
Sebulan kemudian..
Boy baru saja datang ke kantor nya dan langsung di sapa oleh para karyawannya.
"Pagi Pak Boy." Sapa salah seorang karyawan sambil tersenyum.
"Pagi." Balasnya sambil tersenyum pula.
Ya begitulah Boy yang terkenal dengan keramahannya.
Sesampainya di depan ruangannya sudah ada Sinta yang sibuk dengan pekerjaannya.
Saat melihat Boy yang baru datang Sinta langsung berdiri dan membungkuk tanda hormat.
"Ke ruangan saya sekarang." Ujar Boy datar lalu langsung masuk ke ruangannya di ikuti Sinta di belakangnya.
Saat sudah sampai Boy langsung meletakkan tasnya dia atas meja dan duduk di kursi kebesarannya. Sinta dengan berdiri di depan nya sambil memegang tab.
"Jadwal Bapak hari ini hanya rapat jam 10." Beritahu Sinta yang memang setiap paginya itu adalah tugasnya.
Saat Boy ingin menjawab tiba-tiba ponselnya berdering, dia pun mengambil nya dari saku celana dan mengernyit kan keningnya saat melihat siapa yang menelpon, dia menatap Sinta sekilas sebelum mengangkat telepon.
"Halo Kak Boy!" Teriak sang penelpon yang tak lain adalah Putri Adiknya Sinta, refleks Boy menjauhkan ponselnya dari telinganya.
Sinta yang melihatnya pun heran, dia ingin keluar tapi Boy belum menyuruhnya terpaksa dia harus menunggu intruksi.
"Assalamualaikum dulu dong manis." Balas Boy akhirnya.
manis?? Sinta membatin, karna dia memang tidak tau siapa si penelpon.
"Ehehehe waalaikumsalam Kak maap lupa." Sambil cengengesan.
"Kebiasaan kamu jangan di ulangi lagi itu, oh iya kenapa pagi-pagi telpon segitu kangennya masih pagi udah nelpon." Cerocos Boy sambil terkekeh. Sinta yang mendengarnya pun semakin bingung tak lupa ada sedikit rasa cemburu juga, hihi.
Boy yang menyadari Sinta berdiri langsung menyuruhnya duduk tanpa suara, dengan ragu- ragu Sinta pun menurutinya.
"Siapp boss.. Ish.. ish.. ish.. kepedean amat jadi orang eh tapi bener juga sih aku kangennnn banget sama Kakak." Balas Putri tak kalah cerewet.
"Huhh dasar kamu,, jadi kenapa ini pagi- pagi telpon?" Tanya nya lagi.
"Weekend ini sibuk gak Kak?" Tanya Putri antusias.
"Emm kayaknya sih enggak, kenapa emangnya?" Menjawab sekaligus balik bertanya.
"Main kesini dong Kak abis itu kita jalan-jalan." Ajak Putri dengan suara memelas.
"Tapi kan jauh Dek pulang balik bisa makan waktu 12 jam." Jawab Boy merasa tak enak.
Dek?? Sinta hanya membatin tak berani bertanya.
"Yahh.. Kakak nginep di rumah Putri sehariii aja pleaseee." Semakin memelas.
"Emm.. yaudah deh demi kamu apa sih yang enggak." Pasrah Boy sambil menatap Sinta yang menunduk.
"Yeyyy.. makasi Kak!" Teriak Putri kegirangan, Boy hanya terkekeh mendengarnya.
"Kita berdua aja jalannya?" Pertanyaan Boy sukses membuat Sinta mendongak menatap Boy yang sedari tadi juga menatap nya, seketika mereka bertatapan tetapi tak lama Sinta langsung tersadar dan kembali menundukkan kepalanya. Boy tersenyum.
"Kita ajak Kak Sinta aja gimana? bertiga aja?" Saran Putri.
"Emangnya dia mau?" Bukannya menjawab tapi malah balik bertanya.
__ADS_1
"Kenapa enggak? dulu juga kalian sering jalan- jalan kok." Jawab Putri enteng.
"Itukan dulu Dek." balas Boy.
"Trus apa bedanya sama sekarang?" Tanya Putri polos.
"Ya kali dia udah gak suka jalan sama Kakak mu yang tampan ini." Ujarnya membanggakan diri sendiri. Sinta yang mendengarnya pun semakin bingung tapi tak berani menatap Boy.
"Hisss narsis amat dah jadi orang." Balas Putri sinis.
"Biarin." Jawab Boy cuek.
"Iya deh iya, yaudah nanti aku usahain deh ngajakin Kak Sinta, eh tapi kalo dianya gak mau gimana dong Kak?" Tanya Putri.
"Ya harus mau lah, kalau dia gak mau mending gak jadi." Jawab Boy enteng.
"Ihhh Kak Boy mah gituan, yaudah nanti aku paksa dia sampe mau." Ucap Putri meyakinkan.
"Ok." Jawab Boy singkat.
"Yaudah kalo gitu bye- bye Kak Boy." Ucap Putri.
"Assalamualaikum Dek." Ujar Boy meralat.
"Eheheh waalaikumsalam Kak Boy yang tampan." Balas Putri dan langsung mematikan sambungan telpon.
Setelah menerima telpon Boy kembali meletakkan ponselnya diatas meja.
"Jadwal saya hari ini apa saja tadi Sinta?" Tanya Boy merasa tidak bersalah.
"Jadwal bapak hari ini hanya rapat nanti jam 10." Jawab Sinta mengulangi.
"Rapat mengenai pembangunan Hotel yang di London?" Tanya Boy memastikan.
"Baik kamu boleh kembali bekerja." Pinta Boy seraya membuka laptop nya tanda ingin memulai pekerjaan.
"Saya permisi Pak, Assalamualaikum." Sambil menunduk.
"Waalaikumsalam." tanpa mengalihkan pandangannya dari laptop.
Sinta pun keluar dan kembali ke kursi kerjanya.
___
Di rumah Sinta,
Setelah menelpon Boy Putri ingin menelpon Sinta namun di urungkan karna dia tau Sinta pasti sibuk bekerja, dia memutuskan akan menelpon nanti malam saja.
___
Pukul 17.20, Sinta sampai di kos'an nya.
Saat ingin masuk Lina teman satu kos nya tepat nya bersebelahan dengan kamar Sinta menyapanya.
"Baru pulang Sin?" Tanya Lina sambil membawa botol minum yang mungkin baru di isinya dari dapur.
"Iya nih baru aja nyampek." Jawab Sinta sambil tersenyum walaupun tak terlihat karna tertutup cadarnya, "Kamu gak kerja Lin?" Lanjutnya lagi bertanya kenapa Lina jam segini sudah ada di kos'an, karna biasanya Lina selalu pulang malam.
"Tadi gak enak badan trus ijin pulang deh." Jawab Lina dan Sinta hanya manggut-manggut.
"Yaudah kalo gitu aku masuk dulu ya." Ujar Sinta yang sudah selesai membuka sepatunya.
__ADS_1
"Iya aku juga mau masuk kok." Balas Lina.
Saat selesai sholat isya dan membaca al- Qur'an sebentar seperti biasanya, Sinta meletakkan Al-Quran nya di atas meja dan beralih ke buku novel yang letaknya juga di atas meja.
Saat ingin mulai membaca tiba-tiba ponselnya berdering.
Tlilit.. tlilit.. tlilit..
Dilihatnya nama yang tertera di layar ponselnya 'Sweety Youngsis' dia pun tersenyum dan langsung mengangkat telepon.
"Assalamualaikum my sweety." Sapa nya dengan sumringah.
"Waalaikumsalam my ugly." Sambil terkikik yang membuat Sinta cemberut memajukan bibir bagian bawahnya.
"Kenapa telpon!" Tanya nya ketus.
"Jutek amat nanyanya." Sambil tertawa.
"Bodo'." Balasnya jutek.
"Ciee ngambek.. udah mau nikah juga masih aja ngambek an huu gimana kalo Kak Boy tau ya." Cerocos nya ngawur.
"Apaan sih Dek malah ngelantur." Dengan nada tak senang.
"Iya-iya maap becanda doang Kak, oh iya weekend ini jalan yuk Kak?" Ajaknya antusias.
"Gak bisa Dek Kakak mesti kerja." Tolaknya halus.
"Kakak ijin satu hariiii aja plisss." Dengan nada memelas.
"Huffftt gak bisa dek nanti atasan Kakak marah." Mencoba menjelaskan.
"Aku udah ijinin Kakak kok sama atasan Kakak." Ujarnya enteng.
"Ha?" Sinta terkejut sekaligus bingung.
"Iya tadi pagi aku telpon Kak Boy dan dia udah kasih ijin sama Kakak." Menjelaskan rasa bingung Sinta.
Ohh jadi tadi yang telponan sama dia itu si Putri. Ujarnya dalam hati.
"Kak? Kak Sinta? Kakak masih disitu kan?" Tanyanya heran karna Sinta tiba- tiba diam.
"Iya.. tapi.. bukannya kamu weekend ini jalan nya sama Kak Boy?" tanya Sinta pelan.
"Iya sih tapi masa cuman berdua, makanya aku ngajak Kakak biar kita bertiga." Jawab Putri.
"Ah enggak ah Dek kamu aja." Tolak Sinta mentah-mentah.
"Yahh Kakak jahat.. gak ngerti apa Putri pengen jalan-jalan bosen di rumah mulu, Ibu juga gak ngasih ijin kalo keluar bareng temen tapi kalo sama Kakak dan Kak Boy pasti di ijinin." Pura-pura menangis buaya, Sinta yang mendengarnya pun merasa kasihan dengan isi hati adiknya itu.
"Hemmm... yaudah iya Kakak mau, tapi emangnya kak Boy ngijinin kalo Kakak ikut?" Tanya Sinta memastikan.
"Yeyyy... ya pasti di ijinin lah Kak orang itu permintaan dari dia sendiri kok.. upss.." Jawab Putri keceplosan.
"Hah maksud kamu?" Tanya nya memastikan pendengaran nya.
"Eheheh gak ada kok kak tadi cuman asal ceplos aja." Sambil menggaruk tengkuknya yang tiba- tiba gatal.
"Dasar kamu kebiasaan deh, yaudah kamu udah sholat belum?" Tanya Sinta mengalihkan pembicaraan.
"Uda donggg." Jawabnya lebay sukses membuat Sinta tertawa.
__ADS_1
Sampai pada akhirnya jam menunjukkan pukul 21.42 Sinta mengakhiri acara telponan mereka dan bergegas tidur.