
Dua bulan setelah Boy melamar Sinta di Perancis dan mereka sudah meresmikan pertunangan saat satu minggu setelah pulang dari Perancis, dan satu minggu lagi adalah hari pernikahan mereka.
Pernikahan mereka akan dilangsungkan di kediaman Sinta dengan pesta meriah, walaupun Sinta sudah menolak membuat pesta besar- besaran namun dia kalah bicara, tak ada satupun yang setuju dengannya termasuk Boy dan keluarganya.
Sinta sudah diberi ijin cuti oleh Boy 2 seminggu yang lalu agar bisa fokus mengengurus acara pernikahan mereka, sedangkan Boy dia akan baru pulang besok.
Boy juga memberikan ijin kepada Tria agar bisa menemani Sinta dan itulah yang membuat Arif galau merana.
Boy memerintahkan Arif untuk menghendel perusahaan saat dia pulang besok, sedangkan dia sendiri akan pulang sehari sebelum pernikahan Boy dan tentunya itu adalah permintaan Boy sendiri.
Saat ini Boy sedang berbincang bersama Sahara, ya Sahara memang sudah sembuh satu bulan yang lalu karna Sinta.
flashback on
Entah kenapa Sinta ingin sekali melihat keadaan Sahara karna sudah lama dia tidak melihatnya, terakhir dia melihatnya satu tahun yang lalu saat mereka teman sekantor datang untuk menjenguk Sahara. Dia sedih melihat keadaan Sahara tapi dia juga tidak bisa berbuat apa-apa.
Akhirnya dia memutuskan untuk menghubungi Boy, ya dia memang sudah tidak merasa canggung lagi saat ingin menghubungi Boy duluan.
"Assalamualaikum." Sapa Sinta saat sambungan nya sudah terhubung.
"Waalaikumsalam.." Balas Boy lembut karna merasa senang Sinta menelpon nya duluan kan jarang-jarang pikirnya apalagi di waktu weekend seperti ini.
"Kakak dimana?" Tanya Sinta basa basi.
"Di rumah, kenapa? kangen ya?" Goda Boy, memang semenjak mereka bertunangan Boy sering sekali menggoda Sinta.
"Ohh.. Sinta boleh gak jenguk Bu Sahara?" Tanya langsung tanpa menghiraukan godaan Boy.
"Tentu, tunggu disana biar aku yang jemput." Ucap Boy antusias sambil berdiri mengambil kunci mobil diatas nakas, karna pikirnya kapan lagi Sinta akan datang ke rumahnya.
"Eh tidak perlu Kak biar aku sendiri saja yang kesana." Tolak Sinta.
"Tidak! aku yang akan menjemput mu tunggu saja disana aku sudah dijalan." Ucap Boy tegas, mana mungkin dia membiarkan Sinta datang sendirian. Terdengar juga oleh Sinta suara pintu mobil ditutup yang menandakan bahwa Boy sudah menuju kesana.
"Baiklah hati-hati di jalan, matikan saja sambungannya Kakak sedang mengemudi, bahaya." Jawab Sinta pasrah sekaligus memberikan teguran.
"Iya kalau begitu aku matikan dulu telpon nya, Assalamualaikum." Ucap Boy.
"Waalaikumsalam." Jawab Sinta dan sambungannya pun terputus.
Setelah menunggu 15 menit akhirnya Boy sampai di kos'an Sinta, Sinta sudah menunggunya sejak 5 menit yang lalu di teras kos'an nya. Dia memang selalu sendiri di kos'an saat weekend karna semua penghuni kos akan pergi berlibur. Begitupun dengan Tria, semenjak jadian dengan Arif mereka selalu pergi jalan- jalan saat weekend.
"Assalamualaikum." Sapa Boy tersenyum
"Waalaikumsalam Kak." balas Sinta juga tersenyum namun tak terlihat karna tertutup oleh cadarnya.
"Kita langsung berangkat?" Tanya Boy kemudian. Sinta pun mengangguk, "Ayo." Ajaknya lagi. Sinta pun mengangguk dan mingikuti Boy dari belakang. Boy membukakan pintu untuk Sinta, setelah Sinta masuk, Boy berlari kecil setengah putar dan ikut masuk.
Setelah 15 menit akhirnya mereka sampai di kediaman Wibowo. Boy ingin membukakan pintu untuk Sinta namun Sinta sudah lebih dulu membukanya.
Mereka masuk menuju kamar Sahara dengan Boy di depan dan Sinta mengekori nya dari belakang. Setelah sampai di kamar Sahara terlihat dia yang sedang duduk menyender di senderan ranjang sambil menatap kosong kearah depan.
Boy mempersilahkan Sinta masuk, Sinta pun menurut dan duduk di tepi ranjang Sahara sambil memegang tangan kanan nya, sedangkan Boy pergi menuju kamarnya tak mau mengganggu.
Sinta sedih melihat Sahara yang sudah 3 tahun lebih tak kunjung sembuh sampai dia menitikkan air matanya tanpa suara, dia terus memegang tangan kanan Sahara sambil menunduk.
__ADS_1
Tiba-tiba terasa olehnya sebuah tangan mengusap pipinya lembut dan menghapus air matanya, dia langsung mendongak dan betapa terkejutnya dia saat tangan itu adalah tangan Sahara yang sebelah kiri.
Dilihatnya Sahara yang sedang menatapnya sambil tersenyum dan tangan kirinya terus mengelus pipi Sinta yang terbalut cadar, sedangkan tangan kanannya masih di genggam Sinta.
"Bu." Panggil Sinta sambil mengusap tangan kanan nya. Namun Sahara tak menjawab dia terus mengelus pipi Sinta sambil tersenyum.
"Putri ku." Ucapnya lirih sambil menitikkan air mata dan kini tangannya sudah jatuh dari pipi Sinta. Sinta pun kembali mengangkat tangan Sahara dan mengelus-eluskan tangan itu di pipinya.
"Bu.. ini Sinta, Ibu bisa kok anggap Sinta sebagai putri Ibu." Ucap Sinta sambil terus mengelus- elus pipinya dengan tangan Sahara. Sahara tak menjawab dia menangis, air matanya mengalir deras. Memang selama ini dia tak pernah bicara apalagi menangis, tapi entah kenapa saat ini dia tiba-tiba menangis.
"Ibu kangen sama putri Ibu?" Tanya Sinta lagi tak mau menyerah sampai Sahara betul-betul mau mengeluarkan suaranya, bahkan dia menangis pun tanpa suara. Kemudian detik berikutnya Sahara mengangguk.
"Ibu ingin menemui putri Ibu dan Suami Ibu?" Tanya Sinta lagi merasa antusias karna Sahara mau menanggapi nya meskipun hanya dengan menggerakkan kepalanya, "Baiklah kita akan menemui mereka." Lanjutnya lagi sambil mengambil ponsel dari tas selempang yang dibawa nya. Namun terhenti saat mendengar suara.
"Benarakah?" Tanya Sahara, YA! akhirnya Sahara mau membuka suaranya. Sinta yang tadinya ingin menelpon Boy kini beralih menatap Sahara yang juga sedang menatapnya sayu.
Ada rasa tak percaya dihatinya jika yang tadi berbicara itu adalah Sahara namun siapa lagi di ruangan itu yang bicara sedangkan mereka hanya berdua saja.
"Ya.. Ibu mau kan menemui mereka?" Tanya Sinta lagi memancing. Kemudian Sahara mengangguk antusias sambil tersenyum.
Sinta kembali mengambil ponselnya dan segera menghubungi Boy.
"Halo Assalamualaikum." Ucap Sinta.
"Waalaikumsalam Sinta apa ada masalah? aku akan segera kesana --" Ujar Boy bertubi-tubi.
"Tidak Kak, hanya saja bisakah aku membawa Ibu sebentar saja?" Tanya Sinta ragu- ragu, "Sepertinya Ibu butuh udara diluar rumah." Lanjutnya lagi memberi alasan.
"Baiklah tunggu disana aku akan turun." Ucap Boy dan langsung mematikan sambungan sepihak tanpa mau mendengarkan balasan Sinta.
"Waalaikumsalam." Jawab Sinta.
"Memangnya mau kemana?" Tanya Boy to the point.
"Ke suatu tempat yang akan menenangkan Ibu Sahara." Jawab Sinta.
"Dimana?" Tanya Boy lagi.
"Kakak mau mengantar kami?" Tanyanya tanpa menghiraukan pertanyaan Boy.
"Baiklah." Jawab Boy akhirnya, karna tidak mungkin dia membiarkan dua wanita itu tanpa dia.
Kemudian Boy mengambil kursi roda dan Sinta membantu Sahara duduk di kursi roda itu.
Sampai di depan mobil, Boy menggendong Sahara masuk ke mobil di kursi penumpang diikuti Sinta yang duduk di sampingnya. Boy kemudian melipat kursi roda itu dan memasukkannya ke dalam bagasi mobilnya.
Boy masuk ke mobil dan segera melajukan mobilnya. Saat sudah keluar gang perumahan Boy bingung harus ke arah mana karna memang tidak tau tujuan nya.
"Ke pemakaman umum tempat Almarhum Bapak Wibowo dan putri nya dimakamkan Kak." Sinta yang mengerti dengan kebingungan Boy pun langsung angkat bicara sebelum Boy akan menanyakan nya.
Tanpa banyak bicara Boy pun mengangguk dan melajukan mobilnya ke arah pemakaman umum.
Sesampainya disana, Boy membantu Sahara duduk di kursi roda, setelah itu Sinta mendorong kursi roda itu namun sebelum itu Sinta meminta agar Boy menunggu di mobil.
"Kakak tidak perlu ikut, tunggu saja di mobil, aku akan pergi bersama Ibu sebentar." Ucap Sinta.
__ADS_1
"Memangnya tidak apa-apa?" Tanya Boy. Sinta pun mengangguk, "Baiklah jika terjadi sesuatu langsung hubungi aku." Lanjutnya lagi. Sinta pun hanya mengangguk dan kembali mendorong kursi roda Sahara.
Sampainya di makam Almarhum Wibowo dan Putrinya, Sinta berjongkok di samping Sahara sambil memegang tangan kiri Sahara.
"Bu.. ini makam Suami Ibu dan di sebelahnya adalah makam putri Ibu." Ucap Sinta, "Ibu tidak ingin menyapa mereka? bukannya tadi Ibu bilang kalau Ibu kangen sama mereka? sekarang kita sudah menemui mereka." Lanjutnya lagi, Sahara melihat Sinta dan detik kemudian melihat kedua makam itu secara bergantian.
Tiba-tiba air matanya kembali menetes tanpa suara.
"Mereka pasti juga kangen sekali sama Ibu, Ibu sudah sampai di sini apa sebelum kita pergi Ibu tidak ingin menyapa mereka?" Sinta terus memancing Sahara agar mau membuka suaranya.
Kemudian tiba-tiba Sahara menangis terisak dan badan yang bergetar air matanya mengalir deras sekali. Sinta mencoba mengusap bahu nya mencoba memberikan ketenangan.
"Papa.. Rani.. Mama kangen kalian.." Ucapnya lirih tiba-tiba sambil menangis sesenggukan. Sinta yang mendengarnya pun menitikkan air mata nya dan terus mengelus bahu Sahara.
"Kenapa kalian begitu jahat.. kalian meninggalkan Mama sendiri di dunia ini, kalian tidak sayang pada Mama.." Ucapnya lagi sambil terus menangis, "Papa.. Papa ingat, Papa pernah berjanji akan terus menjaga Mama tapi Papa jahat Papa sudah ingkar janji sama Mama.." Dia terus berucap sambil sesenggukan dengan air matanya yang terus mengalir deras.
"Rani sayang nya Mama kenapa kamu juga ikut- ikutan meninggalkan Mama apa Mama pernah memarahimu Nak? Mama minta maaf kalau Mama tidak bisa menjadi Ibu yang baik untukmu." Lanjutnya lagi.
"Papa...! Rani...! jangan tinggalin Mama, Mama gak bisa tanpa kalian..!" Teriaknya kencang seperti ingin melepaskan semua beban di hatinya dan pikirannya yang selama ini membekam di otaknya.
Sinta mencoba menenangkannya dengan terus mengelus bahu Sahara.
Boy yang mendengar suara teriakan pun terkejut dan langsung berlari menyusul Sinta dan Sahara karna takut terjadi sesuatu.
Sesampainya di makam Wibowo dan putrinya, Boy melihat Sahara yang sedang menangis histeris dan Sinta yang memeluk bahunya mencoba menenangkan nya.
Boy kaget melihatnya kemudian datang ke samping Sahara dan memegang bahu kirinya.
"Bu." Panggil Boy lembut, Sahara menengok ke arah Boy dan kembali menangis histeris.
"Boy.. mereka jahat Boy.. mereka udah ninggalin Ibu.. Ibu salah apa sama mereka.." Ucapnya sedikit teriak disela tangisan nya.
Boy sangat terkejut, bukan karna ucapan Sahara tapi karna mendengar Sahara mau membuka suaranya setelah sekian lamanya.
Detik kemudian Boy berjongkok di samping Sahara, Sinta yang mengetahui situasi langsung melepaskan pelukannya dan berdiri sedikit jauh di belakang Sahara dan Boy untuk memberikan ruang diantara Boy dan Sahara.
"Bu.. dengerin Boy.. ini semua sudah takdir Allah.. Ibu tau kenapa Allah mengambil mereka dari Ibu?" tanya Boy, Sahara pun menggelengkan kepalanya. Boy tersenyum lalu menjawab, "Itu karna Allah lebih sayang sama mereka melebihi sayang Ibu ke mereka, maka dari itu Allah ingin menguji sampai dimana kasih sayang Ibu ke mereka.." Ujarnya lembut. Sahara terus menatapnya dan mendengarkan semua yang dikatakan Boy.
"... Dan Allah melihat Ibu seperti ini pasti Allah sangat kecewa karna Ibu sayang pada mereka tetapi Ibu tidak sayang kepada yang menciptakan mereka sekaligus pengatur hidup dan mati semua manusia." Lanjutnya lagi.
"Jadi.. Ibu mau kan mengikhlaskan mereka demi rasa sayang Ibu ke mereka? mereka pasti sangat sedih melihat Ibu menangis seperti ini." Ucap Boy lagi.
"Lalu Ibu harus apa?" Tanyanya di sela nangis nya.
"Ibu hanya perlu mengikhlaskan mereka karna yang mereka butuhkan adalah doa dan restu lah yang mereka harapkan, dengan begitu mereka pasti akan tenang di atas sana." Jawab Boy sambil tersenyum merasa senang karna akhirnya sekian lamanya Sahara mau membuka suaranya.
"Boy..." Panggilnya lalu kedua merentangkan tangannya ingin memeluk Boy. Boy pun tersenyum lalu masuk kedalam dekapan Sahara. Detik kemudian Sahara melepaskan pelukannya dan beralih menatap ke Sinta.
"Sinta.. kemari Nak." Panggilnya Sambil mengulurkan tangan kanannya. Sinta pun datang dan berjongkok di samping Sahara. Kemudian Sahara memeluk mereka berdua dengan dia yang berada di tengah.
Boy dan sinta Sangat senang akhirnya setelah sekian lamanya Sahara bisa sembuh dan kembali normal seperti biasa.
Sahara mengangkat Boy sebagai anaknya dan dengan senang hati Boy mau, tapi sebelum nya dia juga sudah meminta ijin kepada orang tuanya dan orang tuanya juga mengijinkannya.
flashback off
__ADS_1