Bukan Cinta Pertama

Bukan Cinta Pertama
Weekend ( part 2 )


__ADS_3

Setelah menempuh perjalanan 3 jam lebih akhirnya mereka sampai di kampung halaman Boy.


"Kok malah bengong? ayo.." Ucap Boy sambil menarik tangan Sinta.


Sinta gemetaran karna bingung apa yang harus dia lakukan dan apa yang harus dia katakan nanti saat bertemu keluarga Boy.


"Mau aku yang bukain sepatunya?" Tanya Boy lagi dan dengan cepat Sinta menggeleng dan langsung melepaskan Sepatunya.


"Udah?" Tanya Boy memastikan dan hanya diangguki Sinta ragu dan Boy langsung menarik tangannya.


"Kamu keringat dingin?" Tanya Boy yang merasa tangan Sinta basah.


"E.. enggak kok." Jawabnya gugup.


"Uda gak usah gugup gitu kita gak lagi masukin kandang macan kok." Ucapnya menenangkan dan langsung menarik tangan Sinta yang masuk ke dalam dan memang pintu depan tidak di tutup.


"Asssalamualaikum..Bu.. Yah.. Rif..?" Ucap Boy sambil berjalan memasuki rumah dan diikuti Sinta.


"Iya seben.. Boy??" Ucap Enni terpotong karna senang melihat kedatangan Boy dan buru-buru berjalan ke arah Boy, Boy segera menyalami tangan Enni dan diikuti Sinta entah apa yang dia pikirkan.


"Ini siapa Boy??" Tanya nya heran dan menatap Sinta dengan seksama sedangkan Sinta hanya menunduk saat ditatapi seprti itu.


"Eh iya.. kenalin Bu ini Sinta." Ucapnya dengan sumringah.


"Sinta??" Tanya Enni lagi seperti meminta penjelasan.


"Iya Sinta pacarnya Boy." Boy yang mengerti maksud Ibunya langsung memberikan penjelasan sedangkan Enni mengernyitkan keningnya tidak percaya dengan ucapan Boy.


"Sinta Tante." Ucap Sinta memperkenalkan diri dan mengulurkan tangannya.


"Enni Ibunya nya Boy, panggil nya Ibu aja jangan Tante." Ucap Enni masih dengan wajah penasarannya.


"Oh iya.. Ayah sama Arif dimana Bu? keliatannya rumah sepi." Tanya Boy mengalihkan.


"Ayah lagi keluar bentar lagi juga pulang dan Arif gak pulang katanya ada acara." Jawab Enni seadanya dan hanya diangguki Boy.


"Yaudah kalian duduk dulu ke ruang tengah Ibu mau buat minum dulu pasti kalian capek setelah perjalanan jauh." Ucapnya sambil berjalan menuju dapur dan Boy membawa Sinta duduk di sofa.


Sinta yang baru duduk tiba-tiba berdiri yang membuat Boy heran dan menatapnya.


"Mau ngapain?" Tanya Boy heran.


"Aku mau ke dapur, gak enak ngerepotin Ibu masak dia yang buatin minum." Jawab Sinta.


"Udah biarin aja, Ibu emang gitu mending tunggu aja." Ucapnya sambil memainkan ponsel nya sedangkan Sinta tak mengubrisnya dan langsung berjalan menuju dapur.


"Bu.." Panggil Sinta saat sudah berada di dapur yang melihat Enni ingin memasukkan gula ke dalam gelas.


"Eh Sinta kenapa kesini?" Tanya Enni heran melihat Sinta yang datang.


"Biar Sinta aja yang buat teh nya ya Bu, Ibu duduk aja disitu." Sambil mengambil toples gula dari tangan Enni dan Enni hanya menurut.


Enni menatap Sinta yang sedang membuat teh dengan tenang dan masih penasaran mengenainya.


"Sinta.." Panggilnya memecahkan keheningan, Sinta yang mendengar langsung melihat ke arah yang memanggilnya.

__ADS_1


"Iya Bu." Jawab Sinta lalu kembali membuat teh.


"Sinta beneran pacaran sama Boy?" Tanya nya penasaran dan diangguki Sinta ragu karna bingung kenapa Ibu Enni menanyakan nya.


".. sudah berapa lama?" Tanya nya lagi semakin penasaran.


" Baru 3 bulan lebih sih kalo gak salah Bu." Jawabnya sambil mencoba mengingat.


"Hah.. sudah lama juga ya.. tapi kenapa Boy gak pernah cerita ya kan apa-apa dia selalu cerita sama Ibu."


"Emm.. maaf Bu Sinta gak tau, tapi coba Ibu tanya sama Kak Boy nya langsung mungkin dia punya alasan tertentu." Ucapnya merasa tidak enak dan Enni hanya diam seperti memikirkan sesuatu.


"Sudah selasai nih Bu teh nya." Ucapnya sambil meletakkan 4 gelas teh di atas nampan, Enni yang mendengar berjalan ke arah kulkas dan mengambil beberapa cemilan.


"Yaudah yuk.. eh tapi gelasnya kok ada 4 Sin?"


"Buat Om Bu.. kan Ibu bilang bentar lagi Om pulang supaya nanti Ibu gak repot lagi ke dapur." Jawabnya menjelaskan.


Saat mereka sampai di ruang tengah ternyata sudah ada Wijaya bersama Boy yang sedang berbincang.


"Ayah udah pulang?" Tanya Enni sambil meletakkan cemilan di meja dan Sinta juga memberikan teh yang sudah dibuatnya tadi.


"Iya Bu." Jawabnya lalu menatap ke arah Sinta.


".. inu siapa Bu?" Tanya nya penasaran.


"Calon mantu kita Yah." Jawabnya sambil tersenyum sedangkan Wijaya masih bingung dengan wajah polosnya.


"Calon mantu?" Tanya nya lagi polos.


"Ohh... Eh calon mantu namanya Siapa?" Tanya nya yang membuat Sinta semakin gugup.


"Sinta Om." Ucapnya sambil mengulurkan tangannya.


"Saya Wijaya Ayah nya Boy, jangan panggil Om dong panggil Ayah aja biar lebih dekat gitu." Ucapnya lalu terkekeh.


"Emm.. iya Yah." Jawabnya yang masih gugup.


Enni membawa nya duduk ke sampingnya sedangkan Boy dan Wijaya duduk sendiri sendiri.


"Boy??" Panggil Enni memecahkan keheningan.


"Iya Bu.." Jawab Boy sambil memakan cemilan nya.


"Kamu udah pacaran 3 bulan lebih sama Sinta tapi gak pernah cerita sama Ibu, biasanya kamu selalu cerita apapun sama Ibu kenapa? apa kamu sudah tidak ingin terbuka lagi sama Ibu?" Tanya nya cemberut dan melipat tangan nya di dada.


"Ibu tau darimana kalo kami udah 3 bulan lebih pacaran?" Tanya nya balik karna bingung kenapa ibunya bisa tau.


"Dari Sinta!" Jawabnya ketus masih cemberut sonta Boy melihat ke arah Sinta yang nyengir.


"Huh.. Boy cuman mau buat kejutan." Jawabnya santai sambil memakan cemilannya.


"Dan.. ini kejutannya?" Tanya Wijaya ikut membuka mulut dan Boy hanya mengangguk.


"Lalu bagaimana dengan Deli?" Tanya Enni yang membuat Boy tersedak makanan nya dan dengan segera meninum teh yang dibuatkan Sinta.

__ADS_1


"Ibu apaan sih.. kok malah ngelantur kesitu." Ucap Boy kesal sedangkan Enni dan Wijaya terkekeh.


"Devi? siapa dia?" Gumam Sinta dalam hati sambil melihat ke arah Boy yang meminta penjelasan Boy yang mengerti hanya menggeleng kan kepalanya dan membuat Sinta kesal.


"Yaudah kalian lanjut aja ngobrolnya Ibu mau masak buat makan siang dulu." Ucap Enni seraya meninggalkan ketiga orang itu.


Sinta yang melihat Enni pergi juga berpamitan pada Wijaya dan Boy ingin menyusul Enni ke dapur.


"Bu.. biar Sinta bantuin ya." Ucapnya setelah sampai di dapur yang membuat Enni kaget.


"Eh Sinta.. gak usah mending Sinta duduk disana aja buar Ibu yang masak kamu pasti capekkan?" Tanya nya menolak.


"Em.. tapi Sinta gak enak perempuan sendiri Bu,, boleh ya Sinta bantu Ibu." Ucapnya sedikit memohon.


"Baiklah kamu potong bahannya saja biar Ibu yang masak oke." Jawabnya sambil memberikan bahan- bahan yang akan dimasak.


"Em.. Bu?" Panggil Sinta ragu.


"Iya sayang." Jawab Enni tanpa melihat ke arah Sinta.


"Sinta boleh nanya sesuatu?" Tanya nya ragu.


"Tentu sayang, tanyakan saja." Jawabnya menatap Sinta sebentar lalu kembali melihat masakannya.


"Deli itu siapa Bu?" Tanya nya gugup sedangkan Enni tersenyum mendengar pertanyaan Sinta.


"Em maaf ya Bu Sinta udah lancang." Ucapnya merasa tidak enak.


"Tidak nak.. kamu berhak tau."


"Deli itu mantan nya Boy sewaktu dia masih kelas 1 SMA, mereka pacaran setengah tahun dan akhirnya putus gara-gara Devi ketahuan selingkuh di belakang Boy. Boy sangat menyayanginya, dan asal kamu tau Boy itu jarang sayang sama seseorang dan apabila dia sayang dia sangat sulit melupakannya.."


"Iya Bu Sinta tau." Potong Sinta.


"Kamu tau?" Tanya nya dengan raut wajah bertanya.


"Iya Kak Boy sendiri yang bilang ke Sinta Bu." Jawabnya dan hanya di angguki Enni.


"Hem.. Boy sangat frustasi saat itu dan mungkin kamu juga tau gimana Boy awalnya, bahkan hingga sudah satu bulan lebih dia masih belum bisa melupakannya, saat itu Deli kembali dan meminta maaf pada Boy, Boy pun memaafkan nya tapi tidak dengan kembali dengan nya ya walaupun dia saat itu juga masih menyayangi Deli, dan kamu tau kenapa dia menolak?" Tanya Enni dan dengan cepat Sinta menggeleng.


"Karna rasa kecewa nya lebih besar daripada rasa sayangnya." Jawab Enni dengan raut wajah sedih dan Sinta yang melihat Enni sedih hanya mengangguk tak mau melanjutkan lagi.


"Dan kamu tau nak waktu itu juga dia tidak mau lagi berpacaran, makanya tadi Ibu sempat gak percaya kalo kamu itu benar-benar pacarnya.."


"... dan Ibu juga berterima kasih karna kamu telah mau masuk ke kehidupan Boy dan merubah nya menjadi jauh sangat baik sekarang." Lanjutnya.


" Tidak Bu.. bukan Sinta yang merubahnya tapi itu keinginan nya dan Sinta hanya melakukan apa yang seharusnya Sinta lakuin." Jawabnya merendah, Enni tersenyum merasa senang karna anaknya sudah berubah.


"Nak kamu panggilin Ayah sama Boy ya buat makan Siang." Suruh Enni sambil meletakkan piring di meja makan.


"Emm.. apa tidak sebaiknya kita sholat dulu Bu soalnya ini udah masuk waktu zuhur." Ucapnya memberi saran.


"Ide bagus, kalo gitu ayo kita ajak mereka nak." Mereka pun langsung menuju ruang tengah mengajak Boy dan Wijaya sholat berjamaah, dan Boy lah yang menjadi imamnya.


Sinta merasa sangat senang karna merasa memiliki keluarga baru.

__ADS_1


__ADS_2