
Telah 4 bulan berlalu, Boy telah menyelesaikan ujian nya dan sekarang dia ingin melanjutkan kehidupannya yang baru.
Dan selama 4 bulan ini pun Boy dan Sinta juga sangat jarang berkomunikasi, dan itu juga yang membuat Sinta murung tapi karna sifatnya yang selalu santuy dia malah menyesatkan dirinya sendiri agar bisa melupakan Boy walaupun memang hanya untuk sejenak.
****
Di sini lah Sinta sekarang, di tengah jalan bergonceng-goncengan dengan lelaki yang berbeda tiap malam minggu nya, tapi jangan pikir Ibu dan Ayah nya tau. Dia sangat cerdas pergi bersama teman ceweknya dan di jalan baru mereka tukaran pasangan.
Ya beginilah cara Sinta agar bisa menghilangkan sejenak pikirannya tentang Boy.
Boy memang jarang sekali mengabarinya karna ponsel nya rusak, terkadang sekali seminggu kadang juga sebulan sekali dan itu yang membuat Sinta badmood, bukan karna dia tidak mau melepas Boy, bukan, tapi karna dia sangat menjunjung tinggi arti sebuah komitmen ya walaupun memang dia dibuat kesal sih.
***
Pada suatu malam minggu saat Sinta dan teman- temannya nongkrong di sebuah kedai kopi diantara nya 4 cewek dan pastinya 4 cowok yang mereka berpasang-pasangan.
"Oh ya Sin lu punya cowok gak sih?" Tanya seorang lelaki pasangan Sinta. (Andre)
"Emm.. enggak, kenapa emang?" Tanya nya balik sambil matanya melirik kearah Tria yang syukurnya tidak melihat ke arahnya.
"Ah masa cewek secantik elo gak punya cowok sih?" Tanya nya lagi.
"Ah masa sih gue cantik? buktinya aja sampe sekarang gue gak punya pacar tuh." Jawabnya ngasal.
"Kalo gitu lo mau gak jadi pacar gue?." Katanya sambil menaik turunkan alisnya.
"Uhuk.. uhuk.." Sinta yang tadinya minum kopinya langsung tersedak mendengar penuturan Andre.
"Eh lo kenapa? gue salah ngomong ya?" Tanyanya cemas.
"Enggak-enggak gue.. gue cuman.. tadi ada tikus lewat iya bener ada tikus lewat." Jawabnya ngasal.
"Ha masa sih disini ada tikus, dimana? mana tikusnya." Sambil berdiri melihat ke sekelilingnya.
"Emm.. udah pergi kok tadi hehe." Jawabnya sambil cengengesan.
"Huhh syukur deh kalo gitu." sambil kembali duduk.
Tlilit.. tlilit.. tlilit..
"Nomor baru? nomor siapa nih? biarin aja deh" Batin Sinta sambil meletakkan kembali ponsel nya karna ada nomor baru tak dikenal yang menghubungi nya.
"Kok gak di angkat?" Tanya Andre.
"Nomor baru gak kenal biarin ajalah." Jawabnya cuek, Andre hanya mengangguk.
Tlilit.. tlilit.. tlilit..
__ADS_1
Lagi-lagi ponselnya berdering, di lihatnya sekejap dan ternyata masih nomor yang sama, dia kembali meletakkan ponsel nya.
"Angkat aja mana tau penting." Saran Andre.
Sinta menghela nafas lalu perlahan mengangkat telpon tersebut dengan bermalas- malasan.
"Halo?" Sapanya agak malas namun si penelpon hanya diam tak menyaut.
Sinta melihat sambungan nya tapi masih nyambung, dia mengernyitkan keningnya.
"Halo.. ini siapa ya? kalo memang gak ada keperluan mending gue matiin aja deh." Ucapnya ketus dan ingin mematikan sambungan tersebut.
"Assalamualaikum." Ucap dari seberang sana sementara Sinta diam terpaku.
"ini? aku mengenal suara ini, ini suara.." Lamunan nya tiba-tiba terpotong karna suara dari seberang sana.
"Assalamualaikum?" Ucap dari seberang sana lagi yang tak bukan adalah Boy.
"Ah.. em.. iya eh.. waalaikumsalam." Jawabnya gagap.
"Siapa Sin?" Tanya Andre.
Sinta yang mendengar suara Andre langsung memberi isyarat dengan meletakkan telunjuknya di bibir nya pertanda agar diam.
"Kamu lagi sama siapa? kok ada suara cowok?" Tanya dari seberang sana lagi.
"Ohh sepupu.. Emang gak boleh kalo aku telpon?"
"Ehehe ya boleh lah."
"Emangnya lagi ngapain sih? berisik banget, lagi di pinggir jalan ya?" Tanyanya bertubi-tubi.
"Emm enggak nih lagi ngumpul di depan rumah aja, iya berisik karna disini lagi ada nikahan ya makanya orang-orang pada bulak balik." Jawabnya berbohong.
"Ohh jadi lagi ngumpul? ya udah deh kalo gitu aku matiin aja ya takutnya ganggu yang lain."
"Ah.. iya eh.. enggak maksudnya gak ganggu kok."
"Iya kamu yang gak keganggu tapi yang lain pasti ke ganggu. Yaudah deh kalo gitu aku matiin aja ya, kamu baik-baik disana jangan nakal trus turuti kata Ibu sama Ayah maaf aku jarang ngasih kabar kamu tau sendiri alasannya." Ucapnya panjang lebar.
"Iya.. kamu juga ya." Jawabnya singkat.
"Iya kalo gitu udah dulu ya sayang Assalamualaikum calon makmum." Ucapnya yang membuat Sinta tersenyum.
"Waalaikumsalam calon imam." Ucapnya tersenyum.
Dan panggilan pun berakhir.
__ADS_1
"Ehem.." Andre berdehem Sinta langsung kaget.
"Eh sorry-sorry." Jawabnya sambil melirik jam tangan nya yang menunjukkan pukul 21.15.
"Tri balik yuk uda setengah 10 nih!" Seru nya setengah berteriak ke Tria.
"Yaudah yuk." Jawabnya sambil berdiri.
"Kok cepat amat sih Sin biasanya juga jam 10 kurang 10 menit baru balik." Seru teman cowoknya yang lain.
"Iya nih mentang- mentang baru dapet telpon dari calon imam." Timpal Andre yang tak sengaja mendengar pembicaraan Sinta tadi, semua mata langsung menatapnya.
"Eh.. calon imam apaan sih Ndre? ngaco banget deh." Bantah Sinta.
"Yaudah yuk Tri." Lanjutnya lagi sambil berjalan menuju motor dan diikuti Tria.
"Duluan ya gaesss!" Seru mereka kompak.
"Iyee hati-hati lu pada!" Balas Andre.
"Ho'oh." Balas Tria.
Sepuluh menit kemudian mereka pun sampai di kediaman rumah Sinta langsung masuk kamar Sinta. Sesampainya di kamar Sinta, dia langsung menjatuhkan tubuhnya ke tempat tidur dan di ikuti Tria.
"Sin?" Panggil Tria setelah beberapa menit hening.
"Hm." Jawabnya tanpa mengalihkan pandangannya ke arah langit-langit kamarnya.
"Kok tadi si Andre bilang lu abis telponan sama calon imam lu, tu maksudnya apa?" Tanyanya tanpa melirik Sinta.
"Apaan coba? ngawur aja tuh bocah, ngapain lu pake percaya."
"Lu serius?" Tanyanya sambil melirik ke Sinta dan menyipitkan matanya tanda curiga.
"Hm." Jawab Sinta seadanya.
"Ihh lu mah males banget ngomong sama orang kayak elu mending gue tidur aja, huss.. huss.. minggir gue mau bobo cantik." Ucapnya sambil mendorong-dorong Sinta.
"Yee kamar- kamar siapa yang di usir siapa." Ucapnya namun tetap berdiri.
"Bodo' wlekk.." Ucapnya sambil menjulurkan lidahnya mengejek lalu langsung memejamkan matanya.
"Dasar bocah! sono lu pulang ke rumah lo sendiri, numpang aja gak tau malu." Sambil berkacak pinggang. Reflek Tria langsung membuka matanya dan duduk.
"Lo ngusir gue? heh.. nanti aja kenak marah sama tante larinya ke gue jadi gak usah sok deh lo." Jawabnya langsung berbaring kembali dan memejamkan matanya, namun karna tak ada jawaban dari Sinta dia membuka matanya sebelah mengintip Sinta dan ternyata..
"Heh.. ngapain lu natap gue kekgitu?! jelek tau!" Ucalnya dan langsung memejamkan matanya kembali. Sedangkan Sinta hanya mendengus kesal melihat tingkah sahabatnya itu dan langsung tidur membelakangi Tria.
__ADS_1