
Setelah beberapa minggu mereka baikan hubungan mereka semakin dekat, termasuk Boy dengan keluarga Sinta. Dan sekarang Boy juga sudah tidak bekerja lagi, dia jadi sering main ke rumah Sinta.
Hari-hari Boy sekarang sangat jauh membaik setelah mengenal Sinta, dari dia yang sering begadang sekarang sudah tidak lagi, yang tiap hari selalu terlambat sekarang jadi lebih disiplin waktu, yang malas beribadah sekarang sudah rajin, yang dulu nya mudah emosi sekarang sudah berubah dan bisa mengontrol emosinya dan masih banyak lagi perubahan yang dialamai nya.
*****
Setelah melaksanakan Sholat jum'at, Boy dan Sandi segera balik ke kos'an mereka karna sudah merasa lapar. Sesampainya di kos'an mereka langsung makan dengan telor ceplok masakan Boy. Setelah selesai makan Sandi memutuskan untuk tidur siang sedangkan Boy yang tidak mengantuk memutuskan untuk menelpon Sinta.
Drrtt.. drrtt.. drrtt..
(Suara telpon Sinta)
Sinta yang baru saja sholat zuhur dan masih belum selesai melipat mukenahnya akhirnya memutuskan untuk melihat siapa yang menelpon nya.
"Asssalamualaikum sayang.." Ucap Boy dengan nada yang sangat tenang saat Sinta menerima telpon nya, Sinta yang sudah terbiasa mendengar Boy memanggilnya dengan sebutan sayang tidak lagi merasa geli.
"Waalaikumsalam Kak.." Jawab Sinta sambil duduk di tepi ranjang masih menggunakan mukenahnya.
"Sayang lagi ngapain?" Tanya Boy.
"Ini baru selesai sholat zuhur." Jawab Sinta singkat.
"Ohh.. udah ya ternyata, niat nya tadi mau ngingetin tapi yaudah deh." Ucap Boy sambil tersenyum, ya beginilah dia kalau sudah berhadapan dengan seorang Sinta walaupun Sinta yang selalu cuek dengannya.
"Hmm.. kenapa siang-siang Kakak nelpon Sinta?" Tanya Sinta ragu-ragu.
"Gak apa kangen aja, lagian gak ada kerjaan juga ." Jawab Boy santai masih dengan senyumnya.
"Emangnya Kak Sandi kemana?" Tanya Sinta.
"Kok nanya dia sih kan yang kangen aku." Jawab Boy cemberut.
"Ihh apaan sih lebay deh orang cuman nanya aja kok." Ucap Sinta yang memang tidak suka orang manja kepadanya.
"Huh.. aku heran deh kenapa aku bisa jatuh cinta sama kamu padahal kamu itu cuek udah itu judes gak ada perhatian nya sama sekali lagi." Umpat Boy.
"Jadi ceritanya ini mau ngumpat?" Tanya Sinta sinis.
"Ehehe.. gak kok sayang cuman bercanda." Ucap Boy karna tak ingin memperpanjang masalah dengan Sinta, bisa gawat kalau Sinta betulan marah sama dia.
".. Oh iya weekend nanti sayang ada acara gak?" Lanjut Boy yang memberikan pertanyaan.
"Emm... kayaknya sih gak ada, kenapa emang? mau main kesini? tumben nanya dulu biasa gak diundang juga dateng sendiri." Pertanyaan serta sindirin Sinta yang membuat Boy bingung harus menjawab dari mana.
__ADS_1
"Haiss kamu ini,,, jadi gini kalo sayang gak ada acara weekend ini aku mau ngajak ke kampung lagian cuman aku aja yang deket sama keluarga sayang, sayang sama keluarga aku enggak." Jelas Boy sontak membuat Sinta kaget dan bingung mau menjawab apa.
"Sayang.. halo sayang masih disitu?" Tanya Boy karna tidak ada jawaban dari Sinta.
"Eh.. em.. iya masih." Jawab Sinta gugup.
"Jadi gimana? sayang mau kan?" Tanya Boy lagi memastikan.
"Em.. nanti aku nanya Ibu dulu ya diijinin apa enggak." Jawab Sinta mencari alasan karna dia masih belum siap jika harus bertemu dengan keluarga nya Boy.
"Gak usah, biar aku aja yang langsung minta ijin sama Ibu." Pinta Boy, Sinta hanya bisa pasrah karna tak ada lagi alasan yang tepat untuk menghindari situasi ini.
"Em.. iya udah deh." Pasrah Sinta.
"Sayang udah makan belum?" Tanya Boy.
"Belum, buka mukenah aja belum sempat dibuka." Jawab Sinta
"Berarti aku ganggu dong yaudah kalo gitu sayang makan dulu deh aku mau tidur siang aja."
"Hem.. Asssalamualaikum." Ucap Sinta.
"Waalaikumsalam sayang." Jawab Boy dan sambungan telpon pun mati.
Setelah memutuskan sambungan telpon Boy langsung membaringkan badan nya ke atas ranjang dan tak butuh waktu lama dia sudah masuk ke alam bawah sadarnya.
"Jujur aku belum siap jika harus bertemu keluarganya apalagi mengingat aku yang masih sekolah, bagaimana nanti jika kami akhirnya tidak bersama? aku sudah dekat dengan keluarganya dan dia juga sudah dekat dengan keluarga ku, aku tidak mau itu terjadi biarlah dia saja yang dekat dengan keluarga ku." Gerutu Sinta dalam hatinya sambil makan.
__________
Hari ini adalah weekend, dimana Sinta dan Boy akan menghabiskan weekend di kampung halaman Boy, Sinta yang memang tidak bisa menolak Boy harus ikut dengannya.
tok.. tok.. tok.. (Suara pintu diketok).
"Iya sebentar! Putri bukain pintu nak." Seru Afni dari dapur yang sedang cuci piring.
"Iya Bu!" Jawab Putri (adik Sinta) yang masih menduduki bangku SMP kelas 1 sedang menonton tv yang di temani beberapa cemilan.
Sinta yang sedang bersiap-siap mendengar pintu diketok sudah menduga kalau itu adalah Boy.
Ceklek.. pintu di buka.
"Kak Boy!" Seru Putri dan langsung berhambur ke pelukan Boy, ya adik-adik Sinta sudah sangat dekat dengan Boy.
__ADS_1
"Kak Sinta nya ada?" Tanya Boy seraya melepaskan pelukannya dari Putri dan langsung diangguki Putri.
"Kak Sinta..!! ada Kak Boy nyariin nih!!" Teriak Putri yang membuat Boy menutup telinga nya karna suara Putri yang sangat nyaring.
"Iya.. bilangin bentar lagi aku keluar!" Seru Sinta dari dalam kamarnya.
"Yaudah kita nonton dulu yuk Kak sambil nunggu Kak Sinta selesai." Ajak Putri yang memang sudah menganggap Boy sebagai Kakaknya dan Boy hanya mengangguk mengikut.
"Oh iya.. Ibu dimana dek?" Tanya Boy pada Putri saat mereka sampai di depan tv.
"Ada tuh di dapur Kak lagi nyuci piring." Jawab Putri yang diangguki Boy dan segera berjalan menuju dapur tanpa sepengetahuan Putri yang sedang asik menonton tv di temani cemilannya.
"Asssalamualaikum Bu.." Ucap Boy saat telah sampai di belakang Afni.
Afni yang memang telah selesai mencuci piring dan ingin berbalik kaget melihat Boy di belakangnya.
"Eh.. Boy ngagetin Ibu aja."
"Maaf udah ngagetin Ibu.." ucapnya sambil menyalami tangan Afni.
"Iya gak apa, kamu mau kemana sama Sinta pagi pagi begini?" Tanya nya basa-basi padahal Sinta sudah mendapat ijin darinya.
"Jadi saya sama Sinta mau ngabisin weekend di kampung halaman saya Bu, saya mau ijin sama Ibu bawa Sinta sebentar." Ucap Boy dengan polosnya.
"Ohh begitu ya.. oke Ibu ijinin tapi kamu harus janji bakal jagain Sinta dan ingat pulangnya jangan kemaleman gak baik Sinta kan anak perempuan apalagi kan jarak ke kampung kamu itu juga sangat jauh lagian besok juga kalian sekolah." Jelas Afni.
"Iya Bu.. saya ngerti kok, Ibu tenang aja dan nanti kita juga bakal terus ngabarin Ibu kok." Jawab Boy dengan tenang.
"Iya Ibu percaya sama kamu Boy kalau kamu bakal jagain Sinta untuk Ibu.. yaudah kita ke depan aja yuk." Ajak Afni dan mereka langsung berjalan ke ruang tengah.
Sinta telah selesai bersiap-siap dengan celana jeans berwarna hitam dan baju kemeja pink model mengembang di bagian bawahnya dan tas kecil yang disandangnya ke samping dengan sepatu yang selaras dengan nya membuatnya sangat manis, dia langsung keluar kamar menuju ruang tengah dimana sudah ada Boy dan Ibunya.
"Yuk!" Ajak Sinta sontak Boy langsung berdiri dan berpamitan pada Afni.
"Yuk.. yaudah kalo gitu kita berangkat sekarang ya Bu." Ucap Boy sambil menyalami Afni yang diikuti Sinta.
"Kalian hati- hati ya nak.. dan Boy bawa motor nya jangan ngebut-ngebut." Pinta Afni.
"Siap Bu..!" Ucap Boy semangat.
Afni dan Putri ikut mengantar Boy dan Sinta ke depan.
"Anak manis Kakak sama Kakakmu pergi dulu ya, kamu yang baik di rumah jangan bandel oke." Ucap Boy yang sudah menganggapnya seperti Adiknya sendiri.
__ADS_1
"Siap bos..! Jangan lupa ole- ole ya Kak." Pinta Putri dan Boy langsung mengangguki nya lalu tersenyum.
Setelah mereka benar- benar sudak tidak terlihat lagi Afni dan Putri memutuskan untuk masuk ke dalam rumah.