Bukan Cinta Pertama

Bukan Cinta Pertama
Kedatangan Tria


__ADS_3

5 bulan kemudian...


Arif sudah menjadi manajer di kantor Boy tapi sebelumnya dia di pekerjakan Boy sebagai pegawai biasa, yaa walaupun Arif awalnya menolak tapi karna Boy mengancam akan memulangkan nya ke kampung, dia jadi mengalah dan sesuai janji Boy jika dia mau bersungguh-sungguh maka Boy akan mengangkat jabatan nya.


Sedangkan Sinta masih tetap menjadi sekretaris Boy. Mereka berkerja seperti biasa tidak ada yang berubah hanya saja terkadang Arif yang suka mengganggu yang membuat Boy jengah.


Seperti saat ini bukannya bekerja dia malah ke ruangan Boy duduk di sofa sambil curhat masalah perempuan tetapi sama sekali tidak gubris oleh Boy.


"Lo tau gak cewek- cewek di kantor ini cantik- cantik banget sumpah tapi sayang yang cantik udah ada yang punya.." Ujarnya seperti berbicara dengan teman sebayanya.


"Tapi ni ya digodain dikit aja udah langsung meleleh huhh gue mah mau nya yang menantang misalnya orangnya cuek, jutek, judes dan yaa pokoknya susah buat nahlukin hatinya itu nantang banget buat gue." Ucapnya lagi panjang lebar namun sama sekali tak digubris Boy, dia tetap fokus ke arah laptopnya.


"Lo ada kenalan yang begitu gak?" Tanyanya sambil menatap Boy. Boy yang merasa ditatap pun mengalihkan pandangannya ke arah Arif.


"Apa?" Tanya Boy karna memang tak mendengar pertanyaan Arif.


"Ahh gak asik lo gue dari tadi nyerocos disini lo malah ngacangin." Umpat Arif kesal.


"Bisa gak sih lo itu manggil nya jangan lo gue-lo gue seenak jidat lo, gue ini Abang lo dengar!Abang lo, pake embel-embel Abang kek atau Kakak atau Mas biar lebih enak gue dengernya." Cerocos Boy panjang lebar, Arif yang mendengar nya pun mengernyitkan dahinya nya heran.


"Gak biasanya lo protes, biasanya juga gue manggil kayak gitu lo gak pernah masalahin tuh, kenapa sekarang malah protes?" Tanya Arif meminta penjelasan karna tak biasanya Boy mempermasalahkan panggilan.


"Terserah lo ajalah, mendingan sekarang lo balik ke ruangan kerja yang bener kalo sampe buat masalah gue pecat tau rasa lo."


"Sensian amat sih, lagian jarang- jarang juga kok gue bolos kerja." Balasnya santai sambil menidurkan tubuh nya ke sofa, Boy yang melihatnya pun merasa jengah. Dan tak ada niatan untuk membalas ucapan Arif.


***


Pukul 17.17 pekerjaan Boy telah selesai dan memang waktunya jam pulang kantor juga sudah telat 17 menit. Dia membereskan pekerjaan nya lalu bergegas ingin pulang.


Namun saat dia berdiri pandangannya mengarah ke sofa tempat Arif yang sempat tertidur tadi tapi orangnya sudah tidak ada, Boy mengernyitkan dahinya nya bingung.


'Kapan keluarnya dia? kenapa aku sampai tidak menyadari nya? sefokus itukah aku bekerja sampai tidak menyadari nya'. Batin Boy. sambil berjalan keluar.


Saat dia keluar ruangan nya, dia melihat Sinta yang masih sibuk dengan pekerjaan nya.


"Sinta.. kamu kenapa belum pulang?" Tanya Boy. Sinta yang tadinya Fokus pun langsung mengarah kan pandangan nya ke arah Boy.


"Eh iya Pak nanggung sedikit lagi." Jawab Sinta lalu kembali memfokuskan pandangannya kembali ke laptopnya.


"Ini sudah telat 20 menit, mending kamu lanjutinnya besok saja."


"Tunggu sebentar ya Pak, hanya sedikit lagi kok ini biar selesai Pak." Ujar Sinta tanpa mengalihkan pandangannya, Boy yang mendengar nya pun tak menjawab dan tetap berdiri menunggu Sinta sampai selesai.


"Akhirnya selesai juga." Ujarnya setelah 15 menit berkutat dengan papan keyboard laptop, dia pun membereskan meja kerja nya, setelah selesai dia ingin beranjak pulang, namun terhenti karna melihat Boy yang tertidur di kursi tunggu dengan kepalanya bersandar ke dinding.


'Astaga kenapa malah tidur disitu? apa dia menunggu ku?...


Ahh bicara apa aku ini mana mungkin dia menunggu ku.' Batin Sinta sambil menggeleng- gelengkan kepalanya.


"Pak.. Pak Boy.. Pak.. bangun Pak.. kenapa malah tidur disini." Ujar Sinta yang membangunkan Boy tanpa menyentuh nya.


Boy yang baru saja memejamkan matanya pun segera membuka matanya saat mendengar suara Sinta dan melihat Sinta yang berdiri di depan nya.

__ADS_1


"Ahh maaf saya ketiduran ya? kamu sudah selesai?" Tanya Boy setelah membuka matanya.


"Iya Pak tidak apa-apa, saya baru saja selesai dan melihat Bapak tertidur disini, kenapa Bapak tidak langsung pulang saja tadi?" Jawab Sinta sambil melontarkan pertanyaan.


Boy merasa bingung harus menjawab apa dia pun tidak tau kenapa dia sampai menunggu Sinta di sini, dia melirik jam tangannya yang menunjukkan pukul 17.40.


"Ah sudah hampir maghrib, mari kita pulang biar saya yang antar kamu." Ujar Boy seraya berdiri.


"Eh tidak perlu Pak biar saya naik taksi saja," Tolak Sinta mentah-mentah.


"Kalau harus menunggu taksi kamu akan terlambat sampai kos'an, ini sudah hampir maghrib, lagian kita searah kan?" Ujar Boy menjelaskan. Memang jalan mereka searah namun kos'an Sinta lebih jauh jaraknya ke kantor daripada rumah Boy.


"Sudah jangan banyak berfikir, ayo!" Lanjutnya sambil melangkahkan kakinya mendahului Sinta. Sinta pun membenarkan perkataan Boy dan menyusul Boy yang sudah berjalan mendahului nya.


Setelah 25 menit perjalanan akhirnya mereka sampai didepan kos'an Sinta yang memang jalanan maghrib ini tidak terlalu ramai.


"Saya langsung balik ya soalnya 10 menit lagi Udah masuk waktu maghrib." Ujar Boy setelah melihat Sinta membuka sabuk pengaman nya, Sinta pun membalas nya dengan mengangguk.


"Terimakasih ya Pak maaf sudah merepotkan." Ucap Sinta merasa tak enak.


"Ya tidak masalah." Jawab Boy tak ingin berbasa -basi karna waktu nya juga sudah mepet.


Setelah mendengar jawaban Boy, Sinta segera turun.


Sesampainya di teras kos'an dia melihat seorang wanita berhijab tapi sangat transparan sekali sampai memperlihatkan rambutnya. Wanita itu duduk di kursi sambil menunduk jadi Sinta tidak bisa melihat wajahnya, dan disampingnya juga ada koper.


Wanita yang sedang menunduk itu melihat ada sepasang kaki berdiri di hadapan nya lalu dia pun mendongak untuk melihat wajah sang empunya kaki.


"Sinta?" Tanya wanita itu memastikan karna tidak melihat Sinta dengan jelas karena tertutup cadar.


"Iya Tri ini aku Sinta, kamu ngapain sendirian disini?"


"Gue nungguin lo dari tadi sore disini tau." Jawabnya kesal.


"Astaga.. Yaudah masuk dulu aja yuk udah mau maghrib nih." Ajak Sinta, Tanpa menjawab Tria pun mengikuti nya dari belakang sambil menggeret kopernya.


"Kamu udah mandi?" Tanya Sinta saat sudah sampai di depan pintu kamarnya sambil membuka pintu. Tria menjawabnya dengan menggelengkan kepalanya.


"Kamu dulu apa aku dulu yang mandi?" Tanya Sinta lagi.


"Lo aja deh, gue mau istirahatin ni badan dulu lagian lo juga mau sholat kan?" Sambil menjatuhkan tubuhnya ke ranjang Sinta.


"Iya sih, emangnya kamu gak sholat?" Jawab Sinta dengan pertanyaan.


"Lagi kedatangan tamu." Jawabnya Singkat lalu menutup matanya perlahan, sedangkan Sinta dia tidak membalas ucapan Tria, dia langsung bergegas ke kamar mandi.


Setelah mandi, dia keluar dan melihat Tria yang menutup mata tapi dia tidak tau apakah sedang tertidur atau hanya menutup mata nya karna lelah.


Sinta langsung melaksanakan sholat maghrib, setelah sholat seperti biasa dia menyempatkan untuk membaca al qur'an walau hanya sebentar.


Tria yang mendengar Sinta membaca Al-Qur'an pun membuka matanya yang memang hanya terpejam, dia duduk di tepi ranjang Sinta yang memang hanya cukup untuk satu orang. Di lihat nya Sinta yang serius mengaji.


'Uda lama juga gue gak ngaji'. Batinnya.

__ADS_1


Tria merasa badannya agak lengket, dia pun bergegas mandi di kamar mandi yang ada di kamar Sinta.


Setelah selesai mandi Tria keluar dari kamar mandi dan melihat Sinta yang sedang menyapu kamarnya dengan menggunakan gamis panjang tanpa hijab, rambutnya yang panjang di ikat jadi dua.


"Udah selesai Tri?" tanya sambil meletakkan kembali sapu nya karna sudah selesai. dan Tria menjawab nya dengan mengangguk.


"Kamu sejak kapan sampainya?" Tanya nya lagi.


"Sejak jam 3 sore." Jawab Tria santai sambil mengeringkan rambutnya dengan handuk.


"Wah Udah lama juga ya, kenapa gak langsung telpon aja? tau gitu aku tadi cepet pulang nya." Tanya Sinta.


"Gue gak enak gangguin lo kerja." Jawabnya. Sinta hanya manggut-manggut.


"Trus ngapain kamu kesini? Emangnya kamu gak kerja?" Tanya Sinta lagi.


"Emm.. gue udah resign dari kerjaan gue." Jawabnya masih santai tapi sekarang beralih menyisir rambutnya. Sedangkan Sinta duduk di kursi depan ranjangnya.


"Kok bisa? emangnya kamu gak betah atau ada yang jahatin kamu?" tanyTanya heran.


"Bukan, bukan itu, gue kesepian aja gak punya temen, sebenarnya punya temen siih cuman gak ada yang sepengertian elo." Jawabnya.


"Jadi cuman karna temen?" Tanya Sinta tak percaya dan langsung diangguki Tria.


"Gue mau disini bareng lo, bantuin gue cari kerja yaa pliss." Ucapnya dengan kedua telapak tangannya di ketupkan di depan dada dengan nada memelas. Namun sebelum Sinta menjawab terdengar suara pintu di ketuk.


Tok.. tok.. tok..


"Siapa?" Tanya Sinta dari dalam sambil berjalan ke arah lemari mengambil jilbab sarungnya.


"Ini gue Sin, Mitaa.." Seru orang dari luar.


"Ohh kamu Mit, kenapa?" Tanya Sinta setelah membuka pintu kamarnya dan melihat Mita yang berdiri.


"Itu ada orang yang nyariin kamu." Ucapnya.


"Siapa?" Tanyanya heran, siapa yang mencarinya jam segini tidak biasanya pikirnya.


"Ada apa sih Sin?" Tanya Tria yang muncul di belakang Sinta tanpa hijab nya dan terlihatlah rambut nya sebahu ikal di warnai coklat seperti kebarat baratan.


"Gue gak nanya, mending lo temuin aja, gue mau mandi baru pulang kerja gue." Jawab Mita sambil melirik Tria.


"Ohh yaudah makasih ya Mitt." Mita pun mengangguk dan beranjak ke kamarnya.


"Katanya ada tamu yang nyariin aku." Jawab Sinta pada Tria setelah Mita pergi.


"Yaudah langsung temuin aja yuk." Ajak Tria sambil menarik tangan Sinta namun Sinta kembali menarik tangannya.


"Kamu gak pake jilbab?" tTanya Sinta heran.


"Hehe.. lupa minjem jilbab instan lo ya gue lupa bawa." Sambil nyengir kuda.


"Yaudah tunggu disini bentar biar aku ambilin." Jawabnya seraya masuk kembali mengambil jilbab sarungnya untuk Tria.

__ADS_1


__ADS_2