tak kalah lantang dengan satu kali tarikan nafas.
Semua yang mendengarnya pun merasa lega.
"Bagaimana para saksi? sah?" Tanya pak penghulu.
"Sah.." Jawab mereka semua serempak. Lalu Pak penghulu membacakan doa.
Setelah itu datanglah Sinta yang digandeng Tria sambil menunduk. Tria menuntun Sinta untuk duduk di samping Boy. Kemudian dia meraih tangan Boy lalu mencium nya kemudian di sambung Boy yang mencium kening Sinta. Setelah itu mereka bertukar cincin.
____
Sinta dan Boy masuk ke kamar Sinta setelah
akad selesai di langsungkan, dan di sambung dengan acara resepsi pernikahan.
Boy duduk di kursi meja rias membelakangi kaca sementara Sinta duduk di tepi ranjang menghadap Sinta. Boy menggeser kursi nya agar lebih dekat dengan Sinta sampai lutut mereka bertemu.
Kemudian saat Sinta ingin membuka cadarnya, Boy menghentikan gerakannya.
Sinta yang di pegang tangannya pun merasa gugup.
"Boleh aku yang membuka nya?" Tanya nya kemudian. Sinta mengangguk. Lalu Boy membuka perlahan cadar nya dengan tangan kanan nya sedangkan tangan kirinya tetap menggenggam tangan kanan Sinta.
Sinta memejamkan matanya saat Boy mulai membuka cadarnya, saat cadar sudah terbuka Boy memandangnya tanpa berkedip. Sinta pun heran dia berfikir melihat ekspresi Boy padahal kan Boy sudah tau bagaimana rupa wajahnya.
"Kak." Panggil Sinta sambil melambai- lambaikan tangannya di depan wajah Sinta mencoba menyadarkan nya. Boy pun segera tersadar.
"Ada apa? kenapa melihat Sinta seperti itu?" Tanya nya.
Boy mengangkat dagu Sinta agar menatapnya, tatapan mereka pun bertemu, mereka saling menatap hingga lama. Boy mulai mendekatkan wajahnya perlahan ke wajah Sinta, Sinta yang melihat wajah Boy mendekat pun memejamkan matanya. Hingga saat jarak diantara mereka hanya beberapa senti.
Ceklek..
"Ups! maaf aku tidak melihatnya." Pintu tiba- tiba terbuka yang memperlihatkan Putri yang berdiri di ambang pintu sambil menutup matanya dengan tangannya.
Sinta dan Boy pun merasa malu karna tertangkap basah apalagi yang melihatnya adalah adik Sinta. Boy langsung memundurkan kursi nya sedangkan Sinta berusaha menahan malu dan membenarkan posisi nya.
"Ehem.. ada apa Dek?" Tanya Boy mengalihkan. Putri yang mendengar suara Boy pun membuka matanya.
"Ah itu Kakak di panggil Ibu untuk mengambil makanan untuk Kakak dan Abang sebelum resepsi dimulai." Ucap Putri memberi tahu.
Sinta melihat Boy seolah meminta ijin, Boy yang mengerti pun langsung mengangguk tanda dia mengijinkan.
"Baiklah tunggu sebentar." Ucap Sinta sambil memakai cadarnya kembali karna tadi sempat dibuka oleh Boy. Setelah selesai memakai cadarnya dia pun berjalan menghampiri Putri yang masih berdiri di pintu.
"Ayo." Ajaknya kemudian, mereka pun beranjak ke dapur.
Setelah sekitar 10 menit Sinta kembali ke kamar dengan 2 piring di tangannya, dia melihat Boy yang sedang memainkan ponselnya, posisi nya masih tetap duduk di kursi meja rias. Setelah melihat Sinta datang Boy pun segera mematikan ponselnya dan meletakkannya di meja samping ranjang Sinta.
"Kak makan dulu." Ujar Sinta sambil menyodorkan satu piring pada Boy. Boy menerimanya namun dia meletakkan nya di meja rias.
"Loh Kak --" Belum sempat Sinta melanjutkan perkataan nya Boy langsung mengambil alih piring yang di tangan Sinta, "Sepiring berdua." Ucapnya kemudian. Sinta pun tidak bisa berbuat apalagi dia hanya menurut.
"Buka mulutnya." Pinta Boy sambil menyodorkan sendok berisi nasi dan lauknya. Sinta pun hanya menurut dia langsung mengangkat cadar nya lalu membuka mulutnya.
Detik berikutnya, Boy meletakkan piring yang di pegang nya tadi di atas pangkuan Sinta lalu berdiri mendekat ke Sinta. Sinta bingung tapi tak bertanya dia hanya menyaksikan apa yang akan dilakukan Boy.
__ADS_1
"Nah begini lebih baik." Ucap nya Rupanya Boy membuka cadarnya.
Boy kembali mengambil piring di pangkuan Sinta kemudian kembali menyuapinya sampai nasinya tinggal sedikit.
Saat Boy ingin menyuapinya lagi, Sinta menolaknya dengan telapak tangannya.
"Kakak bilang tadi sepiring berdua, tapi ini hanya Sinta yang makan, Kakak juga harus makan." Ucap Sinta kemudian berdiri mengambil piring yang sempat Boy letakkan di atas meja rias.
"Aku tidak lapar." Jawab Boy singkat. Namun tak digubris Sinta, dia menyodorkan sendok ke mulut Boy tetapi Boy sama sekali tidak mau membuka mulutnya, "Buka mulut!" Perintah Sinta masih dengan tangan nya memegang sendok di depan mulut Boy namun sama sekali tak menggubrisnya.
"Baiklah kalau tidak mau makan aku akan --" Ucapan Sinta terpotong.
"Apa?" Tanya Boy memotong. Sinta memutar bola matanya malas.
"Keluar!" Jawabnya ketus lalu beranjak berdiri. tetapi dengan cepat Boy mencegat tangannya.
"Baiklah aku makan tapi jangan pergi." Ucap Boy dengan nada memelas yang membuat Sinta tersenyum geli.
Kemudian Sinta kembali duduk dan mulai menyuapinya kembali, namun saat sendok sudah di depan mulutnya dia belum juga membuka mulutnya.
"Aku tidak lapar sayang.." Katanya manja, Sinta mendengarnya pun kaget tetapi dengan cepat dia mengembalikan ekspresinya.
"Yasudah kalau gitu aku --" Lagi- lagi ucapannya terpotong.
"Baiklah-baiklah tapi sedikit saja ya." Ujarnya dengan wajah memelas, Sinta pun tersenyum lalu kembali menyuapinya.
Saat suapan ketiga Boy enggan membuka mulutnya dan menggelengkan kepalanya.
"Baru dua sendok loh Kak." Ucap Sinta kesal, "Ayo makan lagi sedikit lagi saja." Lanjutnya lagi, namun Boy tetap menggelengkan kepalanya, "Nanti Kakak bisa sakit astaga.." Ucapnya lagi semakin kesal.
"Yasudah tunggu disini sebentar." Lanjutnya ketus sambil mengambil kedua piring, namun lagi-lagi terhenti karna Boy memeluk nya dari belakang sebelum dia membuka pintu.
"Baiklah-baiklah aku tidak marah, aku ingin mengambil air minum untuk kita jadi tolong lepaskan pelukan Kakak." Ucap Sinta berusaha lembut. Namun Boy sama sekali tidak mendengar kan nya.
"Jangan pergi." Ucapnya lirih di leher Sinta yang terbalut jilbab.
"Aku hanya mengambil kan minum Kak tidak lama janji." Ucap Sinta berusaha selembut mungkin yang saat itu sedang menahan kesalnya, dia berpikir kenapa Boy lebih manja dari anak kecil. Namun Boy tetap memeluknya bahkan lebih erat.
"Kak.." Tegur Sinta lagi.
"Biarkan seperti ini sebentar saja." Ujarnya masih menyembunyikan wajahnya di tengkuk Sinta.
"Kita ada di balik pintu Kak nanti ada orang yang datang bagaimana." Sinta mencoba menjelaskan. Dan tanpa menjawab Boy langsung mengunci pintu yang memang tepat dekat dengan tangannya, setelah mengunci pintu dia kembali memeluk Sinta erat.
Mereka berpelukan sambil berdiri cukup lama sampai ada seseorang yang mengetok pintu.
"Kak ada yang datang." Beritahu Sinta karna Boy sama sekali tidak melepaskan pelukannya. Sinta memang bisa saja membuka pintu yang tepat di depannya namun dia masih punya malu, mana mungkin dia membiarkan orang melihatnya berpelukan seperti ini.
Orang yang diluar terus mengetok pintu. Boy pun melepaskan pelukannya kemudian berjalan ke belakang dan duduk di tepi ranjang, tempat yang Sinta duduki tadi.
Sinta pun segera membuka pintu dan ternyata yang sedari tadi mengetok pintu adalah tukang perias yang tadi pagi merias Sinta.
"Waktunya berhias." Ujar perias itu.
"Oh iya Mbak, tapi saya akan mengantarkan piring ini dulu ke dapur." Jawab Sinta.
"Ah ya baik silahkan." Balas perias itu. Kemudian Sinta pun langsung bergegas menuju dapur dan kembali membawa kan gelas berisi air mimun untuk Boy.
__ADS_1